Jumat, 20 April 2012 - 13:29 WIB
Mengenang Perjuangan R.A. Kartini
Oleh : DESK INFORMASI
- Dibaca: 3800 kali



Dalam sejarah di Indonesia banyak sekali pahlawan-pahlawan wanita yang hebat dan luar biasa dalam memperjuangan emansipasi wanita. Salah satunya adalah  Raden Ayu Kartini. Kenapa harus Kartini yang menjadi simbol emansipasi wanita padahal masih banyak pahlawan-pahlawan wanita yang lain yang tidak kalah luar biasanya?

Menurut penelusuran Guru Besar Universitas Indonesia Prof. Harsja W. Bachtiar, Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Social Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Pada 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda.

Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini, dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”

Sejarah Kehidupan Kartini

Kartini lahir pada 21 April 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah, dengan nama Raden Ajeng Kartini. Ia adalah putri dari istri pertama Raden Mas Sosroningrat, Bupati Jepara. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa. Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas.

Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie.

Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Ketika dewasa oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini, dan ia diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun, dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Untuk mengenang kegigihan Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita pada tahun 1912 Yayasan Kartini mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, pada 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Kartini-Kartini dimasa kini

Masa telah berganti. Emansipasi wanita yang dulu telah diperjuangkan oleh R.A. Kartini secara luar biasa itu, kini telah diteruskan oleh kartini-kartini yang baru.

Kartini-kartini di abad ini juga telah mengikuti jejak R.A. Kartini. Dulu, Kartini  berjuang untuk mengangkat derajat wanita yang pada masa itu memang terbelenggu.  Kini, perjuangan itu harus diteruskan oleh  “Kartini-Kartini”  yang   baru. Mereka itu  harus  berjuang sesuai  dengan  bidang, tugas  dan tanggung jawabnya masing-masing, baik sebagai pejabat negara (Menteri, Anggota DPR, Hakim, Dubes), para pejabat dan pegawai di segala intansi pemerintah maupun swasta, sebagai wirausaha, sebagai wartawan, pendidik maupun bidang-bidang lainnya. Banyak wanita masa kini, termasuk yang telah berumahtangga, ikut aktif berkerja untuk mengais penghasilan demi kecukupan kebutuhan keluarganya.

Tetapi jangan dilupakan pentingnya peranan wanita-wanita sebagai Ibu Rumah Tangga biasa. Mereka itu berjasa secara luar biasa dalam bekerja di balik layar. Karena peran merekalah para suaminya dapat tenang bekerja dan bersemangat untuk mendapatkan sebesar-besarnya kecukupan keluarga.

Selain itu, harus diberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para ibu (Istri) secara keseluruhan. Merekalah yang secara aktif terlibat langsung dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Walaupun mereka tidak pernah mendpatkan penghargaan dan balas jasa, tetapi mereka tidak pernah mengeluh. Apalagi peran wanita sebagai ibu yang telah mengandung dan melahirkan anak-anak, karena dari rahim merekalah lahir generasi penerus yang kelak akan meneruskan perjuangan yang telah dirintis oleh R.A. Kartini dan pahlawan-pahlawan yang luar biasa lainnya.

Karena itu, tanggal 21 April seyogyanya tidak sekedar menjadi hari peringatan untuk mengenang perjuangan R.A. Kartini saja. Marilah kita renungkan, betapa mulianya perjuangan yang dilakukan oleh R.A. Kartini untuk mendobrak pagar emansipasi yang kokoh. Tanpa itu  mungkin kesetaraan itu tak akan pernah kita rasakan.

Kartini-Kartini masa kini perlu memperjuangkan bagaimana kesetaraan jender yang telah ada saat ini benar-benar dibuktikan dengan karya nyata kaum wanita dalam mengisi kemerdekaan, dan turut serta membangun serta memperjuangkan pencapaian kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia ini. Itu harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan kepahlawanan Kartini. (Raso danYL/Asdep PHI/DPOK)