Selasa, 11 September 2012 - 15:44 WIB
Beberapa Capaian ASEAN Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015
Oleh : DESK INFORMASI
- Dibaca: 6010 kali



Pada tanggal 12 Juli 2012, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) telah menyampaikan laporan ASEAN Economic Community Blueprint Mid-Term Review kepada negara anggota ASEAN. ERIA merupakan lembaga kajian yang didanai secara bersama oleh negara anggota ASEAN, Jepang, dan beberapa mitra wicara lainnya, yang bertugas melakukan kajian dan menyampaikan rekomendasi mengenai integrasi ekonomi di Asia Timur, termasuk mengenai implementasi Cetak Biru Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA).

Dalam laporannya, ERIA memberikan hasil kajian terhadap 4 (empat) pilar KEA, yaitu (i) Pasar Tunggal dan Basis Produksi; (ii) Kawasan Ekonomi yang Berdaya Saing Tinggi; (iii) Kawasan dengan Pembangunan Ekonomi yang Merata; serta (iv) Kawasan yang Terintegrasi Penuh dengan Ekonomi Global.

ERIA menilai terdapat kemajuan substansial dalam proses menuju KEA 2015, antara lain:

  1. Dalam liberalisasi tarif, negara-negara ASEAN-6 (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) telah menerapkan tarif masuk 0% sementara Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam mesih menerapkan tarif rata-rata 2,6% pada tahun 2010;
  2. Dalam fasilitasi perdagangan, 5 (lima) negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia, telah siap untuk mengimplementasikan National Single Window (NSW) pada pelabuhan dan bandara utama pada tahun 2015;
  3. Iklim dan fasilitasi investasi di ASEAN telah menunjukkan perbaikan dalam 2 (dua) tahun terakhir. Tingkat liberalisasi investasi di ASEAN sendiri telah melampaui 75%;
  4. ASEAN telah on track menuju pembentukan ASEAN Single Aviation Market.

Kemajuan-kemajuan yang telah dicapai tersebut selayaknya dibarengi dengan integrasi yang lebih dalam dengan negara-negara mitra ASEAN, seperti India dan Asia Timur (RRT, Jepang, dan Republik Korea) melalui pembentukan Free Trade Area (FTA) ASEAN+6 (RRT, Jepang, Republik Korea, India, Australia, dan Selandia Baru).

Integrasi yang lebih dalam dengan negara-negara mitra ASEAN tersebut dapat berkontribusi pada terpeliharanya sentralisasi ASEAN. Adanya inisiatif integrasi yang lain, seperti China-Jepang-Korea FTA atau Trans-Pacific Partnership berpotensi menyaingi KEA dalam upaya pembentukan arsitektur regional yang bersentralkan pada ASEAN. Untuk itu, ERIA menyarankan ASEAN segera menyusun kerangka implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership untuk menjadi model bagi ASEAN dalam membangun arsitektur ekonomi di kawasan.

Sejumlah langkah yang dapat diambil ASEAN antara lain: meningkatkan fasilitasi perdagangan, investasi, dan transportasi; memajukan liberalisasi investasi dan jasa; memajukan realisasi pilar ketiga Cetak Biru KEA (kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata) khususnya pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM); memperdalam integrasi ASEAN dengan Asia Timur sekaligus memastikan sentralitas ASEAN; serta membangun kerangka dasar bagi terciptanya pasar tunggal dan basis produksi yang kompetitif dan dinamis.

Khusus mengenai Indonesia, ERIA menyarankan sejumlah langkah strategis yang harus ditempuh, yaitu meningkatkan fasilitasi investasi dan perdagangan; memperkuat Standar Nasional Indonesia; meningkatkan investasi dan alih teknologi di sektor pertanian; memperbaiki infrastruktur transportasi nasional; serta memperluas akses UMKM terhadap modal, teknologi, dan pasar.

Berkenaan dengan hasil kajian dan saran ERIA tersebut, ASEAN, khususnya Indonesia, harus dapat melakukan persiapan internal secara matang dalam rangka implementasi Cetak Biru KEA 2015. Partisipasi pada KEA bagi Indonesia tidak hanya untuk memenuhi komitmen regional tetapi juga sebagai upaya strategis dalam mengantisipasi dan menanggapi dinamika ekonomi di Asia Timur dan India. (RYM/DPOK)