Jumat, 19 Oktober 2012 - 07:58 WIB
Kabupaten Sumba Barat Daya Berharap dari Transit Presiden
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 3774 kali



Dalam perjalanan menuju Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari Jakarta melakukan transit di Bandara Tambolaka kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke Labuan Bajo dan diteruskan dengan perjalanan darat selama kurang lebih 4 jam menuju Ruteng. Nantinya, pada saat kembali ke Jakarta, Presiden dan rombongan kembali akan melalui jalur sama dengan melakukan persinggahan di Labuan Bajo dan Tambolaka.

Yang menarik dari perjalanan yang dilakukan oleh Presiden kali ini adalah pilihan buntuk melakukan transit di Tambolaka karena sebetulnya transit dapat dilakukan di Bandara lain seperti Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali atau Bandara International Lombok, Praya, yang lebih representative dan memadai. Namun dengan melakukan transit di Tambolaka sepertinya Presiden ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa proses pembangunan infrastruktur yang dapat memperkuat konektivitas memang sedang dan telah berjalan.

Seperti diketahui bersama, Presiden berulang kali mengingatkan pentingnya masalah konektivitas, terakhir dalam sambutan beliau pada pembukaan Forum Pengembangan Ekspor Dunia atau World Export Development Forum(WEDF) 2012, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (15/10) pagi, Presiden menyampaikan, “Pertumbuhan pasar harus memprioritaskan fasilitas perdagangan, terutama dengan mengembangkan infrastruktur keras dan lunak. Infrastruktur keras termasuk pelabuhan, jalan, dan jaringan teknologi informasi dan komunikasi yang canggih. Dengan infrastruktur tersebut, kita dapat meningkatkan konektivitas dan kemudian mengatasi kendala perdagangan. Dan dengan adanya Program MP3EI 2011-2015, cetak biru ini akan memberikan strategi pembangunan ekonomi yang komprehensif untuk negara dengan lebih dari 17 ribu pulau ini. Hal ini bertujuan untuk memajukan fasilitasi perdagangan melalui konektivitas, sumber daya manusia yang berkualitas, dan pembangunan enam koridor ekonomi di seluruh negeri.”

Bupati Kabupaten Sumber Daya Barat, dr. Kornelius Kodie Vilete, mengamini hal itu. ”Presiden tentunya memiliki alasan sendiri memilih Bandara Tambolaka sebagai tempat persinggahan meskipun landasan Bandar Udara Tambolaka masih “basah” karena sedang dalam proses pengerjaan. Landasan pacunya baru diperpanjang menjadi 2.300 meter dan belum pernah didarati oleh pesawat berbadan lebar, termasuk pesawat Garuda jenis Boeing 737 seri 800 yang mengangkut Presiden dan rombongan. Persinggahan Presiden di Tambolaka dimaknai sebagai wujud perhatian Kepala Negara terhadap daerah dan masyarakat Sumba Barat Daya,” jelas Kornelius.

Menurut Bupati, Pemerintah dan masyarakat Sumba Barat Daya yakin, walau sejenak berada di Tambolaka, perhatian Presiden tidak hanya difokuskan pada Bandara Tambolaka yang dikerjakan sejak tahun 2010 dengan total anggaran senilai Rp 26 milyar lebih dan bersumber pada APBN. “Jarak pandang Presiden bisa saja terbatas karena terhalang dinding gedung terminal yang baru dibangun seluas 4.250m2 namun diyakini Presiden mampu melihat dan merekam kondisi Sumba Barat Daya secara menyeluruh.

Diharapkan Presiden tidak mengalami kesulitan memahami Sumba Barat Daya karena karakteristik masyarakat dan daerahnya beserta problematikanya mirip dengan Kabupaten Sumba Timur yang sudah lebih dahulu dikunjungi Presiden pada bulan Juli 2012.” harap Bupati.

Sebagai daerah otonom baru, Sumba Barat Daya masih memiliki banyak kekurangan, air bersih bermasalah, listrik belum dinikmati semua warga, lapangan kerja terbatas mengakibatkan tingkat pengangguran tinggi. Kemiskinan masih mendera Sumba Barat Daya. Pada tahun 2009, penduduk Sumba Barat Daya berjumlah 278.955 jiwa. Dari jumlah ini, 18.230 rumah tangga miskin sehingga gizi buruk kerap diderita anak-anak.

Dalam kesempatan kunjungan kerja yang dilakukan Presiden kali ini, Bupati sangat mengharapkan Presiden dapat merekam kekurangan-kekurangan yang ada dan melengkapi pada kesempatan yang akan datang.

Tambolaka merupakan ibukota dari Kabupaten Sumba Barat Daya, dan Kabupaten Sumba Barat Daya sendiri adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat, dan dibentuk berdasarkan UU No. 16 tahun 2007. Peresmian berdirinya Kabupaten Sumba Barat Daya dilakukan oleh Penjabat Mendagri Widodo A.S. pada tanggal 22 Mei 2007. Kabupaten Sumba Barat Daya memiliki luas wilayah 1.445,32 km2, , populasi penduduknya total 278.955 jiwa  - Kepadatan 167,03 jiwa/km2 dan secara administrative terdiri dari 8 kecamatan dan 95 kelurahan.(Ramos Lumbangaol, Staf Bidang Ketahanan Pangan Setkab)