Rabu, 27 Maret 2013 - 10:38 WIB
Mengapa Terjadi Longsor di Cililin?
Oleh : DR. Sutopo Purwo Nugroho
- Dibaca: 3082 kali



Hujan deras yang terjadi pada Senin (25/3/2013) sejak pukul 03.00 Wib telah menyebabkan longsor di Kampung Nagrok, Desa Mukapayung, Kec Cililin, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat. Hingga Selasa (26/3) pagi, telah ditemukan 10 korban tewas dan 7 lainnya masih terus dicari. Sekitar 70 warga Kampung Nagrok terpaksa mengungsi.

Berdasarkan peta bahaya longsor, di Desa Mukapayung termasuk dalam zona bahaya tinggi longsor. Beberapa kejadian longsor di derah tersebut pernah terjadi, seperti pada tahun 2001, 2009, dan 2012. Penyebab utama longsor adalah curah hujan dan pengaruh aktivitas manusia. Permukiman dibangun di bawah lereng perbukitan dengan kemiringan curam hingga sangat curam, yaitu berkisar antara 40-60 derajat. Sebagian besar perbukitan dibudidayakan menjadi lahan pertanian tanaman semusim. Nyaris tidak ada hutan sama sekali. Hutan telah dikonversi menjadi lahan pertanian. Pengolahan tanaman semusim menyebabkan tanah menjadi gembur dan air mudah meresap ke tanah.

Seperti halnya kejadian longsor di tempat lain, terjadinya sumbatan saluran atau genangan air di bagian atas bukit menjadi pemicu longsor. Air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Lapisan tanah menjadi jenuh dan di bagian tanah keras atau batuan menjadi bidang peluncur sehingga terjadi longsor dan menghantam rumah-rumah yang dibangun di bawah bukit. Tanaman keras yang ditanam di perbukitan umumnya adalah tanaman yang bukan berakar panjang sehingga menambah beban dari struktur tanah.

Berdasarkan laporan masyarakat dan aparat di Kec. Cililin, pada Selasa (26/2/2013) dirasakan gempa yang bersumber dari gempa 5,3 SR yang berpusat di darat di baratdaya Cianjur dan dirasakan hingga di Bandung. Kondisi ini dapat memberikan pengaruh terhadap berkurangnya kekuatan struktur tanah atau terjadi retakan tanah yang kemudian terisi air saat hujan sehingga memicu longsor.

Lantas bagaimana solusi bagi masyarakat? Idealnya memang relokasi. Tetapi ini sulit dilakukan karena berkaitan dengan matapencaharian dan sosial budaya masyarakat. Relokasi adalah pilihan terakhir dalam penanggulangan bencana karena faktanya sulit masyarakat dipindahkan.

Di Indonesia terdapat 124 juta jiwa masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor sedang hingga tinggi yang tersebar di 270 kabupaten/kota. Artinya ada 124 juta jiwa yang berdiam di wilayah seperti mirip di Cililin tersebut. Apakah semua juga harus direlokasi? Tentu tidak. Yang diperlukan adalah bagaimana masyarakat memiliki kemampuan antisipasi dan proteksi terhadap longsor.

Mereka memiliki kemampuan mengantisipasi seperti saat terjadi hujan deras bersiap atau mencari tempat yang aman dari ancaman longsor. Memiliki kemampuan dengan membangun konservasi tanah dan air, seperti menanam pohon berakar panjang yang sejajar kontur, terasering, saluran searah lereng dan sebagainya.

Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor sebagian besar adalah masyarakat yang ekonominya menengah ke bawah. Kemampuan memproteksi diri juga rendah. Mereka melakukan budidaya pada daerah-daerah perbukitan yang rawan longsor. Produktivitas lahan juga rendah. Akibatnya makin meningkatkan kerentanan longsor dan makin memiskinkan dan mengancam jiwa mereka ketika terjadi bencana longsor. Jadi di Indonesia terdapat lingkaran setan antara kemiskinan dan bencana.

Tentu ini menjadi tugas bersama, baik pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Peta risiko bencana longsor hendaknya dijadikan acuan dalam penataan ruang. Sosialisasi diintensifkan dan lingkungan ditingkatkan kelestariannya. Pembangunan ekonomi masyarakat yang berbasis lingkungan dengan penanaman tanaman keras yang memiliki ekonomi tinggi perlu ditingkatkan. Agroforestry dapat menjadi model pengembangan bagi daerah-daerah rawan longsor.

 

*) Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB