Sabtu, 15 Februari 2014 - 06:42 WIB
Soal Wacana Larangan Menanam Tembakau, Seskab Minta Masukan Lembaga Riset
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 1086 kali



Sekretaris Kabinet (Sesjab) Dipo Alam meminta lembaga riset untuk memberi masukan kepada pemerintah seputar pemecahan permasalah tembakau, sehingga para petani tidak kehilangan sumber hidup, sementara kesehatan masyarakat tidak dirugikan.

"Ada nggak sih program yang bisa menjadi alternatif. Pemerintah tidak ingin main larang saja, tapi  petani tidak diberi alternatifnya," kata Seskab Dipo Alam, ketika menerima menerima Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK) di kantor Seskab, Jakarta, Jumat (14/2).

Dipo Alam juga meminta Kementerian Pertanian untuk membuat suatu program penanaman tembakau varietas Virginia  dan Na Oogst.n“Perusahaan rokok biasanya mengimpor Virginia dari China untuk memenuhi kebutuhan produksi rokok mild. Sedangkan Na Oogst diperuntukkan bagi pasar ekspor,” ujarnya.

Seskab Dipo Alam menambahkan daripada mengimpor dan untuk meningkatkan ekspor, para petani tembakau diharapkan menanam lebih banyak tembakau jenis Virginia dan Na Oogst. Lembaga riset, kata Dipo, perlu mencari varietas unggul dan melakukan uji tanam varietas tersebut sehingga bisa cocok untuk beberapa daerah, bukan hanya di Lamongan dan Bojonegoro, atau Jember untuk  Na Oogst.

Ia menyebutkan, volume impor tembakau terus naik seiring dengan peralihan rasa dari rokok kretek menjadi putihan dan mild lantaran masuknya tembakau jenis virginia yang impor dari luar sebagai perubahan taste pada rokok kretek.

“Saat ini volume impor tembakau virginia mencapai 66.000 ton 120.000 ton per tahun, wilayah Jatim berada di dikisaran 31.000 ton hingga 41.000 ton per tahun. Sedangkan tembakau virginia impor ini hanya dibutuhkan oleh perusahaan rokok besar yang memproduksi rokok putihan dan mild seperti Sampoerna,” papar Dipo Alam.

Padahal,lanjut Seskab Dipo Alam,  tembakau jenis virginia di Indonesia seperti di Nusa Tenggara Barat (NTB),Sumatera Utara (Sumut) dan Sulawesi Selatan (Sulsel) dan beberapa di Jatim jauh lebih bagus kualitasnya dibandingkan impor dari luar negeri.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Nurtanio Wisnu Brata menyambut baik langkah Seskab Dipo Alam, mengingat Indonesia tidak memiliki badan riset khusus tembakau. Mereka heran, justru plasma nutfah varietas tembakau asli Indonesia , saat ini sudah dikembangkan di China.

Selalu Gagal

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Nurtanio Wisnu Brata mengatakan, saat ini terdapat sekitar  3,6 juta orang yang hidupnya menggantungkan diri pada industri rokok kretek dalam negeri. Mereka terdiri dari 2,1 juta  petani tembakau dan buruh tani,  1,5 juta petani cengkeh, buruh perajang tembakau, petani pembibitan benih tembakau, dan kuli angkut.

Ia juga menyebutkan, industri rokok juga penyumbang cukup besar bagi pendapatan negara. Tahun 2012, misalnya, pendapatan negara dari cukai rokok mencapai Rp 72 triliun. Tahun 2013 ditargetkan mencapai Rp 88,02 triliun.

"Tembakau merupakan bahan baku dasar produksi kretek. Tembakau juga tanaman unggulan petani karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi," kata Wisnu.

Menurut Wisnu, para petani tembakau sudah beberapa kali menjalankan program penanaman komoditi pengganti tembakau  yang disodorkan oleh Kementerian Pertanian, namun selalu tidak berhasil karena tidak didukung bantuan pemasaran.

"Kami pernah menanam jarak, tapi tidak bisa menjual. Kami patuh mengerjakan proyek pemerintah, tapi kami ditinggal ketika panen. Tidak pernah ada kejelasan dari pemerintah soal manfaat diversifikasi tanaman tembakau dan kesiapan alternatif ekonomi bagi petani ketika dipaksa tidak lagi menanam tembakau," kata Wisnu.

Wisnu Brata bersama sejumlah anggota KNPK dan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) melayangkan surat  kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berisi permohonan agar pemerintah menerbitkan regulasi yang  sesuai dengan kondisi industri di Indonesia. Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda dengan negara lain  dalam skala, kontribusi, dan permasalahan industri tembakau. (WID/Humas Setkab/ES)