Jumat, 11 Maret 2011 - 17:37 WIB
Informasi Wikileaks Mengenai SBY Tidak Akurat
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 847 kali



(Jakarta, 11 Maret 2011) Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring mengatakan bahwa informasi yang dibocorkan Wikileaks dan diberitakan dalam Sydney Herald Morning dan The Age mengenai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak memiliki tingkat validasi yang akurat. Bahkan di beberapa negara informasi yang dibocorkan Wikileaks banyak diabaikan dan bahkan dianggap sebagai candaan.

“Itu ibarat biji kedondong, pantasnya dibuang. Kalau ditelan tenggorokan akan sakit”, kata Menkominfo.

Tifatul juga mengatakan banyak hal yang tidak logis mengenai informasi tersebut, misalnya dikatakan bahwa Taufik Kiemas adalah koruptor dan kasusnya diintervensi oleh SBY. Padahal selama ini kita tidak pernah mendengar yang bersangkutan terjerat kasus korupsi.

“Sebenarnya info Wikileaks tidak terlalu berpengaruh di Indonesia sebab kita adalah negara terbuka yang didukung UU Keterbukaan Informasi Publik. Jadi informasi tersebut tidak ‘laku’”, pungkas Tifatul.

Tifatul juga menambahkan bahwa jika di negara tertutup, otoriter dan tidak terbuka maka hal tersebut baru menjadi persoalan. Tifatul juga menyayangkan, kalau benar isi kawat  diplomatik dari Kedubes AS yang bocor ke seluruh dunia informasi ini masih sangat mentah dan belum jelas kebenarannya, namun sudah dikirim kesana kemari.

Dari keterangan diplomat AS disebutkan bahwa hal tersebut kadang-kadang bersumber dari obrolan lepas saat pertemuan, candaan, dan rumor yang lalu dimasukkan ke dalam laporan dubes ke Washington.

Mereka tidak melihat proses-proses yang harus dilalui untuk menyebut suatu data dapat disebut informasi. “Dimana verifikasi, identifikasi, klarifikasi dan validasi informasi tersebut? Seolah-olah hal ini seperti informasi sampah saja,” tandas Tifatul.

“Masa informasi seperti itu dikirim dan bocor ke mana-mana. Bagaimana AS menjaga keamanan informasi mereka,” kata Tifatul.

Banyak pihak juga mempertanyakan tentang informasi Wikileaks misalnya apakah benar Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton memerintahkan untuk menyadap informasi pemilihan anggota Majelis Umum PBB. “Mereka harus klarifikasi tidak bisa sekedar bergumam “it was denied”, tambah Tifatul.

Menkominfo menghimbau masyarakat agar dapat memilah dan memilih mana informasi yang benar dan yang salah. Mana yang terkonfirmasi dan mana yang sekedar gosip.

(Zaenal A Budiyono)