Selasa, 03 Juli 2012 - 13:57 WIB
Penyelundupan Manusia, Indonesia Sambut Baik Kebijakan Australia
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 945 kali



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut baik kebijakan pemerintah Australia untuk membebaskan anak-anak di bawah umur yang menjadi korban penyelundupan manusia. Indonesia sendiri akan menindak tegas keterlibatan warganya dalam sindikat internasional penyelundup manusia ini.

"Kita berharap repatriasi dari sisa anak-anak di bawah umur itu bisa dipercepat perlaksanaannya. Dari 215 orang, ada 54 anak-anak lagi yang kami harapkan bisa dibebaskan dengan sekaligus," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers bersama PM Australia Julia Gillard, seusai pertemuan bilateral, di halaman belakang Gedung Parlemen Teritori Kawasan Utara Australia, Darwin, Selasa (3/7) siang waktu setempat.

Presiden menegaskan, bahwa Indonesia  tidak memberikan angin bagi pelibatan orang Indonesia oleh jaringan sindikat internasional yang merugikan Indonesia dan Australia.  Indonesia juga menjadi korban dari aktivitas ilegal itu.

Karena itu, Indonesia justru mendorong agar perjanjian ekstradisi dengan Australia yang sudah dilaksanakan pada tahun 1992 lalu bisa segera diimplementasikan, sehingga bisa dilakukan estradisi secara timbal balik sesuai dengan kepentingan dan juga dengan mekanisme hukum di negara masing-masing.

Penanggulangan Bencana

Selain soal penyelundupan manusia, pertemuan Presiden SBY dan PM Australia Julia Gillard juga mendiskusikan inisatif bersama untuk penanggulangan bencana dengan melibatkan militer. Dasar pijakan kerja sama ini adalah join paper pada KTT Asia Timur di Bali, November 2011. Dalam paper tersebut, kedua negara juga mengajak Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) bergabung.

"Indonesia dan Australia memelopori kerja sama (penanggulangan bencana) diantara negara-negara kawasan. Kita berharap Amerika Serikat, RRT, dan negara lain bisa bekerja sama dalam menghadapi bencana alam yang bisa melibatkan tentara," ujar Presiden SBY.

Sementara soal kerjasama perdagangan,  meskipun volume perdagangan kedua negara meningkat tajam, naik 29 persen pada tahun 2010 sampai tahun 2011, Idonesia dan Austalian memandang  masih ada peluang untuk meningkatkan lagi. Kedua negara menargetkan volume perdagangan ini mencapai 15 miliar dolar AS pada tahun 2015.

"Kita memiliki target, dengan kerja keras kita, tahun 2015 ingin mencapai volume perdagangan sebesar 15 miliar dolar Amerika Serikat. Saya harap itu bisa kita capai sebagaimana kita telah melakukan negosiasi bagi Indonesia-Australia Economic Comprehensive Agreement yang akan membuka jalan bagi peningkatan kerja sama perdagangan bilateral kita," kata Presiden SBY.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Australia yang positif di tengah krisis ekonomi global merupakan modal untuk kerja sama yang lebih besar lagi.

Dalam pertemuan bilateral tadi, dibahas pula peningkatan kerja sama peternakan sapi. Menurut Presiden, permintaan akan daging sapi di Indonesia meningkat karena melonjaknya golongan menengah. Indonesia juga mengundang investasi dari Australia untuk pengembangan infrastuktur bagi terciptanya kontektivitas di kawasan.

Di akhir keterangan persnya, Presiden mengajak PM Australia untuk menghadiri Bali Democracy Forum yang akan digelar untuk kelima kalinya tahun ini.

Sementara itu pada kesempatan sebelumnya, PM Julia Gillard mengatakan bahwa negaranya dan Indonesia memiliki tujuan yang sama, yaitu menyejahterakan rakyatnya. PM Gillard sangat mengapresiasi pembahasan bilateral dan bertekad mewujudkannya.

"Saya menunggu pertemuan pertama untuk menegosiasikan kerja sama ekonomi yang komprehensif yang akan dipimpinin oleh masing-masing menteri perdagangan, yang salah satunya mendiskusikan kerja sama penerbangan," kata Julia Gillard.(AOS/ES)