Selasa, 07 Agustus 2012 - 10:19 WIB
Menteri Pertanian Optimistis Swasembada 5 Komoditas Pangan Tercapai 2014
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 1723 kali



Penyediaan benih tepat waktu,jumlah dan mutu mlalui penerapan kultur jaringan dan pembinaan penangkar

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono optimistis target swasembada 5 (lima) komoditas pangan, yaitu beras, jagung, kedelai, gula dan daging sapi akan bisa dicapai pada tahun 2014 mendatang. Guna mencapai target tersebut jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) telah melakukan berbagai langkah, di antaranya  dengan peningkatan intensitas penyuluhan, peningkatan penggunaan pupuk (organik dan anorganik), dan peningkatan benih hibrida.

Saat menghadiri sidang kabinet terbatas bidang pertanian dan pangan di kantor Kementan, Jakarta, Senin (6/8) siang, Menteri Pertanian Suswono menyampai bahwa sektor pertanian di tanah air akan tetap memainkan peranan yang strategis. Hal ini karena menyangkut penyediaan pangan bagi 245 juta penduduk Indonesia, penyedia 87 persen bahan baku industri kecil dan menengah, penyumbang 14,72 persen PDB, penghasil devisa negara 43,37 miliar dolar AS.

Selain itu, sektor pertanian telah menyerap 33,32 persen total tenaga kerja, menjadi sumber utama (70%) pendapatan rumah tangga pedesaan, dan memberikan kontribusi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 8 juta ton.  Karena itu, pemerintah akan terus memberikan perhatian yang besar untuk pengembangan sektor pertanian.

Menyangkut 5 (lima) komoditas pangan yang ditargetkan swasembada, Menteri Suswono menyampaikan data target produksi kelima komoditas itu sebagaimana tabel  berikut:

Komoditas

Produksi 2011
(juta ton)

Target Produksi 2014
(juta ton)

Padi (GKG)

65,76

76,57

Jagung (pipilan kering)

17,64

29,00

Kedelai (biji kering)

0,85

2,70

Gula (GKP)

2,23

3,1

Daging sapi

0,29

0,51

“Kondisi saat ini (2012) produksi beras nasional 38,4 juta ton, permintaan beras 35,5 juta ton surplus 3,9 juta ton. Diharapkan pada tahun 2014 produksi beras mencapai 45 juta ton, permintaan 34,9 juta ton, sehingga akan surplus 10,1 juta ton,” ungkap Suswo.

Diakui Mentan, masih adanya sejumlah permasalahan dalam pembangunan sektor pertanian 2010-2014, diantaranya konversi lahan,kepemilikan lahan yang sempit,sulitnya akses petani ke lahan terlantar hutan,masih menggunakan alat/teknologi tradisional,industri yang belum berkembang, lemahnya kelembagaan petani,kapasitas kelembagaan yang beragam,sulitnya petani mendapatkan pinjaman,banyaknya petani gurem/kecil,tunggakan KUT yang belum diputihkan,lemahnya sistem produksi dan distribusi benih,hambatan pengembangan benih transgenik,tingginya kerusakan jaringan irigasi, tingginya biaya produksi dan transportasi,terbatasnya jumlah SDM,masih rendahnya mutu SDM.

Swasembada Jagung

Mengenai langkah-langkah swasembada jagung, Menteri Pertanian RI Suswono menyebutkan upaya-upaya menuju swasembada jagung 2014, di antaranya: peningkatan ketersediaan air pada 25 persen lahan; peningkatan intensitas penyuluhan; peningkatan penggunaan pupuk menjadi 54 persen (organik dan anorganik); peningkatan benih hibrida mencapai 80 persen; perbaikan penanganan pasca panen untuk penurunan susut 1 persen; pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan dampak perubahan iklim sehingga luas pertanaman yang aman minimal 95 persen melalui pengendalian hama terpadu (PHT) dan spot stop; peningkatan produktivitas dari 4,7 ton / hektar menjadi 5,8 ton / hektar dan IP dari 1,0 menjadi 1,2, dan [enambahan luas panen minimal 5 persen per tahun.

Adapun mengenai swasembada kedelai yang saat ini produktivitas nasionalnya dalam lima tahun terakhir stagnan, Mentan menjelaskan, saat ini, produksi kedelai nasional hanya 779.000 ton pertahun, sementara kebutuhan nasional 2,2 juta ton pertahun.

Untuk mewujudkan swasembada kedelai 2014, Kementerian Pertanian menempuh langkah-langkah strategis mencakup:

-
Penambahan luas tanam dari 700.000 hektar menjadi 2 juta hektar
-Penambahan luas lahan melalui kemitraan dengan BUMN dan swasta
-Peningkatan produktivitas dari 1,3 ton / hektar menjadi 1,54 ton / hektar
-Penumbuhan industri perbenihan di lokasi sentra produksi
-Kebijakan harga dasar kedelai dan subsidi sarana produksi
-Bantuan alat perontok untuk pengurangan losses (0,5%)
-Bantuan benih unggul 80 persen dari total luas pertanaman
-Penggunaan pupuk sebesar 80 persen (organik dan anorganik)
-Peningkatan intensitas penyuluhan,
-Pengendalian pertanaman dari gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) melalui pengendalian hama terpadu (PHT) dan spot stop
-Peningkatan intensitas sistem surjan untuk lahan rawa

Swasembada Gula

Untuk mencapai target swasembada gula pada 2014, Kementerian Pertanian memusatkan perhatian pada perluasan lahan,peningkatan produktivitas dan rendemen tebu, dan perawatan ratoon. Untuk itu diperlukan beberapa upaya,

-Perluasan areal tanam tebu 350.000 hektar
-Penyediaan benih tepat waktu,jumlah dan mutu mlalui penerapan kultur jaringan dan pembinaan penangkar
-Bongkar ratoon pada tanaman tebu yang sudah dikepras lebih 4 kali
-Rekomendasi pemupukan dengan tipologi lahan
-Distribusi benih sesuai kebutuhan varietas di wilayah pabrik gula
-Benih varietas unggul produktivitas lebih dari 100 ton/hektar/tahun,potensi rendeman lebih dari 9 persen dan toleran terhadap perubahan iklim
-Pupuk berimbang
-Kletek/kelupas daun kering tebu
-Pengairan
-Pendampingan penerapan teknologi guna perawatan ratoon

Swasembada Daging

Sementara guna mencapai target swasembada daging sapi/kerbau 2014, Kementerian Pertanian melakukasn beberapa langkah meliputi:

-Peningkatan hijauan pakan ternak (HPT)
-Pengembangan sumber benih/bibit HPT 36 UPTD dan 41 kelompok
-Pemanfaatan hasil samping pertanian/perkebunan 9 jenis
-Pengembangan unit pengolah HPT 77 kelompok
-Ibtegrasi ternak-tanaman 333 kelompok
-Pengembangan lumbung pakan 111 kelompok
-Penambahan berat badan harian sapi lokal 0,4 – 0,8 kg
-Penurunan alokasi impor sapi/daging sapi dari 53,05% (2010) menjadi 34,91% (2011), 20% (2012),15% (2013), dan 10% (2014)
-Penanggulangan penyakit gangguan reproduksi terhadap 91.000 ekor
-Rumah potong hewan (RPH) yang menjalankan butchering system.

 

(WID/ES)