Selasa, 19 Maret 2013 - 22:22 WIB
Seskab: Mungkin Ada Pemburu Rente Dalam Perijinan Impor Bawang
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 857 kali



Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam angkat bicara terkait kelangkaan bawang merah dan bawah putih di pasaran, yang membuat harga kedua komoditas pangan itu melejit di pasaran. Ia menduga menghilang komoditas pangan yang dibutuhkan masyarakat itu, termasuk sebelumnya kasus impor daging sapi, terkait dengan masalah perizinan yang otoritasnya dipegang oleh salah satu instansi, yaitu Kementerian Pertanian.

“Ini kan terkait dengan perizinan, mungkin, ada yang dimanfaatkan oleh pemburu rente. Tapi itu sudah diketahui oleh Presiden,” kata Seskab Dipo Alam saat diwawancarai Karni Ilyas dalam acara Indonesia Lawyers Club di TV One, Selasa (19/3) malam.

Terkait kasus yang terjadi di Kementerian Pertanian itu, Dipo Alam mengemukakan, sesuai dengan arahan  Presiden SBY dalam beberapa kali sidang kabinet agar semua menteri mengawal pemanfaatan dana APBN dari kongkalikong, ia bersama Mensesneg Sudi Silalahi telah menginterview Menteri Pertanian Suswono.

“Kami melakukan cross chek atas berbagai masukan yang disampaikan oleh masyarakat, termasuk para pejabat di Kementerian Pertanian sendiri mengenai dugaan adanya kongkalikong dan praktik mark up dalam sejumlah pengadaan barang di Kementerian Pertanian,” ungkap Dipo  Alam.

Data-data mengenai dugaan adanya praktek kongkalikong dan mark up itu, lanjut Seskab, sudah diteruskan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang kemudian berbuntut pada penahanan Lutfi Hasan Ishak, anggota DPR-RI yang juga mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Kami bukan penyidik, karena itu data kami teruskan ke KPK. Tentu KPK lebih canggih, memiliki data yang lebih lengkap dan akurat sebagai dasar penahanan tersangka kasus impor sapi di Kementerian pertanian, bukan hanya data dari kami,” papar Dipo Alam.

Tunggu Tanggal Mainnya

Dalam kesempatan itu, Seskab Dipo Alam mengingatkan para pejabat eselon I Kementerian Pertanian yang hadir dalam acara Indonesia Lawyers Club agar mendahulukan kepentingan rakyat, bukan kepentingan Peraturan Menteri (Permen) saja.

"Kalau memang sudah melihat gejala tadi, kalau sampai Presiden kemarin mengoreksi keras, solusinya yang penting, bukan debatnya  antara kementerian. Semua Permen itu kan untuk rakyat, bukan rakyat untuk Permen itu...terbalik. Mesti ada langkah yang cepat,” pesan Seskab.

Adapun mengenai usulan Ridwa Saidi, budayawan yang hadir dalam acara tersebut, agar Menteri Pertanian diberikan tindakan karena menjadikan Indonesia sebagai negara importir bawang, Seskab menyebutkan usulan-usulan seperti itu tentu sudah sampai ke Presiden SBY.

“Tunggu saja tanggal mainnya. Tunggu saja tanggal mainnya, kita juga menghormati hukum. Tapi yang Pak Ridwan Saidi kawan saya kemukakan saya bisa paham dan mengerti,” pungkas Seskab Dipo Alam. (WID/ES)