Selasa, 09 April 2013 - 13:13 WIB
Cegah Bentrokan, Presiden Minta Para Komandan TNI Harus Dekat Dengan Anak Buah
Oleh : DESK INFORMASI
- Dibaca: 735 kali



Seusai melaksanakan jalan pagi dan senam bersama di lapangan Monas,  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyempatkan diri beramah tamah dengan jajaran TNI AD di Mabes TNI Angkatan Darat, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (9/4) pagi.

Dalam kesempatan ini Presiden SBY sempat mengisahkan perjalanan kariernya di TNI AD, mulai dari lulus Akademi Militer (Akmil) tahun 1973, lalu bertugas di berbagai daerah termasuk sebagaiKkomandan Batalyon 744 di  Dilli Timor- Timur, hingga akhirnya harus pensiun dini dari TNI AD karena pada 1999 diusulkan Panglima TNI Jendral Wiranto sebagai Kepala Staf TNI AD kepada Presiden Abdurrahman Wahid, namun oleh Gus Dur (Abdurrahman Wahid) justru dipilih menjadi anggota kabinet.

“Tentu lulusan Akademi Militer cita-citanya menjadi KSAD, sehingga waktu dulu saya batal memimpin Angkatan Darat dan harus masuk politik terus terang kami sedih, saya , istri dan anak-anak  karena itu bukan cita-cita kami. Tapi tentu tentu skenario tuhan, rencana Allah lebih Indah dari yang sering kita pikirkan,” ungkap Presiden SBY.

Kepada para para Jenderal, Presiden SBY minta agar disampaikan kepada para Kapten, para Mayor, para Letnan Kolonel, jangan pilih-pilih tugas dan jabatan, jabatan manapun jika dilaksanakan dengan baik pastilah membawa kebaikan bagi kariernya.

“Jangan pilih-pilih jabatan, jangan pilih-pilih tempat dan sebagainya. Banyak yang tidak suka menjadi guru, instruktu maupun dosen, katanya hidup segan mati tak hendak, itu dulu pernah saya lewati,  ternyata ragam kedinasan itu mendidik kepribadian kita kalau kita selalu menjadi komandan,” papar Presiden SBY sembari menyebutkan, biasanya mentalitasnya tentara itu mental memerintah tapi kalau pernah menjadi guru, pernah menjadi komandan, pernah di teritorial, pernah di daerah operasi, syukur-syukur pernah berdinas di luar negeri, biasanya lebih lengkap. Makin tinggi jabatan yang diperlukan kepribadian bukan hanya fisik dan inteleknya.

Dekat Anak Buah

Mengenai kejadian akhir-akhir ini yang disebut KSAD Jendral Pramono Edhie Wibowo telah menjadi TNI AD disorot masyarakat, Presiden SBY mengaku senang dengan apa yang telah dilakukan oleh jajaran TNI maupun jajaran Angkatan Darat dalam menyelesaikan masalah itu.

“Saya bangga dengan gerakan cepat dan tanggungjawab penuh dan kesediaan menyelesaikan masalah dengan sebaik-baiknya, marilah pada kesempatan yang baik ini kita petik pelajarannya,” kata SBY.

Presiden SBY meminta para pemimpin dan komandan TNI agar menggunakanlah hati untuk memikirkan bagaimana yang terbaik memimpin prajurit memimpin satuan untuk menjalankan tugas  dan menjaga citra baik TNI utamanya TNI Angkatan Darat.

Berbagai kejadian yang melibatkan prajurit TNI, seperti bentrokan dan main hakim sendiri, menurut SBY, bukan hanya terjadi hanya tahun 2013 ini saja. Dari dulu memang ada. Dari dulu, 30 tahun lalu saat ia  bertugas di TNI, kata SBY, hal itu juga sering terjadi.

“Namun sebagai pimpinan dan jajaran TNI, Darat, Laut, Udara, Polri harus berusaha mencegahnya, berusaha menanggulanginya, sejauhmungkin tidak terjadi. Jika pun telah terjadi cepat dikelola dan diselesaikan dengan baik,” tutur SBY.

Menurut Presiden SBY, meskipun jaman sudah berubah yang tadinya paguyubannya kuat hubungan antar manusia dan kelompok dekat sekarang seperti tidak harus karena semua bisa dengan teknologi yang bersifat digital, militer itu apalagi angkatan darat mengemban tugas dengan cara memimpin manusia. 

“Mengajak manusia, mendorong manusia,  memotivasi untuk bertempur. You Are leading the people, You Are leading the Soldiers yang dipimpin itu bukan mesin,  yang dipimpin itu manusia yang punya harapan, yang punya perasaan, yang punya keinginan, yang punya persoalan, oleh karena itulah seorang pemimpin diwajibkan untuk menyelami, mengetahuim memahami, bersama-sama dan mengatasi segala persoalan yang dihadapi oleh anak buahnya, oleh prajuritnya,” pesan SBY.

Presiden meyakini, manakala letnan, kapten, mayor sampai letnan kolonel dekat sama anak buah, dekat sama prajurit, jam-jamnya, hari-harinya bersama mereka. Tidak mungkin mereka tidak tahu  what is going on, apa yang terjadi di satuan itu, di kesatrian itu. Cepat tanggap, sensitif, peka. Ada keganjilan, ada kumpul-kumpul malam hari ngga wajar, yang mimpin bukan perwira misalnya.

“Tolong, meskipun sekarang era digital, tidak ada yang bisa menggantikan itu. Jadi Danton, Danpi tidak lama maksimal 5 tahun, Danyon juga 2-3 tahun, jadi 10 tahun seorang Letnan, Kapten, Mayor, Letnan Kolonel itu harus habis waktunya bersama prajurit, termasuk keluarganya, satuannya, kesatriannya, kegiatan sehari-harinya,” ujar SBY.

Presiden SBY meminta agar pola hubungan komandan dan prajurit itu dihidupkan lagi itu. “Kalau itu yang terjadi percayalah tidak senam jantung saudara-saudara,” tutur SBY sembari mengatakan saat ini Danrem sudah berjarak, Danton, Pangdam, Pangkostrad, KSAD ke atas, sudah sangat berjarak. Yang tidak berjarak adalah letnan, kapten, mayor, letnan kolonel.

“Teruskan yang saya sampaikan ini kepada mereka. Tidak dilarang mereka menikmati era teknologi, era digital, supaya mereka juga cerdas, tidak tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi the business of military officer itu adalah memimpin anak buah untuk melaksanakan tugas-tugas, termasuk tugas pertempuran,” kata Presiden SBY mengingatkan.

Menurut Presiden SBY, banyak kejadian bentrokan antar satuan, bukan hanya antara TNI dan Polri, bukan hanya antara Angkatan Darat, Angkatan Laut, Udara bahkan sesama angkatanpun bisa terjadi. “Kuncinya ya seperti itu, manakala bersama-sama bisa dicegah, bisa dicegah,” ungkap SBY

Presiden mengingatkan bisa saja seorang Danyon tidak tahu menahu tiba-tiba anak buahnya melakukan sesuatu, apalagi dalam bentuk kelompok. Namun ditegaskannya meskipun dia tidak terlibat langsung dia memiliki tanggung jawab yang disebut dengan command responsibility, apalagi kalau terlibat.

“Jadi memang berat sebagai komandan, sebagai pemimpin, tapi itulah, kalau kita semua melewati, adik-adik kita juga harus bisa melewati,” tukas Presiden SBY.

(Kun/Ira/Humas Setkab/ES)