Fri, 02-24-2012 09:02 WIB
Sangiran, Kawasan Yang Mendunia
By : Said Muhidin
- Read: 2413 times


Sejak ditemukan situs manusia purba oleh seorang antropologis Jerman bernama Gustav Heinrieh Ralph Van Koemig Swald pada tahun 1930, kawasan Sangiran, di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, menjadi pusat perhatian dunia, mengingat penemuan ini sangat mencengangkan dan menjadi kunci utama dalam perkembangan teori evolusi manusia. Paling tidak, ditemukan fosil dari 5 jenis manusia purba yang berbeda, yang menguatkan teori adanya evolusi manusia dari manusia kera hingga menjadi manusia modern seperti saat ini.

Sebelumnya, nama Sangiran tidak banyak dikenal orang, karena kawasan ini hanyalah merupakan sebuah daerah pedalaman yang terletak di kaki Gunung Lawu, tepatnya sekitar 17 km ke arah utara dari Kota Solo, dan secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Sragen, dan sebagian terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Sebagai sebuah situs yang begitu penting dalam peradaban kehidupan manusia pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Cagar Budaya, dan pada tahun 1996 situs ini ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu World Heritage Site (situs warisan dunia). Penetapan situs Sangiran sebagai situs warisan dunia sangatlah beralasan mengingat hampir 50% penemuan fosil manusia purba pra sejarah di dunia berasal dari Sangiran.

Situs Sangiran memiliki nilai tinggi bagi ilmu pengetahuan dan menjadi aset bagi Indonesia, sehingga merupakan objek wisata ilmiah yang menarik, karena memberi sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di dunia, khususnya ilmu arkeologi, geologi, paleotropologi, dan biologi.

Kawasan Sangiran sampai saat ini masih menyimpan misteri yang sangat menarik untuk diungkap, karena banyak ditemukan sisa-sisa kehidupan pada masa lampau. Diantaranya yang paling menajubkan adalah sejarah kehidupan manusia purba baik mengenai habitat maupun pola kehidupannya dalam kurun waktu 2 juta tahun yang lalu.

Di kawasan tersebut ditemukan manusia purba jenis Homo Erectus lebih dari 100 individu yang mengalami masa evolusi tidak kurang dari 1 juta tahun. Jenis Homo Erectus yang ditemukan adalah dari masa Pleistosen awal dan Pleistosen tengah, dan mungkin juga Pleistosen akhir. Manusia ini memiliki ciri-ciri tinggi badan kurang lebih 165-180 cm, dengan postur yang tegap tetapi tidak setegap Megantropus.

Selain fosil manusia purba, di Sangiran juga terdapat fosil hewan bertulang belakang hingga cangkang Molusca fosil vertebrata, yang ditemukan di semua lapisan (Kalibeng,Kabuh, dan Notopuro), juga fosil gajah purba, badak, banteng, sapi, kerbau, dan rusa. Diperkirakan hewan-hewan tersebut hidup sejaman dengan Homo Erectus.

Keseluruhan fosil yang telah ditemukan sampai saat ini sebanyak 13.809 buah. Dengan jumlah fosil yang demikian banyak dan mengingat kegiatan menemukan benda-benda bersejarah tersebut masih terus berlangsung, serta banyaknya wisatawan yang datang ke wilayah tersebut, maka munculah ide untuk membangun sebuah museum. Dengan adanya museum tersebut, fosil-fosil perlu disimpan dalam sebuah tempat yang khusus agar terpelihara dengan baik, dan memberikan banyak manfaat, baik bagi dunia ilmu pengetahuan maupun peningkatan perekonomian masyarakat.

Pada awalnya Museum Sangiran dibangun diatas tanah seluas 1.000 meter persegi yang terletak di balai Desa Krikilan. Namun, untuk menampung fosil-fosil tersebut dibangunlah museum yang lebih representatif guna melayani kebutuhan para ilmuwan untuk melakukan penelitian, maupun wisatawan dalam melakukan kunjungan wisata, sehingga dapat menjadi pusat informasi yang lengkap tentang sejarah peradaban manusia.

Museum Sangiran yang ada saat ini telah diresmikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Bidang Kebudayaan pada tanggal 15 Desember 2011. Dengan berdirinya museum ini, diharapkan seluruh peta kehidupan pada jaman purba dapat disimpan dengan baik.

Menurut Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), Harry Widianto, paling tidak terdapat tiga hal yang dapat diharapkan dari keberadaan museum ini, yaitu:

1.  Seyogyanya dapat berbicara tentang kehidupan tertua beserta bukti-bukti peninggalan fosil manusia purba, artefak, dan lingkungannya.;

2.  Dapat menjadi pusat penelitian manusia purba, kehidupan prasejarah tertua, dan lingkungan kuarter;

3.  Merupakan bagian dari sebuah institusi yang mengelola situs Sangiran secara integratif, yaitu penelitian, pelestarian, dan pemanfaatan,

Saat ini Museum Sangiran telah berdiri dengan kokoh dan megah serta berkelas internasional, yang membanggakan bangsa Indonesia karena memiliki museum berkelas internasional. Kebanggaan dan kekaguman pun disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika melakukan peninjauan dan melihat secara langsung keberadaan Museum Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, Kamis (16/2).

Seusai melakukan peninjauan Museum Sangiran, yang sebelumnya tidak diagendakan, Presiden menyampaikan pesan dan kesan yang sangat baik terhadap keberadaan Museum Sangiran. Presiden mengajak kepada putra putri bangsa untuk datang ke tempat ini, baik mahasiswa, pelajar, maupun masyarakat umum selain berwisata juga melaksanakan studi agar mengenal betul peradaban manusia di masa silam, termasuk evolusi kehidupan manusia.

Kepala Negara menilai, Museum Sangiran merupakan museum yang sangat luar biasa, sehingga dapat dijadikan sebagai pusat studi untuk mengenal lebih jauh  tentang peradaban perkembangan kehidupan maupun evolusi manusia di masa lalu.

Kekaguman Presiden terhadap Museum Sangiran bukan tanpa alasan, karena kawasan inila merupakan pusat peradaban kehidupan manusia di dunia jutaan tahun yang lalu, dan seiring dengan perjalanan waktu telah berkembang seperti sekarang ini.

Dengan ditetapkannya Museum Sangiran sebagai salah satu tujuan wisata budaya, kawasan Sangiran diharapkan akan semakin ramai dikunjungi oleh para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Terlebih-lebih lagi, Presiden telah berkunjung langsung dan mengajak agar para pelajar dan masyarakat umum untuk datang melihat keberadaan museum tersebut. Diharapkan setelah kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut, jumlah kunjungan wisatawan akan semakin bertambah.

Meskipun telah menjadi kawasan yang mendunia, ternyata masyarakat Indonesia banyak yang belum mengenal Situs Sangiran. Hanya kalangan tertentu saja yang mengetahui Sangiran, misalnya peneliti dan mahasiswa atau pelajar. Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini pihak pengelola ditantang untuk lebih meningkatkan lagi promosi dan sosialisasi agar Kawasan Sangiran semakin dikenal masyarakat luas,.

Kerjasama dengan institusi pendidikan sangat penting dilakukan guna memberikan pengetahuan kepada para pelajar mengenai kehidupan manusia purba, sekaligus pembuktian teori evolusi manusia. Selain itu, perlu dilakukan juga dengan kalangan media massa, baik cetak maupun elektronik, serta dengan para pengusaha di bidang pariwisata guna mempromosikan paket-paket wisata yang terintegrasi dengan wisata budaya.

Dengan begitu, sebagai salah satu kawasan yang telah tercatat namanya sebagai kawasan world heritage (warisan dunia), akan mampu mengangkat bangsa Indonesia yang dahulunya merupakan salah satu pusat peradaban dunia. Namun, yang tidak kalah penting adalah disamping memberikan manfaat bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, keberadaan situs sebagai kawasan world heritage  juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

(Bidang Humas Kedeputian Persidangan Kabinet)

-----------------------------