Fri, 08-10-2012 08:54 WIB
Bandara Soekarno-Hatta Menuju Bandara Aerotopolis
By : Thanon Aria Dewangga
- Read: 7357 times



Sering kita dengar pujian terhadap ‘kemewahan’ dan ‘keramahan’ Bandar Udara Internasional Changi di Singapura. Bandar udara internasional yang dimiliki oleh negara ‘kecil’ namun memiliki jangkauan yang luas terhadap pelayanan penerbangan internasional. Bandar udara ini pun dijadikan sebagai bandar udara transit sebelum melanjutkan penerbangan ke Indonesia, Australia atau negara-negara di kawasan Asia Pasifik lainnya. Pelayanan 24 jam dengan sentuhan humanis di berbagai sisi membuat penumpang yang transit atau yang bertujuan ke Singapura dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Tidak heran banyak yang membandingkan Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta dengan Bandar Udara Internasional Changi. Masyarakat kita banyak berharap agar kita dapat menyamai bandara tersebut, dan rasanya harapan tersebut tidak lama lagi akan terwujud.

PENGEMBANGAN BANDARA SOEKARNO HATTA

Langkah awal restorasi Bandar Udara internasional Soekarno Hatta diawali dengan peletakan tiang pancang pertama atau groundbreaking  pengembangan Bandara Soekarno-Hatta menjadi kawasan 'Aerotropolis' (konsep kota bandara yang di antaranya akan dilengkapi dengan pusat perbelanjaan, bisnis, dan hiburan hingga perhotelan), Kamis (2/8/2012). Proyek pengembangan Bandara Soekarno-Hatta ini ditargetkan rampung pada 2014, sehingga meningkatkan kapasitas bandara  menjadi 62 juta pergerakan penumpang per tahun.

Kepala Negara memaparkan lima alasan dilaksanakannya pengembangan Bandara Soekarno Hatta yaitu:

  1. Dengan pertumbuhan ekonomi mencapai enam persen dan produk domestik bruto (gross domestic product/GDP) sebesar 1 triliun dollar AS, terjadi peningkatan kebutuhan, termasuk terhadap jasa angkutan udara. Meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia telah menjadi yang terbesar se-Asia Tenggara, dan hal tersebut di antaranya terlihat dari peningkatan kebutuhan jasa penerbangan tanah air;
  2. Konsensus para pemimpin kawasan, baik ASEAN maupun Asia Timur dan Asia Pasifik untuk mempercepat konektivitas di dalam kawasan;
  3. Pengembangan ini sesuai dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) terkait perlunya pembangunan infrastuktur secara menyeluruh.
  4. Peningkatan konektivitas antarnegara ASEAN dan kawasan lain terkait dengan Komunitas ASEAN 2015, di mana Indonesia akan tergabung dalam ASEAN Economic Community tahun 2015;
  5. Adanya manfaat ekonomi yang lain, yaitu terciptanya lapangan kerja dan industri turunan, seperti material dan jasa-jasa lainnya.

Pengembangan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta dituangkan dalam Grand Design Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta yang merupakan sebuah konsep besar yang berfungsi sebagai pedoman atau guidelines dalam pembuatan perancangan dan pengembangan yang mengacu kepada Rencana Induk Bandar Udara Soekarno Hatta (sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan no : KM 48 tahun 2008). Menilik dari sejarahnya, bandara ini merupakan bandar udara utama yang melayani kota Jakarta dan merupakan pintu gerbang Indonesia, dibangun mulai tahun 1980 dimulai dengan beroperasinya terminal 1 pada tahun 1985, dilanjutkan dengan pengoperasian terminal 2 tahun 1992 dan puncaknya peresmian terminal 3 tahun 2009.   

Saat ini Bandara Soekarno Hatta memiliki 3 bangunan terminal penumpang dan 1 terminal kargo melayani penerbangan domestik dan internasional pada tahun 2010 ditengarai sebagai bandara tersibuk nomor 13 dengan total penumpang pesawat sejumlah 44.355.998 orang, sedikit di bawah Bandar Udara Internasional Hongkong dan Madrid, bahkan jauh di atas Bandar Udara Internasional Svarnabhumi Thailand dan Bandar Udara Internasional Changi Singapura. Tercatat pada tahun 2009 pergerakan pesawat udara di Bandara Soekarno Hatta mencapai 286.000 pergerakan per tahun, jauh meningkat dibandingkan awal terjadinya krisis moneter tahun 1998.

MENUJU ECO AIRPORT

Konsep renaissance diusung oleh pengelola bandara Soekarno Hatta agar menjadi gateway of Indonesia dengan kekuatan baru yang mampu bersaing, efektif dan efisien baik dalam aspek operasional maupun komersial. Hal ini untuk mengantisipasi pengembangan bandara 20 tahun ke depan dimana diprediksi periode tahun 2020-2030 kawasan Asia Pasifik akan mengalami traffic melebihi kawasan Eropa dan Amerika. Sebuah prediksi yang sangat menjanjikan dan perlu segera dilakukan langkah-langkah antisipasi bila Indonesia tidak ingin ketinggalan dibanding negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. Dengan merujuk pada forecast penumpang, forecast pergerakan pesawat, forecast aktivitas penerbangan dan  forecast kargo udara, beberapa upaya yang dilakukan yang tercantum di dalam grand design yaitu :

  1. pengembangan sisi udara, antara lain dengan  penambahan jumlah runway, penambahan taxiway, penambahan parking stand, penambahan panjang stopway serta penjagaan clearway
  2. sistem terminal dan penumpang, antara lain dengan membangun terminal 4, membangun konektivitas antar terminal, memindahkan area kargo dan membangun fasilitas penunjang
  3. pengembangan area komersial, antara lain dengan penambahan public area dan penambahan area komersial
  4. Aksesibilitas, yaitu dengan membangun sistem pelayanan kereta api terpadu, membangun sistem pelayanan air bridge dan merevitalisasi sistem pelayanan bus jarak jauh dan shuttle.

Disamping itu, Bandara Soekarno Hatta dikembangkan untuk menuju kearah eco airport dimana sustainability dan manajemen lingkungan merupakan sebuah inisiatif, baik dalam new initiative maupun kondisi existing. Pada master plan eco airport, inisiatif terhadap lingkungan dalam perspektif global harus menjadi konsep utama yang tidak hanya terpaku pada operasional bandara namun juga terhadap pelayanan dan kenyamanan pengguna. Tujuan dari eco airport itu sendiri untuk mewujudkan bandar udara yang mempunyai visi global lingkungan hidup serta menyelenggarakan bandar udara yang mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Secara praktis, berbagai upaya yang akan dilakukan untuk mencapai eco airport itu sendiri dengan menerapkan desain yang ramah lingkungan, mengganti alat-alat yang hemat listrik, penerapan pembagian sampah, melakukan penghijauan serta pengoperasian sewage treatment plan.

Untuk menuju bandar udara Internasional Soekarno Hatta yang ideal memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Diperlukan kerjasama semua pihak, pengelola dan pengguna bandara agar dapat menciptakan dan merawat sebuah bandara internasional yang berkelas Aerotropolis. Bandara berkelas Aerotropolis seperti Incheon, Changi, Svarnabhumi atau Schipol tidak serta merta menjadi bandara yang terbaik. Kurang lebih ada 10 kategori yang menentukan peringkat untuk menjadi bandara yang terbaik, termasuk sisi aksesibilitas, kenyamanan, kecepatan transit pesawat, keramahan para staf, serta fasilitas seperti toko perbelanjaan dan lain-lain. Untuk membenahi hal tersebut, diperlukan strategi penahapan agar bandara Soekarno hatta dapat masuk ke dalam kategori bandara terbaik. Tahap pertama yang perlu  dilakukan adalah membangun konstruksi terminal existing, kemudian revitalisasi sarana dan prasarana serta membangun konstruksi terminal baru (Terminal 4). Bila pengembangan Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta dapat berjalan sesuai dengan apa yang diterapkan di dalam grand design, kita patut berbangga bahwa Indonesia mempunyai Bandar Udara internasional yang berkelas Aerotropolis yang mampu bersaing dengan bandara-bandara terbaik sebelumnya.

*) Asdep Bidang Pelaksanaan dan Pelaporan Persidangan Set