Wed, 03-06-2013 09:00 WIB
Konektivitas Nasional Meningkatkan Daya Saing
By : Eddy Cahyono Sugiarto *)
- Read: 4454 times



Dinamika ekonomi global dewasa ini telah berdampak pada perubahan konstelasi tatanan ekonomi pada seluruh negara. Problema ekonomi yang melanda  negara-negara ekonomi maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa, mulai dirasakan dampaknya bagi negara-negara lain,  sebagai konsekuensi globalisasi ekonomi. AS disibukan dengan  penanganan tebing fiskal (fiscal cliff),  dan Eropa dengan krisis utang.

Sampai awal 2013 ini, meskipun AS  dan Eropa telah menempuh langkah kebijakan jangka pendek, perekonomian mereka belum menunjukkan tanda-tanda akan segera membaik. Akibatnya,   kontur ekonomi global masih belum menentu.

Jika mengacu kepada prediksi IMF, pertumbuhan ekonomi  global masih  akan turun tahun  2013. Semula  IMF memprediksi ekonomi akan tumbuh 3,9 persen, namun dikoreksi menjadi 3,6 persen.  Sementara Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)  mengatakan dalam 20 tahun ini rata-rata pertumbuhan perdagangan 5,4 persen, namun tahun 2013 diperkirakan hanya 4,5 persen.

Indonesia termasuk negara yang merasakan implikasi krisis global meskipun masih bersifat second round effect,  dampak derivatif hard landing Cina sebagai mitra dagang terbesar.

Gejala transmisi krisis mulai terdeteksi dari neraca perdagangan yang sempat mengalami defisit selama tiga bulan berturut-turut akibat menurunnya kinerja ekspor Indonesia. Hal ini sebagai konsekuensi dari melemahnya permintaan pasar AS dan Eropa. Imbasnya,  Indonesia menjadi  pasar peralihan alternatif bagi produk-produk negara lain yang kehilangan pasar di kedua wilayah kunci tersebut.

Indonesia sebagai pasar peralihan alternatif bukanlah tanpa alasan,  mengingat   jumlah penduduk Indonesia yang berkisar 240 juta jiwa,  pesatnya pertumbuhan  pasar domestik dan kelas menengah Indonesia

Keniscayaan

Daya saing adalah kemampuan suatu negara untuk mencapai pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang tinggi terus-menerus (World Economic Forum, Global Competitiveness Report,1996).

Daya saing nasional merupakan kemampuan suatu negara menciptakan, memproduksi dan/atau melayani produk dalam perdagangan internasional, sementara dalam saat yang sama tetap dapat memperoleh imbalan yang meningkat pada sumber dayanya (Scott, B. R. and Lodge, G. C., “US Competitiveness in the World Economy”, 1985).

Daya saing makin menjadi kata kunci dalam perkembangan ekonomi global  yang melahirkan persaingan dan kompetisi. Daya saing menuntut manajemen dengan standar global dan transnasional.  “Meskipun pasarnya lokal atau regional, namun pesaingnya adalah global, demikian adagium ekonomi global.

Fenomena merebaknya produk impor Cina di pasar domestik,   dapat dijadikan bukti bahwa produk yang memiliki daya saing tinggi dan harga yang kompetitif dapat merajai pasar dan mengalahkan produk lokal. Dari fenomena tersebut  dapat dipetik pelajaran berharga bahwa dalam persaingan  pasar bebas, dituntut membangun keunggulan inti  (core competence) dengan membangun daya saing.

Daya saing merupakan kata kunci untuk menentukan keunggulan, juga diyakini sebagai salah satu kunci mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Keunggulan ekonomi suatu negara sangat ditentukan kuatnya daya saing, salah satunya indikatornya dapat dicermati dari strategi membangun sistem konektivitas.

Pembangunan konektivitas  bermuara pada peningkatan daya saing,   memperoleh efisiensi biaya produksi (cost production), dan menekan ekonomi biaya tinggi.

 Lingkaran Konektivitas

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam sesi panel pembukaan World Economi Forum on East Asia (WEFEA) di Plenary Hall, Hotel Shangri-La Bangkok, Kamis (31/5/12), menekankan pentingnya konektivitas dalam mendukung percepatan pembangunan ekonomi kawasan ASEAN dan Asia Timur.

Presiden SBY mengajak negara-negara  anggota D-8 untuk memperkuat konektivitas negara G-8, konektivitas harmonisasi kebijakan, dan konetivitas dalam perbaikan sarana infrastruktur , bea cukai dan kepabeanan.

Presiden SBY mengharapkan agar masterplan konektivitas Asean yang diantaranya meliputi industri, sektor jasa, pertanian dan transportasi, perhubungan, kepariwisataan, perdagangan, mutual investment, perlu dipercepat pelaksanaannya.

Sejalan dengan  hal tersebut,  pemerintah  telah mengambil langkah-langkah strategis, dalam mengantisipasi perkembangan ekonomi global dan meningkatkan peran serta bagi suksesnya pengembangan konektivitas.

 Indonesia telah menempuh berbagai kebijakan inward looking dan outward looking, agar selaras dengan pengembangan konektivitas, salah  satunya ditempuh melalui Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) .

Bermodal catatan positif pembangunan ekonomi diawal abad ke-21 ini, kita tentu cukup optimistis program MP3EI bisa terealisasi dengan baik. Seperti diketahui, tahun 2013 diprediksi tetap akan menjadi tahun investasi Indonesia.

Merujuk hasil penelitian Asia Business Outlook (the Economist Corporate Network), bersama dengan China dan India, Indonesia akan menjadi tiga negara teratas yang menjadi tujuan investasi di Asia pada tahun 2013.

Pembangunan Konektivitas Nasional 

Penguatan Konektivitas Nasional yang efisien dan efektif merupakan salah satu strategi yang ditempuh dalam rangka percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia,MP3EI).

 Konektivitas Nasional mencerminkan  penyatuan 4 (empat) elemen kebijakan nasional: Sistem Logistik Nasional (Sislognas), Sistem Transportasi Nasional (Sistranas), Pengembangan wilayah (RPJMN/RTRWN), dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT).

 Aspek transportasi memegang peran yang sangat penting dalam pembangunan Konektivitas Nasional. Menurut survei UNTACD, kontribusi moda transportasi dalam perdagangan dunia, transportasi udara sebesar 0,3%, transportasi darat sebesar 16%, perpipaan 6,7% dan transportasi laut  77%.

Dominannya transportasi laut mengindikasikan kemajuan perekonomian dan perdagangan nasional, dan  sangat tergantung dari pengembangan sistem logistik nasional, utamanya dalam  menciptakan transportasi laut yang baik dan unggul.

 Sistem logistik sebagai salah satu komponen konektivitas nasional,  memiliki peran strategis dalam menyelaraskan kemajuan antarsektor ekonomi dan antarwilayah demi terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

 Peran strategis Sistem Logistik Nasional tidak hanya dalam memajukan ekonomi nasional, namun sekaligus sebagai salah satu wahana pemersatu bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 Sistem Logistik Nasional yang efektif dan efisien diyakini mampu mengintegrasikan daratan dan lautan menjadi satu kesatuan yang utuh dan berdaulat, sehingga diharapkan dapat menjadi penggerak bagi terwujudnya Indonesia sebagai negara maritim.

 Berdasarkan kondisi geografis, Indonesia  terdiri lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) pulau yang terbentang sepanjang 1/8 (satu per delapan) garis khatulistiwa, dengan kekayaan alam yang melimpah dan menghasilkan komoditas strategis maupun komoditas ekspor.

 Kondisi ini apabila dikelola dengan baik dengan dukungan sistem logistik nasional yang kondusif,  sejatinya merupakan potensi ekonomi yang dahsyat,  yang merupakan modal dasar dalam menjadikan Indonesia sebagai “supply side” yang dapat memasok dunia dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki dan hasil industri olahannya. Pada saat yang sama, Indonesia akan  menjadi pasar yang besar atau “demand side” dalam rantai pasok global karena jumlah penduduknya yang besar.

 Hal ini  akan dapat terwujud bila ada kesatuan pandang dari para pemangku kepentingan, untuk terus mengoptimalkan sinergitas dalam mendukung pengembangan konektivitas nasional, melalui sistem logistik nasional yang handal, sehingga produk-produk Indonesia dapat bersaing dengan produk negara lain.

 Pengembangan sistem logistik nasional yang efisien akan berdampak pada biaya distribusi, yang akan meningkatkan daya saing produk. Jika biaya angkut barang dan biaya ekspor rendah, daya saing akan meningkat. Daya saing diperlukan  tidak hanya untuk menembus pasar ekspor, namun juga bisa mengamankan serangan produk impor di dalam negeri.

Sistem logistik nasional bisa dikatakan berjalan baik jika sudah tidak ada ketimpangan harga produk di daerah yang dekat dengan pusat dan daerah yang jauh dari sistem logistik nasional.

Penguasaan produk pangan strategis daging sapi, buah-buahan  dan sayuran oleh negara lain di Indonesia,  merupakan indikator lemahnya sistem logistik nasional,  yang  belum  kondusif  dalam meningkatkan daya saing  harga komoditas pangan.

Di sisi lain, Komunitas Ekonomi ASEAN pada 2015 dan juga China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA), seyogyanya menjadi tantangan  bagi para pemangku kepentingan di Indonesia untuk terus berupaya meningkatkan daya saing  nasional guna mendapatkan manfaat nyata.

Dengan kata lain, manfaat ekonomi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean 2015  bagi peningkatan pembangunan ekonomi di  Indonesia, sangat tergantung  sejauh mana kesiapan kita mendukung percepatan pengembangan sistem konektivitas  dalam negeri. Konsentrasi, kerja keras dan kerjasama  tetap perlu terus dipelihara,  untuk mengejar target-target  percepatan pembangunan infrastruktur dalam mendukung sistem logistik nasional.

Tahun 2013 sebagai tahun politik hendaknya tidak melonggarkan semangat untuk menjadikan MEA 2015 sebagai “musuh bersama”  yang harus ditaklukkan. Persiapan matang adalah separuh dari kemenangan. 

Semoga.

                                                                                --------------------------

*) Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan