Fri, 03-23-2012 08:38 WIB
Masjid Gurindam 12 di Pulau Panyengat
By : Desk Informasi
- Read: 1294 times


Masih ingat dengan gurindam dua belas? Gurindam dua belas adalah sajak dua belas pasal  yang berisikan petuah bijak atau nasihat. Susatra ini hasil karya pujangga Raja Ali Haji, sastrawan dan pahlawan nasional yang berasal dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau (Kepri). Raja Ali Haji seorang ulama lahir tahun 1808, meninggal pada usia 65 tahun, dan dimakamkan di Pulau Penyengat. Beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional bidang bahasa Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 089/TK/2004.

Nama Pulau “Penyengat “menurut cerita dikarenakan konon di pulau ini terdapat banyak  lebah atau tawon yang sering menyengat pendatang yang hendak mengambil air tawar untuk bekal di perjalanan. Pulau ini menjadi tempat persinggahan pelaut untuk mengambil air tawar bekal dalam perjalanan. Barangkali terdapat diantaranya yang  disengat lebah atau tawon di pulau tersebut. Pulau Penyengat disebut juga sebagai Pulau Maskawin, karena pulau ini merupakan maskawin Sultan Mahmudsyah, Raja Kesultanan Riau Lingga ke VIII, saat mempersunting Engku Putri Raja Hamidah.

Pulau Penyengat memiliki warisan budaya dan religi yang sangat menarik. Pulau yang nama lengkapnya Pulau Penyengat Indera Sakti, terletak di Kecamatan Tanjung Pinang Barat, Kepulauan Riau. Tepatnya di  bagian barat atau didepan persis kota Tanjungpinang di  Pulau Bintang. Secara astronomis berada pada posisi 0,0 56’ lintang Utara dan 1040 29’ Bujur timur. Pulau ini  memiliki panjang kurang lebih 2 km, lebar 1 km, yang luasnya 2 km2.

Menuju pulau ini cukup mudah. Bisa ditempuh dari Batam dengan menaiki kapal penyeberangan feri menuju Tanjungpinang dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Yang lebih mudah apabila dari Jakarta langsung menuju ke Ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjung Pinang. Dari Jakarta terdapat beberapa penerbangan yang langsung ke Tanjungpinang.  Tidak perlu jauh-jauh ke Singapura terlebih dahulu, nyambung  ke Pulau Batam dan naik feri  ke Pulau Bintang baru kemudian menuju Pulau Penyengat. Jalur itu memutar. Dengan penerbangan langsung dari Jakarta menuju Tanjungpinang  dilanjutkan perjalanan menuju pelabuhan naik Pompong  menuju Pulau Penyengat.  Jarak dari  Tanjung Pinang, kurang lebih 1,5 km  yang dapat di tempuh dengan perahu motor  selama  15 menit-an. Penduduk biasa menyebut perahu motor ini dengan nama pompong. Pompong adalah perahu kecil yang berfungsi sebagai sarana tranportasi laut yang menghubungkan Tanjungpinang ke Pulau Penyengat. Menuju Pulau penyengat dengan pompom ini cukup  dengan tiket Rp 5000 per orang.  

###

Di pulau tempat kelahiran pencipta gurindam ini terdapat masjid unik dan indah, yaitu Masjid Raya Sultan Riau Penyengat atau yang dikenal dengan Mesjid Sultan. Orang biasa memanggilnya dengan Masjid Pulau Penyengat karena lokasi masjid tersebut memang berada di Pulau Penyengat,  Riau. Ada juga yang menyebut Masjid Putih Telur, karena - menurut cerita -  bahan bangunan ini dibuat dengan menggunakan putih telur yang di campur dengan pasir dan kapur sebagai perekat.  Bagi yang pertama kali menginjakkan di kaki bumi Penyengat, nampak Masjid Sultan ini, seakan berada di depan Masjid penyengat. 

Masjid Penyengat tampak dari depan

Masjid  ini tercatat dalam sejarah sebagai peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang masih ada. Keseluruhan  kompleks masjid berukuran sekitar 54 x 32 meter. Ukuran bangunan induknya sekitar 20 x 18 meter yang ditopang oleh empat buah tiang beton besar kurang lebih berdiameter 1,75 m. Dinding bangunan ini sangat tebal, kurang lebih 80 cm. Terdapat 13 kubah (bubung)  yang susunannya  melintang dan membujur.  Kubah berbentuk bawang, berbaris empat ke arah kiblat dan berbaris tiga dengan arah melintang, yang berjumlah 12. Ketika ditambah dengan kubah di atas beranda masuk utama, maka kubah berjumlah 13. Di keempat sudut bangunan ini terdapat menara tempat Bilal mengumandangkan azan yang memiliki ketinggian sekitar 19 meter.

Terdapat 4 buah menara, yang puncak menara berbentuk runcing seperti pensil atau pena, seperti menara-menara masjid di Turki, yang memiliki gaya arsitektur Bizantium. Perbedaanya adalah menara masjid di Turki tinggi dan ramping, sedangkan menara Masjid Sultan Riau di Penyengat runcing, namun tidak tinggi dan ramping alias gemuk. Apabila digabung maka jumlah menara  dan bubung yang dimiliki masjid tersebut sebanyak 17 buah. Jumlah angka 17 ini mengandung simbol sebagai jumlah rakaat shalat. Warna kuning tampak dominan dalam bangunan masjid ini, sehingga ada yang menyebut masjid kuning.

Tidak seperti masjid-masjid lainnya yang ada saat ini yang bangunannya baru dan serba modern, Masjid Sultan masih asli belum mengalami pemugaran yang berarti, bahkan boleh dikatakan belum dilakukan pemugaran. Perbaikan yang dilakukan sebatas pengecatan, pemasangan keramik dan peralatan pendukung kegiatan jamaah seperti lampu-lampu sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Melayu ini didirikan pada tahun 1832 pada masa pemerintahana Yang Dipertuan Muda Riau Raja Ja’far  (1806-1831) dan dilanjutkan pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja  Abdurrahman. Masjid ini dibangun ketika pulau ini menjadi tempat tinggal Engku Puteri Raja Hamidah, istri penguasa Riau yang bernama Sultan Mahmudsyah (1761-1812).

Masjid Sultan Riau ini terletak lebih  tinggi di banding tanah sekitarnya dengan ketinggian sekitar 3 meter dari permukaan jalan. Kemungkinan, lokasi masjid ini dahulu bukit kecil yang diratakan. Untuk naik ke masjid, dibuat tangga yang cukup tinggi.

Pada mulanya masjid ini hanya berupa bangunan kayu sederhana berlantai batu yang hanya memiliki sebuah menara  setinggi kurang lebih 6 meter. Namun seiring dengan berjalannya waktu  dan bertambahnya jumlah jamaah, masjid ini tidak mampu menampung jumlah jamaah, sehingga Yang Dipertuan Muda Raja Abdurahman (Sultan Kerajaan Riau pada 1831-1844) berinisiatif untuk memperbaiki dan memperbesar masjid tersebut seperti saat ini. Untuk membuat mesjid yang besar,  Sultan menyeru kepada seluruh rakyatnya untuk bergotong royong. Menurut buku panduan berwisata  Kepri, peristiwa ini terjadi tepatnya tanggal 1 Syawal 1248H (1832M).

Unit bangunan kompleks masjid ini, dari tangga hingga mihrab, terpisah-pisah yang masing-masing dalam posisi simetris. Untuk menuju masjid melalui tangga dengan terlebih dahulu melewati halaman masjid. Ketika sampai halaman di sebelah kiri dan kanan masjid, terdapat bangunan kembar berdinding beratap limasan batu. Bangunan kembar tersebut bernama sotoh, yang berfungsi sebagai tempat bermusyawaratan para ulama. Di samping bangunan kembar tersebut, di sisi kiri dan kanan terdapat bangunan  berbentuk persegi empat panjang yang sejajar dengan arah kiblat. Kedua bangunan ini tidak berdinding, mempunyai kolong yang tidak tinggi, yang kontruksinya terbuat terbuat dari kayu.

Pintu utama masuk ke dalam masjid berada di tengah, berupa beranda yang menjorok ke depan. Beranda ini diatapnya berupa kubah. Di ruang utama masjid terdapat atap yang sangat unik. Bila kita menengok diatas tidak dijumpai eternit, terdapat kubah di atas yang seakan kita di bawah kubah. Kelihatannya terdapat pengaruh India dalam arsitektur masjid ini. Di paling depan dalam ruang tengah ini terdapat mihrab (mimbar) yang unik dan indah, sebagai tempat menyampaikan khotbah. Seperti masjid-masjid lainnya, mihrab  pada mulanya sebagai tempat imam menyampaikan khotbah pada waktu sholat jumat. Sekarang kebanyakan mihrab menjadi hiasan di masjid, sedangkan khotbah di podium di sebelahnya. Sedangkan di Masjid Sultan ini tidak ada podium.

Mihrab atau mimbar tempat menyampaikan khotbah

Di dalam masjid, tersimpan kitab-kitab kuno  koleksi perpustakaan yang didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X. Koleksi  yang menarik lain adalah kitab suci Al-Quran tulisan tangan karya  Abdurrahman Stambul. Abdurahman Stambul seorang penduduk asli Pulau Maskawin yang dikirim kerajaan Riau belajar agama ke Mesir. Al Quran tulisan tangan itu dibuat tahun 1867. Abdurrahman menulis Al Quran di sela-sela mengajar mengaji ilmu agama kepada murid-muridnya. Ada tiga Al Quran yang di tulis dengan tangan Abdurrahman Stambul, namun yang tersisa tinggal satu, yang lainnya sudah lapuk dimakan usia.

Di pulau ini masih banyak lokasi wisata, bila ingin berkeliling di Pulau Penyengat dapat menyewa becak motor dengan tarif Rp25 ribu. Anda akan dibawa minimal ke tempat lokasi wisata di Pulau ini  seperti  makam raja-raja makam (terdapat makam  pahlawan nasional raja Ali Haji), Istana kantor, Istana Tengku Bilik, benteng pertahanan di Bukit Kursi, Makam Yang Dipertuan Muda Riau VI Ja’afar, Balai Adat Melayu yang menjadi tempat pertemuan atau musyawarah pejabat kerajaan. Pulau penyengat dan komplek istana di Pulau Penyengat ini  telah dicalonkan menjadi salah satu Situs Warisan Dunia, Unesco. Semoga berhasil.  

Ketika mengitari Pulau ini di sudut-sudut jalan akan ditemui hiasan papan kayu berisi pasal-pasal Gurindam Dua Belas. Seperti di persimpangan jalan di depan Masjid Kuning, terpampang cuplikan pasal pertama Gurindam Dua Belas. Ya, di pulau gurindam dua belas ini ada masjid gurindam dua belas, Masjid Sultan ya Masjid Penyengat.

(Arief Khumaedi, Anggota Desk Informasi Setkab)