Tue, 12-18-2012 10:51 WIB
RUMAH LAYAK HUNI Untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah
By : Desk Informasi
- Read: 3940 times



Memiliki rumah layak huni yang berada di lingkungan yang sehat merupakan dambaan semua  orang. Mereka menginginkan memiliki rumah untuk tinggal dengan nyaman, terlindung dari sengatan matahari, guyuran air hujan, dan debu. Di rumah itu mereka dapat berkumpul dan menjalin komunikasi dengan keluarga, serta membangun masa depan. Namun, karena  keterbatasan  ekonomi  tidak  semua orang, khususnya warga  yang  berekonomi lemah, mampu memperbaiki rumahnya.

Untuk mengatasi permasalahan rumah masyarakat miskin itu, sejak tahun 2006 Pemerintah melalui Kementerian Perumahan  Rakyat (Kemenpera) melakukan perbaikan rumah melalui program rumah swadaya. Bantuan  dana yang diberikan Rp 5 juta/unit untuk kategori peningkatan kualitas atau rusak ringan, dan Rp 10 juta/unit untuk kategori pembangunan baru atau rusak berat.

Pada periode 2006 – 2011 Kota Pekalongan mendapat bantuan rumah swadaya sebanyak 1.961 unit dengan total anggaran Rp 10,52 miliar, yang terdiri dari peningkatan kualitas 1.817 unit dengan anggaran Rp 9,08 miliar, dan pembangunan baru 144 unit dengan anggaran Rp 1,44 miliar. Khusus tahun 2011 bantuan yang diterima sebanyak 350 unit kategori peningkatan kualitas dengan anggaran Rp 1,75 miliar. Pembangunan rumah swadaya tersebar di 4 kecamatan dan 47 kelurahan.

Penerima manfaat rumah swadaya bermata pencaharian sebagai buruh pabrik, buruh nelayan, buruh tani, tukang becak, dan lain-lain. Mereka umumnya berpenghasilan sekitar  Rp 500 ribu - 1 juta/bulan. Uang bantuan  dari Kemenpera  dipergunakan membeli bahan material, lalu pemugaran rumah dilakukan oleh warga secara gotong-royong yang dikoordinir pemda setempat. Semula rumah mereka kondisinya memprihatinkan, tak layak huni, atap dan dindingnya berlubang-lubang dan kebanjiran di musim hujan. Setelah direhab rumah warga miskin tersebut menjadi layak huni, tidak bocor lagi, dan mereka dapat tidur dengan nyenyak.

Selain itu Pemerintah juga membangun jalan  lingkungan  dan drainase di sekitar rumah swadaya. Semula jalan lingkungan dari tanah dan tidak ada drainase, sehingga kumuh, air dari rumah menggenangi jalan, sehingga menimbulkan banyak penyakit. Setelah dilakukan pembangunan jalan dan drainase yang waktunya bersamaan dengan pembangunan rumah swadaya, lingkungan menjadi bersih dan rapi.

Salah satu kelurahan yang ditinjau adalah Kelurahan Banyurip Ageng, Kecamatan Pekalongan Selatan, di mana terdapat 34 unit rumah swadaya yang dibangun tahun 2011. Kartini, penerima bantuan rumah swadaya dengan nilai Rp 5 juta, menuturkan semula dinding rumahnya terbuat dari gedek dan berlubang-lubang dan atapnya bocor sehingga sering kebanjiran di saat hujan. Lalu dilakukan perbaikan, dinding rumah diganti dengan dinding tembok, dan genteng yang bocor diganti dengan genteng baru.

Kartini seorang janda yang mempunyai tiga  anak. Ia bekerja sebagai  buruh di sebuah perusahaan batik dengan upah Rp 450.000/bulan. Karena keterbatasan ekonomi dia tak mampu memperbaiki rumah, karena penghasilannya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Saya bersyukur karena  Pemerintah membantu  saya memperbaiki rumah, sehingga rumah saya sekarang cukup bagus dan enak ditempati, tidak bocor lagi,” katanya.

Penerima bantuan rumah swadaya lainnya adalah Zaini. Pria yang bekerja sebagai buruh bangunan ini mendapat bantuan uang Rp 5 juta untuk memperbaiki dinding rumahnya yang rusak dan mengganti genteng. “Sebenarnya sejak dulu ingin memperbaiki rumah, tapi uangnya tidak cukup, karena penghasilan saya tidak menentu. Alhamdulillah, keinginan memperbaiki rumah terwujud tahun lalu berkat bantuan Pemerintah,” katanya.

Sementara itu untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki rumah, Kemenpera  juga menyediakan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Krapyak di Kelurahan Krapyak Lor, Kecamatan Pekalongan Utara. Rusunawa  Krapyak  dibangun  tahun  2006 – 2009 dengan anggaran Rp 24 miliar,  terdiri dari tiga twin blok  dan berkapasitas  288 unit kamar, serta  secara resmi dihuni tahun 2009.  Adapun peran Pemkot Pekalongan  dalam pembangunan Rusunawa Krapyak adalah menyediakan lahan 19.000 m², listrik, sarana air bersih, dan jalan lingkungan. Dukungan Pemkot Pekalongan dalam menyukseskan penyediaan  Rusunawa  untuk  masyarakat berpenghasilan rendah itu hendaknya ditiru oleh daerah-daerah lain, mengingat masih banyak Rusunawa yang sudah dibangun tetapi belum dihuni karena belum tersedianya listrik dan air.

Keistimewaan Rusunawa Krapyak adalah lokasinya yang strategis sehingga mudah dijangkau dengan berbagai sarana transportasi baik angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Selain itu, lokasinya  berdekatan dengan  tempat kerja sehingga dapat  menghemat biaya transportasi.

Rusunawa  Krapyak  memiliki kelebihan dalam hal tarif sewa yang sangat murah berkisar Rp 100.000 – Rp 125.000/bulan, atau dua kali lipat lebih murah daripada sewa rumah kontrakan yang berkisar Rp  200.000 -  Rp 250.000 per bulan. Selain lebih mahal, para buruh  juga harus mengeluarkan uang transportasi untuk menuju ke tempat kerja. Sedangkan dengan menempati Rusunawa, akses jalan ke tempat kerja lebih dekat dan cukup ditempuh dengan berjalan kaki. Selain itu, keamanan di Rusunawa lebih terjamin karena ada satuan pengamanan (satpam) yang berjaga 24 jam.

Keberadaan Rusunawa  Krapyak berdampak pada tumbuhnya  mini market, toko  batik, warung makan, dan usaha-usaha lain di sekitar Rusunawa Krapyak. Hal  ini  membuat  para penghuni  Rusunawa  Krapyak mempunyai banyak pilihan dalam berbelanja, sehingga  harganya bisa  bersaing.

Sumarlinda, seorang penghuni Rusunawa Krapyak, menuturkan, ia dan keluarganya sejak Januari 2012  menempati Rusunawa tersebut dengan tarif Rp 125.000/bulan. Sedangkan untuk pemakaian listrik dan air ia membayar rata-rata  Rp 60.000 – Rp 80.000/bulan. Suaminya bekerja sebagai buruh di bengkel mobil dengan upah Rp 50.000/hari. Tempat kerja sang suami dekat dengan Rusunawa, dan cukup ditempuh dengan jalan kaki. Sebelumnya Sumarlinda dan keluarganya tinggal di rumah mertua.

“Enak tinggal di Rusunawa karena airnya bersih dan listrik jarang padam. Sedangkan air di rumah mertua yang berasal dari sumur kurang bersih. Rumah mertua cukup jauh dari tempat kerja suami, dan dia naik angkot ke tempat kerja. Kalau sekarang  suami tidak perlu mengeluarkan uang transportasi ke tempat kerja karena cukup berjalan kaki. Selain itu sekolah anak-anak dekat dengan Rusunawa, cukup berjalan kaki,” kata ibu tiga anak itu.  (Arif Rahman Hakim & Sahat Yogiantoro)