Wed, 12-19-2012 07:40 WIB
GROUND BREAKING KEBUN PANGAN DI KETAPANG, KALIMANTAN BARAT Sinergitas BUMN dalam Mendukung Ketahanan Pangan
By : Desk Informasi
- Read: 2296 times



Menteri BUMN didampingi Staf Khusus Presiden Bidang Pangan dan Energi pada tanggal 17 Desember 2012  menghadiri ground breaking Kebun Pangan tahap 1 seluas 3.000 Ha di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kegiatan ground breaking ini juga dihadiri para Dirut dan direksi BUMN terkait, antara lain PT Sang Hyang Seri (PT SHS), PT Pertani, Bulog, Bank BRI, Bank Mandiri, Askes dan PT. Hutama Karya

Acara yang digagas oleh BUMN PT SHS adalah upaya untuk meningkatkan hasil padi yang dikelola petani dengan mitra BUMN di provinsi Kalimantan Barat. Ground breaking Kebun Pangan ini dilaksanakan sesuai dengan arahan Presiden SBY untuk mewujudkan surplus beras minimal 10 juta ton pada tahun 2014. Disamping itu, kegiatan ini merupakan implementasi  Inpres No 5 thn 2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional dalam Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim. Inpres ini menginstruksikan Menteri BUMN untuk meningkatkan fungsi BUMN dalam pengadaan dan pengelolaan beras nasional.

Sejumlah BUMN yang tergabung dalam konsorsium akan mengembangkan kawasan pertanian di beberapa daerah di Kalimantan Barat untuk meningkatkan produksi pangan, terutama beras. BUMN tersebut di antaranya adalah Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia dan PT Sang Hyang Sri. Pengelolaan lahan yang dibantu konsorsium BUMN tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas petani. Sementera itu, dari pihak pemerintah, dalam hal ini yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian, akan membantu benih subsidi, pupuk subsidi, serta alat pertanian.

Kegiatan ground breaking ini sudah diawali sejak Januari 2012. Menteri BUMN dan para dirut BUMN lingkup pangan, termasuk PT SHS, melakukan survei lokasi Kebun Pangan di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Dari potensi lahan di Kabupaten Ketapang seluas 19.500 ha, realisasi yang sudah dicetak sawah seluas 3.000 ha. Selain itu, sudah ada lagi 6.000 ha lahan yang dikerjasamakan dengan pola Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi (GP3K).

Perum Bulog berencana mengembangkan lahan pertanian seluas seribu hektar. Sementara itu, PT Pupuk Indonesia dan PT Sang Hyang Sri masing masing berencana mengelola antara 25 ribu sampai dengan 50 ribu hektar lahan pangan. Pada saat ini PT Sang Hyang Sri tengah mengelola kawasan pertanian seluas tiga ribu hektar di Kabupaten Ketapang.

Pengelolaan lahan seluas 3.000 ha yang dibantu konsorsium BUMN ini  diharapkan mampu meningkatkan produktivitas petani, dari produksi 3 ton per ha menjadi 5 ton per ha. Dengan adanya pola ini, potensi produksi yang didapat mencapai sebesar 30.000 ton per tahun.  Sesuai perjanjian, jika diperoleh kelebihan produksi maka hasil kelebihan produksi tersebut dibagi dua yaitu untuk petani dan pengelola.

Dalam sambutannya, Dirut PT SHS menyatakan, dalam konsep pengelolaan Kebun Pangan tersebut, PT SHS bertindak sebagai organizer sekaligus sebagai avalis didukung oleh sertifikasi lahan sebagai penjamin modal kerja. Lahan tetap menjadi milik petani dan lahan petani akan disertifikasi agar menjadi bankable. Petani bersedia menjalin kerjasama kemitraan dengan PT SHS selama 20 tahun dan menyerahkan penggunaan lahan untuk dikelola sebagai satu kesatuan manajemen. Adapun mengenai bagi hasil panen budidaya tanaman padi atau tanaman pangan lainnya diatur berdasarkan kesepakatan yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

PT SHS akan melakukan investasi di sektor hulu sampai hilir dan menerapkan teknologi budidaya, pengawalan, bimbingan serta pelatihan. Diperkirakan jumlah tenaga kerja yang bisa diserap mencapai 10 orang per ha atau 30.000 orang dalam setahun.  Selain itu, akan terjadi peningkatan pendapatan petani senilai Rp 14 juta/ha/tahun atau Rp 70 juta/tahun dengan kepemilikan lahan seluas 5 ha/KK

Menteri BUMN Dahlan Iskan menyambut baik ground breaking ini, yang merupakan tahap pertama dari rencana pembukaan 100.000 ha. Menurut Dahlan, yang dilakukan PT SHS merupakan sebuah terobosan yang baik di sektor pertanian. Dahlan bahkan berujar bahwa ground breaking ini merupakan kali pertama Indonesia mencetak sawah dalam jumlah yang besar secara efisien dengan menggunakan teknologi modern.