Fri, 06-14-2013 18:40 WIB
PENYALURAN BOS di KABUPATEN PATI
By : Desk Informasi
- Read: 2585 times



Kegiatan belajar mengajar anak didik di Kabupaten Pati bisa berjalan lancar berkat pencairan dana BOS yang tepat waktu, yakni pada awal triwulan. Dana BOS yang dikucurkan pada triwulan 1 dan 2 tahun 2013 tercatat Rp 19,6 miliar untuk membiayai 128.109 siswa SD dan SMP.  Angka kelulusan siswa pada tiga tahun berturut-turut cukup menggembirakan yakni tingkat SD mencapai 100 % dan tingkat SMP sebesar 98,88%.

Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh pendidikan. Semakin maju pendidikan suatu bangsa, maka bangsa itu akan maju. Sebaliknya, jika pendidikan suatu bangsa rendah, maka bangsa itu akan mengalami ketertinggalan, yang pada akhirnya akan sulit bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Begitu pentingnya peran pendidikan, Pemkab Pati, Provinsi Jawa Tengah, berupaya keras memajukan dunia pendidikan melalui peningkatan  kualitas pendidikan untuk seluruh tingkatan, baik mulai tingkat SD, SMP  maupun SMA. Upaya keras dan keperdulian terhadap dunia pendidikan  direalisasikan dalam pengalokasian anggaran pendidikan yang besar.

Sekolah gratis di Kabupaten Pati dilaksanakan sejak tahun 2005 untuk tingkat SD dan SMP melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Alokasi dana BOS tahun 2012 tercatat Rp 141,51 miliar yang menjangkau 118.651 siswa de-ngan rincian Rp 102,92 miliar untuk 88.697 siswa SD dan Rp 38,60 miliar untuk 29.954 siswa SMP. Adapun BOS tahun 2013 menjangkau 128.313 siswa meliputi 677 SD dan 84 SMP/SMPLM/dan SMP Terbuka. Dana BOS diberikan tepat waktu pada awal triwulan yang besarnya Rp 19,69 miliar.

Dana BOS tersebut dipergunakan untuk memenuhi operasional sekolah meliputi pe-nyediaan alat tulis dan peralatan kantor, penyediaan buku, perbaikan sekolah skala kecil, biaya listrik, telepon dan koran, kegiatan ekstra kurikuler, ujian dan seleksi masuk dan kegiatan sekolah lainnya.

Manfaat BOS salah satunya dirasakan  SD Growongan Kidul dengan jumlah siswa sebanyak 406 siswa dengan masing – masing anak mendapat alokasi Rp 580.000/tahun. Dana BOS yang diterima SD Growongan Kidul adalah untuk pembelian material untuk rehab plafon tiga kelas yang mengalami kerusakan, selain itu dana BOS juga dialokasikan untuk pembelian becak sampah, papan data gugus, papan kata mutiara, penggandaan soal UAS, dan pembelian satu unit meja kursi tamu. Ketepatsasaran penggunaan  dana BOS di SD Growongan Kidul terlihat dari nyamannya suasana belajar mengajar dan tingginya angka kelulusan di SD Growongan Kidul yaitu 100% selama lima tahun berturut-turut. Aliran dan BOS yang diterima SD Growongan Kidul juga terlihat dari kondisi sekolah yang bersih dan rapi. Ruang kelas yang nyaman merupakan salah satu aspek yang dapat mendukung terciptanya suasana belajar mengajar yang baik. Kenyamanan tersebut didukung oleh alokasi dana BOS yang digunakan untuk memperbaiki atau merehab gedung sekolah di SD Growongan Kidul. 

Tahun 2012 SD Growongan Kidul mendapat alokasi dana BOS dari APBD 1 untuk 435 anak sebesar Rp 13.050.000 dan dari APBD II sebesar Rp 13.920.000. Sedangkan pada tahun 2013 diberikan kepada 406 siswa sebesar Rp 235.480.000. Alokasi anggaran dana BOS tersebut dalam proses pelaksanaannya mengalami beberapa kendala yaitu, pengeluaran untuk guru wiyata bakti melebihi pedoman penggunaan BOS karena kekurangan guru, dan penyusunan RAPBS tidak sesuai dengan anggaran.

Salah satu siswa SD Growong Kidul, Ainur Rida yang tinggal di Grawang Lor mengaku senang dengan adanya program dana BOS yang digulirkan Pemerintah. Siswa kelas 5 tersebut merasakan sekolahnya menjadi lebih nyaman karena salah satu penggunaan dana BOS untuk merehab flapon sekolahnya. Selain itu, menurut Ainur dia juga tidak perlu membeli buku pelajaran karena dengan adanya dana BOS Ainur dapat meminjam buku pelajaran secara gratis dari sekolah. “ Senang sekali, semuanya gratis. Buku juga gratis, belajar menjadi lebih enak dan nyaman karena atapnya nggak bocor lagi.”

Senada dengan Ainur, Bagas Rusmanto yang berusia 11 tahun juga merasakan dampak positif program dana BOS. Menurutnya belajar menjadi lebih nyaman karena seluruh alat pendukung belajar seperti buku pelajaran tidak harus membeli. Selain itu Bagas yang bercita-cita menjadi polisi tersebut mendapat beasiswa BSM sebesar Rp 360.000 yang Bagas gunakan untuk membeli alat tulis, LKS, dan membeli baju olah raga.” Sisanya saya tabung, saya senang sekali dengan adanya dana BOS dan pemberian besasiswa miskin, sekolah menjadi lebih menyenangkan,” kata Bagas.

Sekolah lain yang mendapat alokasi dana BOS untuk tingkat SMP adalah SMPN 1 Juwana yang pada tahun 2012  triwulan 1 mendapat alokasi dana BOS sebesar Rp 120.877.500 yang diberikan kepada 681 siswa selain itu, SMPN 1 Juwana juga mendapat alokasi dana BOSDA 1 sebesar Rp 45.601.500 dan BOSDA II sebesar Rp 35.050.000. Besarnya dana BOS tersebut direalisasikan pihak sekolah antara lain untuk pemenuhan standar kompetensi lulusan seperti try out ujian nasional, penyusunan naskah ujian, bimbingan tambahan pelajaran dan berbagai pelatihan. Selain itu, dana BOS juga digunakan untuk pemenuhan standar isi seperti mengadakan pelatihan penyusunan kurikulum. Untuk memenuhi standar proses dana BOS juga digunakan untuk pengadaan dan pengembangan bahan ajar, dan pengadaan buku pelajaran. Penggunaan dana BOS lainnya juga digunakan untuk pemenuhan standar tenaga pendidik dan kependidikan. Dalam pemenuhan standar sarana dan prasarana dana BOS juga digunakan untuk merehab dan pemeliharaan gedung sekolah, seperti pengadaan mebelair sekolah, merehab ruang TU dan ruang rapat, rehab WC kamar mandi siswa, pengadaan printer, pengadaan CCTV, dan lain – lain. 

Tidak heran sekolah SMPN Juwana 1, terlihat nyaman dan asri. Hal tersebut mendukung kenyamanan aktivitas belajar siswa dan berimbas pada semakin meningkatnya prestasi belajar siswa di SMPN 1 Juwana. SMPN dengan siswa sebangak 681 siswa ini berkat adanya dana BOS juga selama 5 tahun selalu di angka 100 % dalam bidang kelulusan. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa alokasi dana BOS yang tepat sasaran dapat meningkatkan angka kelulusan siswa.

Salah satu siswa SMPN 1 Juwana, Sipra Kusuma Dewi mengaku senang dengan adanya dana BOS yang menjadi program prioritas Pemerintah. Menurutnya, aktivitas belajar menjadi lebih nyaman karena sarana pendukung belajar lengkap dan disediakan gratis. Hal lain yang menyenangkan bagi Sipra adalah selain adanya dana BOS, dia juga mendapat beasiswa miskin atau BSM yang dapat digunakannnya untuk membeli baju sekolah, tas, dan membeli buku tambahan lain yang diperlukannya. “ Dana BOS dan beasiswa yang saya terima membantu sekali, sekolah menjadi lebih nyaman dan menyenangkan,” kata Sipra.

Pendidikan memiliki peranan besar dalam memajukan suatu bangsa. Semakin banyak masyarakat yang menikmati pendidikan, akan semakin banyak pula kemajuan yang bisa dicapai. Untuk menyukseskan pendidikan demi mempercepat kemajuan bangsa, Pemerintah menetapkan pengembangan pendidikan sebagai program prioritas. Perhatian Pemerintah yang besar pada dunia pendidikan itu salah satunya diwujudkan melalui pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi siswa SD dan SMP yang berdampak adanya pelaksanaan sekolah gratis. 

Pelaksanaan sekolah gratis merupakan bagian dari upaya Pemerintah memperluas akses pendidikan dasar di seluruh Tanah Air. Secara nasional sekolah gratis untuk tingkat SD hingga SMP dilaksanakan sejak tahun 2005, melalui penyediaan dana BOS. Besarnya dana BOS yang dikucurkan pada tahun 2012 sebesar Rp 27,67 triliun dan tahun 2013 sebesar Rp 27,48 triliun.

Selain itu untuk membantu siswa miskin, Pemerintah memberikan Beasiswa Khusus Siswa Miskin (BKSM) kepada 1,79 juta siswa SD dengan anggaran sebesar Rp 684,58 miliar, tingkat SLTP sebanyak 751.153 siswa dengan anggaran sebesar Rp 413,15 miliar, tingkat SMA  sebanyak 284.124 siswa dengan anggaran sebesar Rp 193,53 miliar, dan tingkat SMK sebanyak 329.000 siswa dengan anggaran sebesar Rp 256,62 miliar. Pemerintah juga melaksanakan program Beasiswa Bidik Misi yang diberikan kepada 20 ribu mahasisawa baru dengan besarnya beasiswa Rp 5 juta per semester. Dana tersebut untuk biaya kuliah, buku, dan biaya hidup selama menempuh pendidikan.

Pada tahun 2010 Pemerintah membangun SD dan SMP sebanyak 250 unit dengan anggaran Rp 100 miliar, ruang kelas baru untuk SMP sebanyak 3.000 kelas dengan anggaran Rp 220,38 miliar, pembangunan laboratorium dan perpustakaan serta peralatannya untuk SMP dan SMA dengan anggaran Rp 183 miliar. Pada tahun 2011 terdapat 153.026 gedung sekolah yang rusak berat, yang terdiri dari 110.598 SD dan 42.328 SMP. Sebanyak 18.000 SD telah diperbaiki dengan anggaran Rp 2,81 triliun, dan 3.500 SMP telah diperbaiki dengan anggaran Rp 518,4 miliar. Pada tahun 2012 sebanyak 61.697 ruang kelas SD diperbaiki dengan dana Rp 5,4 triliun dan sebanyak 29.937 ruang kelas SMP juga diperbaiki dengan dana Rp 2,19 triliun. 

(S.K. & Khusnul Khotimah)