web analytics

Blog

Kuliah Umum Presiden Joko Widodo di Hadapan Civitas Akademika Universitas Muhammadiyah Kupang, 8 Januari 2018, di Gedung B Aula Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 8 Jan 2018 ; 1467 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Alhamdulillah, alhamdulillah wasyukurillah wa la haula wa la quwwata illa billah amma ba’du.

Yang saya hormati Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang beserta seluruh jajaran dosen dan mahasiswa yang pada siang hari ini hadir,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, Gubernur Nusa Tenggara Timur beserta Ibu, Wali Kota Kupang, Ketua DPRD beserta seluruh anggota DPRD, Pangdam, Kapolda,
Bapak/Ibu sekalian seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, hadirin yang saya hormati.

Hampir setiap minggu saya selalu ke daerah, ke provinsi, ke kabupaten, ke kota di seluruh Indonesia. Provinsi yang lain paling saya hadir di sana 1 (satu) kali, 2 (dua) kali, 3 (tiga) kali. Tapi di NTT ini, di Provinsi NTT, saya sudah tidak bisa ngitung sudah berapa kali. Sejak saya menjadi Presiden, saya ingin bertanya, sudah berapa kali saya datang ke Provinsi NTT? Yang bisa tunjuk jari. Yang ngitung, berapa kali? 5 kali? Pak Gubernur, betul? Salah. Berapa kali? Sini maju.

Terus terang, saya sendiri enggak hapal. Sudah sering sekali, jadi keseringan saya ke NTT ini. Tapi yang hitung mesti Pak Gubernur. Tadi Pak Gubernur begini, benar berarti 8 kali.

Dan saya ke sini terus terang memang ingin melihat progres perkembangan Proyek Strategis Nasional yang ada di NTT. Karena di NTT ini, yang lain 1 (satu) provinsi hanya dibangun 1 (satu) bendungan, di NTT ini kita membangun 7 (tujuh) bendungan besar.

Coba dikenalkan dulu, kenalkan namanya.

(Dialog Presiden RI dengan peserta)

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,
Berulang-ulang di semua provinsi, kota, kabupaten yang saya hadiri selalu saya menyampaikan bahwa negara kita ini negara besar. Negara besar. Kita memiliki 17 ribu pulau. 17 ribu pulau. Negara mana yang memiliki pulau sebanyak Indonesia. Kita memiliki budaya yang berbeda-beda, sangat berbeda-beda. Memiliki 714 suku yang ada di negara kita.

Saya pernah bertanya kepada Dubes kita yang ada di Singapura, Singapura memiliki berapa suku? 4, Indonesia, 714. Saya pernah bertanya langsung ke Presiden Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan, memiliki berapa suku Afghanistan? 7 suku, 7 suku, Indonesia  714. Inilah yang harus kita sadari bersama-sama betapa negara ini negara yang sangat besar. Kita memiliki 1.100 lebih bahasa daerah yang berbeda-beda. Saya dari satu provinsi ke provinsi yang beda. Dari satu kabupaten pindah ke kabupaten, beda lagi. Inilah negara kita, yang sangat besar, sangat beragam, sangat bermacam-macam, agamanya berbeda-beda. Ini yang harus kita sadari bersama-sama.

Dan saya ingat, saat bertemu Presiden Afghanistan, setelah saya sampaikan negara kita memiliki 714 suku, 17 ribu pulau, beliau sangat kaget. Tidak menyangka kalau negara kita juga sebesar itu. Dan berpesan kepada saya saat itu, “Presiden Jokowi hati-hati, negaramu ini negara besar, 714 suku itu bukan jumlah yang kecil, dengan agama yang berbeda-beda, bukan jumlah yang kecil. Afghanistan  hanya ada 7 suku, hampir 100 persen itu agamanya sama, tetapi 40 tahun yang lalu karena 2 suku yang bertikai, bersengketa, kemudian yang satu membawa kawan dari luar, yang satu membawa kawan dari luar, akhirnya perang, sampai sekarang tidak pernah selesai”.

Beliau mengingatkan kepada saya, “Presiden Jokowi hati-hati, negaramu negara besar. Jadi kalau ada sengketa antartetangga, antarkampung segera diselesaikan. Apalagi antarsuku secepatnya diselesaikan. Apalagi antaragama secepat-cepat-cepatnya diselesaikan”. Karena sekali lagi, kita ini sangat beragam. Itu titipan yang saya ingat-ingat betul. Ini Presiden Afghanistan yang sekarang, Dr. Ashraf Ghani itu 23 tahun di pengasingan di negara lain, tidak di Afghanistan karena perang.

Sekali lagi, kita harus menyadari betapa sangat besarnya negara kita Indonesia. 714 suku. Itulah kebinekaan yang dianugerahkan Allah pada kita yang patut dan perlu kita syukuri atas kodrat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multikultural. Berbeda-beda, budayanya berbedanya, adat istiadat berbeda-beda, tradisi-tradisi berbeda-beda.

Kenapa saya bisa ngomong seperti itu? Saya ke Sabang, di Sabang, langsung saya terbang saat itu dari Aceh menuju ke Papua, di Wamena. Betapa perbedaannya itu kelihatan mencolok sekali. Budayanya sangat berbeda, adat istiadat begitu sangat berbeda. Dan kalau kita hitung dari Banda Aceh menuju ke Wamena, bukan Jayapura, di Wamena, itu memakan waktu 9 jam 15 menit, itu naik pesawat. Itu kalau dari London, itu sampai ke Istanbul di Turki, melewati berapa negara. Artinya bentangan negara kita ini sangat luas sekali. Bayangkan 9 jam 15 menit. Itu kalau dari sini menuju ke Dubai di Timur Tengah. Bayangkan kalau dari Banda Aceh menuju ke Wamena jalan kaki, berapa tahun? Naik pesawat saja 9 jam 15 menit.

Oleh sebab itu, sekali lagi kita harus mampu mengelola kebinekaan kita, perbedaan-perbedaan kita menjadi sebuah kekuatan. Kalau kita bisa mengelola perbedaan-perbedaan kita, ini akan menjadi sebuah kekuatan besar. Dengan apa kita mengelola ini? Dengan apa kita mengikatnya? Dengan politik kebangsaan.

Kita harus menyadari bahwa semua yang ada di Republik ini adalah saudara, saudara sebangsa dan setanah air. Walaupun berbeda-beda, kita masih bersaudara, bersaudara, saudara sebangsa dan setanah air. Walaupun berbeda-beda, kita tetap bersatu untuk mencapai cita-cita kemerdekaan kita. Walaupun berbeda-beda, kita mempunyai tekad yang sama, mempunyai tekad yang sama, memiliki tekad yang sama untuk mewujudkan Indonesia yang maju, Indonesia yang berkemajuan.

Politik kebangsaan ini sangat penting untuk terus-menerus kita perkuat. Apalagi tahun 2018 kita akan memasuki tahun politik, nah ini, akan menyelenggarakan pilkada serentak di 171 daerah di seluruh Indonesia. Tidak ada juga di dunia, yang saya tahu, pilkada serentak sampai 171, bareng-bareng, bersama-sama, ya hanya di negara kita ini. Tapi karena kedewasaan politik kita, karena kematangan berpolitik kita, insya Allah dalam memasuki tahapan-tahapan pilkada ini kita bersama-sama menjaga, memelihara persatuan kita, kesatuan kita. Jangan sampai karena perbedaan pilihan politik antarteman menjadi pecah. Ndak, ndak boleh. Antartetangga menjadi tidak berbicara, tidak boleh. Antarkampung menjadi terbelah, juga tidak boleh.

Sekali lagi, inilah demokrasi yang telah kita sepakati. Silakan memilih pemimpin, pilihlah pemimpin yang paling baik yang ada di kabupaten itu, yang ada di kota itu, yang ada di provinsi itu, atau lebih tinggi lagi, di pemilihan presiden pilihlah juga pemimpin yang paling baik menurut Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara semuanya. Setelah itu sudah. 5 tahun sekali, nanti lagi. Setelah nyoblos sudah, saudara lagi. Jangan sampai kita memelihara kebencian atau mencela satu dengan yang lain, saling menjelekkan satu dengan yang lain. Kita tidak menyadari bahwa kita semuanya adalah saudara sebangsa dan setanah air. Hanya gara-gara pilihan politik menjadi terpecah atau terbelah, tidak boleh.

Saya selalu ingat-ingat tadi yang dipesankan oleh Presiden Afghanistan tadi. Betapa mahalnya yang namanya negara yang damai, negara yang tenang, negara yang tidak ada pertikaian. Inilah yang terus-menerus harus kita pelihara. Dan akan terus-menerus saya sampaikan di mana-mana. Karena pilihan politik itu berbeda boleh, tapi setelah itu ya sudah. Biarkan pemimpin yang sudah kita pilih itu, misalnya Bupati, Wali Kota, atau Gubernur, sudah, biarkan bekerja 5 (lima) tahun. Kalau bekerjanya enggak benar, nanti jangan dipilih lagi. Kalau baik, pilih lagi, hanya itu saja. Jangan sampai emosional kita diaduk-aduk. Waduh, kalau coba lihat di media sosial itu, saling menyerang, saling mencela, saling menyalahkan, saling menjelekkkan. Saya kira hal-hal seperti itu bukan budaya Indonesia, bukan tradisi demokrasi di Indonesia.

Negara kita ini adalah negara yang santun, sudah, semua negara mengenal itu. Mempunyai tradisi keramahtamahan yang baik, semua negara mengenal itu. Jangan dirusak gara-gara proses politik, proses demokrasi yang setiap tahun kita jalani. Sekali lagi, dalam pilkada, pilpres, maupun pileg, selalu diwarnai oleh perbedaan pilihan politik ataupun pilihan kontestasi politik. Sekali lagi, proses demokrasi itu jangan sampai merusak persaudaraan dan persatuan kita. Sekali lagi, pilih pemimpin yang terbaik, setelah coblos ya kita rukun kembali, bersatu kembali. Jangan sampai karena perbedaan politik kita dalam pilkada, dalam pemilihan bupati, wali kota, gubernur, maupun presiden, permusuhan antartetangga, antarkampung terjadi, jangan. Terlalu besar biaya yang kita tanggung kalau kita merusak persaudaraan dan persatuan kita gara-gara pilkada atau gara-gara pilihan bupati, wali kota, gubernur, dan presiden. Terlalu besar biayanya.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Kita harus bersatu, karena kita tengah bersiap menyambut masa depan. Tantangan kita semakin besar dan sekarang menyambut berbagai perubahan yang sedang terjadi di dunia. Perubahan sekarang sangat cepat sekali. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, setiap saat berubah terus dunia sekarang ini. Perubahan yang merupakan dampak dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang begitu sangat cepatnya.

Coba, ada internet, belum kita pelajari 100 persen, pindah lagi berubah ke mobile internet. Mobile internet kita baru belajar, belum selesai sudah ganti artificial intelligence. Berubah-ubah sangat cepat sekali. Inilah yang terus kita kejar dan perkembangan ini tentu sangat mempengaruhi tantangan dan problem-problem yang ada. Oleh sebab itu, penting sekali bagi mahasiswa bagi perguruan tinggi untuk mengantisipasi setiap perubahan-perubahan yang ada. Nantinya dan yang sekarang sudah terjadi, lahirnya teknologi baru membuat beberapa jenis pekerjaan hilang. Tukang pos yang dulu sangat penting, sekarang tidak kita kenal lagi, ya kan? Teller/kasir, sama, nanti tidak lama lagi akan juga tidak relevan lagi karena banyak aplikasi sistem yang bisa membantu, sehingga yang namanya teller atau kasir itu tidak diperlukan. Dan banyak lagi.

Sekarang kalau saya di Jakarta atau di Bogor, dulu kalau mau beli sate ya pergi ke warung sate, beli sate di warung itu. Beli gado-gado, datang ke warung gado-gado, beli di situ gado-gado. Sekarang, dari rumah saya pesan lewat Go-Food, lewat Go-Food, 30 menit datang. Minta sate, tert, tert, tert, tert, tert, masuk aplikasi, dateng ke rumah, sate. Ingin gado-gado, dert, dert, dert, dert, dert, dert, 30 menit datang gado-gado.

Pola-pola seperti itu yang semuanya dari offline ke online, semuanya nanti akan terjadi. Pergeseran pola-pola konsumsi akan terjadi. Sekarang orang-orang sudah tidak senang lagi juga belanja, belanja ke mal. Sudah mulai, di kota-kota besar sudah mulai seperti itu. Senangnya sekarang anak-anak muda sekarang pergi wisata atau ke tempat-tepat yang unik, ya kan? Kemudian di situ nanti selfie, klik, diunggah, wah, jadi terkenal, teman-temannya komentar lalala lalala lalala, itu. Senang, ya kan? Kalo yang comment banyak dan comment-nya bagus-bagus, senang. Belanja-belanja sudah pada enggak senang sekarang, mulai seperti itu. Ini juga menggejala di seluruh negara. Seluruh dunia, hampir sama seperti itu.

Datang saya ke sebuah daerah, “Pak, selfie, Pak, selfie!” klik klik. Nanti malamnya di-upload/diunggah, banyak komentar, senang. Jadi, saya kalau ke daerah banyak yang ingin foto karena itu aja. Ya kan? Ada yang ingin foto ndak? Ada? Sini maju tadi yang tunjuk jari tadi, sini. Biar ambil sendiri aja. Ambil sendiri sini. Sudah ambil sendiri aja. Nanti pasti malam-malam langsung di-upload kan? Ya seperti itu.

Inilah perubahan-perubahan yang, tidak tahu ya, banyak yang kita sadari atau banyak yang kita enggak menyadari, bahwa perubahan itu sudah sangat cepat sekali. Dan nantinya kita harus sadar bahwa lanskap politik, lanskap ekonomi juga akan berubah. Akan berubah. Di mulai dari Jakarta berubah, nanti masuk ke kota-kota besar berubah, di Kupang berubah, kemudian masuk ke lebih bawah. Akan berubah semuanya karena teknologi, karena inovasi.

Dunia politik dan pemerintahan juga harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai inovasi. Pemerintahan sekarang juga harus dipaksa. Kita ini dipaksa harus bekerja cepat, kerja efisien. Kalau enggak nanti ditinggal pasti. Negara lain akan meninggalkan kita kalau kita ndak cepat berubah. Artinya dunia sudah berubah total, berubah banyak.

Tapi juga dengan adanya perubahan itu muncul kesempatan-kesempatan, muncul peluang-peluang yang perlu direspon terutama oleh perguruan tinggi, terutama oleh para mahasiswa. Karena jenis lapangan kerja baru, karena munculnya lapangan-lapangan kerja baru, jenis-jenis keahlian baru. Oleh sebab itu, saya titip kepada Pak Rektor, jangan sampai kita ini sudah 30-40 tahun, misalnya ini, fakultas ekonomi jurusannya itu-itu terus. Jurusan akuntansi, pasti ada itu. Jurusan apa lagi? Manajemen, itu pasti. Hapal. Saya kalau ke universitas saya tanya pasti jurusannya itu, akuntansi pasti, manajemen pasti. Apa lagi, ada satu lagi, jurusan ekonomi pembangunan. Itu-itu saja sudah 30 tahun, 40 tahun enggak berubah, padahal dunia sudah berubah.

Saya belum melihat di sebuah universitas ada misalnya fakultas digital ekonomi, belum pernah. Ekonomi digital, fakultas ekonomi digital, belum ada. Fakultas, misalnya, manajemen logistik atau jurusan manajemen logistik, jurusan retail atau retail management. Padahal sudah berubah semuanya. Harusnya ada fakultas ekonomi digital, jurusannya toko online. Loh nantinya ini memang akan kejadian seperti itu. Mestinya perguruan tinggi mengantisipasi sebelumnya. Iya. Jurusan toko online, jurusan retail management, jurusan meme. Bisa saja, kenapa tidak? Artinya apa? Inilah perubahan yang kita hadapi sekarang ini. Jadi mata kuliah yang berkaitan dengan coding itu sangat penting sekali. Coding, bahasa coding penting sekali, bahasa data sangat penting sekali. Sehingga kita bisa mempelajari big data itu seperti apa. Sudah berubah. Jangan lagi berpuluh-puluh tahun kita masih jurusan manajemen, jurusan akuntansi, ekonomi pembangunan.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Menurut saya juga ke depan yang perlu ditingkatkan adalah jumlah wiraswastawan, jumlah wiraswasta, entrepreneur, para wirausaha yang akan menghasilkan peluang-peluang kerja baru dan membangun nilai tambah. Jika sudah lulus tidak mencari pekerjaan tapi menciptakan pekerjaan. Kenapa tidak? Peluang untuk membuka lapangan kerja di negara kita, Indonesia, ini masih besar sekali. Karena catatan bank dunia, wirausaha kita, wiraswasta kita itu baru diangka 3,3 persen negara lain sudah di atas 7 persen. Masih kecil sekali. Artinya peluang itu ada dan peluang itu banyak.

Namun sayang bahwa semangat kewirausahaan bangsa kita masih rendah. Ini saya catat dalam Global Entrepreneurship Index tahun 2017, peringkat kewirausahaan kita, entrepreneurship kita rangkingnya 90 dari 137 negara. Kita masih rendah sekali. Karena biasanya kalau sudah lulus jadi mahasiswa biasanya mencari pekerjaan tidak menciptakan lapangan kerja. Silakan.

Anak saya juga jualan martabak, saya silakan. Ngomong ke saya, saya kaget betul itu. Saya kan ada pabrik besar, saya suruh pegang pabrik enggak mau. Ngomong ke saya, “Pak, saya mau jualan martabak”, (anak) yang gede. Saya kaget saat itu, tapi saya silakan. Setelah saya pikir ya sudah silakan, jualan martabak, silakan. Yang gede, kagetnya belum habis, yang kecil lagi, “Pak, saya mau jualan pisang goreng”. Anak saya yang kecil sekarang sudah jualan pisang goreng. Kalau yang gede itu mungkin karyawannya kalau 100 sudah ada, kalau yang kecil ini mungkin baru 8, baru mulai 3 bulan yang lalu. Jualan martabak yang satu, yang satu jualan pisang goreng.

Coba, ada mahasiswa di sini yang ingin jualan apa gitu. Atau ada yang sudah jadi wiraswasta? Ada? Tunjuk jari, mana? Jualan apa? Silakan maju.

(Dialog Presiden RI dengan peserta)

Itulah mengapa, itulah sebabnya kita berharap agar dunia perguruan tinggi, berharap pada Muhammadiyah, berharap pada Universitas Muhammadiyah Kupang untuk menjadi tempat lahirnya manusia-manusia yang unggul, tempat lahirnya karya riset yang inovatif. Saya meyakini Muhammadiyah dengan amal usahanya di bidang pendidikan terus menjadi tempat bersemainya para wiraswastawan muda, yang unggul yang berjiwa sosial tinggi. Saya berharap Universitas Muhammadiyah juga bisa mengembangkan ekosistem untuk mencetak socioentrepreneur. Jadi tidak hanya urusan masalah untung dan rugi, tapi ada urusan sosialnya yang juga diurus, yang meningkatkan kesejahteraan umat dan masyarakat luas. Saya berharap Muhammadiyah mendukung semangat kewirausahaan di kalangan anak-anak muda sekarang.  Berbisnis dari hal-hal yang kecil, membangun jaringan yang besar dengan sebuah nilai brand yang tinggi.

Jadi meskipun dimulai tadi di kaki lima, tapi brand itu perlu mulai dibangun. Masalah nama, nama warungnya apa itu penting. Jangan memberi nama itu enggak baik. Nama harus mencerminkan apa keinginan-keinginan ke depan. Misalnya warung makan, misalnya ini namanya warung makan Maju Mundur ‘kan tidak cocok. Itu keliru membangun nilai brand. Warung makan yang ada katanya ‘rasa’, ini harus ada, ‘Enak Rasa’ misalnya, jadi cocok. Warung makan Maju Mundur, kena majunya enggak apa-apa, kalau kena mundurnya?

Dan saya percaya Universitas Muhammadiyah Kupang dan lembaga-lembaga pendidikan di Muhammadiyah di seluruh tanah air Indonesia, akan bisa melahirkan inovasi-inovasi yang menjadi keunggulan bangsa Indonesia. Saya percaya Universitas Muhammadiyah Kupang tidak mau terjebak dalam rutinitas dan mau aktif melakukan perubahan-perubahan besar. Saya percaya Universitas-universitas Muhammadiyah akan menjadi pendobrak kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak produktif dan membuat lompatan-lompatan kemajuan.

Demikian yang bisa saya sampaikan.
Terima kasih.

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

 

Artikel lainnya :