Jumat, 24 Mei 2013 - 08:29 WIB
Tahun Ini Spill Way Bendungan Alam Way Ela Dibangun
Oleh : desk informasi
- Dibaca: 1565 kali



Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai Maluku Ditjen Sumber Daya Air (SDA) di tahun anggaran 2013 ini, membangun Emergency Spillway di Bendungan alam Way Ela di Desa Negeri Lima, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, yang terbentuk akibat gempa dan curah hujan yang tinggi pada bulan Juli 2012.
“Untuk tahap awal, tahun ini rencana tanggap darurat selesai dan akan ditindaklanjuti dengan pekerjaan konstruksi, kita akan membangun spill way agar pada ketinggian tertentu bisa dialirkan ke hilir agar tanggul tidak jebol,” tutur Kepala BWS Maluku Muhammad Marabessy saat mendampingi anggota Komisi V DPR RI yang melakukan kunjungan  ke Maluku (22/5).
Marasabessy mengatakan bahwa pekerjaan tanggap darurat Bendungan Alam Way Ela ini sudah dilaksanakan sejak bendungan tersebut terbentuk. Pelaksanaannya meliputi studi, pengukuran, pemetaan, survey topografi dan semacam rencana tindak darurat.
”Kita juga membuat geobag untuk mencegah partikel keluar bersama dengan rembesan air, karena kalau terlalu banyak partikel keluar maka resiko tanggul bisa ambruk,” tambah Marasabessy.
Menurut data yang dihimpun, tindak darurat bendungan alam Way Ela di tahun anggaran 2013 ini akan dilakukan penanggulangan tanggap darurat emergency spillway dengan aggaran Rp 62,675 miliar.
Selain itu juga penanggulangan tanggap darurat Toe Drain sebanyak Rp 6,575 miliar, penanggulangan tanggap darurat pemasangan pipa dan pengoperasian pompa Rp 7,750 miliar, penanggulangan tanggap darurat supervisi konstruksi darurat Rp 869,538 juta dan penanggulangan tanggap darurat pengadaan, pemasangan, dan pengamatan tinggi muka air (TMA), curah hujan, rembesan, operasi pompa serta APF Gauge sebesar Rp 1,001 miliar.
Ketua rombongan Kunjungan  Komisi V DPR RI Laurens Bahang Dama menganggap bahwa bencana longsor yang membentuk bendungan alam Way Ela ini adalah sebuah berkah.
“Bencana ini membawa berkah, yang tadinya tidak ada danau, jadi ada. Harus dilakukan upaya agar bendungan ini memberi banyak manfaat bagi masyarakat Maluku, khususnya untuk air bersih,” tutur Laurens.
Laurens melanjutkan bahwa bendungan alam Way Ela ini  bisa juga dikembangkan untuk pariwisata dan  konservasi. Drinya berharap bendungan  ini dijaga  agar bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.
“Jangan sampai pekerjaannya setengah – setengah. Nanti akan kita koordinasikan  dengan Ditjen SDA  dan pihak lain yang terkait , seperti apa rencana ke depan agar tidak tejadi overlap pekerjaan.” tutur Laurens.
Proyek Kementerian PU bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini, mendapat hibah dari Jepang berupa alat mengambang di air untuk mengukur elevasi air dan lansung terkoneksi dengan satelit dan kamera. Dengan demikian, apabila ada pergeseran tebing, akan terpantau.
Bendungan Alam Way Ela terjadi akibat longsoran material pasir dan tanah dalam jumlah besar akibat curah hujan yang tinggi dan gempa 5,6 SR.. Banjir besar melanda Desa Negeri Lima pada tanggal 13 Juli 2012. Akibatnya, aliran sungai tertutup total dan membentuk bendungan alam di bagian hulu, sekitar 2,25 km dari permukiman penduduk. (Kemenpu/WID/ES)
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai Maluku Ditjen Sumber Daya Air (SDA) di tahun anggaran 2013 ini, membangun Emergency Spillway di Bendungan alam Way Ela di Desa Negeri Lima, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, yang terbentuk akibat gempa dan curah hujan yang tinggi pada bulan Juli 2012.

“Untuk tahap awal, tahun ini rencana tanggap darurat selesai dan akan ditindaklanjuti dengan pekerjaan konstruksi, kita akan membangun spill way agar pada ketinggian tertentu bisa dialirkan ke hilir agar tanggul tidak jebol,” tutur Kepala BWS Maluku Muhammad Marabessy saat mendampingi anggota Komisi V DPR RI yang melakukan kunjungan  ke Maluku (22/5).

Marasabessy mengatakan bahwa pekerjaan tanggap darurat Bendungan Alam Way Ela ini sudah dilaksanakan sejak bendungan tersebut terbentuk. Pelaksanaannya meliputi studi, pengukuran, pemetaan, survey topografi dan semacam rencana tindak darurat.

”Kita juga membuat geobag untuk mencegah partikel keluar bersama dengan rembesan air, karena kalau terlalu banyak partikel keluar maka resiko tanggul bisa ambruk,” tambah Marasabessy.

Menurut data yang dihimpun, tindak darurat bendungan alam Way Ela di tahun anggaran 2013 ini akan dilakukan penanggulangan tanggap darurat emergency spillway dengan aggaran Rp 62,675 miliar.

Selain itu juga penanggulangan tanggap darurat Toe Drain sebanyak Rp 6,575 miliar, penanggulangan tanggap darurat pemasangan pipa dan pengoperasian pompa Rp 7,750 miliar, penanggulangan tanggap darurat supervisi konstruksi darurat Rp 869,538 juta dan penanggulangan tanggap darurat pengadaan, pemasangan, dan pengamatan tinggi muka air (TMA), curah hujan, rembesan, operasi pompa serta APF Gauge sebesar Rp 1,001 miliar.

Ketua rombongan Kunjungan  Komisi V DPR RI Laurens Bahang Dama menganggap bahwa bencana longsor yang membentuk bendungan alam Way Ela ini adalah sebuah berkah.

“Bencana ini membawa berkah, yang tadinya tidak ada danau, jadi ada. Harus dilakukan upaya agar bendungan ini memberi banyak manfaat bagi masyarakat Maluku, khususnya untuk air bersih,” tutur Laurens.

Laurens melanjutkan bahwa bendungan alam Way Ela ini  bisa juga dikembangkan untuk pariwisata dan  konservasi. Drinya berharap bendungan  ini dijaga  agar bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.

“Jangan sampai pekerjaannya setengah – setengah. Nanti akan kita koordinasikan  dengan Ditjen SDA  dan pihak lain yang terkait , seperti apa rencana ke depan agar tidak tejadi overlap pekerjaan.” tutur Laurens.

Proyek Kementerian PU bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini, mendapat hibah dari Jepang berupa alat mengambang di air untuk mengukur elevasi air dan lansung terkoneksi dengan satelit dan kamera. Dengan demikian, apabila ada pergeseran tebing, akan terpantau.

Bendungan Alam Way Ela terjadi akibat longsoran material pasir dan tanah dalam jumlah besar akibat curah hujan yang tinggi dan gempa 5,6 SR.. Banjir besar melanda Desa Negeri Lima pada tanggal 13 Juli 2012. Akibatnya, aliran sungai tertutup total dan membentuk bendungan alam di bagian hulu, sekitar 2,25 km dari permukiman penduduk. (Kemenpu/WID/ES)