web analytics

Blog

Pengantar Presiden Joko Widodo pada Rapat Pleno Komite Nasional Keuangan Syariah, 5 Februari 2018, di Kantor Presiden, Jakarta

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 5 Feb 2018 ; 3370 Views Kategori: Transkrip Pidato

 

Logo-Pidato2Bismillaahirrahmaanirrahim,
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian,
Rapat Pleno Komite Nasional Keuangan Syariah pada sore hari ini akan dibahas beberapa topik, yaitu: yang pertama, kita ingin melihat perkembangan ekonomi dan keuangan syariah; yang kedua, langkah-langkah percepatan masterplan arsitektur keuangan syariah Indonesia; dan yang ketiga adalah apa yang bisa kita lakukan sebagai quick win dalam sektor ekonomi dan keuangan syariah.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, kita memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan sektor keuangan dan ekonomi syariah. Untuk itu, kita sangat serius untuk menggarap potensi ini.

Saya melihat angka-angkanya juga menunjukkan peningkatan. Pada sektor industri keuangan syariah, aset perbankan syariah terus meningkat. Pada tahun 2017 tercatat sebesar Rp435 triliun atau sekitar 5,8 persen dari total aset perbankan Indonesia. Begitu juga dengan pasar modal syariah angkanya terus membaik. Indonesia adalah penerbit terbesar untuk international sovereign sukuk. Pangsa pasar sukuk kita mencapai 19 persen dari seluruh sukuk yang diterbitkan berbagai negara. Selain itu, total aset industri keuangan non-bank syariah juga naik dua kali lipat dalam lima tahun terakhir ini.

Kita juga memiliki potensi yang sangat besar dalam pengumpulan dana sosial keagamaan, seperti dana haji, dana zakat, dana wakaf, serta dana infak dan sedekah. Dalam ekonomi syariah banyak potensi yang bisa dikembangkan dan harus segera digarap mulai dari bidang industri fashion, busana-busana muslim, industri makanan halal, industri farmasi, dan juga sektor pariwisata.

Kita memiliki tingkat konsumsi makanan halal terbesar di dunia. Indonesia masuk lima besar negara dengan konsumsi produk obat-obatan dan juga kosmetik halal terbesar di dunia. Indonesia adalah pasar terbesar kelima di dunia untuk konsumsi busana muslim.

Dalam ekonomi pariwisata, Indonesia juga menduduki peringkat keempat dengan jumlah kunjungan turis terbanyak dari anggota OKI. Potensi sektor pariwisata ini masih sangat menjanjikan. Pengeluaran  wisata muslim global 2016 mencapai 169 miliar US dollar atau 11,8 persen dari pengeluaran konsumsi wisata global.

Saya ingin menekankan bahwa dalam pengembangan ekonomi syariah, jangan sampai kita hanya menjadi target pasar dan produk industri negara-negara lain, hanya sekedar menjadi konsumen. Dengan potensi pasar yang besar di negara kita, kita harus menjadi penggerak utama perekonomian syariah. Selain itu, dalam pengembangan industri keuangan syariah harus betul-betul bermanfaat bagi hal-hal yang produktif, termasuk mendukung upaya penanggulangan kemiskinan, dalam rangka menekan angka ketimpangan.

Data yang saya terima masih menunjukkan bahwa penggunaan pembiayaan syariah adalah 41,8 persen. Sebagian besar masih digunakan untuk konsumsi. Sedangkan pembiayaan untuk modal kerja dan investasi masing-masing baru mencapai 34,3 persen dan 23,2 persen.

Saya juga minta pada tahun 2018 ini LKM Syariah, bank wakaf mikro terutama yang berlokasi di pesantren-pesantren lebih diperbanyak jumlahnya dan diperluas, sehingga mencakup seluruh wilayah Indonesia.

Terakhir reformasi, pembenahan juga harus dilakukan dalam pengelolaan zakat dan wakaf, sehingga bisa mendukung program pengentasan kemiskinan, serta mengurangi ketimpangan.

Demikian sebagai pengantar yang bisa saya sampaikan dalam Rapat Pleno hari ini.

 

Artikel lainnya :