web analytics

Blog

Pengantar Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas Mengenai Pengembangan 10 Bali Baru, 16 November 2017 Pukul 13.45 WIB Di Istana Kepresidenan Bogor

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 16 Nov 2017 ; 2319 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Rapat terbatas sore hari ini kembali kita akan membahas mengenai perkembangan 10 destinasi prioritas yang telah kita putuskan, pengembangan 10 Bali baru.

Ada sebuah kesempatan besar kita untuk mengembangkan pariwisata kita, apabila kita memiliki banyak objek-objek wisata, destinasi wisata yang baru, yang kalau kita lihat tren dunia saat ini, misalnya seperti turis yang paling dekat dari kita, dari Tiongkok. Lonjakan turis dari sana yang keluar itu terakhir data yang saya dapatkan adalah sebesar kurang lebih 125 juta, yang akan berkembang dalam lima tahun ini kemungkinan menjadi 180 juta, dan perkembangan itu akan naik terus.

Itu hanya dari satu negara. Dan dari sana itu hampir separuhnya masuknya ke ASEAN. Separuh dari 125 juta, artinya 62 juta masuk ke ASEAN. Mestinya dari angka itu, kalau kita memiliki destinasi 10 Bali baru yang kita garap secara cepat, kita siapkan secara baik, tentu saja dengan diferensiasi yang berbeda antara destinasi satu dengan destinasi yang lain, saya kira ini menjadi sesuatu yang menarik sehingga orang datang ke Indonesia bisa datang karena ketertarikan keindahan pantainya, bisa juga karena keindahan budayanya misalnya kayak Borobudur, bisa juga datang karena keindahan goanya, bisa datang karena keindahan geopark-nya, bisa datang karena keindahan danaunya yang sangat besar seperti Toba, bisa datang karena ingin diving dan surfing, misalnya.

Saya kira kita harus memiliki pembeda-pembeda seperti itu, sehingga kita harapkan dari 62 juta yang hanya dari satu negara itu, misalnya separuh saja atau sepertiganya saja datang ke kita, berarti sudah 20 juta. Ini baru dari satu negara. Sehingga kalau target yang kita berikan kepada Menteri Pariwisata tahun 2019 itu angkanya adalah 20 juta, itu juga bukan sesuatu yang, menurut saya, bukan sesuatu yang amat sulit untuk kita capai. Dan kalau kita lihat impact dari turisme ini larinya ke mana-mana, terutama ke usaha mikro, usaha kecil usaha menengah (UMKM), cenderamata, warung, restoran, itu semuanya dapat kalau ini yang akan kita kembangkan ke depan.

Oleh sebab itu, sekali lagi, 10 Bali baru ini harus cepat dirampungkan. Kementerian PU, Kementerian BPN, Kementerian Lingkungan Hidup, Bekraf, Kementerian Koperasi dan UKM, semuanya harus siap terintegrasi dalam sebuah program pengembangan yang sudah kita putuskan.

Saya berikan contoh, misalnya kita ingin mengembangkan Mandalika atau Danau Toba. Ya lingkungannya harus disiapkan. Contoh kemarin misalnya kayak Mandalika, bagaimana bukit-bukit yang ada di kanan kiri itu gundul semuanya. Nah, itu segera ditanam. Kemudian bangunan-bangunan adat, jangan sampai di situ malah bangunan adatnya dihilangkan, diganti dengan arsitektur yang Spanyolan atau Mediterania, misalnya. Bangunan adat ini harus betul-betul kita perhatikan.

Di Danau Toba misalnya, kenapa rumah-rumah yang sangat bagus, warna warni seperti itu tidak dipakai menjadi sebuah brand untuk Danau Toba. Restoran misalnya. Saya kira ini Bekraf bisa mengintervensi, atau Kementerian Pariwisata bisa mengintervensi. Sehingga seperti di Toba restorannya bisa kita upgrade bareng-bareng. Entah dari sisi desain, entah dari sisi fasad depan.

Kemudian juga lingkungannya, sudah saya sampaikan ke Menteri PU misalnya, untuk pasar cenderamata, bisa Menteri Perdagangan atau Menteri PU, kawasan parkir, kawasan dekat pantai, kalau ndak nanti kita akan kedahuluan oleh pedagang-pedagang kaki lima yang bertebaran dimana-mana. Kita siapkan satu tempat untuk mereka, sudah berjualan di situ, pasar cenderamata. Saya kira sangat baik kalau kita menyiapkan, kayak Mandalika.

Minta saja 2 hektar atau 3 hektar untuk pasar cenderamata, yang bangun bisa Kementerian Perdagangan bisa Kementerian PU, dengan desain-desain arsitektur lokal yang baik. Kemudian tempat pemberhentian bus dan lain-lain atau restoran-restoran kecil milik masyarakat, kita yang siapkan. Jangan sampai kita biarkan masyarakat secara sendiri-sendiri membikin sehingga yang terjadi adalah PKL (pedagang kaki lima) yang bertebaran dimana-mana. Penghijauan saya harapkan, misalnya di Toba, di Mandalika, betul-betul digarap secara baik sehingga benar-benar lingkungan yang ada itu sebuah lingkungan yang baik, tidak gundul.

Dan inilah saya kira yang menarik untuk segera kita kerjakan. Tetapi sekali lagi, ini memerlukan kecepatan kita dalam merespon perkembangan pariwisata global yang begitu sangat cepatnya. Sekarang ini kelihatannya ada pergeseran orang untuk tidak belanja barang, tidak belanja merk, tetapi senang traveling, senang wisata, senang nyoba restoran baru, senang nyoba Kafe, seneng nyoba makanan-makanan yang khas, yang ini sebuah kesempatan yang harus kita manfaatkan.

Saya kira itu sebagai pembuka yang bisa saya sampaikan. Saya persilakan untuk menyampaikan Menko atau Menpar. Silakan.

Artikel lainnya :