Selasa, 09 Oktober 2012 - 07:55 WIB
Inovasi Pembudidayaan Udang di Subang
Oleh : Desk Informasi
- Dibaca: 5031 kali



Salah satu program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam meningkatkan produksi udang adalah melakukan inovasi pembudidayaan udang, termasuk didalamnya  penggunaan teknologi plastik mulsa (plastik tipis) di terutama kawasan pantai utara Jawa (Pantura). Sebelumnya pembudidaya udang menggunakan cara tradisional berupa tambak tanah. Teknologi plastik mulsa pertama kali diterapkan  di Kabupaten Subang tahun  2009, dan  kemudian ditiru daerah-daerah lain, yakni  Kabupaten  Indramayu, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Lamongan, dan lain-lain. Tahun 2012 penggunaan teknologi plastik mulsa mulai digalakkan, karena hasilnya jauh lebih besar daripada menggunakan cara tradisional. Dengan teknologi  plastik mulsa lapisan bawah dan pinggir tambak dilapisi plastik, sehingga udang yang dibudidayakan terbebas dari serangan bakteri dan bisa tumbuh dengan pesat. Produksi  udang  meningkat hingga 400% dari rata-rata 5-10 ton/ha menjadi 20-30 ton/ha.

Keberhasilan budidaya udang sangat bergantung pada kualitas air dan komposisi yang seimbang dari kepadatan bakterinya. Pada umumnya tambak di Indonesia  konstruksinya berupa tambak tanah atau semen. Dengan pola pengelolaan budidaya tradisional (pada tebar rendah), biaya investasi dan pengelolaan konstruksi tambak tanah relatif rendah. Hanya saja, tambak tanah cenderung membuat udang rentan terserang penyakit, apalagi dengan tata ruang dan pengairan tambak yang asal-asalan dan ujung-ujungnya produktivitas udang menurun.  Sedangkan dengan menggunakan teknologi plastik keuntungan yang diperoleh adalah pertumbuhan bobot udang lebih baik dibandingkan dengan tambak tanah atau semen. Selain itu, inovasi penggunaan plastik mulas juga dapat meminimalisasi kegagalan panen.

Dengan menggunakan  teknologi plastik mulsa angka harapan hidup udang lebih tinggi yang mencapai 85% – 90%,  jauh dibanding menggunakan cara tradisional yang hanya 20% - 25%. Keuntungan lain penggunaan plastik mulsa adalah pertumbuhan udang bisa mencapai 2 gram sampai 2,5 gram per ekor per minggu, sedangkan jika cara tradisional pertumbuhan maksimal hanya sekitar 1,2 gram sampai 1,5 gram per ekor per minggu. Selain itu dengan inovasi baru dilakukan penerangan listrik  di tambak selama 24 jam dan rutin memberikan makanan pada udang.

Biaya produksi pembudidayaan udang  dengan menggunakan teknologi plastik mulsa sebesar Rp 600 juta/ha untuk sekali panen dengan hasil sekitar Rp 800 juta/ha, sehingga petani bisa mendapatkan keuntungan bersih hingga Rp 200 juta/hektar untuk sekali panen. Dengan demikian, jika dirata-ratakan untuk sekali panen yang memerlukan waktu 4 bulan, petani bisa mendapat keuntungan dari satu hektar tambak sekitar Rp 50 juta per bulan. Keuntungan ini, jauh lebih besar dibanding pembudidayaan secara tradisional, walaupun biaya produksinya lebih murah. Biaya produksi dengan cara tradisional rata-rata Rp 100 juta/ha dengan hasil panen Rp 150 juta/hektar. Dengan demikian, jika dirata-ratakan keuntungan per bulan untuk satu hektar tambak hanya Rp 12,5 juta. Fakta ini menunjukkan keuntungan bersih pembudidaya udang meningkat empat kali lipat, dibanding menggunakan cara tradisional. Keuntungan lainnya adalah, plastik yang dipakai dalam budidaya bisa digunakan dua kali periode budidaya dengan catatan harus berhati hati dalam menjaga/meminimalisasi kerusakan selama masa budidaya dan saat pemanenan.

Kabupaten Subang memiliki potensi lahan budidaya tambak  seluas kurang lebih 10.000 ha yang terletak di lima  kecamatan yaitu Blanakan, Pamanukan, Pusakanagara, Sukajadi dan Legonkulon, dari luas lahan tersebut, yang dimanfaatkan  sekitar 6.000 ha.

Subang  dipersiapkan menjadi daerah industri penghasil udang khususnya jenis vaname di Jawa Barat  dan juga pada tingkat nasional. Dijadikannya Subang sebagai daerah industri penghasil udang tidak terlepas dari program yang dicanangkan pemerintah melalui KKP dengan tujuan membangkitkan kembali masa keemasan tambak udang di daerah Pantura dan meningkatkan kembali produksi udang yang sempat  terpuruk.  Produksi udang di Subang tahun 2009 tercatat 3.143,50 ton, tahun 2010  sebanyak  2.004 ton, dan tahun 2011 sebanyak 2.106,72 ton. Anggaran revitalisasi sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Subang, termasuk di dalamnya untuk revitalisasi tambak udang, sebesar Rp 3,04 miliar tahun 2011 dan tahun 2012 naik menjadi Rp 4,4 miliar. Tenaga kerja yang terserap pada sektor perudangan mencapai 30.000 orang.

Salah seorang pembudidaya tambak udang  di Subang  yang telah menerapkan teknologi plastik adalah Mimin Hermansyah. Sebelumnya dia adalah pembudidaya cabe, lalu tahun 2005 tergerak terjun ke budidaya udang vaname karena dia melihat udang memiliki prospek yang bagus. Dia meminjam dana Rp 1 miliar dari sebuah bank untuk membeli tambak 20 ha dan modal pembudidayaan udang di Desa Patimban, Kecamatan Pusakanegara. Semula dia menggunakan cara tradisional dan mengalami berbagai kesulitan dalam budidaya udang, di  antaranya  masalah air yang cepat keruh, dan hal tersebut tentunya menghambat pertumbuhan udang. Masalah lainnya adalah dengan cara tradisional daya hidup udang tidak bisa dijamin 100%, dan yang sering terjadi daya hidupnya  hanya sekitar 20% - 25%. “Dengan menggunakan cara tradisional biaya produksi yang saya keluarkan sebesar Rp 100 juta/ha dengan hasil panen Rp 150 juta,” katanya.

Tak puas dengan cara tradisional, Mimin kemudian mencoba menggunakan teknologi modern dalam pembudidayaan udang, yakni menggunakan teknologi plastik mulsa dan penerangan listrik di tambak pada tahun 2009. Untuk menutup area tambak seluas 1 ha dibutuhkan biaya Rp 12 juta untuk membeli plastik mulsa.  Total biaya  produksi yang dikeluarkan sebesar Rp 600 juta/ha. Terobosan yang dilakukan Mimin membuahkan hasil, yakni  hasil panennya meningkat menjadi Rp 800 juta/ha, sehingga keuntungannya sekitar Rp 200 juta.

Keberhasilan Mimim dalam pembudidayaan udang vaname tak lepas dari peran Pemerintah yang telah memberikan bimbingan teknis cara pembudidayaan udang. Pada tahun 2011, Mimin dan kelompok pembudidaya udang juga memperoleh bantuan dari KKP berupa 1 unit mesin excavator untuk mengeruk tambak yang digunakan untuk mengeruk tambaknya. “Beberapa hektar tambak saya telah dikeruk dengan mesin excavator karena mengalami pendangkalan. Pemakaian mesin excavator  itu gratis. Kalau menyewa mesin excavator mahal biayanya,” katanya.

Tenaga kerja yang terserap di tambak udang milik Mimin sebanyak 100 orang dan semuanya adalah penduduk setempat. Salah seorang pekerja itu adalah Kasman yang bertugas di bagian pengoperasian genset. Kasman telah lima tahun bekerja di tambak udang itu dan bergaji Rp 1,5 juta/bulan.“Alhamdulillah, saya lancar mendapat gaji tiap bulan. Berkat bekerja di tambak udang saya lancar memberi nafkah pada keluarga dan membiayai sekolah anak-anak saya. Anak saya yang pertama telah lulus SMK dan anak kedua kelas 3 SMK,” katanya.

Tenaga kerja lainnya adalah Sarmin yang bekerja di bagian pembudidayaan udang dengan gaji sama yakni Rp 1,5 juta per bulan. Seorang anaknya yang tamat SMP bekerja juga di tempat yang sama, sedangkan anak bungsunya duduk di bangku kelas 2 SMP. “Saya berharap tambak  udang milik Pak Mimin semakin maju, agar lancar memberi nafkah pada semua karyawan. Kalau tambak udang ini semakin maju akan semakin banyak tenaga kerja yang ditampung di sini,” ujarnya.

Pembudidaya udang vaname lainnya adalah Casmika yang mempunyai tambak 1 ha di Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara. Tahun 2009 Casmika mendapat bantuan 5.000 ekor benih udang vaname dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang. Dia menggunakan teknologi plastik mulsa dan memperoleh panen yang cukup memuaskan, di mana 90% udang hidup. Hasil panennya 20 ton/ha, sedangkan dengan cara tradisional hasil panennya hanya 5 ton/ha. “Saya ketua kelompok pembudidaya udang Sumber Rahayu yang beranggotakan 20 orang, dan masing-masing anggota mendapat bantuan 5.000 ekor benih udang vaname tahun 2009. Kami bersyukur atas bantuan benih udang dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Subang,” katanya.

Untuk mendukung pemasaran udang dan ikan di Subang, tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan membangun pasar ikan yang terdiri  dari 12 kios di Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, dengan anggaran sebesar Rp 450 juta. Kios ikan tersebut dikelola oleh KUD Mandiri “Mina Misaya Guna”.  Sebelumnya pasar ikan sudah lama berdiri dan kiosnya terbuat dari gedek, serta kondisinya kurang bagus. Tahun 2011 bangunan lama dibongkar dan dibangun kios dengan dinding tembok sehingga nyaman ditempati. Para pedagang yang menempati kios adalah anggota KUD  dan mereka tidak dikenakan biaya sewa. Kewajiban mereka hanyalah membayar listrik dan menjaga kebersihan. (Arif Rahman Hakim & Sahat Yogiantoro)