web analytics

Blog

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Bidang Kemaritiman Tahun 2017, 4 Mei 2017, Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 4 May 2017 ; 4429 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2-8Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para pimpinan Lembaga Negara,
Hadir di sini Bapak Ketua MPR,
Bapak Ketua DPD,
Bapak Ketua BPK,
Bapak Ketua MK,
dan pimpinan-pimpinan yang lainnya,
Yang saya hormati Yang Mulia para Duta Besar negara-negara sahabat,
Para Menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati para Gubernur, Bupati, Wali Kota yang hadir,
Bapak/Ibu sekalian yang berbahagia.

Tadi sudah disampaikan banyak oleh Pak Menko Maritim mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kemaritiman kita. Pemerintah terus melakukan terobosan-terobosan untuk mengejar ketertinggalan kita dengan negara-negara yang lain. Dan untuk membangkitkan potensi kelautan kita agar manfaatnya dapat dirasakan sebesar-besarnya oleh rakyat kita.

Yang pertama, di bidang infrastruktur maritim. Tadi sudah disampaikan juga oleh Pak Menko, yang berkaitan dengan tol laut, yang berkaitan dengan pelabuhan. Yang ini sudah, terutama di Indonesia bagian timur, sudah dirasakan oleh masyarakat adanya turunnya harga 20-25 persen. Saya kira sebuah penurunan yang cukup tinggi. Tetapi nantinya apabila rute dan trayek ini semakin banyak, kita meyakini bahwa turunnya harga-harga ini akan semakin lebih baik lagi.

Kemudian yang berkaitan dengan pembangunan pelabuhan-pelabuhan besar kita. Saya kira sudah bisa kita lihat 2 minggu yang lalu misalnya di Tanjung Priok.  Kapal besar sudah merapat di Tanjung Priok, kapal yang mempunyai kapasitas lebih dari 10.000 TEUs sudah hadir. Ini berpuluh-puluh tahun saya kira belum pernah terjadi dan 2 minggu yang lalu kapal besar itu telah merapat. Artinya, artinya nanti juga akan ada penurunan biaya logistik, biaya transportasi karena kita tidak usah transhipment ke negara-negara yang lain. Jadi bisa langsung masuk ke negara tujuan. Dua minggu yang lalu saya kira kapal besar dari CMA-CGM telah masuk dan membawa kontainer dalam jumlah yang sangat besar. Nantinya apabila konsolidasi antar pelabuhan bisa kita lakukan dengan baik, kapal-kapal besar itu akan semakin banyak yang merapat ke pelabuhan-pelabuhan kita. Karena memang kapasitas yang akan diangkut itu betul-betul sudah ada.

Yang kedua, yang berkaitan dengan pelabuhan besar kita yang baru, Kuala Tanjung di Sumatera Utara. Kita harapkan pada tahun ini juga akan bisa diselesaikan. Saya sampaikan kepada Menteri-menteri, jangan dikelola sendiri. Silakan bekerja sama dengan pelabuhan-pelabuhan besar yang telah memiliki jaringan-jaringan internasional. Karena tanpa itu kita akan sulit untuk mengejar ketertinggalan di bidang transportasi laut kita. Kemungkinan besar Kuala Tanjung ini akan dikerjasamakan antara Pelindo, Rotterdam Port, dan juga untuk logistiknya dengan Dubai Port. Gabungan-gabungan seperti itu akan menjadikan kekuatan besar kita. Karena sekarang ini kalau kita bekerja tanpa semua economic skill yang besar, efisiensi itu tidak akan pernah hadir. Dan tanpa persaingan kita juga akan tidak bisa memunculkan harga-harga yang baik, harga-harga yang bisa berkompetisi.

Yang kedua, yang berkaitan dengan industri kemaritiman, baik yang berkaitan dengan galangan kapal, yang berkaitan dengan komponen perkapalan, yang berkaitan dengan industri jasa pelayaran, yang berkaitan dengan hilirisasi, saya minta agar ini juga menjadi fokus pekerjaan kita. Saya kira Pak Menko konsentrasi di sini ini belum kita lakukan secara baik. Sehingga inilah yang juga memerlukan perhatian.

Kemudian, tadi sudah disampaikan bahwa potensi ekonomi di sektor kelautan dan perikanan ini USD1,33 trilyun atau setara mungkin dengan Rp19.000 trilyun lebih. Ini sebuah potensi yang sangat besar sekali. Tetapi kalau pengelolaannya kita, sekali lagi kalau pengelolaannya kita hanya rutinitas, monoton, tidak melakukan terobosan-terobosan, jangan harap angka ini bisa kita dapatkan. 10 persen saja sudah bagus, apalagi masuk ke yang namanya 19.000-20.000. Ini sebuah pekerjaan besar. Potensinya ada tetapi perhatian kita kesini belum.

Yang ketiga, yang berkaitan dengan iptek dan riset, yang berkaitan dengan iptek dan riset di kelautan dan perikanan kita. Ini juga sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah kita fokus di sini. Ini juga saya minta menjadi perhatian dan betul-betul dilakukan sehingga sumberdaya alam laut kita ini kelihatan betul apa potensinya, apa yang harus kita kerjakan.

Nelayan-nelayan kita jangan terus diajak bekerja dengan pola-pola yang lama. Harus berani kita loncatkan ke dunia yang lain. Sudah berapa puluh tahun kita urusan cantrang, setiap tahun urusan cantrang, setiap tahun urusan cantrang. Enggak habis-habisnya kita ngurusi cantrang sehingga melupakan strategi besar menuju ke tempat yang lain yang memiliki nilai tambah yang lebih baik.

Kenapa kita tidak pernah berbicara mengenai offshore aquaculture? Sekali lagi, 70 persen lebih negara kita adalah air, adalah laut. Kenapa kita tidak pernah berbicara ini? Lihatlah Norwegia, lihatlah Taiwan, sekarang setiap hari berbicara mengenai offshore aquaculture ini.

Ajari nelayan-nelayan kita untuk mengetahui apa, barang apa ini. Nilai tambahnya bisa puluhan kali dari apa yang kita lakukan sekarang ini, yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah kita meloncat, berani melompat kita.

Bukan barang yang mahal. Saya tanya berapa sih satu site itu? 47 milyar, enggak mahal. Kalau kita belum bisa mengerjakan sendiri, joint-kan, kerja samakan, biar ada transfer of knowledge, transfer of technology. Tanpa itu kita tidak pernah meloncat.

Sekali lagi, ini saya sampaikan berkali-kali, kita ini terlalu rutinitas, terlalu monoton, terlalu linier, padahal dunia perubahannya sangat cepat sekali.

Saya ingin ulang lagi, setiap pertemuan saya selalu ngomong mengenai Elon Musk. Elon Musk yang berbicara mengenai spacex, yang berbicara mengenai tesla, mobil masa depan, berbicara mengenai ruang angkasa masa depan, berbicara mengenai hyperloop, perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat yang lain yang begitu sangat cepatnya. Kita masih urusan cantrang belum selesai. Mau kemana kita?

Coba sekarang Alibaba, Jack Ma, sudah mengembangkan lagi, tidak credit card. Credit card sekarang bisa ditinggal nanti kalau tidak memperbaharui teknologinya.

Bapak/Ibu silakan sekarang berbelanja di Tiongkok, sekarang masuk ke sebuah restoran besar atau ke mall ditanya sudah bukan credit card lagi, pasti credit or mobile. Kita jalan tol masih bayar cash, pakai uang, ini, pakai uang cash, ini. Saya sudah perintah ke Menteri PU kita harus berani meloncat, kalau kita monoton terus seperti ini, ditinggal kita, ditinggal. Percaya saya, ditinggal kita. Padahal kita juga pintar-pintar tapi kita terlalu linier, monoton, rutinitas.

Saya hanya ingin mengingatkan kenapa saya selalu berbicara Elon Musk, berbicara Jack Ma, larinya sudah cepat sekali dan kita juga harus mengejarnya cepat sekali.

Ini lah globalisasi yang kita hadapi. Kembali lagi, bahwa sekarang ini teknologi yang harus kita kejar, teknologi. Tanpa itu, sekali lagi, sulit kita akan mengejar negara yang lain. Iya pertumbuhan ekonomi kita baik, seperti tadi disampaikan oleh Pak Menko Maritim, nomor tiga di dunia di antara negara-negara G20, iya benar. Tapi kalau kita tidak berani meloncat, tidak berani melompat,  ya sudah, ditinggal kita. Sekali lagi, dengan globalisasi dan teknologi konsekuensinya adalah dunia ini berada pada persaingan antarnegara, persaingan antarnegara. Bukan lagi yang besar mengalahkan yang kecil, ndak. Ini saya sampaikan berkali-kali, bukan yang besar mengalahkan yang kecil, ndak. Bukan itu lagi sudah, sudah berubah. Bukan yang kuat mengalahkan yang lemah, juga bukan, tapi yang cepat mengalahkan yang lambat. Saya ingin mengingatkan ini. Negara yang cepat itu yang akan mengalahkan negara yang lamban, siapapun negara itu.

Kalau kita masih linier, masih monoton masalah rutinitas, dwelling time saja masih 6-7 hari kayak yang lalu-lalu, ya sudah ditinggal. Sehingga saya sampaikan ke Menko Maritim, saya mau 3 hari dwelling time. Sekarang sudah mencapai 3 hari, saya minta 2 hari. Kalau enggak bisa, diinjak biar bisa. Kita ini kalau enggak dikerasin sulit berubah. Padahal kita sebetulnya bisa, hanya masalah niat, hanya masalah mau atau tidak mau, masalahnya hanya di situ bukan yang lain-lain. Bukan masalah kepintaran atau kepandaian, bukan.

Sekali lagi, kita berada pada persaingan global yang sangat berat. Sekali lagi, yang cepat akan mengalahkan yang lamban. Silakan kita mau yang cepat atau yang lamban.

Saya tutup,
Terima kasih,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Artikel lainnya :