web analytics

Blog

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peresmian PLBN Aruk di Sajingan Besar, Sambas, Kalimantan Barat, 17 Maret 2017

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 17 Mar 2017 ; 1411 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2-8Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semua.

Adil ka’ talino,
Bacuramin ka’ saruga,
Basengat ka’ jubata.
(Hadirin: Arus)

Apa jawabannya?
(Hadirin: Arus)
Arus?
Arus itu apa bahasa Indonesianya? Amin?
Oo, ya.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,
Panglima TNI beserta Ibu,
Yang saya hormati Gubernur Kalimantan Barat beserta Ibu,
Bapak Bupati Sambas, Wakil Bupati Sambas,
Hadirin dan tamu undangan yang berbahagia.

Kemaren saya meresmikan Pos Lintas Batas di Badau. Sebelumnya saya telah meresmikan, 3 (tiga) bulan yang lalu, di Entikong. Pada hari ini kita resmikan lagi Pos Lintas Batas Negara di Aruk, Kabupaten Sambas.

Tiga Pos Lintas Batas Negara kita bangun dengan sebuah desain yang megah, semuanya berada di Kalimantan Barat. Sampai hari ini saya sudah 7 (tujuh) kali ke Kalimantan Barat, yang lain kadang-kadang baru 1 (satu), baru 2 (dua), di sini sudah 7 (tujuh).

Saya ingin titip Pos Lintas Batas Negara yang ada di Aruk ini agar betul-betul digunakan oleh masyarakat untuk pusat pertumbuhan ekonomi yang baru. Jangan hanya sebatas ini sebagai Kantor Imigrasi, Kantor Karantina, Kantor Bea Cukai, tidak seperti itu. Harusnya masyarakat bisa memanfaatkan Pos Lintas ini untuk menumbuhkan ekonomi yang ada di Kabupaten Sambas.

Saya juga sangat berbahagia sekali Pak Gubernur, saya harus menyampaikan apresiasi, karena di Kalimantan Barat pertumbuhan ekonominya di atas rata-rata nasional. Ini baru saja saya baca, 5,22 persen, tinggi ini. Tapi memang harus terus dipertahankan dengan kerja keras seluruh masyarakat.

Hati-hati, ekonomi dunia sekarang ini semuanya melambat, turun semuanya. Kita dengan susah payah, segala jurus kita keluarkan agar ekonomi kita tidak turun. Alhamdulillah 2016 yang lalu kita tumbuh 5,02. Kita adalah masuk dalam 3 (tiga) besar terbaik, setelah India, China, Indonesia.

Ini yang sering kita lupa mensyukuri. Pertumbuhannya bisa dipertahankan baik tapi masih banyak yang demo. Ada harga minyak naik sedikit itu saja demo. Kadang-kadang saya, “aduh, demo itu yang korupsi gede-gede, itu yang didemo.” Harga BBM naik 500 perak saja demonya 3 (tiga) bulan.

Saya cerita sedikit ini, harga BBM di Papua, di Wamena, di Lanny Jaya, di Puncak, di Nduga, di Pegunungan Tengah, itu harganya dulunya 60 ribu – 100 ribu. Itu tidak pernah ada yang demo, berpuluh tahun diam. Tapi sekarang alhamdulillah sudah 5 (lima) bulan yang lalu harganya sudah sama seperti provinsi-provinsi yang lain.

Itu saya beri tugas 1,5 tahun menterinya. Saya mau ini sama seperti provinsi yang lain. 1,5 tahun baru bisa kejadian. Itu nginjek sana-nginjek sini, nginjek sana-nginjek sini. Saya sebenarnya nginjek-nginjek orang enggak senang tapi kalau perlu untuk rakyat akan saya lakukan.

Saya titip, yang kedua, ini di Sambas. Kita paham semuanya, negara kita itu terdiri dari, informasi terakhir yang saya terima, 714 suku, 714 suku. Di negara manapun tidak ada sebanyak kita ini, paling-paling banyak ya 3 atau 2, itu sudah paling banyak. Kita ini ada 714.

Suku Dayak saja ada berapa subsukunya? 152 subsuku Dayak. Itu bahasanya beda-beda Pak Gub ya? Beda-beda.

Sama seperti di Provinsi Sumatera Utara juga sama. Saya masuk ke sana, saya pikir di Sumatera Utara itu batak, horas semuanya, ternyata tidak. Yang di Nias yang selatan itu kalau ketemu salamnya bukan horas itu, hampir keliru saya. Di sana ada “ya’ahowu”, nanti masuk ke tengah beda lagi beda lagi, “mejuah-juah”, agak ke timur, “juah-juah”, kesana lagi baru “horas”, itu. Beda-beda.

Ini yang patut kita syukuri. Negara kita ini memang dianugerahi oleh Allah, oleh Tuhan keanegaragaman suku dan bahasa lokal. Bahasa lokal ada 1.100 bahasa lokal, beda-beda semuanya. Saya mencoba setiap ke daerah saya pasti kayak tadi, ya biar lama-lama, kalau ke sini 7 (tujuh) kali lama-lama ya jadi hapal lah.

Adil ka’ talino, hapal. Terusnya enggak hapal lagi nanti. Adil ka’ talino itu pasti hapal, terusnya mbaca lagi pasti.

Beda-beda semuanya. Jika kalau kita tidak memahami, tidak menyadari itu kadang-kadang kita ini seringan mau membeda-bedakan, tidak. Kita ini semuanya saudara sebagai bangsa besar bangsa Indonesia. Jangan ada dipilah-pilah, enggak ada. Sama semuanya. Kita ini masih ada yang sering mau memisah-misahkan seperti ini. Ini Jawa, ini Batak, ini Dayak, enggak lah. Kita ini semuanya bangsa Indonesia.

Bermacam-macam itu, beranekaragam itu, Kebinekaan itu, itu anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita. Oleh sebab itu, saya mengajak semuanya yang hadir di sini untuk kembali lagi kita memahami secara utuh Pancasila, kebinekaan kita. Sehingga kalau kita satu, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini betul-betul satu semuanya, rukun semuanya, bersatu semuanya, inilah kekuatan besar bangsa kita.

Dua bulan yang lalu saya memerintahkan pada Menteri Keuangan untuk melihat visi, menyiapkan visi 100 Tahun Indonesia Merdeka 2045. Akan seperti apa sih negara kita ini. Hitungan yang diberikan kepada saya, sudah 3 menteri yang saya suruh hitung, hitungannya sama semuanya. Insya Allah nanti pada 2045 PDB kita itu berada pada posisi angka USD9,1 trilyun, angkanya berarti kurang lebih Rp120 trilyun. Income per kapita yang sekarang ini kita USD3.450 nantinya akan berada pada angka USD29 ribu.

Artinya apa? Pada tahun itu kalau kita bekerja keras terus seperti ini, kondisinya normal seperti ini, pada 2045 kita betul-betul berada pada posisi Indonesia Emas kita. Dengan catatan-catatan kita bersatu, bekerja keras, tidak ada yang udur-uduran (berkelahi), tidak ada yang saling gesekan. Baik di daerah maupun di pusat semuanya satu bekerja pada target dan arah fokus pada titik yang sama, angka yang tadi saya sampaikan itu bukan sesuatu angka yang mustahil akan kita peroleh. Kita pada saat itu akan berada pada 4 (empat) besar ekonomi terkuat di dunia. Kalau angka tadi yang saya sampaikan itu betul-betul bisa kita dapatkan. Karena kalau pertumbuhan ekonomi berada pada posisi angka 5, angka 6, syukur bisa naik apalagi ke 7, itu akan lebih cepat, akan maju.

Tapi kita semuanya yang ada di sini nanti sudah tua-tua semuanya, anak cucu kita yang akan mendapatkan manfaat dari kerja keras Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara semuanya.

Terakhir, di sini ada yang asli dari Sambas?
Yang Dayak dari Sambas ada?
Coba yang gini-gini tadi maju.
Kelihatannya semangat banget, gini-gini, gini.

(Dialog Presiden Jokowi dengan Warga)
Presiden:
Dikenalkan dulu Bapak.

Warga (dr. Olly):
Baik. Terima kasih Bapak Presiden Republik Indonesia beserta Ibu, Bapak Gubernur, Bapak Panglima TNI, dan seluruh jajaran pemerintah baik di Pusat, Provinsi, dan khususnya Kabupaten Sambas, orang tua kami Bapak Bupati dan Ibu Wakil.

Perkenalkan nama saya dr. Boni. Kebetulan saya memakai topi ini Pak. Jadi menyandang juga sebagai Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Sambas.

Presiden:
Oh, Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Sambas.

dr. Boni, ini saya kan belum pernah kesini sebelumnya. Ke Entikong saya sudah 3 (tiga) kali, Entikong 3 (tiga) kali. Di sini kebetulan belum saja. Dulunya seperti apa itu ininya, kantor atau perbatasan ini? Blak-blakan saja, kalau jelek ngomong jelek, kalau bagus ngomong bagus.

“Pak sekarang lebih jelek Pak, lebih bagus yang dulu”, enggak apa-apa.

dr. Boni:
Jalan ini Pak, 1 (satu) tahun terakhir baru bagus.

Presiden Joko Widodo:
Jalan?

dr. Boni:
Iya, jalan.

Presiden Joko Widodo:
Oh, jalan.

dr. Boni:
Satu tahun terakhir baru bagus. 2015 kami kesini itu masih 4 (empat) jam Pak.

Presiden Joko Widodo:
Dari mana?

dr. Boni:
Dari Sambas menuju Aruk Pak.

Presiden Joko Widodo:
Sambas ke Aruk 4 (empat) jam?

dr. Boni:
4 jam. Artinya waktu itu memang jalannya tidak seperti sekarang.

Presiden Joko Widodo:
Sekarang berapa jam?

dr. Boni:
Sekarang kami tempuh 2 (dua) jam.

Presiden Joko Widodo:
Dua jam? Jadi separuh?

dr. Boni:
Separuh dari yang lalu.

Presiden Joko Widodo:
Karena jalannya sudah halus?

dr. Boni:
Lumayan.

Presiden Joko Widodo:
Lumayan, sudah. Kalau lumayan itu berarti ada yang belum halus?

dr. Boni:
Benar.

Presiden Joko Widodo:
Oh benar.

Pak Menteri PU mana? Catat. Tapi tadi sudah dibisiki, “Pak ini memang jalannya belum selesai.” Nanti akhir 2017 baru akan diselesaikan semuanya. Jadi betul Pak Boni.

Ini kan baru dimulai 2015, suruh cepat-cepat selesai. Pak Menteri PU kan yang dikerjain bukan di sini saja, di perbatasan di Atambua dengan Timor Leste, kerjain jalannya dan juga pos lintas batasnya. Yang berbatasan dengan Papua Nugini di Skow juga sama, jalannya plus kantornya yang kita punya di sana juga semuanya dirombak semuanya.

Terus selain jalan tadi bagaimana?

dr. Boni:
Kantor kami lihat di perbatasan ini sudah lumayan Pak.

Presiden Joko Widodo:
Kok lumayan lagi, berarti belum bagus ini. Kalau menurut saya ini bagus banget ini. Dari yang saya lihat di Motamasin, di Motaain, di Entikong, di kemaren Badau, ini yang paling bagus lho desainnya. Kok masih lumayan.

Padahal tadi saya tunggu, “bagus banget Pak,” gitu lho.

dr. Boni:
Yang di sini bagus Pak. Bagus sekali.

Presiden Joko Widodo:
Bagus? Oh

dr. Olly:
Maksud kami perkantoran untuk instansi pemerintah, yang vertikal itu, di sebelah kecamatan itu dibandingkan beberapa tahun yang lalu, permanen sekarang.

Presiden Joko Widodo:
Dulu enggak permanen?

dr. Olly:
Dulu banyak pakai papan dan tiang-tiang kayu.

Presiden Joko Widodo:
Coba kita bayangkan ya. Saya dulu waktu ke Motaain di Atambua saya lihat kantor yang ada di negara sebelah, kantornya bagus banget. Waduh, kita itu kayak kantor kelurahan. Serius, benar. Kotak-kotak kecil kayak kantor kelurahan itu. Lha gimana, muka saya ditaruh di mana itu?

Saya tahu itu enggak mau lihat yang di sana, tapi begitu lihat saya betul-betul di sini jadi panas saya. Saya perintah saat itu, ingat Pak Menteri PU, saya minta ini kantor ini saya beri 2 (dua) minggu dirobohkan. Iya benar, saya gitu kan, “robohkan.” Saya beri waktu 2 (tahun) Pak Menteri, ini dikerjakan. Saya minta lebih baik dari yang di sana.

Kemaren waktu diresmikan di Motaain, saya tengok lagi, saya bandingkan, “ah 3 kali lipat lebih baik.” Bukan 2 kali, 3 kali lipat lebih baik. Saya harus ngomong apa adanya, Pak Menteri biar senang. Karena yang kerja keras Pak Menteri, saya hanya mengontrol, mengecek, mengawasi.

Ya, terima kasih dokter.

dr. Olly:
Terima kasih Pak Jokowi.

Presiden Joko Widodo:
Terima kasih.

Saya kira itu Ibu dan Bapak sekalian yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang saya resmikan PLBN Aruk. Semoga menjadi bagian penting meningkatnya peran Kalimantan Barat dalam percaturan ekonomi global.

Terima kasih,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Artikel lainnya :