web analytics

Blog

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Silaturahmi dengan para Atlet dan Pelatih Nasional Peraih Medali pada Asian Games XVIII Tahun 2018, 2 September 2018, di Istana Negara, Jakarta

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 2 Sep 2018 ; 870 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2-8Bismillahirahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om swastiastu,
Namo buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati Ketua KOI, Ketua KONI, CdM,
Dan yang saya banggakan seluruh atlet, para pelatih, para official yang pada pagi hari ini hadir,
Hadirin undangan yang berbahagia.

Salam olahraga!
Siap kita?
Asian Games!
Indonesia!

Hari ini saya begitu sangat senang sekali. Sangat senang sekali. Kita tahu semuanya, nanti sore Asian Games akan ditutup tapi rasanya kita ingin melakukan upacara pembukaan Asian Games lagi. Saya ingin naik motor lagi dan terbang ke udara. Saya ingin ada tambahan 31 medali emas lagi. Saya juga ingin terus melihat Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya terus dikumandangkan.

Yang jelas, saya ingin mengatakan bahwa Indonesia bangga atas prestasi Saudara-saudara sekalian para atlet. Indonesia bangga dengan perjuangan para atlet, perjuangan keras dalam meraih prestasi. Indonesia bangga dengan ketulusan para pelatih, official. Indonesia bangga dengan dedikasi para pengurus cabang-cabang olahraga.

Saya kira bukan rakyat saja yang terkejut tapi dunia juga terkejut dengan torehan sejarah yang Saudara-saudara sekalian ciptakan. Karena memang sebelumnya kita, di Asian Games sebelumnya kita meraih 4 medali emas, kemudian melompat menjadi 31 emas.

Dulu sebelumnya, saat kita menargetkan 16 emas banyak yang sangsi, banyak yang pesimis. Saya ngomong bolak-balik dengan Pak Wapres, angka ini benar ndak sih 16? Pak Wapres ngitang-ngitung lagi. Kita ini yang, optimis boleh tapi kan juga harus realistis hitungannya, kalkulasinya. Baru 16, 4 bulan sebelumnya ada yang nambah lagi. “4 Pak, bisa tambah 4.” Saya 16 dengan Pak Wapres kalkulasi saja masih deg-degan, ada yang nambah 4 lagi. Benar ndak sih? Tapi hari ini bukti itu betul-betul nyata dan ada, yaitu 98 medali (emas, perak, dan perunggu) bisa kita peroleh dari seluruh cabang olahraga yang dipertandingkan.

Ini adalah sebuah lompatan, lompatan besar yang bisa kita jadikan fondasi untuk prestasi-prestasi selanjutnya. Karena sebelumnya, saya ngomong apa adanya, sebelumnya kita berada di urutan 17, sekarang berada di urutan 4, itu juga sebuah lompatan besar. Saya enggak tahu, saya juga enggak mengerti betul. Meskipun saya selalu datang juga di beberapa cabang olahraga untuk melihat kesiapannya seperti apa. Saya lihat, misalnya di pacuan kuda saya lihat, di pencak silat, di skateboard, di voli pantai saya lihat, dan beberapa cabang olahraga lainnya. Saya enggak ngerti betul, atlet ini jurusnya apa? Tapi yang saya pastikan, ini adalah sebuah kerja keras yang luar biasa dari para atlet, para pelatih, para official.

Dan saya tahu, Saudara-saudara semuanya mempersiapkan ini bertahun-tahun. Latihan, kerja keras tanpa mengenal lelah. Menempa diri dalam berbagai training, try out, kompetisi, baik di dalam maupun di luar negeri selalu terus diikuti. Artinya, mengorbankan waktu jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman.

Saya juga mengerti bahwa saat kaki Saudara-saudara hampir tak kuat untuk berdiri, Saudara-saudara tak henti berjuang untuk negara dan kemenangan Saudara adalah kebahagiaan seluruh rakyat Indonesia. Juga tangis kekalahan Saudara-saudara adalah pemersatu kekuatan kita, Indonesia. Beban yang Saudara-saudara tanggung kita pikul bersama.

Kita juga mengapresiasi setinggi-tingginya atas kesuksesan segenap pihak dalam penyelenggaraan Asian Games ini. Kita tahu betapa sulitnya melayani 17.000 atlet dan official yang datang ke negara kita. Bukan sesuatu yang mudah, dan sudah bisa di-manage, bisa dikelola dengan baik. Kita tahu  juga betapa beratnya melayani 7.000 wartawan yang hadir dan 150.000 suporter dari 45 negara, bukan sesuatu yang gampang.

Kita juga tahu, betapa kita ini juga diberikan waktu yang sangat singkat, hanya 3,5 tahun untuk menyiapkan, menghadirkan infrastruktur dan fasilitas-fasilitas olahraga yang berstandar internasional. Sangat mepet sekali. Negara lain menyiapkan hal-hal seperti ini 10 tahun, 7 tahun, 8 tahun, kita hanya 3,5 tahun. Pak Wapres hampir setiap hari, setiap minggu datang cek, menteri datang cek ke venue-venue, siap enggak sih. Saya juga cek, cek. Tapi inilah manajemen yang sudah kita hadirkan dari negara untuk mempersiapkan sebuah perhelatan besar Asian Games 2018.

Kita juga tahu, betapa beratnya memastikan keamanan, memastikan kenyamanan bagi semua tamu kita yang hadir di negara kita. Kerja keras, profesionalitas, pengorbanan, keikhlasan semua pihak, segenap pihak telah turut mengangkat wibawa bangsa Indonesia di kancah dunia, memperkokoh kebersamaan dan ke-Indonesia-an, kita dan mengibarkan Sang Merah Putih dengan penuh kebanggaan.

Rakyat berterima kasih kepada Saudara-saudara semuanya. Rakyat menyambut prestasi Saudara-saudara dengan penuh haru dan kebahagiaan. Rakyat menghargai, sangat menghargai pengorbanan dan perjuangan Saudara-saudara. Oleh karena itu, saya tidak rela terhadap mereka yang ada yang mencemooh prestasi Saudara-saudara, dikatakan ini karena kita sebagai tuan rumah jadi diuntungkan. Ya semua yang jadi tuan rumah pasti diuntungkan, semua yang menjadi tuan rumah, bukan hanya kita saja. Tapi kalau enggak ada prestasi, ya kalah. Tuan rumah, siapapun. Saya tidak rela kata-kata seperti itu. Karena saya tahu perjuangan Saudara-saudara semuanya. Saya tahu betul. Sudah kram itu saja masih lari ke sana, lari ke sini.

Karena saya tahu, prestasi Saudara-saudara adalah buah dari sebuah kerja keras. Dan tujuan kita bukan semata-mata ingin mendapatkan medali atau meraih peringkat yang tinggi, tapi juga kita ingin mewujudkan sportivitas, jiwa besar dalam berkompetisi. Kita ingin juga tunjukkan kedisiplinan, ketekunan, kebersamaan. Kita ingin membangun sebuah daya juang, pengorbanan dengan semangat persaudaraan karena kita ingin memperkuat tali persatuan dan nasionalisme dalam asa kebangsaan.

Dan bermodal kesuksesan dalam penyelenggaraan dan prestasi serta pengalaman serta dukungan infrastruktur, kemarin saya telah menerima Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Mr. Thomas Bach. Saya katakan kepada beliau, bahwa Indonesia siap untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade di 2032. Saya harapkan Saudara-saudara semuanya juga mempersiapkan untuk itu.

Pesan terakhir saya, negara masih menunggu prestasi Saudara-saudara yang lebih banyak lagi. Dan Indonesia berterima kasih, sejarah emas yang Saudara-saudara torehkan. Oleh karena itu, saya sampaikan kemarin kepada Menpora, bonus untuk para atlet peraih medali saya ingin berikan secepatnya sebelum acara penutupan dilakukan. Kalau pagi ini atau siang nanti atau sore nanti masih ada tambahan medali setelah acara ini, akan saya berikan langsung juga kalau masih ada tambahan lagi, di sini. Tahu-tahu nanti masih ada tambahan emas lagi ya saya berikan di sini, siapa tahu.

Sekali lagi, terakhir, terima kasih pahlawan Indonesia.

Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahamatullahi wabarakatuh.

Artikel lainnya :