web analytics

Blog

Sambutan Presiden pada Acara Puncak Peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2018, di Danau Cimpago, Pantai Padang Sumatra Barat, Jumat, 9 Februari 2018

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 9 Feb 2018 ; 5287 Views Kategori: Transkrip Pidato
Logo-Pidato2Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Yang saya hormati para pimpinan lembaga negara, para menteri kabinet kerja, Panglima TNI, Kapolri, seluruh gubernur, bupati, dan wali kota yang hadir, khususnya Gubernur Sumatera Barat beserta Ibu.

Yang saya hormati Menteri Penerangan Malaysia beserta 35 delegasi wartawan Malaysia yang pada pagi hari ini hadir.
Yang saya hormati Ketua Dewan Pers Bapak Yosep Adi Prasetyo, beserta para Insan media dan seluruh asosiasi di bidang pers,
Yang saya hormati Ketua PWI Bapak Mardiono yang saat ini dalam proses mencalonkan diri sebagai bupati di Tulungagung. Nyalonin Bupati kok berani ninggal-ninggal ke sini. Artinya beliau yakin bahwa menang. Kalau nggak yakin tidak mungkin berani ninggalin. Karena yakin, ya sudah ke Padang berani.
Yang saya hormati Yang Mulia para duta besar negara-negara sahabat, hadirin dan undangan yang berbahagia,
Mungkin sekitar lima tahun belakangan kita sering mendengar berbagai analisa, bahwa media mainstream,  bahwa media massa akan terus digeser oleh media-media sosial, oleh media-media baru.
Media massa, pers yang dikenal sebagai pilar keempat demokrasi dianggap akan sulit bersaing dengan media sosial dan digital.
Tapi saya percaya bahwa di era lompatan-lompatan kemajuan teknologi informasi, di era melimpahnya informasi dan melimpahnya miss informasi, justru pers makin diperlukan, makin diperlukan.
Pers makin diperlukan untuk menjadi pilar penegak penyampaian kebenaran, pers makin diperlukan sebagai pilar penegak fakta-fakta, pers makin diperlukan sebagai pilar penegak aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat.
Pers makin diperlukan untuk turut membangun narasi kebudayaan baru, membangun narasi peradaban baru, memotret masyarakat yang bergerak semakin cepat, semakin efisien yang sekarang melahirkan era revolusi industri 4.0 (four point zero) yang berbasis pada  digitalisasi, kekuatan komputasi dan analitik data, menghasilkan banyak inovasi yang harus segera kita ketahui, yang harus segera kita pahami jika kita tidak ingin ditinggalkan.
Sekali lagi, pers diperlukan untk turut membangun narasi kebudayaan baru, membangun narasi peradaban baru.
Tapi saya sering ingat kalau pas dicegat door stop 80-90 wartawan. Pertanyaannya tidak 1, banyak sekali dan pertanyaannya sulit-sulit semuanya karena ditembak langsung pada saat yang kita sering tidak siap.
Oleh sebab itu pada Hari Pers Nasional pagi hari ini saya minta satu saja wartawan maju kedepan. Tunjuk jari dulu yang pengen maju ke depan tunjuk jari baru saya suruh ke depan. Sebentar, yang pengen maju kok banyak sekali, bingung saya.
Loh ini wartawan senior ini, saya‎ pengen yang yunior yang datang senior, enggak apa-apa silahkan. Silakan dikenalkan dulu Pak.
Wartawan Surabaya : Nama, saya Muhammad Yusri Nur ‎Raja Agam.
Presiden Jokowi : Muhammad Yusri Nur Raja Agam, waduh ada rajanya juga ini.
Yusri : wartawan di surabaya baru 40 tahun.
Presiden Jokowi : berarti anak buahnya Pakde Karwo
Yusri : baik Bapak, Saudara wartawan, apa yang mau ditanyakan?
Presiden Jokowi : Saya gak berani loh seperti itu kepada wartawan seperti itu, apa yang mau ditanyakan, keliatan yakin sekali, ini jadi presiden bagus sekali.
Presiden Jokowi : gini‎ bapak kan punya menteri 34, menteri mana yang menurut Bapak anggap paling penting?
Yusri : sebenarnya semua penting, tapi yang paling penting,
Presiden Jokowi : ini politis banget (disambut tawa)
Yusri : menteri yang bisa presidennya nyaman.
Presiden Jokowi : berarti menteri yang dianggap paling penting yang mana? To the point aja Pak? Bapak jangan muter-muter aja gitu, bapak tadi muter-muter, saya belum bisa nulis, belum nangkep.
Yusri : baik, menteri yang mengurusi wartawan.
Presiden Jokowi : berarti yang anggap penting menteri?
Yusri : yang mengurusi wartawan
Presiden Jokowi : menteri apa itu?
Yusri : kalau sekarang namanya kominfo,
Presiden Jokowi : Bapak anggap paling penting, kenapa?
Yusri : supaya informasi disampaikan mulai dari kota sampai ke desa, semua menerima informasi dan komunikasi. Termasuk informasi politik.
Presiden Jokowi : begini, blak-blakan saja, saya sering sekali kadang sebal, kadang jenggel, pertanyaan di awal itu enak-enak, sampai ke tengah ditanya yang sulit-sulit, nah sekarang saya tanya ke Pak Presiden, media apa yang paling menyebalkan, yang Bapak sering jengkel. Jawab blak-blakan Pak Presiden.
Yusri : media abal-abal
Presiden Jokowi: tidak ada di lingkungan istana media abal-abal, ‎medianya resmi semuanya, tapi banyak yg menyebalkan, sampaikan apa adanya, yg mana pak? Entah TV, online, media cetak, yang mana? Bapak kan setiap hari diwawancarai di depan istana, bapak kan hapal, wartawannya siapa-siapa, yang nanya itu terus-terus siapa.
Yusri : yang paling menyebalkan itu rakyat merdeka. (sambut tawa)
Presiden Jokowi : pak presiden ini blak2an seperti perasaan saya. Sama persis. Kenapa bapak presiden, kenapa rakyat merdeka
Yusri : ya kalau rakyatnya merdeka kan pemimpinnya yg susah,
Presiden Jokowi : pemimpinnya susah maksudnya gimana?
Yusri : kalau merdeka, semuanya dianggap merdeka, kan padahal aturan kemerdekaan.
Presiden Jokowi : ya terimakasih Pak Yusri, sekarang ganti lagi, presidennya saya. Saya berikan sepeda satu.

Saya senang sekali Pak Yusri tadi blak-blakan banget, langsung to the point rakyat merdeka.

Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati, saya cerita sedikit, jadi tahun 1983‎ ada anak muda, naik bus tiga hari dari Jawa menuju ke Padang, kemudian naik ke Solok, Solok selatan, sungai penuh, kemudian menuju ke gunung kerinci melalui Solok selatan.
Saat itu, anak muda ini kagum akan rumah gadang yang ada di Solok selatan, dan saat itu anak muda tersebut yang ada di depan bapak ibu semuanya.
Jadi saya ingat betul waktu naik Kerinci, lewat Solok selatan, kekagaguman saya akan rumah tradisi, rumah adat yang sangat cantik dan dan sangat Indah sekali,
Dan sebagai bagian dari perawatan kekaguman tersebut, saya pada hari ini mencanangkan revitalisasi total kawasan 1.000 rumah gadang di kabupaten Solok selatan di Provinsi sumatera Barat.
Tadi pagi saya sudah perintah pak menteri, pak menteri tolong selesaikan tahun ini.
Dan ini nanti revitalisasi ini sekaligus merupakan prototipe untuk rumah gadang yang ada di sumatera barat khususnya, juga diseluruh pelosok tanah air.‎
Tapi saya tambahin sekali lagi, pak menteri PU tadi pagi kita juga melihat keindahan sebuah desa yang sangat cantik, Indah, yaitu desa Pariangan, di kabupaten tanah Datar, ini sekalian saya tugaskan selain yang ada Solok selatan, juga di desa yang tadi pagi jam tujuh tadi kita lihat untuk bisa diselesaikan tahun ini.sekalian. Landscpae, restorasi rumah-rumah yang ada, ‎sehingga akan menambah cantik rumah adat yang ada di Solok selatan maupun di desa Pariangan tadi.
Kemudian yang kedua,  Kemarin saya berkunjung ke rumah keluarga besar dari tokoh pers yang sangat kita kagumi, Djamaluddin Adinegoro yang  berada di Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto. Rumah tersebut sudah tidak ada, tinggal pondasinya, memilik memiliki luas 2.459 meter persegi disitulah beliau bapak Djamaludin Adinegoro lahir dan dibesarkan.
Beliau terlahir dengan nama Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan dan nama pena Adinegoro, karya sastra Djamaludin Adinegoro yang terkenal dan melegenda adalah ‘Darah Muda’, ‘Asmara Jaya’, ‘Melawat ke Barat. Dan warisan berharga beliau lainnya adalah atlas pertama Indonesia dan ensiklopedia berbahasa Indonesia pertama.
Kehadiran saya disana kemarin sore tidak hanya sekedar memberi sertifikat yang berlupuh tahun tidak bisa diselesaikan, kemarin sudah saya serahkan ke pihak keluarga beliau. Dan dari keluarga besar juga menyampaikan dari lahan yang ada akan digunakan untuk museum adinegoro.
Pemerintah akan mendukung penuh pendirian museum tersebut dan Kelak di museum itu kita dapat mengenal karya-karya dan jejak langkah beliau sebagai wartawan dan sastrawan yang  begitu besar perannya dalam memajukan pers Indonesia, pers yang bertanggungjawab, dan pers yang menggalang persatuan bangsa bangsa.
Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Sekali lagi, di Hari Pers Nasional ini saya berharap seluruh insan pers Indonesia dapat terus menjadi penyalur kebenaran, penyalur fakta, dan penyalur aspirasi masyarakat.
Selamat Hari Pers Nasional Tahun 2018
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Artikel lainnya :