web analytics

Blog

Transkrip Sambutan Presiden Joko Widodo dalam Acara Silaturahmi dengan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) dalam rangka Hari Tani Nasional 2017, di Kelurahan Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah, Senin, 25 September 2017

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 26 Sep 2017 ; 1220 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh,

Selamat Pagi,

Salam sejahtera bagi kita semuanya,

Yang saya hormati Bapak Menteri Pertanian, Pak Gubernur Jawa Tengah, Bapak/Ibu Wali Kota Salatiga,

Yang saya hormati Pak Pangdam, Pak Kapolda, Bapak/Ibu semuanya, khususnya keluarga besar para petani, para pelaku usaha sektor pertanian yang saya hormati,

Bertemu dengan bapak ibu petani merupakan kehormatan bagi saya, karena kalau bukan karena petani, kita ini mau makan apa, bangsa ini mau makan apa, negara manapun pasti membutuhkan makan, dan orang di manapun pasti juga butuh makan.

 

Dan bahkan ke depan urusan pangan akan menjadi rebutan, di seluruh negara manapun kuncinya ada di pangan, akan menjadi rebutan. Oleh sebab itu mulai dari sekarang kita harus bersiap-siap agar yang namanya kebutuhan pangan itu bisa kita cukupi sendiri. Dan yang kedua, kalau perlu expor secara besar-besaran ke negara-negara lain.

 

Saya ingin memberikan sebuah pemikiran yang nanti bisa kita jadikan PR bersama-sama.

 

Yang pertama, bahwa petani itu akan meningkat kesejahteraannya kalau tidak hanya berkutat di sisi produksi saja, hanya menanam dan memanen. Bukan itu. Karena sebetulnya keuntungan terbesar dari pertanian itu berada pada proses bisnisnya, proses agro bisnis-nya.

 

Oleh sebab itu disini, di Qaryah Thoyyibah sudah betul, mengkonsolidasikan petani dalam sebuah grup besar ini sudah betul, pertama. Di situ ada apa tadi namanya? jamaah produksi, sudah betul. Tetapi sekali lagi, yang dikerjakan itu bukan hanya menanam, atau mencari benihnya, atau mencari bibitnya, atau memupuknya. Tetapi justru keuntungan yang paling besar itu ada setelah pasca panen, setelah panen itu yang gede untungnya.

 

Sehingga kalau sudah mengkonsolidasi dalam sebuah organisasi, ini akan lebih memudahkan. Itu yang sering saya sampaikan, bagaimana mengkorporasikan petani, mengkonsolidasikan petani dalam jumlah yang besar.

 

Karena tadi saya bisik-bisik ke Pak Menteri Pertanian, kalau sudah membangun kelompok besar petani seperti yang sudah dilakukan oleh Qaryah Thayyibah, sudah, ini sudah dikonsolidasi dalam organisasi, sehingga menjadi kelompok besar petani.

 

Tapi yang kedua, yang paling penting adalah menjadikan organisasi ini menjadi sebuah perusahaan pertanian, sehingga yang namanya menyiapkan pupuk itu bisa dilakukan sendiri, bisa membuat pabrik pupuk dalam skala petani, yang pertama.

 

Yang kedua, dari sisi panen dan penggilingan, ini juga harus dikerjakan bersama-sama, memiliki rice mil unit sendiri, penggilingan padi sendiri, memiliki perontok padi juga sendiri, sehingga kita tidak kehilangan, karena perontok padinya masih tradisional, penggiling padinya masih seperti yang lalu-lalu.

 

Ini kita kehilangan kurang lebih berapa Pak Menteri Pertanian? 15% dari 2 tahapan ini kita kehilangan 15%. Ini gede banget. Angka 15% ini kalau diuangkan dalam kelompok besar petani ini uang yang sangat besar sekali.

 

Oleh sebab itu saya menyarankan kepada Qaryah Thayyibah  agar memiliki mesin modern perontok padi, mesin modern untuk penggilingan padi. Ini tahapan kedua itu harus dimiliki, jumlahnya seperti apa? ya jumlah petani dihitung berapa, tonasenya berapa? disesuaikan memiliki rise mill yang modern, sehingga kehilangan 15% itu bisa kita hilangkan, 15% didapat oleh petani lagi.

 

Yang ketiga, kalau kita memiliki industri kemasan. Ini juga nggak mahal, saya tanyakan kemarin, membuat kemasan itu berapa sih? kira-kira 800 juta itu sudah jadi kemasan yang sangat bagus.

 

Coba saya lihat saya tunjukkan kemasan,1 saja atau 2 kalau ada. Mestinya petani sudah bisa memproduksi barangnya, berasnya menjadi seperti ini. Kalau sudah seperti ini, jualan beras tidak seperti harga kita menjual di pasar tradisional. Ini dijual di supermarket, di hypermarket, di minimarket harganya sudah berbeda, bisa naik lagi keuntungannya 20% hanya gara-gara di packaging seperti ini, dikemas seperti ini, diberi merk, dikemas yang baik, jualnya di minimarket, di supermarket, atau di pasar tradisional nggak papa, tapi sudah dalam bentuk seperti ini. Mesinnya, sekali lagi mesinnya ini tidak mahal, yang agak gede itu 800-an,  mungkin yang agak, kalau kapasitasnya agak kecil ya lebih murah lagi.

 

Ini yang tadi disampaikan yang di Sukabumi tadi, ini produksi dari petani- petani yang sudah berorganisasi terkonsolidasikan dalam kelompok besar, punya penggilingan modern dan punya packaging kemasan seperti ini.

 

Bagus ndak ini? siapa yang bilang tidak bagus maju.Silakan maju. Nggak ada yang berani maju.

 

Ini yang dibutuhkan. Kalau sudah pasar dalam negeri terpenuhi, ekspor dengan kemasan seperti ini gampang banget, mudah sekali. Mesinnya murah, kalau urunan bersama-sama.

 

Kalau yang di Sukabumi itu dalam bentuk PT, ada yang dalam bentuk koperasi. Inilah tugas kita bersama, jangan sampai kita terjebak hanya urusan bagaimana menanam dan memanen. Tetapi kelanjutan proses bisnis itu yang justru keuntungannnya itu gede banget. Itu yang harus dikerjakan oleh kelompok besar petani-petani yang sudah terkonsolidasi organisasinya. Dan saya berharap di Qaryah Thayyibah ini bisa melakukan itu. Saya beri waktu dua tahun, sudah.

Problemnya apa? Masalahnya apa? Bisikin ke saya. Kalau saya bisa memberikan solusi, saya berikan. Tapi kalau tidak, tolong diselesaikan sendiri itu lebih baik. Ya jangan sampai ada masalah sedikit-sedikit bisikin saya. Itu akan menumbuhkan, apa, sikap-sikap enterpreneurship yang baik, tahan banting, pantang menyerah. Inilah yang kita butuhkan saat ini.

 

Sekali lagi, kalau sudah seperti ini, ini merknya saya baca ya, beras Pulen Wangi, capnya cap caping gunung. Cap-nya saja bagus banget, Cap Caping Gunung. Iya kan? Ini bisa mengalahkan, karena biasanya kalau itu terkonsolidasi sendiri oleh petani, ini yang akan mengalahkan perusahaan-perusahaan gede di negara manapun kalah dengan ini. Pasti lebih murah ini harganya, saya pastikan. Karena diproduksi sendiri oleh petani. Kalau perusahaan besar itu biayanya pasti gede.

 

Kemenangan bersaing itu, sekali lagi kalau petani-petani membuat kelompok organisasi besar sehingga bisa beli penggilingan padi yang modern, bisa membeli mesin packaging yang modern. Itulah saya kira pertanian kedepan kita.

 

Dan nanti kalau ingin bareng-bareng ke Sukabumi, nanti akan saya undang, saya ingin bicara lagi bagaimana, langsung saja lihat, praktek, tidak usah saya banyak ngomong teori-teori, nanti dipahami juga sulit. Bawa ke tempatnya, lihat, copy, diperbaiki lagi. Udah gitu aja. Tiru tapi diperbaiki lagi. Apakah manajemennya, apakah perbaikan tata ruang lay out-nya. Karena yang di Sukabumi pun belum tentu itu sudah sempurna, belum. Tapi bahwa disana penggilingan padinya modern, iya, kemudian apanya, kemasannya, packagingnya modern iya. Kemudian saat musim hujan juga apanya, dryer-nya juga modern. Sehingga nggak ada yang namanya jereng padi di depan rumah, itu nggak ada sudah. Disini masih ada ndak? Nah, ngaku. Ndak ngaku awas! Itu yang kalau pas musim panas nggak papa, tapi kalau pas musim hujan njerengnya dimana? Baru njereng 5 menit sudah hujan mau apa?

 

Inilah kebutuhan mesin dryer. Tetapi sekali lagi itu memang harus diadakan petani secara kelompok besar. Alat-alat produksi pasca panen juga harus memang dilakukan.

 

Kemudian tahapan yang keempat tadi saya sampaikan, memasarkan. Ini penting sekali memasarkan. Kalau sudah seperti ini, ya dititipkan saja, titipkan di toko-toko. Membuat divisi marketing sendiri. Ada divisi marketing. Pasarkan di toko-toko, di pasar-pasar, di hypermarket, di supermarket. Kalau sudah penuh semuanya, produksi masih banyak, cari jaringan ekspor. Nggak sulit, asal sudah dalam bentuk seperti ini. Nggak sulit. Tapi kalau masih dalam bentuk beras dimasukkan ke karung ya sulit. Tapi kalau sudah bentuk seperti ini gampang sekali memasarkan barang. Mudah. Ini tugasnya organisasi besar ini dalam mencapai keuntungan untuk kesejahteraan para anggotanya.

 

Coba ada petani yang mau maju, tunjuk jari. Bentar, ini urusan… Harus ngerti kalau ditanya soal urusan pertanian, urusan beras.

 

(Dialog Presiden dengan petani)

 

Tadi kan saya sampaikan, sudah saya sampaikan kan, kalau sudah berkelompok, nggih, memasarkan barang, produknya itu sendiri. Karena keuntungan yang besar itu bukan pas nanamnya dan memanennya itu. Kalau bisa masarkan ini langsung ke supermarket, langsung ke hypermarket, langsung ke…. itu untungnya yang gede ada disitu. Jadi betul. Oleh sebab itu kalau sudah mengelompok, sekali lagi, pikirkanlah membuat yang namanya divisi pemasaran, divisi marketing. Karena untungnya paling gede ada disitu. Untuk sayur sama, untuk padi sama. Ya kalau kita hanya di pertanian saja, seumur-umur nggak…..Saya sudah ada hitung-hitungannya. Keuntungan paling gede itu ada disitu.

 

Sekali lagi, oleh sebab itu tadi saya..untuk kemasan, untuk packing packaging itu ya memang itu, karena meningkatkan keuntungan. Inilah problem-problem yang kita harus sadari semuanya, bahwa petani, di pertanian itu yang untungnya gedeitu justru di pasca panen, baik yang pasca panen masih ada di desa. Tadi, saya ulangi lagi misalnya kalau di padi di rice mill,kemudian di packaging seperti ini keuntungannya yang gede disitu. Apalagi dengan menjual langsung, keuntungannya lebih gede lagi. Contoh, beras. Beras ini kalau nggak dipacking, jual berapa Pak Menteri? Rp 8.000,-an, Kalau sudah diginikan menjadi berapa? Rp 12.000,- coba.

Lha mung diplastikin ngeten tambah Rp 4.000 cobi. Nggih mboten? Panjenengan setuju mboten diginikan ini seharusnya petani yang menjual, setuju mboten?

 

Nggih, oleh sebab itu kembali lagi ini menjadi PR Pak Bahrudin agar mesin-mesin yang tadi sudah saya sampaikan itu bisa diberikan jalan keluarnya. Coba, karena kita harus sudah mulai berhitung apakah mungkin dengan perbankan? Dengan bunga murah, atau kalau tidak ya ke Menteri Pertanian.

 

Tapi, jangan sekali lagi, kita jangan terus terlalu berharap kepada pemerintah. Karena apa? Supaya sikap enterpreneurshipkita ini muncul. Nanti banyak petani-petani yang pinter memasarkan ini, bisa memasarkan sayur yang sudah di kemas, di packaging dengan baik, itu yang kita harapkan. Ada yang berproduksi, di sawah atau di tegal, tapi ada juga yang memasarkan. Malah untung yang gede itu ternyata memang ada di tengkulak, di rantai-rantai ini. Ini kalau petani bisa dari sini langsung meloncat ke sini, nah itu keuntungannya nanti semuanya akan diambil oleh petani.

 

Ini tadi sudah dicatet? Sudah? Catet ya. Ini tadi sudah masalahnya di catet? Ya, sudah sekarang lapor alamatnya dimana, nanti biar dicek di lapangan. Nggih, pun. Untuk bareng-bareng nanti, biar dicek di lapangan dulu, apakah yang disampaikan tadi betul-betul dibutuhkan.

 

Baiklah, saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan tadi saya bawa sepeda tadi, satu, tadi tiga kan?bawanya berapa? Tiga? Ya sudah, bawanya juga hanya tiga jadi satu, satu, satu, sudah. Tapi yang dibutuhkan sebenarnya kan bukan sepeda. Tapi nggak papa untuk kenang-kenangan.

 

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, terima kasih.

 

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

 

Artikel lainnya :