{"id":143874,"date":"2018-10-19T18:34:56","date_gmt":"2018-10-19T11:34:56","guid":{"rendered":"https:\/\/setkab.go.id\/?p=143874"},"modified":"2018-10-19T18:34:56","modified_gmt":"2018-10-19T11:34:56","slug":"media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/","title":{"rendered":"Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><strong><a href=\"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono.jpg\" rel=\"attachment wp-att-143875\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-143875\" src=\"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-300x297.jpg\" alt=\"eddy cahyono\" width=\"300\" height=\"297\" srcset=\"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-300x297.jpg 300w, https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-150x150.jpg 150w, https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono.jpg 361w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>Oleh: Eddy Cahyono Sugiarto<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>(A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes truth: Paul Joseph Goebels)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan era digital dewasa ini ditandai dengan semakin masifnya penetrasi media sosial dalam berbagai aspek kehidupan ekonomi, politik, budaya dan pertahanan keamanan, fenomena\u00a0 ini merupakan\u00a0 konsekuensi \u00a0perubahan pola komunikasi, dari cara-cara dan media konvensional\u00a0 menuju digitalisasi komunikasi dengan menggunakan berbagai kanal media sosial kekinian.\u00a0<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Era digital yang ditandai dengan perkembangan Teknologi Informasi Komunikasi\u00a0 terus berlangsung dan berkembang begitu cepat dan semakin canggih, dimulai antara lain dari penemuan <em>bluetooth<\/em> (2001), <em>Mozilla<\/em> (2002), <em>Skype<\/em> (2003), <em>MySpace<\/em> (2003), <em>Facebook<\/em> (2004), <em>Youtube<\/em> (2005), <em>Twitter<\/em> (2006), <em>Apple iPhone<\/em> (2007),\u00a0 <em>Google Android<\/em> (2008),\u00a0 <em>Apple iPad<\/em> (2010), <em>Instagram<\/em> (2010), <em>Google Glass<\/em> (2012), <em>Google Driverless Car<\/em> (2012),\u00a0 <em>Sophia the artificial intelligence robot<\/em> (2015),<em> Tesla Model 3<\/em> (2016), ke depan diprediksi akan terus berkembang inovasi teknologi baru lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inovasi teknologi\u00a0 dengan pemanfaatan media sosial menjadikan arus informasi mengalir dengan deras dan cepat, pola-pola komunikasi linier mulai digantikan dengan pola-pola komunikasi simetris, <em>real time<\/em> melintas batas ruang dan waktu, \u00a0dengan mengedepankan kecepatan, sekaligusmenandakan pola komunikasi dewasa ini sesungguhnya telah memasuki fase <em>interactive communication era, <\/em>\u00a0sebagaimana katagorisasi <em>Everett M Rogers<\/em>, fase lebih lanjut dari pengembangan\u00a0 era telekomunikasidengan menjadikan \u00a0\u00a0penggunaan \u00a0internet sebagai media baru\u00a0<em>(new media). <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Perkembangan era digital dengan masifnya penggunaan internet sebagai media baru (new media), membawa konsekuensi \u00a0pergeseran karakter khalayak\u00a0 menjadiaudience, khalayak tidak lagi obyek pasif, namun dapat berperan menjadi produsen informasi (Prosumer), masyarakat sebagai khalayak tidak lagi pada posisi obyek yang dideterminasi media massa arus utama, \u00a0tetapi lebih jauh dapat berperan memproduksi berita dan membentuk opini publik via \u00a0platform media sosial.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Melalui media sosial memungkinkan pengguna berinteraksi, berbagi dan berkomunikasi yang membentuk ikatan sosial secara virtual dalam masyarakat jejaring (networking society) yang ditandai dengan munculnya jurnalisme warga (citizen journalism),\u00a0 fenomena ini menempatkan media sosial sebagai garda terdepan dalam komunikasi model baru sekaligus berperan membentuk opini publik.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Dalam perkembangannya, penggunaan media sosial\u00a0 sebagai garda terdepan dalam komunikasi model baru, tidak lagi hanya sekedar berperan sebagai kanal menyampaikan pesan dan menyerap informasi, tetapi lebih jauh\u00a0 berperan dalam mempengaruhi persepsi\u00a0 dan perilaku publik, mempengaruhi pengambilan keputusan institusi, kelompok masyarakat dan turut andil dalam pengembangan kesadaran kolektif opini publik. Lebih ektrim Aylin Manduric dalam tulisannya \u0093Sosial Media as a tool for information warfare\u0094\u00a0 menyatakan bahwa media sosial sebagai senjata pemusnah massal dan pemicu timbulnya konflik,\u00a0 berperan sebagai\u00a0 \u00a0senjata kata-kata yang mempengaruhi hati dan pikiran audiens yang ditargetkan.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui media sosial, berbagai informasi membanjiri ruang publik\u00a0 media sosial , arus informasi yang deras tanpa batas tersebut , \u00a0ibarat sekeping mata uang logam yang memiliki dua sisi yang berbeda,\u00a0 media sosial satu sisi dapat bersifat positip apabila dimanfaatkan secara benar, \u00a0untuk \u00a0mengedukasi masyarakat dan mengoptimalkan manfaat praktis media sosial, \u00a0bagi peningkatan pembangunan bangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemanfaatan media sosial berperan dalam mengoptimalkan nilai tambah ekonomi\u00a0 dan membangun sinergi antar segenap komponen bangsa, dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, \u00a0ditengah persaingan antara bangsa yang semakin tajam, dampak\u00a0 positip media sosial, antara lain \u00a0terlihat dari bergeraknya aktivitas ekonomi rakyat, disektor pariwisata tidak lagi didominasi oleh koorporasi besar, namun berkembang desa wisata yang dikelola oleh masyarakat lokal, home stay dll.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dampak positip pemenfaatan media sosial juga ditandai dengan berkembangnya <em>marketplace<\/em> yang mempertemukan penjual dan pembeli, e-comerce,\u00a0 UMKM yang memanfaatkan\u00a0 toko online, gojek, rental mobil rumahan\u00a0 dan berkembangnya <em>economic sharing resources<\/em> sehingga semakin masifnya\u00a0 <em>start- up<\/em>bisnis,\u00a0 yang membuka peluang usaha baru, \u00a0\u00a0menciptakan pasar baru dan menggunakan sarana promosi baru yang efektif dan efesien berkat pemanfaatan positip media sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun disisi lain pemanfaatan media sosial juga dapat kontra produktif, apabila ruang publik disesaki oleh informasi yang\u00a0\u00a0 yang berseliweran melalui media sosial dengan <em>hoax, informasi palsu (fake news)<\/em> dan informasi keliru (<em>falsenews)<\/em> yang memiliki daya rusak yang dashyat karena penyebarannya yang sangat cepat tanpa batas dan mampu membangkitkan emosi\u00a0 yang sangat\u00a0 kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan merebaknya fenomena post truthapabila tidak diantisipasi dengan mitigasi yang terencana dan terukur,\u00a0\u00a0 juga akan \u00a0berpotensi mempertajam polarisasi di masyarakat,\u00a0 ditandai dengan\u00a0 \u00a0semakin viralnya pemberitaan yang tendensius mengusung\u00a0 sentimen agama, \u00a0ras dan kelompok kepentingan yang dapat menjadi tantangan dan hambatan dalam\u00a0 memacu keberlanjutan pembangunan\u00a0 nasional, \u00a0merawat NKRI guna meningatkan kesejahteraan rakyat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><em>Fenomena post-truth<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Frasa post-truth ini awalnya dikenal di ranah politik saat kontes politik memperebutkan kursi parlemen dan\/atau tujuan politik lain sehingga istilah ini disebut post-truth politics.Istilah post-truth pertama kali diperkenalkan Steve Tesich, dramawan keturunan Amerika-Serbia.Tesich melalui esainya pada harian The Nation (1992) menunjukkan kerisauannya yang mendalam terhadap fenomena post-truth,\u00a0 dengan maraknya\u00a0 upaya \u00a0memainkan opini publik dengan mengesampingkan dan bahkan mendegradasi fakta dan data informasi yang objektif.Secara sederhana, <em>post-truth<\/em> dapat diartikan bahwa masyarakat lebih mencari pembenaran dari pada kebenaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam perkembangannya istilah post-truth menjadi semakin populer akhir-akhir ini, ketika para penyunting Kamus Oxford menjadikannya sebagai word of the year tahun 2016. Post-truth menunjukkan suatu keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik bila dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi.<\/p>\n<p>Era post-truth dapat disebut sebagai pergeseran sosial spesifik yang melibatkan media arus utama dan para pembuat opini. Fakta-fakta bersaing dengan hoax dan kebohongan untuk di\u00adper\u00adcaya publik. Media main\u00adstream\u00a0 yang dulu dianggap salah satu sumber kebenaran harus menerima kenyataan se\u00admakin tipisnya pembatas antara kebe\u00adnar\u00adan dan ke\u00adbohongan, ke\u00adjujur\u00ada\u00ad\u00adn dan peni\u00adpu\u00adan, fiksi dan nonfiksi.Secara sederhana, <em>post-truth<\/em> dapat diartikan bahwa masyarakat lebih mencari pembenaran dari pada kebenaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sudah selayaknya kita dapat mengambil pelajaran\u00a0 berharga dari sebagian kecil saja contoh\u00a0 bagaimana fenomena post-truth mempengaruhi kehidupan pada berbagai bangsa ,\u00a0 \u00a0dari kasus\u00a0 yang terjadi di <\/em>\u00a0Ukrania, Rusia, Inggris, Amerika Serikat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Ukraina tumbangnya presiden Ukraina diawali dengan sebuah status di medsos yang dibuat seorang jurnalis di Facebook yang dilanjutkan dengan seruan berkumpul di Lapangan Maidan di Kiev, di Rusia, Presiden Putin memanfaatkan medsos sebagai kampanye terselubung kepada negeri tetangganya seperti Ukraina, Prancis, dan Jerman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan Senat Amerika pernah memanggil perwakilan Google, Facebook dan Twitter dalam kasus mengarahkan suara pe\u00admilih dan memecah belah ma\u00adsyarakat yang diduga me\u00adlibat\u00adkan Rusia.Di Inggris referendum Brexit secara efektif meng\u00adgunakan medsos seperti Face\u00adbook untuk memasang iklan. Trump juga menggunakan med\u00adsos untuk kam\u00adpanye mempengaruhi pe\u00admilih dengan membuat 50.000-60.000 iklan yang berbeda di medsos, utamanya di Facebook.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Post-truth sengaja dikembangkan dan menjadi alat propaganda \u00a0dengan tujuan\u00a0 mengolah sentimen masyarakat sehingga bagi yang kurang kritis akan dengan mudah terpengaruh yang diwujudkan dalam bentuk empati dan simpati terhadap agenda politik tertentu yang sedang diskenariokan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berita\/informasi yang disampaikan, meskipun menjanjikan sesuatu yang indah dan menyenangkan, belum dapat dikatakan suatu kebenaran, sebaliknya, bukan pula sesuatu yang nyata akan terjadi, apabila diungkapkan berupa ancaman atau sesuatu yang dapat menimbulkan keresahan dan ketakutan serta menciptakan kondisi yang tidak produktif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu faktor yang menjadi katalisator\u00a0 berkembangnya <em>post \u0096truth<\/em> adalah kehadiran teknologi informasi yang berimplikasi pemanfaatan media sosial yang tidak tepat, teknologi digital- telah mampu menciptakan realitas sendiri, sesuai dengan\u00a0 agenda setting kelompok kepentingan\u00a0 atau menurut ilmu simiotika, keadaaan ini berdampak pada \u00a0terpisahnya antara penanda(<em>signifier)<\/em> dengan petanda(<em>signified).<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peran media sosial\u00a0 melalui algoritma \u00a0secara tidak langsung juga memiliki kontribusi yang signifikan dalam membentuk masyarakat <em>post-truth<\/em>. Algoritma media sosial berperan dalam menciptakan kondisi yang disebut <em>echo-chamber. Echo-chamber<\/em>( ruang gema) adalah kondisi di mana seseorang menerima informasi, ide, dan gagasan yang homogen secara terus-menerus, sedangkan pandangan lain tidak masuk dalam \u0091ruang\u0092 tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0Algoritma seolah-olah menjadi \u0093<em>f<em>ilter buble\u0094<\/em><\/em>. Algoritma <em>filter buble <\/em>mengkondisikan pengguna mendapat informasi sesuai dengan riwayat penggunaannya, secara perlahan tapi pasti informasi yang dipasok disesuaikan dengan \u00a0dengan preferensi yang dikehendaki, sedangkan yang tidak sesuai akan tersortir secara otomatis. Eksternalitas dari algoritma tersebut tak dibayangkan adalah masyarakat akan hanya mendapat informasi yang bersifat banal dan parsial. Dampaknya adalah penguatan identitas \u00a0dan polarisari\u00a0 masyarakat\u00a0 yang semakin tajam\u00a0 dan berpotensi memantik konflik yang berkepanjangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Solusi\u00a0 Literasi Digital\u00a0 <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mencermati perkembangan sosial media dan fenomena post truth yang berkembang akhir-akhir ini, menjadikan media sosial sangat berperan mempercepat mengalirnya informasi, semakin berlimpah ruahnya informasiyang berseliweran di ruang publik, \u00a0\u00a0yang tidak selalu berdasarkan fakta, semakin tipis batas pembenaran dan kebenaran, untuk itu diperlukan kesiapan yang matang dari masyarakat\u00a0 dalam memanfaatkan media sosial, gerakan bijak bermedia sosial di Indonesia perlu terus digelorakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal ini menjadi semakin relavan bila kita cermati perkembangan pemanfaatan media sosial di Indonesia, ditengah fenomena masih rendahnya \u00a0minat baca buku di Indonesia, namun disisi lain, merujuk data wearesocial per Januari 2017, terungkap\u00a0 bahwa \u00a0orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari, aktivitas kicauan dari akun Twitter yang berdomisili di ibu kota Indonesia ini paling padat melebihi Tokyo dan New York<em>(Hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris).<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal ini menjadikan warganet di Indonesia \u00a0seyogyanya memiliki peran yang besar untuk memerangi <em>hoax<\/em>, <em>false news<\/em>maupun <em>fake news<\/em>atau minimal tidak ikut berperan menyebarluaskan hoax, yang intensitasnya semakin meningkat ditengah fenomena <em>post-truth.Langkah-langkah nyata dengan\u00a0 \u0093saring baru sharing\u0094fact checking sebagai intrumen utama melawan post-truth perlu terus ditingkatkan dikalangan warganet, \u00a0Warganet <\/em>\u00a0memiliki peran penting dalam mendukung kesuksesan kerja\u00a0 setiap pemerintahan,\u00a0 siapapun yang mendapat mandat dari rakyat, karena sejatinya, siapapun pemerintahan tujuan mulianya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mari kita ciptakan \u00a0atmosfer positif di dunia digital, kecerdasan digital harus dimiliki setiap orang dengan terus meningkatkan literasi digital, literasi digital menjadi suatu keniscayaan\u00a0 dalam melawan fenomena post\u00a0 truth\u00a0 yang ditandai dengan maraknya <em>hoax<\/em>, <em>false news<\/em>maupun <em>fake news<\/em><em>, melalui literasi digital\u00a0 akan terbangun <\/em>kemampuan untuk mengenali, memahami, menerjemah, mencipta, dan berkomunikasi dengan medium cetak, audio-visual, dengan mengedapankan nilai-nilai integritas, empati dan spirit membangun sinergitas saling menghargai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Literasi digital yang digagas akan sangat berguna dalam memberikan pencerahan terkait dengan hak digital (<em>digital rights<\/em>), kecerdasan emosional digital (<em>digital emotional intelligence)<\/em> dan penggunaan penggunaan digital (<em>digital use<\/em>) yang \u0093sehat\u0094 dan berkontribusi positip dalam menyongsong perubahan positip, dan yang tak kalah pentingnya dengan literasi digital akan mendorong masyarakat untuk berpikir kritis (<em>critical thinking<\/em>), yaitu kemampuan untuk membedakan antara informasi nyata dan bohong, konten baik dan berbahaya, dan kontak online yang dapat dipercaya maupun yang diragukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui literasi digital diharapkan akan terbangun \u00a0budaya bijak bermedsos, meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang dilengkapi karakter yang kuat dengan kemampuan menetapkan skala prioritas, \u00a0dan berpikir jauh kedepan yang akan sangat membantu dalam menghindari terkurasnya energi untuk menanggapi hal hal yang tidak prinsip, \u00a0sekaligus \u00a0merupakan amunisi utama yang dapat digunakan untuk menyikapi fenomena post truth agar tidak kontraproduktif terhadap cita-cita merajut kebinekaan Indonesia\u00a0 dan membangun sinergitas meningkatkan daya saing bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih. Semoga.<strong><br \/>\n<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Eddy Cahyono Sugiarto (A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes truth: Paul Joseph Goebels) Perkembangan era digital dewasa ini ditandai dengan semakin masifnya penetrasi media sosial dalam berbagai aspek kehidupan ekonomi, politik, budaya dan pertahanan keamanan, fenomena\u00a0 ini merupakan\u00a0 konsekuensi \u00a0perubahan pola komunikasi, dari cara-cara dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":33,"featured_media":143876,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[56],"tags":[],"class_list":["post-143874","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v24.1 (Yoast SEO v26.1.1) - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital - Sekretariat Kabinet Republik Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital - Sekretariat Kabinet Republik Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Eddy Cahyono Sugiarto (A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes truth: Paul Joseph Goebels) Perkembangan era digital dewasa ini ditandai dengan semakin masifnya penetrasi media sosial dalam berbagai aspek kehidupan ekonomi, politik, budaya dan pertahanan keamanan, fenomena\u00a0 ini merupakan\u00a0 konsekuensi \u00a0perubahan pola komunikasi, dari cara-cara dan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Sekretariat Kabinet Republik Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/id-id.facebook.com\/Setkabgoid\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-10-19T11:34:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"361\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"357\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@setkabgoid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@setkabgoid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"NewsArticle\",\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/\"},\"author\":{\"name\":\"Humas\",\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/#\/schema\/person\/da311fca3f88df6ee138f0159fcc6c01\"},\"headline\":\"Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital\",\"datePublished\":\"2018-10-19T11:34:56+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/\"},\"wordCount\":1670,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Opini\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/\",\"url\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/\",\"name\":\"Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital - Sekretariat Kabinet Republik Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-1.jpg\",\"datePublished\":\"2018-10-19T11:34:56+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-1.jpg\",\"width\":361,\"height\":357},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/setkab.go.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/setkab.go.id\/\",\"name\":\"Sekretariat Kabinet Republik Indonesia\",\"description\":\"Kabinet Merah Putih\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/#organization\"},\"alternateName\":\"Setkab\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/setkab.go.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/#organization\",\"name\":\"Sekretariat Kabinet\",\"alternateName\":\"Setkab\",\"url\":\"https:\/\/setkab.go.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/garuda.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/garuda.png\",\"width\":720,\"height\":788,\"caption\":\"Sekretariat Kabinet\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/id-id.facebook.com\/Setkabgoid\",\"https:\/\/x.com\/setkabgoid\",\"https:\/\/www.instagram.com\/sekretariat.kabinet\/\",\"https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCey1BgbIUz6eVz2vywc2d7g\",\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sekretariat_Kabinet_Republik_Indonesia\",\"https:\/\/www.tiktok.com\/@setkabgoid\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/#\/schema\/person\/da311fca3f88df6ee138f0159fcc6c01\",\"name\":\"Humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/setkab.go.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/79f392d60e763a917dedac5d6fa75a1b3ac69334b9d6980bb8800f774c4d744c?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/79f392d60e763a917dedac5d6fa75a1b3ac69334b9d6980bb8800f774c4d744c?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Humas\"},\"url\":\"https:\/\/setkab.go.id\/author\/edinur\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital - Sekretariat Kabinet Republik Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital - Sekretariat Kabinet Republik Indonesia","og_description":"Oleh: Eddy Cahyono Sugiarto (A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes truth: Paul Joseph Goebels) Perkembangan era digital dewasa ini ditandai dengan semakin masifnya penetrasi media sosial dalam berbagai aspek kehidupan ekonomi, politik, budaya dan pertahanan keamanan, fenomena\u00a0 ini merupakan\u00a0 konsekuensi \u00a0perubahan pola komunikasi, dari cara-cara dan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/","og_site_name":"Sekretariat Kabinet Republik Indonesia","article_publisher":"https:\/\/id-id.facebook.com\/Setkabgoid","article_published_time":"2018-10-19T11:34:56+00:00","og_image":[{"width":361,"height":357,"url":"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@setkabgoid","twitter_site":"@setkabgoid","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Humas","Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"NewsArticle","@id":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/"},"author":{"name":"Humas","@id":"https:\/\/setkab.go.id\/#\/schema\/person\/da311fca3f88df6ee138f0159fcc6c01"},"headline":"Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital","datePublished":"2018-10-19T11:34:56+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/"},"wordCount":1670,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/setkab.go.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-1.jpg","articleSection":["Opini"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/","url":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/","name":"Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital - Sekretariat Kabinet Republik Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/setkab.go.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-1.jpg","datePublished":"2018-10-19T11:34:56+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#primaryimage","url":"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/10\/eddy-cahyono-1.jpg","width":361,"height":357},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/setkab.go.id\/media-sosial-post-truth-dan-literasi-digital\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/setkab.go.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Media Sosial, Post Truth, dan Literasi Digital"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/setkab.go.id\/#website","url":"https:\/\/setkab.go.id\/","name":"Sekretariat Kabinet Republik Indonesia","description":"Kabinet Merah Putih","publisher":{"@id":"https:\/\/setkab.go.id\/#organization"},"alternateName":"Setkab","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/setkab.go.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/setkab.go.id\/#organization","name":"Sekretariat Kabinet","alternateName":"Setkab","url":"https:\/\/setkab.go.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/setkab.go.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/garuda.png","contentUrl":"https:\/\/setkab.go.id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/garuda.png","width":720,"height":788,"caption":"Sekretariat Kabinet"},"image":{"@id":"https:\/\/setkab.go.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/id-id.facebook.com\/Setkabgoid","https:\/\/x.com\/setkabgoid","https:\/\/www.instagram.com\/sekretariat.kabinet\/","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCey1BgbIUz6eVz2vywc2d7g","https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sekretariat_Kabinet_Republik_Indonesia","https:\/\/www.tiktok.com\/@setkabgoid"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/setkab.go.id\/#\/schema\/person\/da311fca3f88df6ee138f0159fcc6c01","name":"Humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/setkab.go.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/79f392d60e763a917dedac5d6fa75a1b3ac69334b9d6980bb8800f774c4d744c?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/79f392d60e763a917dedac5d6fa75a1b3ac69334b9d6980bb8800f774c4d744c?s=96&d=mm&r=g","caption":"Humas"},"url":"https:\/\/setkab.go.id\/author\/edinur\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/posts\/143874","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/users\/33"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/comments?post=143874"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/posts\/143874\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":143877,"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/posts\/143874\/revisions\/143877"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/media\/143876"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/media?parent=143874"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/categories?post=143874"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/setkab.go.id\/api\/wp\/v2\/tags?post=143874"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}