web analytics

Blog

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2019, 9 Februari 2019, di Exhibition Hall Grand City, Surabaya, Jawa Timur

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 9 Feb 2019 ; 1558 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera buat kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Pimpinan Lembaga Negara,
Yang saya hormati Yang Mulia para Duta Besar negara-negara sahabat,
Yang saya hormati para Menteri, para Gubernur, Bupati, dan Wali Kota yang hadir,
Yang saya hormati Dewan Pengarah dan Pengurus PWI serta para CEO media, para Pimpinan Redaksi,
Dan yang saya hormati seluruh Insan Pers se-Indonesia yang hadir,
Bapak-Ibu tamu undangan yang berbahagia.

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya kita pagi hari ini bisa berkumpul di acara ini, di Peringatan Hari Pers Nasional.

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati,
Sejalan dengan ekspansi jaringan internet, perkembangan media sosial melompat sangat tinggi. Pengguna internet di Indonesia saat ini sudah 143,26 juta jiwa, 54,68 persen dari total populasi. 87,13 persen mengakses layanan media sosial. Dan yang viral di media sosial biasanya menjadi rujukan dan bahkan tidak jarang menjadi rujukan media-media konvensional.

Namun demikian, menurut Edelman Trust Barometer 2018, media konvensional atau media arus utama ternyata tetap lebih dipercaya dibandingkan dengan media sosial. Coba kita lihat angka-angkanya. 2016 tingkat kepercayaan terhadap media konvensional 59 persen dibanding 45 persen untuk media sosial. 2017, 58 persen dibanding 42 persen. 2018, 63 persen dibanding 40 persen. Semakin ke sini semakin tidak percaya kepada media sosial. Dan saya sungguh bergembira dengan situasi ini, sangat bergembira. Dan selamat kepada Saudara-saudara para insan pers, insan media arus utama atas kepercayaan masyarakat terhadap Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian.

Para Insan Pers yang berbahagia,
Era digital yang diikuti oleh perkembangan masif media sosial, masyarakat disajikan berlimpahnya informasi. Setiap orang bisa menjadi wartawan, bisa menjadi pemred. Kadang menciptakan kegaduhan, ada pula yang membangun ketakutan dan pesimisme. Di tengah suasana seperti ini Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara insan media arus utama justru sangat dibutuhkan. Dibutuhkan untuk menjadi rumah penjernih informasi, dibutuhkan untuk menyajikan informasi-informasi yang terverifikasi, dibutuhkan untuk menjalankan peran sebagai communication of hope, dan dibutuhkan untuk bisa memberikan harapan-harapan besar kepada bangsa kita Indonesia.

Peran utama media kini semakin penting, antara lain dalam mengamplifikasi kebenaran dan menyingkap fakta, terutama di tengah keganasan pasca fakta dan pasca kebenaran. Kita wajib mengatasi dampak buruk gejala pasca kebenaran dan pasca fakta ini. Media arus utama diharapkan mampu menjaga dan mempertahankan misinya untuk mencari kebenaran, misinya untuk membangun optimisme.

Dan ketika pemerintah memaparkan tentang capaian pembangunan tujuannya adalah agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas. Ikut  memanfaatkan capaian pembangunan yang ada dan membangun optimisme serta mengajak apa yang harus diperjuangkan bersama.

Kalau pemerintah aktif dalam membangun well-informed society ya jangan lah terburu-buru itu dianggap sebagai sebuah kampanye atau pencitraan. Itu adalah bagian dari upaya untuk membentuk masyarakat yang sadar informasi. Dan saya berharap media menjadi amplifier atas informasi tentang pembangunan, termasuk kekurangan yang harus kita benahi bersama-sama.

Sekali lagi, saya mengajak pers untuk terus meneguhkan jati dirinya sebagai sumber informasi yang akurat bagi masyarakat, meneguhkan jati dirinya mengedukasi masyarakat, meneguhkan jati dirinya untuk tetap melakukan kontrol sosial untuk terus memberikan kritik-kritik yang konstruktif.

Pemerintah menjamin prinsip kemerdekaan pers dan kebebasan berpendapat, kebebasan yang dipandu oleh tanggung jawab moral, kebebasan yang beretika dan bertata krama, dan kebebasan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Pers dan Undang-Undang Penyiaran.

Sebetulnya dalam setiap acara, saya pasti mengundang untuk maju ke depan untuk dapat sepeda. Tapi kalau dengan para jurnalis itu repot, ditanya nama ikan pasti tahu, ditanya nama pulau pasti juga tahu, ditanya mengenai nama suku pasti juga tahu, jadi untuk kali ini saya tidak ingin mengadakan kuis. Saya sebetulnya tadi sudah mikir-mikir, spontan saya mau undang Pak Karni Ilyas untuk maju. Mau saya tanya mengenai sepuluh nama ikan, belum tentu Pak Karni Ilyas bisa.

Baiklah, selamat kepada Saudara-saudara yang meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro. Dan kepada rekan-rekan media yang hadir di sini dan yang sedang bertugas di seluruh pelosok tanah air, di seluruh pelosok negeri, saya sampaikan Selamat Hari Pers Nasional.

Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Artikel lainnya :