web analytics

Blog

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Silaturahmi dengan  Kiai dan Tokoh se-Eks Karesidenan Kedu, Jawa Tengah, 23 Maret 2019, di Gedung Tri Bhakti, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 23 Mar 2019 ; 2846 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu wassalamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati yang mulia para Ulama, utamanya para Kiai-kiai Sepuh yang hadir pada sore hari ini, Ibu Nyai,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, Pak Menteri PU, Pak Sekretaris Kabinet, Pak Menteri Perhubungan,
Yang saya hormati Bapak Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Pak Wali Kota Magelang, Pak Bupati Kabupaten Magelang, Pak Wakil Wali Kota, Pak Wakil Bupati yang hadir, Pak Pangdam, Pak Kapolda,
Yang saya hormati hadir juga Mbak Yenny Wahid,
Yang saya hormati Bapak-Ibu sekalian, hadirin-hadirat para Tokoh Masyarakat se-eks Karesidenan Kedu,

Kenapa saya sering lupa? Karena kemarin, contohnya saja kemarin, saya datang ke lima provinsi. Bangun subuh, saya kan tinggal di Istana Bogor, itu di Provinsi Jawa Barat. Pergi ke Halim, berarti pindah ke Provinsi DKI Jakarta. Dari Provinsi DKI Jakarta naik pesawat ke NTB, Nusa Tenggara Barat, sampai di sana siang. Siang sampai sore di NTB, pindah lagi sorenya ke Provinsi Bali. Sampai tengah malam di Provinsi Bali, berarti sudah keempat. Tengah malam pindah lagi ke Yogyakarta, Provinsi Yogyakarta. Tengah malam, tidur di Jogja. Tapi sehari berarti sudah pindah ke lima provinsi. Benar ndak? Capek mboten? Mboten. Pagi-pagi tadi subuh juga sama, sudah takziah ke relawan kita yang kena serangan jantung. Setelah itu sepedaan sampai di Kridosono. Kemudian sudah diberi tahu, “Pak, ini yang di Magelang sudah menunggu-nunggu.” Iya ngerti, ngerti, ngerti. Memang pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, pengaturannya kan memang tidak gampang.

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan dan mengingatkan kepada kita semuanya bahwa negara kita Indonesia ini adalah negara besar, negara besar. Indonesia ini negara besar. Kita harus sadar itu. Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan sekarang penduduk kita telah mencapai 269 juta. Coba, coba. Ini jumlah yang sangat besar yang tinggal di 17.000 pulau yang kita miliki, 514 kabupaten dan kota yang kita miliki, dan 34 provinsi yang kita miliki. Inilah negara kita Indonesia.

Yang ingin saya ingatkan, negara kita ini dianugerahi oleh Allah SWT berbeda-beda, aneka ragam, bermacam-macam, majemuk. Beda suku, beda agama, beda adat, beda tradisi, beda bahasa daerah. Ini yang harus kita pahami. Kita ini negara yang berbeda-beda betul. Bandingkan saja, suku kita sekarang ini jumlahnya 714, bandingkan dengan Afghanistan tujuh, tujuh.  Afghanistan tujuh, kita 714. Cobi. Banyak sekali perbedaan-perbedaan yang ada di negara ini.

Apa yang ingin saya sampaikan? Marilah kita menjaga persatuan, merawat kerukunan, menjaga dan merawat persaudaraan kita, ukhuwah kita, baik ukhuwah islamiah, maupun ukhuwah wathaniyah kita. Jangan gara-gara perbedaan pilihan politik, baik itu pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden, beda pilihan menjadi kayak tidak saudara lagi. Ini banyak saya lihat, tetapi enggak di Jawa Tengah. Enggak di Jawa Tengah, Pak Gub. Karena pilihan bupati, antarkampung enggak saling omong, karena pilihan gubernur antartetangga enggak saling sapa. Banyak seperti itu. Karena pilihan presiden, di satu majelis taklim enggak saling omong, enggak saling bicara. Lho, lho, lho. Kok seperti ini kita? Di mana ukhuwah kita? Di mana ukhuwah islamiah kita? Di mana ukhuwah wathaniyah kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air?

Ini yang perlu saya ingatkan. Indonesia ini, sekali lagi, berbeda-beda sudah menjadi sunatullah, sudah menjadi hukum Allah bahwa kita memang berbeda-beda. Bahasa daerah saja coba, kalau di sini di Jawa Tengah, ‘sugeng sonten’, ‘kulonuwun’. Nanti pindah ke Jawa Barat, ‘sampurasun’. Kok tahu? Nanti pindah lagi coba, pindah lagi ke Sumatra Utara, ‘horas’. Coba.

Satu provinsi saja, yang namanya Sumatra Utara juga beda-beda semuanya. Saya pernah keliru di Medan, “horas!” Dijawab, “horas.” Benar, benar. Saya pindah ke Pakpak, “horas!” “Pak, di sini bukan horas, di sini juah-juah.” Keliru saya. Saya ulang, “juah-juah!” Dijawab, “juah-juah!” Pindah lagi ke Karo, itu masih di satu provinsi, “horas!” “Pak, bukan horas Pak di Karo, di Karo itu mejuah-juah.” Saya ganti lagi, “mejuah-juah!” “Mejuah-juah!” Pindah lagi ke Nias, masih satu provinsi, Nias masih Sumatra Utara, “horas!” “Keliru Pak, keliru, teng mriki ya’ahowu.” Coba.

Inilah perbedaan-perbedaan yang ada di negara kita yang harus kita sadari, kita pahami bersama. Afghanistan itu tujuh suku, dua suku konflik, satu membawa teman dari luar, yang satu membawa teman dari luar, akhirnya perang empat puluh tahun tidak rampung-rampung. Itu hanya tujuh suku. Indonesia? 714 suku. Hati-hati.

Saya sedih, sering saya ini, saya sudah empat setengah tahun jadi Presiden, empat setengah tahun dihina-hina. Saya diam. Sabar ya Allah. Empat setengah tahun saya dijelek-jelekin saya diam, saya enggak jawab, enggak jawab, diam saya. Empat setengah tahun saya dihujat-hujat saya diam, saya enggak pernah jawab. Sabar ya Allah. Empat setengah tahun dituduh-tuduh, Presiden Jokowi itu PKI. Saya juga diam, saya enggak menjawab. Tapi sekarang, saya mau jawab. Kenapa saya diam dan kenapa sekarang saya jawab? Karena, dari survei yang kita lakukan, sembilan juta orang masyarakat itu percaya terhadap isu itu, terhadap fitnah-fitnah seperti itu.

Presiden Jokowi PKI,  Presiden Jokowi antek asing, Presiden Jokowi antek aseng, Presiden Jokowi antiulama, kriminalisasi ulama. Cobi, saya kan diam saja. Tiap hari saya juga dengan ulama, tiap minggu saya keluar masuk pondok pesantren. Itu sebetulnya ada fenomena apa? Karena kita diam, kita tidak meluruskan.

Saya minta hal-hal seperti ini segera direspons dan diluruskan. Contoh tadi, Presiden Jokowi PKI. Lho, saya itu lahir tahun ’61, PKI dibubarkan tahun ’65, umur saya baru empat tahun. Enggak ada PKI balita.

Tapi bukan hanya diomongan, di gambar, di media sosial itu banyak sekali.  Saya berikan contoh satu, ada gambarnya enggak ini? Oh, ada. Itu yang pidato itu adalah DN Aidit. Tahu ya DN Aidit? Dia adalah Ketua PKI. Dia pidato tahun 1955. Ini pidato DN Aidit tahun ’55 saat pemilu. Lha kok saya ada di dekatnya? Yang heran, kok ini kok ditepuki gitu lho? Kok tepuk tangan malah? Ini kesalahan-kesalahan seperti ini yang harus kita luruskan. Lahir saja belum. Saya diberitahu anak saya. “Pak, ini lho ada gambar seperti ini di medsos.” Ditunjukin di HP. Saya lihat-lihat lha kok ya mirip wajah saya. Ini yang merekayasa seperti ini siapa? Ya Allah, sabar. Empat setengah tahun saya sudah sabar lho.  Saya ini juga enggak marah, saya menjawab kok.

Yang kedua, urusan yang berkaitan dengan antek asing. Saya itu sebelumnya diam. Tahun 2015, yang namanya Blok Mahakam sudah lima puluh tahun dikelola oleh Perancis dan Jepang, yang namanya Total dan Inpex. Lima puluh tahun dikelola, orang diam saja, diam saja. Mungkin banyak yang enggak tahu. Tapi 2015, Blok Mahakam itu sudah kita ambil seratus persen, kita berikan ke Pertamina, ini. Saya juga empat tahun enggak cerita apa-apa mengenai itu, diam. Tapi begitu dituduh-tuduh antek asing saya ngomong, saya ngomong sekarang biar masyarakat tahu, ulama tahu. Sudah ngambil, dipikir ngambilnya itu mudah, dituduh lagi antek asing.

Yang kedua, yang namanya Blok Rokan ini dikelola oleh Chevron. Ini blok minyak dan gas terbesar di Indonesia, dikelola oleh Chevron dari Amerika Serikat sudah sembilan puluh tahun lebih. Diam, enggak ada omongan antek asing, antek asing. 2018 pertengahan, sudah dimenangkan seratus persen oleh Pertamina. Gitu kok dituduh antek asing, antek asing.

Yang ketiga, yang namanya Freeport di Papua. Empat puluh tahun lebih dikelola oleh yang namanya Freeport McMoRan. Ini tambang emas terbesar mungkin di dunia karena yang dikelola itu, di situ ada enam gunung, yang dikelola baru satu gunung. Nah ini masih ada gunung yang lain, masih seratus persen belum diapa-apain. Tapi yang Freeport sendiri juga masih kita hitung kemarin ada kurang lebih masih 2.400 triliun, masih depositnya ada di dalam. Kita ambil, 51,2 persen mayoritas sudah kita ambil dan dikelola oleh BUMN kita. Yang kayak gitu malah dituduh antek asing. Dipikir ngambil seperti ini mudah? Dipikir ngambil seperti ini gampang? Kalau mudah dan gampang sudah diambil sejak dulu. Benar ndak? Kenapa enggak bisa diambil? Ya karena sulit. Sulit, negosiasinya sulit, intrik politiknya berat.

Banyak yang menyampaikan ke saya, “Pak, hati-hati Pak, ini Amerika lho, ini Amerika, ini Amerika.” Ya saya ya biasa saja ya, Amerika ngapain sih? Kita ini juga negara besar. Saya ketemu, saya setelah ngambil ini, ngambil Freeport, saya ketemu Obama saat itu, beliau juga enggak ngomong apa-apa. Saya ketemu Donald Trump, mungkin empat kali – lima kali, enggak nyinggung apa-apa juga. Artinya apa? Kita ini takut, takut, ditakut-takuti, takut karena ditakut-takuti.

Yang kedua, ini berkaitan dengan urusan yang akhir-akhir ini mulai banyak lagi yang namanya isu di bawah. Pertama, nanti, ini enggak baik seperti ini, ini kalau nanti kita menang yang namanya pendidikan agama akan dihapus. Ini isu di bawah seperti itu. Hati-hati, sembilan juta orang lebih percaya. Yang kedua, azan akan dilarang. Yang ketiga, perkawinan sejenis akan dilegalkan. Cobi. Lho, sembilan juta orang lebih percaya kok. Itu hoaks, ngerti fitnah, tapi sembilan juta orang lebih percaya.

Apalagi? Banyak banget tiga minggu ini. Satu, dua, tiga, apalagi? Apa ya? Sudah. Sudah. Apa? Oh iya, Dana Haji untuk infrastruktur. Ini baru, paling baru ini. Ada saja, ini apa ini. Kriminalisasi ulama ada lagi keluar, dulu sudah keluar, ini keluar lagi. Ini apa sebetulnya? Siapa ini yang tidak hanya di medsos, dari pintu ke pintu, dari pintu ke pintu ngomong di mana-mana?

Ini Bapak-Ibu sekalian, Hadirin-Hadirat harus diluruskan. Kita harus berani melawan itu, kita harus berani meluruskan itu. Jangan diam saja, jangan diam, dipikir kita enggak berani melawan, jangan diam. Mayoritas kita itu mengerti itu keliru tapi tidak ada mayoritas kita ini yang bersama-sama meluruskan ini. Rakyat jangan dibuat bingung karena hal-hal seperti ini. Mungkin yang hadiri di sini seratus persen tahu mengenai itu dan tidak percaya tapi yang di luar kita, yang di luar gedung ini, sembilan juta lebih percaya. Inilah titipan yang ingin saya sampaikan kepada para kiai, kepada para tokoh-tokoh yang hadir di sini agar kalau ada itu segera direspons dan diluruskan.

Yang terakhir, tadi juga disampaikan oleh Pak Karding mengenai BLK Komunitas yang akan kita bangun di pondok-pondok pesantren. Tahun lalu sudah kita coba 75, 75 BLK Komunitas sudah dibangun di pesantren. Kita koreksi, kita evaluasi. Tahun ini insyaallah kita akan bangun seribu lagi BLK Komunitas. Tahun depan, saya sudah perintahkan kepada Menteri, tahun depan bukan seribu tapi tiga ribu lagi dibangun di pondok pesantren. Untuk apa? Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, para santri-santri kita yang ada di pondok-pondok.

Dan juga Bank Wakaf Mikro, ini sudah kita bangun di 44 pondok pesantren yang memiliki komunitas bisnis. Untuk apa? Ini untuk ekonomi umat. Kalau ini sudah nanti kita koreksi, kita perbaiki, kita koreksi dan kita perbaiki, kita juga akan besarkan. Semakin sering saya masuk ke pondok pesantren, semakin saya tahu apa yang menjadi masalah, apa yang menjadi problem karena masukan-masukan ke saya ini banyak sekali, dari pondok ini banyak sekali. Sehingga, nantinya payung hukum yang namanya Undang-Undang Pondok Pesantren harus segera selesai ini. Kita sudah dorong terus agar bisa selesai. Gampang sekali mengalokasikan APBN itu ke pondok-pondok pesantren karena payung hukumnya jelas. Ingat, di negara kita ini sekarang sudah memiliki 29.000 pondok pesantren, baik besar, sedang, maupun kecil, 29.000. Banyak sekali, perlu perhatian khusus. Bahkan banyak para kiai yang mengusulkan, “Pak, harusnya ada Menteri Pondok Pesantren”, dari para kiai. “Iya, Pak Kiai.” Saya sampaikan, “iya Pak Kiai, menjadi masukan bagi kita.” Karena 29.000 pesantren juga sebuah jumlah yang sangat besar sekali. Santrinya berapa juta coba?

Inilah pekerjaan-pekerjaan besar kita ke depan dalam rangka pembangunan sumber daya manusia yang harus kita berikan perhatian setelah kita dalam empat setengah tahun ini kita fokus dan konsentrasi di pembangunan infrastruktur. Kita akan bergeser pindah kepada pembangunan sumber daya manusia.

Kalau sekarang ada yang namanya Kartu Indonesia Pintar untuk SD, SMP, SMA, SMK, ke depan Kartu Indonesia Pintar ini akan dilanjutkan lagi dengan yang namanya KIP Kuliah. Agar anak-anak kita ini bisa kuliah baik di akademi, baik di perguruan tinggi, baik di universitas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sebanyak-banyaknya.

Saya memang terbiasa kerja itu satu-satu. Kerja itu yang benar memang satu-satu. Tidak semua dikerjain tapi tidak kelihatan dan tidak menghasilkan. Lebih baik satu besar kerjakan, rampung, ganti lagi satu besar, rampung, ganti lagi satu besar, rampung. Karena apa? Mengontrolnya mudah, mengeceknya gampang. Kalau langsung semuanya diayahi dikerjain semuanya, ini dikerjain, ini dikerjain, dikerjain, dikerjain, dikerjain, baunya saja enggak kelihatan. Setuju mboten?

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan ada, saya ingin satu orang yang bisa maju ke depan. Yang ingin maju tunjuk jari! Wah banyak, banyak sekali. Sebentar, sebentar. Nanti saya tunjuk baru maju. Perlu saya sampaikan, yang saya suruh maju nanti tidak diberi sepeda. Kok banyak sekali, mikirnya mau diberi sepeda ini. Ya, maju yang nomor dua tadi. Saya lihat tadi semangat. Maju. Ibu-ibu, sebentar. Ibu-ibu, sebentar. Sebentar, sebentar. Ya, boleh Bu. Tadi semangat Ibu, ya silakan maju. Ya, mau Ibu. Ibu, iya maju Ibu.

Oke. Coba dikenalkan. Dikenalkan dulu nama.

(Dialog Presiden Republik Indonesia dengan Perwakilan Peserta)

Abdul Munif (Dari Wonosobo)
Nama saya Abdul Munif dari Wonosobo

Presiden Republik Indonesia
Dari pondok?

Abdul Munif (Dari Wonosobo)
Sampun, sampun garwo, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Oh, nggih. Oke, sekarang Mas Munif, pendapat panjenengan nggih mengenai BLK Komunitas apa? Setuju ndak?

Abdul Munif (Dari Wonosobo)
Setuju dan lanjutkan.

Presiden Republik Indonesia

Setuju. Kenapa setuju? Gini lho, BLK nanti, pemerintah itu akan membangunkan gedungnya lima ratus meter persegi, kemudian diisi dengan sarana prasarana sesuai dengan permintaan pondok. Misalnya, pondok pesantren pengin mengembangkan santri-santrinya agar pintar IT, berarti kita kirim, kita siapkan komputer, komputer, komputer. Pondok pesantren pengin santri-santrinya pintar mengenai design, fashion, berarti yang kita kirim jahit, obras, dan yang lain-lain, plus instrukturnya. Ada instrukturnya sehingga skill, ketrampilan itu menjadi kualitas yang meningkat. Setuju mboten?

Abdul Munif (Dari Wonosobo)
Setuju. Amin.

Presiden Republik Indonesia
Jangan setuju, jangan setuju saja. Kenapa setuju gitu?

Abdul Munif (Dari Wonosobo)
Karena membantu, Pak. Membantu dan meningkatkan kebutuhan kreatifitas anak muda dan pesantren.

Presiden Republik Indonesia
Nggih, nggih, nggih, nggih. Ini yang kita harapkan, jadi meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di pondok pesantren sehingga memiliki, dan ini sekali lagi nanti sebagian dari peserta BLK Komunitas juga sebagian nanti akan kita kirim ke luar negeri. Agar peningkatannya, wawasannya juga lebih.

Ibu dari? Silakan perkenalkan.

Turiah (Dari Purworejo)
Saya nama Turiah dari Purworejo, anggota Wanser. Banser Wanita (Wanser).

Presiden Republik Indonesia
Nggih, nggih, nggih. Tugasnya apa sih Bu?

Turiah (Dari Purworejo)
Pengamanan untuk pengajian, terus terjun ke posko banjir, mengawal fatayat muslimat, mengawal kalau ziarah.

Presiden Republik Indonesia
Nggih, nggih. Apa sih, menurut Ibu nggih, fitnah-fitnah yang sekarang ini banyak bertebaran di bawah itu, menurut Ibu seperti apa?

Turiah (Dari Purworejo)
Kita jadi Banser juga hoaksnya terlalu banyak lho, Pak. Berjuang untuk NU berat lho, Pak. Mengawal Pak Kiai berat lho, Pak. Kehujanan, kepanasan. Saya mohon ada motivasi gaji bulanan, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Namanya apa itu? Uang motivasi gitu ya?

Turiah (Dari Purworejo)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Oh, nggih, nggih, nggih. Menarik, ini menarik.

Turiah (Dari Purworejo)
Karena kita pendidikannya kayak militer lho, Pak. Dijungkir balik, jungkir balik. Sama kayak dari militer, Pak. Dari Rindam, dari Magelang juga datang. Dari Pak Kapolres Purworejo, dari polwan. Ya dijemur, Pak. Dijemur di lapangan Pak, malam. Sampai caraka malam kita ke makam, kehujanan.

Presiden Republik Indonesia
Tahan banting berarti.

Nggih, saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya tidak bisa memberikan sepeda Bu, tapi saya beri album foto seperti ini. Ini hati-hati, album ini kalau ditukar sepeda bisa dapat lebih dari dua puluh sepeda. Enggak percaya? Ini lho, album ini ada tulisannya di sebaliknya ini, coba nanti dilihat, ‘Istana Presiden Republik Indonesia’. Yang mahal ini.

Ya, terima kasih Bu. Nggih, monggo. Ini juga sama, gambarnya sudah. Tulisannya juga sama, di sini ada. Ini benar, kalau enggak percaya tukar sama sepeda, dapat lebih dari dua puluh ini. Bukan, di dalamnya ini lho, albumnya ini yang mahal. Oke, sudah. Nggih, matur nuwun, matur nuwun.

Saya rasa itu Bapak-Ibu sekalian. Saya titip yang terakhir, tanggal 17 April sudah tinggal 24 hari, marilah kita mengajak bersama-sama keluarga kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita untuk berbondong-bondong ke TPS menggunakan hak pilihnya. Jangan sampai satu orang pun kita biarkan golput. Jangan sampai. Karena tanggal 17 April itu sangat menentukan arah bangsa ini ke depan, sangat menentukan sekali.

Saya tutup.
Terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Artikel lainnya :