web analytics

Blog

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Silaturahmi dengan Para Petani Karet Se-Provinsi Sumatra Selatan, 9 Maret 2019, di Pusat Penelitian Karet, Balai Pusat Penelitian Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 9 Mar 2019 ; 959 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu wassalamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati Pak Menko, para Menteri Kabinet Kerja, Pak Kepala Staf Khusus, Bapak Gubernur beserta Ibu, Bapak Bupati Banyuasin beserta Ibu,
Serta Bapak-Ibu sekalian seluruh petani karet yang siang hari ini hadir.

Selamat siang!
Selamat siang!

Nah, kalau semangat begitu saya senang. Saya ingin bercerita sedikit mengenai keadaan ekonomi dunia, semua negara merasakan karena ekonomi dunia sekarang ini turun, pada kondisi yang memang turun. Banyak negara-negara yang tidak kuat menanggung dan mereka banyak yang betul-betul pada posisi minus. Di Amerika Latin ada, di Eropa juga ada seperti itu. Kita alhamdulillah, meskipun juga menanggung beban tekanan ekonomi dunia yang tidak gampang, kita masih bisa mempertahankan ekonomi kita di atas lima persen. Ini patut kita syukuri, patut kita syukuri.

Lah kalau ekonomi dunia turun artinya apa? Permintaan itu juga turun. Permintaan itu untuk apa saja? Ya, untuk barang-barang. Misalnya kelapa sawit. Kelapa sawit juga karena permintaan turun harga otomatis juga ikut turun. Batu bara permintaan turun, harga juga ikut turun. Termasuk karet, juga sama. Inilah problem besar kita karena ekonomi dunia belum normal, belum normal.

Tetapi khusus untuk karet, kita sudah berupaya beberapa tahun ini tetapi memang tidak mudah mengendalikan ini karena karet produsen terbesarnya ada di Indonesia, Malaysia, Thailand. Kita sudah berhubungan dengan Malaysia, menteri, berhubungan dengan Thailand, dengan menteri. Untuk apa? Untuk mengendalikan agar suplai ke pasar itu bisa diturunkan. Barangnya kurang, berarti harganya bisa kedongkrak naik.

Tapi yang namanya negosiasi, ngomong dengan negara lain itu juga tidak mudah. Tapi alhamdulillah tiga minggu yang lalu kita berhasil berbicara dan sudah mendekati agak final Malaysia dan Thailand. Sehingga dua minggu ini mulai harga karet terdongkrak naik. Bapak-Ibu merasakan ndak? Merasakan ndak? Ya, kita harus ngomong apa adanya.

Saya tadi bisik-bisik ke Pak Ali di dekat saya, “Pak Ali, gimana harganya sekarang?” “Ya Pak, ini dalam dua minggu ini lumayan Pak.” “Dulunya berapa?” “Dulunya kurang lebih Rp5.000-6.000, Pak.” “Sekarang?” “Sekarang Rp8.300-9.000.” Ya patut kita syukuri karena keadaan ekonomi dunia itu masih pada posisi yang belum baik tetapi akan menuju pada normal kembali. Enggak mungkinlah keadaan normal ini terus-menerus, sudah tujuh tahun kok tidak normal, pasti nanti akan menuju ke posisi yang normal kembali.

Nah, kalau keadaan sudah normal inilah nanti harga akan juga kembali ke posisi yang normal. Tetapi dalam posisi yang belum normal seperti ini, pemerintah betul-betul berupaya agar harga ini terdongkrak. Satu, tadi kita sudah berbicara dengan Malaysia dan Thailand, hasilnya kelihatan. Yang kedua, saya sudah perintahkan kepada Pak Menteri PU, Pak Basuki. Sudah kenal semuanya Pak Basuki? Ini Pak Bas, Pak Menteri PU, sudah, saya sudah perintahkan Pak Menteri PU, “Pak Menteri,” sudah mulai kapan ya, tahun yang lalu ya tapi agak besar-besarkan belinya di tahun ini, “Pak Menteri sekarang ngaspal jalan itu jangan pakai hanya aspal, campur dengan karet. Dicoba dulu.” Sudah dicoba, sudah dicoba di Sumsel, di Riau, dan Jambi. Sudah dicoba, hasilnya bagus. “Tapi Pak, harganya lebih mahal sedikit.” “Enggak apa-apa, beli.” Sudah, saya perintah sudah, beli. Sudah dicoba bagus, harganya agak mahal sedikit. Enggak apa-apa harga jalan jadi mahal sedikit tapi kualitas lebih baik. Oke, enggak apa-apa.

Sekarang jangan hanya di tiga provinsi ini, perintahkan kepada seluruh provinsi, seluruh kabupaten, seluruh kota di seluruh Indonesia kalau ngaspal jalan pakai karet, sudah. Sehingga kita jangan tergantung hanya kepada pasar-pasar luar negeri, pasar-pasar ekspor, Singapura dan Jepang, China, enggak. Boleh kesana kirim tapi jangan terlalu ketergantungan. Kalau kita sangat ketergantungan ya akan seperti ini terus. Kita harus sebagian kita gunakan sendiri sehingga suplainya ke dunia berkurang, harga akan terdongkrak naik. Ini salah satunya, satu, kita akan pakai karet untuk aspal, sudah.

Yang kedua, yang kedua, saya sudah perintahkan juga kepada Menteri Perindustrian, jangan kita terlalu banyak kirim itu barang/bahan mentah ke luar negeri. Kita harus memiliki pabrik di sini, entah untuk ban, untuk barang-barang yang lainnya, sehingga tidak usah jauh-jauh kita ini. Karena kalau pasar dunia itu memang mengatur, senangnya mengatur. Kelihatan stoknya banyak, sudah tahan dulu, harga jatuh baru dia beli. Ini pasar-pasar di dunia mesti seperti itu cara mainnya. Sehingga, ya itu, problem besarnya adalah pasar dunia yang belum normal.

Satu, tadi dipakai untuk aspal, yang kedua memang kita ingin segera memiliki industri-industri yang berkaitan dengan bahan baku karet. Banyak sekali sudah, banyak, entah ban dan lain-lain, banyak sekali. Sarung tangan, banyak sekali. Saya sudah paksa BUMN kita juga, yang ketiga, saya sudah paksa juga BUMN kita, entah itu PTP dan lain-lain, untuk membeli karet-karet yang ada di rakyat. Beli dengan harga yang baik. Simpan dulu enggak apa-apa. BUMN kan punya kekuatan untuk menyimpan bahan, simpan, tapi beli dengan harga yang baik. Suatu saat harga di dunia, karena bahan enggak ada, barang enggak ada, baru dilepas. Sehingga petani mendapatkan keuntungan juga dari pembelian BUMN tadi. BUMM tahu nggih? Tahu? Ya, oke, BUMN kita.

Sudah saya perintahkan tiga ini. Kita lihat nanti, kita berharap karet ini akan naik lagi, akan naik lagi kita harapkan.

Saya itu, saya itu, nggih, saya itu kalau belum mempunyai… Saya sudah dikejar-kejar sama Pak Gubernur, “Pak, ketemu petani karet.” Sebentar, ini jalan keluarnya itu belum nampak, kalau ketemu hanya untuk ketemu untuk apa? Tapi kalau sudah ketemu jalan keluarnya dan kita bisa nanti mengendalikan suplainya sehingga negara lain yang membutuhkan kita, bukan kita membutuhkan mereka, ini akan jadi lain.

Ini bukan gampang. Contoh sawit. Sawit itu produksi kita sekarang ini per tahun CPO kita 46 juta ton. Coba bayangkan, kalau diangkut truk itu truk 10 juta itu yang angkut, banyak sekali. 10 juta truk kalau mengangkut 46 juta ton itu, banyak sekali. Jadi bayangkan produksi kita itu gede sekali, terlalu besar.

Pas ramai, kita ini memang senangnya seperti itu, harga sawit tinggi ramai-ramai bareng-bareng menanam sawit, tanam, tanam, tanam semua menanam sawit. Petani nanam sawit, swasta nanam sawit. Begitu produksinya tinggi harganya jatuh, bareng-bareng sakit semua. Ini memang kita senangnya kayak itu.

Cabai juga sama. Cabai, harga cabai di pasar mahal semua bareng-bareng menanam cabai, begitu panen bareng harganya Rp8.000-6.000, yang dimarahi saya. Ini bagian dimarahi saya enggak apa-apa, enggak apa-apa. Memang Presiden itu kelihatannya bagian dimarah-marahi saja, enggak apa-apa, enggak apa-apa.

Memang mengendalikan itu yang tidak gampang, tidak mudah. Contoh, banyak petani yang menyampaikan ke saya, “Pak, harga beras minta naik, harga beras minta naik.” Ya enggak apa-apa naik tapi kalau kita naikkan nanti yang ngamuk-ngamuk ibu-ibu. Enggak mudah, jangan dipikir mudah. Kalau mau menaikkan bisa saja. Oke, suplainya kita pegang, barang di pasar turun, harga pasti naik. Bisa saja kita karena ini beras masih dalam negeri. Tapi petaninya senang ya kan, saya ketemu ibu ibu dimarahi. Tapi kalau harga turun ibu-ibu senang, “Pak, bagus Pak, bagus Pak, bagus Pak.” Ketemu petani di sawah dimarah-marahi juga. Itulah pemerintah, tugasnya pemerintah menyeimbangkan, itu tidak mudah, tidak gampang.

Saya ingat, awal 2015, tahun 2015 saya ke Dompu, Dompu itu NTB, diajak panen jagung bareng. Wah saya senang saja, wah jagungnya banyak sekali panen, brak, brak, brak. Setelah itu, panen, ketemu seperti ini juga. Ketemu, saya ajak ngomong-ngomong, saya suruh maju, “sini maju, coba.” Saya dimarahi, “Pak gimana ini Pak, jagung harganya hanya Rp1.400 per kilo, Rp1.600 paling tinggi per kilo. Ongkos produksi saya Rp1.700, rugi Pak.” Saya kan baru saja dilantik jadi presiden, sudah dimarah-marahi. Enggak ngerti ini dulu yang nyuruh menanam jagung siapa gitu, saya yang dimarahi, bagian dimarahi. Oke, enggak apa-apa, ongkosnya Rp1.700, biaya-biaya Rp1.700, oke Rp1.700. Setelah itu, tiga bulan setelah itu kita rancang, saya buat peraturan presiden harga jagung minimal HPP Rp2.700, saya buat Rp2.700. Ternyata juga bisa mengerek itu harga karena jagung masih untuk dalam negeri, bisa kita atur, Rp2.700. Justru jagung saat itu bisa sampai Rp3.500-4.000. Tapi begitu harga sampai Rp4.000-5.000 berbondong-bondong semua orang menanam jagung, Gorontalo menanam jagung, Jawa Timur menanam Jagung, NTB jagung, semuanya menanam jagung, akibatnya apa? Harganya sedikit turun lagi. Meskipun, meskipun tidak di bawah Rp3.000 tapi turun lagi. Inilah problem-problem kita, kalau pas harga tinggi semuanya berbondong-bondong menanam begitu pas panen bareng-bareng tanam begitu banyaknya, harga anjlok juga bareng-bareng.

Karet, kita harapkan nantinya ini juga akan kita atur agar jangan juga produksi kita ini terlalu banyak. Mestinya sebagian lahan yang belum ditanami karet kita akan arahkan ke dalam tanaman-tanaman yang memiliki nilai tinggi, pasarnya juga masih memerlukan, dan tidak juga menunggu dalam jangka yang lama. Kita akan melihat cocoknya daerah itu apa, daerah itu apa, dan kita akan nanti berikan bibit.

Saya juga ingin sampaikan yang terakhir, bahwa dalam dua minggu – tiga minggu ke depan nanti Menteri Pertanian akan mengirim pupuk ke sini. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian akan diberi subsidi pupuk ke sini. Moga-moga nanti segera cepat datang barangnya ya.

Masih ada yang ingin menyampaikan sesuatu? Pak itu, tadi semangat kenapa Pak? Sini maju! Ada lagi Ibu-ibu yang mau maju? Ya, Ibu-ibu itu. Bapak satu, Ibu satu lah. Ya, silakan maju.

Dikenalkan dulu nama, Pak.


(Dialog Presiden Republik Indonesia dengan Perwakilan Petani Kareta)

Farid Bani Adam
Nama saya Farid Bani Adam.

Presiden Republik Indonesia
Pak Bani, ada kebun karet?

Farid Bani Adam
Ada.

Presiden Republik Indonesia
Ya, oke. Sudah berapa tahun?

Farid Bani Adam
Sudah hampir dua puluh tahun.

Presiden Republik Indonesia
Dua puluh tahun pegang karet, oke. Sekarang pertanyaan saya, benar ndak sih, saya mau tanya, sebulan yang lalu dan harga sekarang itu berbeda? Benar berbeda?

Farid Bani Adam
Berbeda banget.

Presiden Republik Indonesia
Sebulan yang lalu berapa, sekarang berapa?

Farid Bani Adam
Sebulan kemarin Rp5.000-an Pak. Sekarang alhamdulillah sudah naik Rp9.000-an dan Rp8.000-an, Pak, sudah terus naik.

Presiden Republik Indonesia
Rp8.000-an-9.000an. Benar ya?

Farid Bani Adam
Benar.

Presiden Republik Indonesia
Enggak, jangan sampai enggak benar. Saya itu mendapat informasi saya kroscek, harus saya kroscek, kalau ndak benar nanti bisa keliru lagi nanti kebijakan kita. Oke, dulu Rp5.000 sekarang sudah Rp8.000-9.000, yang dimaui harga berapa sih?

Farid Bani Adam
Ya, kami mau Pak terus terang Pak ya, ini saya mewakili seluruh rakyat petani yang ada di Banyuasin saya ingin naik harganya Rp20.000 per kilo. Setuju?

Presiden Republik Indonesia
Ya pasti setuju. Saya juga setuju, setuju, setuju. Saya setuju.

Farid Bani Adam
Gini Pak, soalnya Pak, adik-adik kami yang kuliah sempat setop kuliahnya karena…

Presiden Republik Indonesia
Ya tahu, tahu. Saya problem itu tahu, saya sudah tahu tapi sekali lagi, persoalan karet ini bukan persoalan dalam negeri, ini persoalan global yang Thailand juga kena, Malaysia juga teriak-teriak juga kena, negara-negara di Amerika Latin yang tanam karet juga kena, kena semuanya. Jadi inilah tadi yang sudah saya sampaikan usaha-usaha pemerintah untuk mendongkrak harga karet itu. Kita harapkan nanti setelah kebijakan-kebijakan yang tadi saya sampaikan harga itu betul-betul bisa naik, merangkak naik sedikit-sedikit. Ya, kita berdoa bersama ya, ya.

Ya, Ibu, silakan. Dikenalkan dulu namanya.

Masriah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ibu Masriah dari UMKM Banyuasin.

Presiden Republik Indonesia
Ya, Bu Marsiah, benar tadi yang disampaikan Pak Bani tadi betul, bahwa harga itu sebelumnya, sebulan – dua bulan yang lalu Rp5.000-6.000 sekarang Rp8.000-9.000-an, betul?

Masriah
Iya, Rp5.000-6.000 sekarang Rp9.000-an. Betul.

Presiden Republik Indonesia
Ya, saya perlu kroscek betul, saya enggak mau keliru apa yang kita sampaikan. Oke, terus apa yang ingin disampaikan?

Masriah
Saya binaan dari Bupati Banyuasin. Di sini kan kita itu untuk produk suvenir. Kepengin saya itu produk dari bahan karet. Jadi suvenir bahan karet. Waktu itu dari Balai Penelitian pernah Pak, minta kerja sama dengan kelompok kita.  Nah dia itu minta dibuatin souvenir untuk buat biji parah itu ya, biji karet itu loh.  Nah, kendala kita untuk percetakannya itu belum ada. Jadi kita buat dari kain flanel. Kendala kita ini, kepenginnya dibina untuk Banyuasin, dari bahan karet.  Ya sudah Pak itu.

Karena kemarin, bulan kemarin dari BUMN Bukit Asam Pak itu ngajakin kerja sama tetapi saya belum laporan ke Bapak Bupati. Nah, untuk yang kedepannya kepengin Pak untuk ibu-ibu di Banyuasin, khususnya UMKM itu ditingkatkan dari produk yang suvenir itu dari bahan karet, jadi kan mendongkrak.

Presiden Republik Indonesia
Ibu ini punya kelompok berapa?

Masriah
Tiga puluh orang.

Presiden Republik Indonesia
Tiga puluh orang, Oke, nanti saya kirimkan tim untuk ke Ibu, ibu siapa tadi?

Masriah
Amin. Ibu Masriah. Masriah Collection, binaan Koperindag Pak, dari Bu Martini.

Presiden Republik Indonesia
Ya, nanti lewat Pak Bupati, saya kirim.

Masriah
Ya, terima kasih. Alhamdulillah.

Presiden Republik Indonesia
Entah nanti untuk modal atau untuk produksinya, iya dikirim.

Masriah
Terima kasih Pak. Alhamdulillah ya Allah. Sudah itu saja Pak ya.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih. Itu saja, sudah. Ada hadiah? Tadi naik tadi semangatnya minta hadiah ini. Sepeda? Sepeda enggak boleh. Sekarang ini saya ngasih sepeda sudah enggak boleh. Sama KPU enggak boleh. Jadi, sebagai gantinya saya beri foto ini.

Foto baru lima menit di panggung kan, sudah jadi. Ini kecepatan bekerja ya seperti ini, ya. Ini kalau ditukar sepeda, Pak Bani, kalau ditukar sepeda ini dapat lebih dari sepuluh sepeda ini. Enggak percaya, coba nanti tukarkan sepuluh sepeda, pasti dapat. Karena ini albumnya di sini ada tulisan ini, ‘Istana Presiden Republik Indonesia’, yang mahal ini.

Oke. Sana coba, alamatnya tadi biar ditulis di mana. Oke.

Baiklah Bapak-Ibu sekalian, saya kira jelas tadi yang saya sampaikan. Saya akan mengikuti proses-proses yang ada di urusan karet ini, baik nanti lewat Pak Gubernur, Pak Bupati, juga di lapangan. Akan saya pantau terus agar harga yang sudah mulai membaik ini jangan sampai kembali turun lagi, harus terus didongkrak agar naik, naik, naik, naik, naik, naik, naik, naik, naik, naik.

Oke, saya rasa itu yang bisa saya sampaikan.
Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Artikel lainnya :