web analytics

Blog

Sambutan Presiden Joko Widodo pada Silaturahmi dengan Peserta Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) X Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Tahun 2019, 31 Maret 2019, di Hotel Sultan Raja, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 31 Mar 2019 ; 1793 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2Selamat malam,
Salam sejahtera buat kita semuanya,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati Sekretaris Kabinet, Gubernur Provinsi Sulawesi Utara beserta Ibu, para Bupati dan Wali Kota yang hadir, Pangdam, Kapolda, beserta seluruh Forkopimda,
Yang saya hormati Ketua Umum PGI, Ibu Pendeta Dr. Henriette Hutabarat Lebang beserta Sekretaris Umum PGI,
Yang saya hormati seluruh Badan Pekerja Majelis Sinode dan Perutusan Pimpinan Gereja-gereja se-Indonesia,
Serta para Pelayan Jemaat yang malam hari ini hadir,
Bapak-Ibu tamu undangan yang berbahagia, seluruh Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama dari Provinsi Sulawesi Utara.

Malam hari ini saya sangat senang, sangat berbahagia sekali, bisa hadir bersilaturahmi dengan para peserta Konferensi Gereja dan Masyarakat Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, di Manado. Saya tadi hadir, sampai di airport itu jam enam kurang seperempat. Katanya sampai di sini, “Pak, paling lima belas menit.” Ternyata sampai di sini satu setengah jam. Apa yang terjadi? Di jalan dicegat.

Saya kira hanya di Indonesia ini ada Presiden lewat dicegat di tengah jalan. Kalau di pinggir jalan enggak apa-apa, “Pak, pak,” enggak apa-apa, di tengah jalan dicegat. Tadi saya hitung lebih dari sembilan kali tadi. Dan meminta saya untuk keluar, kalau enggak keluar, mereka enggak memberi jalan. Coba, coba tunjukkan di negara mana Presiden dicegat seperti itu? Harusnya lima belas menit jadi satu setengah jam. Sudah dicegat, enggak bisa lewat, ya saya keluar kan nyalami. Saya pikir sudah mbuka, “Pak, selfie!” Di tengah jalan masih minta selfie, coba. Inilah kenapa tadi kita terlambat, sebabnya ya itu. Harusnya lima belas menit menjadi satu setengah jam. Ini rakyatnya Pak Gubernur, kelihatannya yang menggerakkan Pak Gubernur.

Tabea!
Tabea!
Malam bae!

Saya sekarang setiap pergi ke provinsi, ke kabupaten dan kota, saya ingin belajar bahasa daerah, bahasa lokal yang kita miliki, dan ternyata sangat sulit. Karena begitu dari sini nanti pindah ke tempat lain masih hafal, begitu pindah ke tempat lain lagi sudah hilang. Karena kita memiliki seribu seratus lebih bahasa daerah, seribu seratus lebih. Kalau di sini tadi, ‘tabea’, nanti kalau di Jawa Barat, ‘sampurasun’. Nanti di Sumut, ‘horas’. Nanti di Jawa Tengah, Jawa Timur, ‘kulonuwun’, beda-beda. Saya kadang-kadang, saya yang hafal yang ini-ini saja, nanti pindah-pindah itu sudah lupa lagi.

Di Sumut misalnya, Sumatra Utara, satu provinsi saja sudah beda-beda semuanya setiap daerah, yang sering saya sampaikan. Di Medan saya langsung, “horas!” Dijawab, “horas!” Tapi begitu pindah ke Pakpak sudah beda lagi. Saya, “horas!” “Pak Presiden, keliru Pak, di sini bukan horas, di sini juah-juah.” Ya saya ganti, “juah-juah!” Dijawab, “juah-juah!” Pindah lagi ke Karo sudah beda lagi, “horas!” “Pak keliru Pak, Pak keliru, di sini mejuah-juah”. Sudahlah, namanya ya tadi, seribu seratus lebih bahasa daerah kita. “Mejuah-juah!” “Mejuah-juah!” Pindah lagi ke Nias, saya saat itu dari Sumut langsung ke Nias, “horas!” “Pak, Nias bukan horas Pak.” Saya tanya langsung ke Pak Bupati dalam sambutan, “apa?” Diajari tiga kali enggak sambung-sambung saya. “Ya’ahowu!” Enggak tahu masih benar enggak bahasa ini.

Inilah negara kita Indonesia, yang perlu terus saya ingatkan, bahwa negara ini adalah negara besar. Penduduk kita sudah 269 juta. Kita dianugerahi oleh Tuhan berbeda-beda, ini yang harus kita sadari, berbeda-beda. Berbeda suku, berbeda agama, berbeda adat, berbeda tradisi, berbeda bahasa daerah, berbeda budaya, beda-beda semuanya. Itu saya tahu karena saya pernah, kalau provinsi semuanya sudah pernah, kabupaten/kota sudah kurang lebih hampir empat ratus, berarti masih kurang seratus lebih sedikit yang saya kunjungi. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, titik-titik itu pernah semuanya saya kunjungi.

Kalau ada yang tanya, “capek Pak, mengunjungi daerah-daerah?” Ya capek, saya kan juga manusia biasa, memiliki rasa capek. Dipikir saya enggak capek, Bapak capek? Enggak. Bapak capek, saya juga capek. Kalau Bapak-Ibu enggak capek, saya juga enggak capek gitu. Capek.

Pernah, lima hari yang lalu saya, ya lima hari yang lalu atau enam hari yang lalu, satu hari saya pindah lima provinsi. Bangun, itu di Istana Bogor, di Provinsi Jawa Barat. Pindah, mau terbang, ke Halim, berarti sudah ganti DKI Jakarta, dua. Dari DKI Jakarta, Halim, terbang ke NTB sampai di sana siang. Siang sampai agak sore masih di NTB, sorenya terbang ke Bali. Sudah empat, empat. Jam sebelas malam, rampung di Bali, sampai tengah malam di Bali, terbang lagi ke Jogja. Berarti sehari lima, sehari lima. Ada yang pernah sehari lima terbang seperti itu? Ada, yang hadir di sini ada yang terbang sehari lima provinsi ada? Kalau ada silakan maju, saya beri sepeda, dengan membawa bukti-bukti.

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati,
Kembali lagi, sekali lagi, bangsa ini adalah bangsa besar, yang sering kita lupa. Bangsa ini bangsa besar, penduduk kita juga besar, ekonomi kita, PDB kita juga besar. GDP kita itu 45 persen dari GDP seluruh sepuluh negara ASEAN, 45 persen ada di Indonesia. Penduduknya juga kurang lebih 45 persen ada di Indonesia. Ini negara besar, jangan kita lupa mengenai ini. Kita harus bangga terhadap negara ini. Jangan sampai ada yang mengecilkan arti negara ini. Apalagi yang pesimis, enggak. Kita harus optimis bahwa negara ini memang memerlukan perjalanan besar, lewat tahapan-tahapan besar, untuk menjadi negara maju. Negara besar pasti tantangannya juga tantangan besar yang dihadapi.

Dan saat ini kita tahu, perubahan global, perubahan dunia sedang terjadi. Hampir semua negara mengalami gagap terhadap perubahan ini, Revolusi Industri 4.0. Kita tahu semuanya, banyak terkaget-kaget. Ada artificial inteliligence, kita belajar belum rampung, ganti lagi advanced robotic. Belum rampung ganti lagi 3D printing. Belum rampung lagi, ganti lagi di bidang keuangan bitcoin, cryptocurrency, internet of thing. Inilah perubahan-perubahan yang menurut McKinsey Global Institute, dibandingkan Revolusi Industri Jilid yang pertama, dampaknya bisa tiga ribu kali lebih cepat. Saya enggak bisa membayangkan tiga ribu kali lebih cepat dari Revolusi Industri Jilid I.

Apa yang ingin saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini? Tadi sudah disinggung oleh Ibu Ketua Umum PGI, kita harus siap, kita harus bisa merespons adanya perubahan-perubahan ini secara cepat. Akan terjadi perubahan lanskap ekonomi global, sudah. Akan terjadi perubahan lanskap politik global, sudah. Akan terjadi perubahan lanskap interaksi sosial antarindividu, antarmasyarakat global. Kemudian akan lari ke perubahan lanskap politik, ekonomi, sosial nasional kita. Setiap negara mengalami semuanya. Hati-hati dengan perubahan-perubahan ini.

Bagaimana cepat menyikapi tanpa kita kehilangan karakter kepribadian dan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Kita enggak bisa lagi mencegah, enggak bisa lagi kita menghambat itu. Semua negara gagap semuanya sekarang ini. Kalau kita hadir di pertemuan-pertemuan internasional selalu ini yang dibicarakan, teknologinya sudah muncul, aturan regulasinya belum ada. Inilah yang sedang kita hadapi, keterbukaan yang amat sangat, yang kontrolnya belum siap.

Kalau dulu, berita itu yang ngontrol jelas redaktur, sekarang setiap individu, individu, individu bisa mengabarkan, menyampaikan opininya, mengabarkan beritanya tanpa ada yang ngontrol, tanpa ada yang mengecek. Bayangkan. Dan ini baru senang-senangnya kan kita, wah pas apa dinaikkan, viral. Itu yang dicari kan sekarang, entah negatif, entah positif, inilah yang kita hadapi.

Oleh sebab itu, para pelayan jemaat juga harus tanggap terhadap perubahan-perubahan ini. Jangan sampai ini nanti dibelokkan untuk kepentingan-kepentingan yang negatif. Contoh, cara-cara berpolitik kita sekarang ini, coba kita lihat.

Saya empat setengah tahun yang namanya dihina-hina, yang namanya dijelek-jelekkan, yang namanya difitnah, yang namanya dicela sudah kayak makanan sehari-hari, di medsos maupun di lapangan. Kok ditepuki? Saya itu kadang tidak ingin menjawab, ingin marah, tetapi selalu saya sampaikan, sabar ya Tuhan, sabar, sabar, sabar.

Coba lihat di medsos, Presiden Jokowi itu PKI, di medsos, dan direspons para politik dengan cara yang berbeda-beda. Kelihatan menuduh, kelihatan mencela, saya diam. Tapi sekarang saya mulai jawab, saya harus jawab. Bukan marah ya, saya jawab. Beda, tolong dibedakan. Saya jawab sekarang. Saya lahir tahun ‘61, PKI dibubarkan tahun ‘65. Iya kan, baru sadar semua kan? Umur saya masih empat tahun, enggak ada yang namanya PKI balita. Masa masih balita sudah jadi aktivis PKI?

Kenapa itu perlu saya ingatkan, sembilan juta orang yang kita survei percaya terhadap itu. Berbahaya sekali kalau ini saya diamkan. Benar ndak? Harus saya jawab. Sembilan juta survei kita mengatakan percaya terhadap berita itu. Karena memang bukan hanya dalam ucapan, di gambar-gambar media sosial coba. Bapak-Ibu bisa lihat, cek di media sosial gambarnya.

Itu yang namanya DN Aidit, Ketua PKI, pidato tahun 1955 saat pemilu, kok saya ada di dekatnya? Tiga setengah tahun yang lalu, saya ditunjukkan sama  anak saya, “Pak, kok ada gambar seperti ini Pak? Ini DN Aidit lho Pak, kok Bapak di dekatnya?” Saya lihat-lihat, kok ya persis wajah saya. Coba betapa kejamnya yang namanya keterbukaan, merekayasa gambar,  merekayasa foto, menempelkan foto dengan sangat sempurna seperti itu. Kalau orang enggak ngerti masalah teknologi, bisa percaya. Sembilan juta percaya.

Menuduh lagi, Presiden Jokowi itu antek asing. Antek asing, antek asing. Saya enggak ngerti ini. Saya mula-mula, “ini yang dimaksud apa sih kok antek asing, antek asing.” Saya masih diam, empat setengah tahun. Tapi saya ngomong sekarang, mulai ngomong.

Perlu Bapak-Ibu ketahui, yang namanya Blok Mahakam, ini blok besar yang kita miliki, dikelola oleh Jepang dan Perancis, Inpex dan Total, sudah lima puluh tahun. 2015 kita ambil, berikan ke Pertamina seratus persen. Sudah 2015. Saya kan enggak pernah cerita apa-apa, saya diam, saya diam. Tapi begitu dituding-tuding antek asing, saya cerita sekarang. Banyak orang yang enggak tahu. Antek asingnya yang mana?

Yang kedua yang namanya Blok Rokan, ini sudah dikelola, ini blok besar minyak dan gas yang kita miliki, dikelola oleh Chevron Amerika sudah sembilan puluh tahun. 2018 pertengahan, sudah dimenangkan seratus persen juga oleh Pertamina.

Yang terakhir, Freeport, yang dikelola oleh Freeport McMoRan, sudah empat puluh tahun kita hanya dapat sembilan persen. Yang dulu-dulu enggak pernah dituding-tuding antek asing. Akhir 2018 kemarin, sudah kita miliki mayoritas 51,2 persen. Gitu yang dituduh antek asing saya. Ini gimana kok dibalik-balik seperti ini?

Tapi sekarang sudah, setelah saya jawab gitu ya diam itu. Diam, diam. Sudah enggak ada yang ngomong. “Ayo antek asingnya yang mana?,” saya gitukan. Sudah diam, enggak ada yang bunyi lagi sekarang antek asing-antek asing.

Ganti lagi urusan tenaga kerja asing (TKA). Presiden Jokowi itu antek aseng. Ganti yang sebelumnya asing, sekarang ganti aseng. Ini gonta-ganti saja. Untung saya sabar. Enggak ngerti kalau saya orang yang enggak sabaran atau temperamental itu. Mau saya apakan enggak ngerti saya. Coba, tenaga kerja asing yang ada di Indonesia itu hanya 0,03 persen dari jumlah penduduk kita. Satu persen saja enggak ada, enggak ada. Coba bandingkan misalnya dengan Malaysia, 5,4 persen, dan yang paling banyak dari Indonesia. Singapura 24 persen tenaga kerja asing yang ada di Singapura, enggak ramai, enggak ribut. Lebih banyak lagi di Uni Emirat Arab, 80 persen tenaga kerja asingnya. Juga enggak ada ramai-ramai, enggak ada. Lha kita ini kok semua dijadikan isu politik.

Inilah cara-cara berpolitik yang tidak beretika, yang tidak bertata krama, yang harus kita mulai benahi, kita perbaiki. Sedih kita kalau melihat cara-cara berpolitik seperti ini. Itu bukan budaya kita, bukan tata krama kita, bukan sopan santun berpolitik kita, bukan etika kita. Tugas kita bersama untuk mengingatkan mana yang benar, mana yang enggak benar, mana yang salah, mana yang betul.

Terakhir Bapak-Ibu sekalian,
Nanti tujuh belas hari lagi, tanggal 17, hari Rabu, April 2019, marilah kita datang berbondong-bondong ke TPS, mengajak teman, mengajak saudara, mengajak kawan, mengajak handai tolan, kampung untuk berbondong-bondong ke TPS. Gunakan hak pilih kita. Biaya pileg dan pilpres ini triliunan, triliunan, dan hak pilih Bapak-Ibu sekalian menentukan arah negara ini ke depan seperti apa. Jangan sampai hari Rabu itu libur, ya kan, ini saya mengimbau, mengajak, hari Rabu-nya libur, hari Kamis-nya masuk, tapi hari Jumat-nya, Jumat Agung, libur. Iya kan? Jumat Agung libur, Sabtu libur, Minggu, nah hati-hati. Tolong diingatkan kepada jemaat-jemaat kita agar tidak berlibur di hari Rabu-nya. Rabu boleh berlibur tetapi nyoblos dulu. Jam delapan datang ke TPS nyoblos dulu, jam sembilan datang ke TPS nyoblos dulu, jam sepuluh mau liburan terserah. Hati-hati. Mohon diingatkan mengenai ini. Satu suara sangat penting bagi arah ke depan negara yang kita cintai ini.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Terima kasih.
Selamat malam.
Shalom.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Artikel lainnya :