Arahan Presiden RI Joko Widodo Pada Penerimaan Peserta Program Pendidikan Reguler LEMHANAS, di Istana Negara, Jakarta, 18 November 2014

By Humas
Date 18 November 2014
Category: Speech Transcript
Read: 3.644 Views

Assalamualaikum Wr. Wb,

Selamat pagi. Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri, Pak Gubernur Lemhanas, Panglima TNI, Pak Kapolri, KSAL, KSAU, Pak Ketua Kadin, serta Ibu/Bapak sekalian seluruh  peserta PPRA angkatan LI dan LII.

Pertama-tama saya ingin menyampaikan selamat kepada Bapak/Ibu dan Saudara-saudara yang mulai bulan Februari yang lalu, telah menempuh program PPRA LI dan LII di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Republik Indonesia. Berarti berapa bulan ya? 7,5 bulan. Dan saya tadi sudah mendengar apa yang disampaikan oleh angkatan LI maupun LII.

Ada mungkin beberapa hal yang ingin saya sampaikan, yang berkaitan tadi yang disampaikan dari angkatan LI dan LII, baik yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam, dan juga yang berkaitan dengan masalah transformasi di bidang demokrasi ekonomi kita.

Negara kita ini sumber daya alamnya sangat besar sekali. Tetapi kalau boleh kita sampaikan, cara-cara pengelolaannya dikelola tidak dengan sebuah kalkulasi dan hitung-hitungan. Sehingga apa yang terjadi? Dulu tahun 75-80-85, kita sebetulnya saat itu menikmati booming minyak sangat besar sekali. Harusnya itu bisa menjadi sebuah pengungkit, membangun sebuah pondasi, dan mengokohkan ekonomi kita. Tetapi tidak kejadian.

Diulang lagi kita mempunyai hutan yang juga dieksploitasi besar-besaran. Dan itu juga sebenarnya kesempatan emas kita untuk meletakkan pondasi ekonomi kita bagi seluruh rakyat Indonesia. Besar sekali sebetulnya kalau dinilai dengan hitung-hitungan angka rupiah. Tetapi juga tidak kejadian itu menjadi pondasi besar kita. Justru negara-negara yang sebetulnya secara sumber daya alam tidak punya, sudah melewati kita.

Kita berikan contoh sekarang, seperti Singapura, sudah terlalu jauh melewati kita. Apa yang dia punya? Menurut saya kuncinya Singapura itu di sumber daya manusianya. Mereka betul-betul memperhatikan itu.

Sekarang meloncat lagi yang sangat tinggi loncatannya. Quantum leap yang kalau hitung-hitungan dari luar sangat, betul-betul sangat menakjubkan, Tiongkok. Cina. Luar biasa. Dari sebuah negara komunis yang tertutup, yang tidak berhubungan dengan negara yang lain, tahu-tahu buka langsung. Kemudian dia meloncat dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Bisa 11 persen, bisa 12 persen. Dan pembangunan di seluruh kotanya juga luar biasa. Kita setahun tidak ke sana, ke sana sudah berubah. Setahun lagi berubah lagi.

Saya bertanya saat ketemu Wakil PKC. Wakil Partai Komunis di Cina pada saat mereka membuka negaranya besar-besar untuk investasi asing. Saya tanya, “Apakah tidak takut penguasaan ekonomi, penguasaan investasi semuanya diberikan kepada asing pada saat itu?” Ini masalah ideologi lho. Dia Komunis, yang akan masuk adalah kapitalis. Apa jawabannya saat itu? “Tidak. Tidak pernah sama sekali terbersit di otak kami bahwa investasi itu akan menguasai.” Karena apa? Karena barangnya ada di negara mereka. Dan barang itu ngga mungkin, misalnya investasi asing membangun pelabuhan, tidak mungkin pelabuhan itu dibawa lagi lari ke negara investor itu. Tidak mungkin. Membangun jalan tol. Tidak mungkin dia akan membawa lagi lari.

Artinya, yang namanya Foreign direct investment apapun itu, positif untuk sebuah negara. Mindset seperti itu, pola pikir seperti itu yang saya harus memberikan, acungkan luar biasa. Ini ideologi lho. Ini masalah ideologi, kok bisa membalik seperti itu dan investasi masuk semua ke sana. Akhirnya dalam waktu yang sangat singkat semuanya bisa dikerjasamakan. Investasi dengan BUMN, yang banyak memang mereka mengandalkan BUMN. Gabungkan dengan BUMN.

Ya, akhirnya yang kita lihat seperti sekarang ini. Dengan devisa mereka sudah tidak bisa kita bayangkan. Semua uang yang beredar sekarang di dunia, dia yang menguasai. Semuanya. Prestasi hampir di semua negara, dia yang menguasai. Ini hanya karena cara berpikir, mindset, dan ideologi negara itu ditarik dalam posisi yang benar.

Malamnya, waktu saya -saya kan masih ragu lagi ini kok cara berpikirnya, padahal ini Wakil Ketua- saya ketemu presidennya malam. Ya siangnya ketemu luntang luntung tidak bisa ngomong banyak. Ketemu presidennya malam, makan malam saya jejer. Saya ingin ulang lagi pertanyaan Presiden Xi. Presiden Xi Jin Ping, panggilnya Presiden Xi. Saya tanya, “beri tiga kunci sukses negaramu meloncat seperti ini. Apa?” Tapi jangan ditambah, tiga saja. Kalau kebanyakan nanti kita pusing. Saya minta tiga saja. Apa? Hampir mirip-mirip tadi yang disampaikan Wakil PKC tadi.

Yang pertama, beliau menyampaikan, partai yang harus bersatu. Di mereka bisa, tapi di kita? Itu yang sulit. Saya pikir, wah yang pertama ini yang sulit. Di dia bisa, di mereka bisa, tetapi di kita? Partai yang harus bersatu, karena ini akan menguatkan negara.

Yang kedua, punya gagasan besar, punya visi besar, punya mimpi besar. Artinya harus punya rencana jangka panjang. Lima puluh tahun yang akan datang. seratus tahun yang akan datang. Jangan berpikir lima tahun atau sepuluh tahun. Saya lihat betul, saya lihat pelabuhan di Tianjin. Mereka memang berpikirnya tidak sehari dua hari, setahun dua tahun, sepuluh tahun dua puluh tahun. Mereka sudah merancang sampai seratus tahun. Rencananya ada, maketnya ada. Di sini nanti akan dibangun apa tahun 2050, tahun 2100 sudah ada semuanya. Siapapun presidennya ini terus berjalan.

Mungkin lagunya berbeda-beda setiap presiden tidak apa-apa. Ada yang gayanya gaya rock tidak apa-apa, gaya keronconcong tidak apa-apa, gaya pop tidak apa-apa. Tapi berjalannya plek! plek! plek! Sama semuanya. Yang diarah itu gagasan besarnya, rencana besarnya. Rampung, rampung, rampung, rampung. Tidak ganti presiden ganti acara. Itu yang kedua. Ada gagasan besarnya, ada visi besarnya, ada rencana besarnya.

“Terus yang ketiga, Presiden Xi, apa?” Satu tadi, dua sudah, tiga apa? Kejar infrastrukturnya. Connectivity antar kota, connectivity­ kalau kita antar pulau, itu harus. Jangan ditunda-tunda. Terus duitnya dari mana dulu awal-awal saya tanyakan? Duitnya kamu cari terserah kamu, investasi dari mana terserah, duit dari mana terserah, tapi jadikan yang namanya infrastruktur agar terjadi connectivity antar kota dengan kota, propinsi dengan propinsi, pulau dengan pulau. Karena itu nanti yang menggerakan ekonomi rakyat. Ekonomi rakyatmu. Percuma kamu perintah-perintah untuk menanam komoditas, tetapi membawa ke kotanya sulit. Harga jadi mahal sehingga tidak kompetitif tidak ada artinya. Dan ini benar memang. Connectivity itu betul. Kalau kita connectivity antar kota, antar pulau. Yang sering saya berikan contoh, semen di Jawa Rp 60 ribu, di Papua Rp 2,5 juta. Bagaimana yang di sana mau bangun.

Itu yang luar biasa, cara pemikiran-pemikiran besar seperti itu. Yang kalau bisa kita adopsi, ambil, infrastruktur dia pada awalnya tidak punya uang. Tapi membuka investasi untuk masuk, silahkan. Sekarang begitu dia punya uang semuanya dia bayarin sendiri, ngapain pakai orang lain. Duitnya sudah terkumpul banyak. Dengan devisa mereka tidak tahu berapa puluh ribu triliun. Semua mereka danai sekarang. Membuka Asean Infrastructure Investment Bank, dia danai lima puluh persen. Lima puluh persen saya, yang lain sudahlah. Bagi, bagi, bagi, seribu triliun taruh. Duit kayak tidak ada angkanya begitu. Nanti negara-negara yang lain tidak apa lima persen. Kita lihat kadang-kadang juga, aduh, negara yang lain dijatahnya lima persen, tapi kalau dijatah banyak juga tidak bisa bayar. Itu, karena mereka sudah punya kekuatan. Pola-pola revolusi mindset seperti itulah yang sebetulnya kita perlukan. Revolusi pola pikir yang kita perlukan. Dalam perubahan global yang sangat cepat seperti ini tidak mungkin berpikir monoton, berpikirnya biasa-biasa saja. Tidak mungkin, kita kedahuluan oleh negara yang lain.

Pertumbuhan ekonomi kita kalah dengan Vietnam, Myanmar saya kaget juga. Karena mereka mulai merombak sistem, mulai merombak kantor-kantor presiden, mulai merombak regulasi-regulasi sehingga cepat dan sederhana. Punya pertumbuhan tujuh persen, delapan persen, kaget juga kita.

Kamboja yang tidak pernah kita anu, saya tanya. “Presiden Hun Sen, berapa pertumbuhan di negaramu?” Delapan persen, tapi ini agak turun sedikit jadi tujuh. Waduh!

Ini yang harus kita kerjakan. Jangan kita berkutat di urusan politik terus. Habis energi kita di situ. Ada rakyat kita yang membutuhkan di desa-desa masih banyak sekali. Ini energi kita habis di situ. Sehingga visi besar, gagasan besar, itu tidak cepat kita jalankan karena hal-hal seperti itu.

Saling mengejek,  kita ini sekarang. Saling menghujat, saling menjelekkan. Saling, saling, saling, saling yang lain-lain. Ini menghabiskan energi. Tidak bisa fokus mengarahkan negara ini mau ke mana. Kalau waktu saya sampaikan kepada kepala-kepala negara yang lain, mereka sebetulnya sangat kaget dengan posisi kita. 17 ribu pulau, saya sampaikan, kemudian bentang antar barat dan timur seperti London sampai Istanbul, dua pertiga wilayah kita laut. Ini kekuatan yang besar sekali. Tetapi connectivity antar pulau itu yang harus disambungkan.

Kemudian kekayaan laut kita, tadi sudah disampaikan juga. Ikan itu luar biasa banyaknya. Ada kapal sekarang ini. Kemarin sudah dihitung oleh Bu Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan kita. Tiap hari di laut terus tidak pernah pulang. Karena lapor ke saya, “Pak, kemarin kita ngejar, Pak, yang ilegal fishing di sebelah utara Kalimantan. Ketangkep.”

“Ketangkep berapa?

Nangkep empat, Pak. Tetapi harusnya bisa puluhan.”

“Kenapa tidak bisa ketangkep banyak?”

“Bensinnya habis, Pak.”

Ini nanti yang akan saya bicarakan dengan Pak KSAL, dengan Panglima. Saya sudah sampaikan, kalau ada ilegal fishing seperti itu, sudahlah. Kalau kita nangkepin kapal yang beredar ada 5.400 kapal. Yang sedang maupun yang besar. 5.400, Bapak/Ibu bisa bayangin. Kapal, saya tidak tahu hitung-hitungannya dari mana, saya diberikan angka. Setahun, katanya, saya masih belum yakin, kita kehilangan Rp 300 triliun dari situ. Income yang masuk ke negara, data yang saya terima Rp 300 milyar setahun. Hilang sudah berapa tahun?

Ini kita ulang-ulang. Dari minyak, dari hutan, dari ikan, ini yang harus dibenahi. Konstitusi kita mengatakan sumber daya alam kita harus dipakai untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Bayangkan 5.400 kapal. Saya sampaikan kemarin, sudahlah tidak usah tangkap-tangkap, langsung tenggelamkan. Yak, betul, saya sampaikan. Tenggelamkan sepuluh atau dua puluh atau berapa, baru nanti mikir. Tapi orangnya diselamatkan dulu, nanti jadi ramai dengan negara lain kita. Ya kalau tidak ditegasin seperti itu, tongkap tangkep tongkap tangkep tidak akan rampung.

Saya baca negara-negara yang lain bagaimana sih kok pada takut. Tenggelamkan betul, udah. Tenggelamkan seratus, yang lain kan mikir. Jangan tenggelamkan hanya satu-dua. Kalau tidak ditegasin ya sumber daya alam laut kita habis, hilang. Saya waktu ke Sulawesi Tenggara, ada beberapa cool storage yang berhenti, tidak jalan. Karena apa? Ikannya tidak ada yang masuk. Ke mana ikan ini? Ya karena diambil negara lain. Sampai seperti itu efeknya, kalau Bapak/Ibu mau tahu. Di lapangan kita lihat ya seperti itu. Cool storagenya beberapa berhenti karena tidak ada pasokan ikan, kan lucu banget.

Sama seperti kita sekarang. Negara agraris tapi semuanya impor, mulai dari beras, jagung, kedelai, gula, gandum, garam, daging, sayur, buah, apalagi yang kita tidak impor? Saya mau tanya komoditas pertanian kita apa yang tidak impor? Sangat sedih. Saya ketemu presiden Vietnam, tanyanya apa coba? “Stok beras saya masih banyak, kapan dibeli?” Ini saya juga, ya nawarin gitu lho. Kita ini negara pertanian, negara agraris, inilah yang harus dirombak, dirubah.

Oleh sebab itu saya berikan target pada Menteri Pertanian, saya tidak mau tahu, hitung-hitung seperti apa, tiga-empat tahun ini harus swasembada. Harus. Ya jadi menteri tidak diberi target kok enak. Beras, tiga tahun. Jagung, tiga tahun. Gula, mungkin agak mundur tidak apa-apa, empat tahun lima tahun, semuanya sudah target-target itu sudah ada semuanya. Dan saya yakin insyaallah bisa.

Saya kemarin waktu ke..ada datang ke saya, irigasi rusak kita 52 persen. Saya cek ke bawah, betul. Memang betul data itu dengan lapangannya benar. Konsentrasi kita, uang kita, saat ini untuk waduk, untuk irigasi. Lima belas tahun kita tidak pernah bangun waduk satupun. bagaimana kita mau swasembada pangan. Airnya dari mana irigasi itu? Dari waduk.

Target kita lima tahun, 30 waduk harus terbangun, ke depan mulai Januari ada  sebelas waduk. Tahun depan ada sebelas waduk dibangun. Tidak ada jalan lain selain itu. Jangan bicara pertanian kalau airnya dari mana. Buat waduk kalau kita mau produksi kita meningkat. Selain masalah pupuk, selain masalah teknologi benih diperbaiki. Karena kita lupakan. Karena keenakan kita beli impor. Memang lebih murah. Tetapi banyak yang mengambil rantai ekonomi dari situ. Kenapa kita tidak senang memperbaiki produksi. Ya karena ada yang mau impor itu. Ada yang punya mau. Jadi males nanti kalau kita impor, impor, impor. Produksi dilupakan. Suatu saat kita mau impor, negara yang mau dibeli tidak punya stok, makan apa kita? Berpikirnya tidak sampai sejauh itu.

Saya sudah sampaikan kepada Bulog. Hati-hati tiga tahun lagi, Bulog harus siap gudang yang sangat banyak, karena produksi kita melimpah. Saya punya keyakinan itu. Dan saya sudah perintah siap-siap dari sekarang. Harus siap-siap dari sekarang. Dan menyiapkan tidak hanya gudang, tetapi juga hilirisasinya. Hilirisasi kalau kebanyakan beras mosok mau distok terus. Ya tidak tahu mau dibuat tepung, mau dibuat apa. Pasti harus ada produk yang selanjutnya harus dibuat.

Buah juga sama. Saya melihat, petani-petani kita sebenarnya menanam jagoan semuanya. Tapi setelah menanam siapa yang beli, pakai apa? Saya pernah lihat di Boyolali, tahun berapa sudah lama. Disuruh menanam pepaya. Menanam semuanya, dan produknya banyak sekali. Tidak ada yang beli. Tidak diserap pasar. Tidak ada industri, jus yang disiapkan. Akhirnya ya sudah. Langsung tutup, tidak ada yang mau produksi lagi. Disuruh sudah tidak ada yang mau produksi lagi. Disuruh sudah, “tidak mau pak, tidak ada yang beli.” Ada mestinya yang namanya industri ekstrak jus, pasar buah untuk..ya itu tugas pemerintah. Merintisnya mesti pemerintah. Itu yang tidak pernah disiapkan. Petani kita itu untuk berproduksi seperti itu siap, kalau disiapkan. Itulah problem-problem negara kita.

Juga masalah energi. Energi kita, kita berpikir hanya batubara, tidak, banyak sekali masih. Geothermal, bukan hanya minyak saja. Bisa minyak, bisa batubara, bisa geothermal yang lebih murah. Ada yang terbarukan, hidro, angin belum kita gunakan. Banyak sekali. Belum yang dari biofuel yang bisa dari sorghum, banyak sekali, belum dikerjakan secara baik. Padahal yang namanya sorghum itu sebetulnya daerah-daerah yang marginal yang tidak bisa ditanami padi, tidak bisa ditanami jagung, itu ditanam dia tumbuh. Tapi sekali lagi manajemen tidak masuk ke sana, sehingga ya tidak terkerjakan sama sekali.  Tapi ini akan kita mulai. Terus ini sumber tambang kita, coba kita lihat Korea yang tidak punya sumber daya alam dengan kita yang punya, Gross Domestic Productnya jauh. Harusnya terbalik. Dengan kekayaan itu mestinya Gross Domestic Product kita maupun GNP kita lebih baik dari mereka. Sekali lagi ini masalah cara berpikir, pola berpikir, yang memang semuanya harus kita ubah.

Kemudian karena tadi malam BBM naik, saya mau cerita. APBN kita 2015 ada Rp2.039 triliun, di dalam APBN itu saya lihat subsidi Rp433 triliun. Subsidi BBMnya kira-kira Rp300 triliun. Bapak/Ibu bisa bayangkan, saya ingin memberikan bayangan. Dalam lima tahun untuk subsidi BBM kemarin Rp714 triliun, untuk subsidi BBM. Untuk bangun infrastruktur hanya Rp570 triliun. Untuk kesehatan hanya Rp220 triliun. Benar tidak? Setiap hari kita bakar Rp714 triliun. Kalau untuk dibuat waduk, saya hitung-hitung kemarin, waduk itu harganya Rp300-400 milyar, bisa jadi berapa waduk? 1.400 waduk. Bayangkan kalau dibuat waduk. Kalau dibuat jalan, kalau dibuat kereta api, misalanya di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua itu habisnya kira-kira Rp360 triliun. Jadi. Kenapa tidak jadi? Kita bakar setiap hari.

Sekarang setiap hari kita bakar Rp1 triliun subsidi BBM. Saya melihat postur seperti itu, ini harus kita rubah. Dari yang boros, harus masuk ke hal-hal yang produktif. Dari yang konsumtif menjadi hal yang produktif. Tidak ada cara yang lain. Tidak mungkin kita terus-terusan. Rp714 triliun dalam lima tahun. Ini besar lagi tahun depan kalau tidak kita hentikan. Dan ini tidak kita sadari, karena tidak dibuka dan tidak pernah dicerita-ceritakan. Besar sekali. Rp714 triliun itu kalau dibuat waduk, sekali lagi, 1.500 waduk. Kalau mau dipakai untuk membuat rel kereta api Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, separuhnya saja jadi. Karena 1 km kereta api itu butuh Rp 15 milyar. Hapal saya sekarang begitu itu.

Bayangkan betapa kita ini sudah keliru mendesain anggaran kita, ini politik anggaran. Mestinya angka-angka seperti itu bisa untuk membangun rumah sakit, membangun puskesmas, membangun sekolah, biar SDM kita menjadi baik, kemudian ketiganya untuk membangun infrastruktur itu baru. Karena kita tidak sadar bensin yang kita beli ada APBN yang masuk ke situ dan besar sekali.

Jadi subdisi nanti akan kita alihkan dari yang konsumtif ke produktif. Ini pengalihan ke benih untuk petani, pupuk untuk petani, irigasi, irigasi yang benar ya seperti ini. Tetapi yang ada di lapangan tidak ada yang seperti ini, sulit cari yang seperti ini. Waduk? Tidak pernah kita bangun. Karena memang mahal waduk itu Rp400-500 milyar per waduk. Tetapi ini produktif, akan menghasilkan produksi bagi negara. Nelayan, subsidi daripada dibakar setiap hari, belikan saja mesin untuk nelayan atau pendingin untuk nelayan. Mereka butuh pendingin-pendingin kecil, waktu berangkat ke laut ikannya bisa masuk. Hal-hal kecil-kecil yang perlu disentuh sehingga produksi nanti akan meningkat. Usaha mikro di desa-desa perlu modal kerja.

APBN kita perlu mengarah ke sana, supaya tadi disampaikan, di sini rasio kita ini sudah merah. Gap  antara yang kaya dan yang miskin sudah merah. 0.413. itu 2013. Merah itu bahaya. Ini yang menjadi tugas kita. Sehingga kenapa subdisi itu kita alihkan ke sini. Supaya mempersempit rasio. Untuk kesehatan, pendidikan, tetapi itu sistemnya juga harus dibangun. Memberikan subsidi ke kesehatan ke pendidikan dengan apa?

Sistemnya sekarang banking system yang kita pakai. Karena yang paling akuntabel itu ya bank, tidak ada yang lain. Dulu kan, yang dulu-dulu subsidi seperti itu kan lewat propinsi, lewat kabupaten, lewat camat, lewat lurah, RT/RW, sudah kelamaan. Bank sajalah, bank itu punya sistem, transfer pasti utuh. Management controlnya mudah, management checkingnya mudah,. Sistemnya itulah yang ingin kita bangun.

Pelabuhan-pelabuhan seperti ini yang kita perlukan, saya juga targetkan 24 pelabuhan harus ada yang baru, ada yang diperluas.  Kalau APBN kita nanti punya ruan,g ya bangun sendiri, kalau tidak ya investasi. Alternatifnya hanya itu. Kalau ini bisa cepat, produksi akan masuk semuanya ke kita.

Dan kapal-kapal kita, kalau nanti pelabuhannya pelabuhan dalam semuanya, bukan hanya yang vessel, tapi yang matrix vesselnya juga masuk ke pelabuhan kita. Tidak usah kita harus lewat negara lain, langsung saja ke tujuan. Jaringan kereta api kita belum semuanya, duit itu nantinya bisa mengarah kesana. Transportasi massal kita yang terlambat. Terlambat kita bangun transportasi massal, sehingga orang-orang kita senang beli mobil, senang beli sepeda motor, karena fasilitas ini tidak disiapkan oleh pemerintah. Oleh sebab ini harus dikejar. Target kita ini paling tidak di enam kota harus, transportasi massal harus kita sediakan. Jakarta sendiri sudah terlambat 26 tahun, karena rencananya sebenarnya 26 tahun yang lalu sudah ada, rencana subway, MRT sudah 26 tahun yang lalu, tetapi ragu-ragu tidak diputuskan.

Padahal yang namanya infrastruktur itu semakin kita putuskan terlambat, semakin akan mahal sekali. Karena pembebasan tanah pasti akan berlipat-lipat, biaya non teknis untuk menggusur akan berllipat-lipat, Harga barangnya juga sudah akan berlipat-lipat saya mikir, sehingga kalau infrastruktur tidak usah mikir, putuskan-berangkat, putuskan-berangkat, putuskan-berangkat, sudah begitu. Akan semakin mahal kalau tidak kita putuskan. Sehingga kemarin waktu MRT itu juga sama, empat bulan saya jadi gubernur putuskan. Kalau sudah mulai kan tidak mungkin mundur. Beri target rampung empat tahun, sudah. Tidak akan mundur kalau seperti itu. Tetapi kalau kelamaan  ragu-ragu ya tidak mulai-mulai. Memang prosedurnya ruwetnya setengah mati. Saya mengurus MRT ini, saya urus sendiri. Karena saya yakin kalau tidak saya urus sendiri prosedurnya ijin-ijinnya banyak sekali yang harus kita dapatkan dari kementerian. Seperti inilah yang harus kita, regulasi seperti inilah yang harus disederhanakan. Jangan ruwet-ruwet. Saya mengurus sendiri saja lama sekali sebagai gubernur, apalagi swasta. Bayangkan.

Indonesia sekarang ini mengurus pembangkit tenaga listrik power plan, swasta ada yang komplain ke saya. “Dua tahun, Pak, belum selesai.” Saya ke Kalimantan, “empat tahun, Pak, ijin saya belum selesai.” Saya sudah geleng-geleng. Ke Sumsel ada lagi, “punya saya enam tahun, Pak, belum selesai.”

Ijin. Belum bangun lho ini. Kalau saya punya duit, ngapain saya bangun listrik, pakai yang lain. Kalau semua orang berpikir seperti itu, tidak ada yang mau bangun pembangkit listrik. Hasilnya ya seperti yang kita lihat. Kalimantan byar-pet, Sumut, Sumsel byarpet. Hanya masalah satu: ijin. Tetapi ada yang lucu, yang di Sumsel, begitu kita telpon tidak ada seminggu jadi. Tapi apa presiden telpan telpon begitu. Masa seperti itu. Siapa yang ijinnya lama saya telponkan, seminggu kalau yang telpon presiden seminggu jadi. Masa seperti itu. Sehingga presiden ini yang harus kita kerjakan. Tetapi kalau ijin diberi target itu ya rampung.

Kemarin ijin relokasi yang di Sinabung bertahun-tahun tidak rampung rampung, saya tanya ke Bupati, Gubernur. “Pak, ijinnya ini di kementerian belum.”

“Kementerian mana?”

Saya telpon ke menteri, “Buk, saya minta ijin besok siang jadi.”

Malamnya sudah diantar ke saya. Ijin itu sebenarnya apa? Ada tulisan ditandatangani. Kan hanya itu kan? Marilah kita berpikir simpel. Ijin itu apa? Kan sudah di cek oleh bupati, sudah gubernur, artinya kan sudah betul. Di sini bisa langsung teken sajalah, kok lama sekali, bertahun-tahun. Begitu ditelpon ya jadi, nyatanya.

Maritim kita, sering saya sampaikan tol laut ini. Tol laut itu sebetulnya apa sih? Sebetulnya sistem transportasi yang ada di laut yang nanti akan menyebabkan distribusi logistik, manajemen distribusi logistik itu lebih mudah, lebih murah. Karena angkutan yang paling murah itu ya laut, tidak ada yang lain. Apalagi kita Indonesia itu adalah air, dan itu tidak kita manfaatkan, sehingga nanti pembangunan deep sea portnya di titik-titik ini. Kalau itu jadi, ya nanti harga semen di manapun, di seluruh tanah air akan sama. Jangan ada yang berpikiran tol laut itu, jalan tol yang berada di atas laut. Saya di kampung ada yang bertanya seperti itu.

Nah ini yang sering saya sampaikan harga, power plan listrik. Masalah ini, banyak yang ingin bangun tetapi masalah ijin menjadi problem. Tapi ini sebentar lagi juga rampunglah, hanya masalah regulasi yang harus disederhanakan. Sehingga kepastian itu jelas, kapan selesai, berapa harus bayar.

Kemudian yang problem juga di lapangan yang kita lihat di negara kita ini adalah pembebasan lahan. Ini problem. Pemerintah saja kesulitan, apalagi BUMN, apalagi swasta. Sehingga mereka banyak yang menghindar hal-hal yang berkaitan dengan ini. Ini juga harus kita sederhanakan. Saya cerita ini, di Jakarta Outer Ring Road, itu 15 tahun yang lalu dibangun, tujuh tahun yang lalu berhenti gara-gara 1,5 km. 143 KK tidak mau dibebaskan, berapa triliun yang sudah diinvestasikan, berhenti gara-gara 143 KK. Kalau saya tidak bisa, tidak ada toleransi untuk itu. Ini untuk kepentingan jutaan orang, kita tergantung pada 143 KK. Sebetulnya mau langsung saya gusur begitu saja, tetapi ya sudahlah saya turun ke bawah dulu, saya ajak empat kali makan rampung ya sudah, tidak jadi digusur langsung,.

Memang pemerintah kalau tidak tegas seperti begitu kapan jadinya infrastruktur kita? Tetapi sebetulnya diajak bicara baik-baik itu rakyat sebetulnya gampang. Hanya kita pendekatan seperti itu tidak kita lakukan. Ini dulu kan berhenti di sini, sekarang sudah rampung semuanya. Yang tadi mana tadi gambar ketemu tadi? Ini hanya butuh pertemuan seperti ini empat kali, undang makan, undang makan, undang makan, terakhir bagaimana, setuju tidak? “Ya, Pak. Setuju, Pak.” Yang penting setuju, ya sudah cepat, bayar, rampung. Ini saya, tidak kelihatan sih. Yah hanya pendekatan seperti itu. Ini ribuan banyak sekali problemdi itu. Di Jawa Tengah ada, Kalimantan Timur ada, problema seperti itu.

Nah ini yang penting, ini sudah saya perintahkan pada gubernur, bupati, walikota, setiap kabupaten, kota, propinsi harus punya one stop service. Di nasional juga sama, punya national one stop service. Ijin itu hanya satu pintu, sekali masuk semua perijinan terlayani, tidak ada yang lain. Kalau ini kita lakukan, insyallah, pembebasan lahan bisa rampung, ijin-ijin bisa cepat. Saya punya keyakinan, insyaallah ekonomi kita akan sangat baik, siapa yang menikmati? Rakyat. Harus punya keyakinan itu kalau yang tadi, tadi, tadi itu kita lakukan, siapa yang menikmati? Rakyat. Tidak ada yang lain.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

Terima kasih,

Wassalamu’alaikum. wr wb

 

 

Latest Speech Transcript