Rehab 378 Ruang Kelas Untuk Tingkatkan Kenyamanan Belajar Siswa

By Alfurkon Setiawan
Date 19 November 2013
Category: Pro People

kelas_3Ruang kelas yang nyaman merupakan salah satu aspek yang dapat mendukung terciptanya suasana belajar mengajar yang kondusif. Hal ini demikian, karena siswa akan lebih fokus dan berkonsentrasi pada proses belajar mengajar saja tanpa memikirkan hal-hal lain yang berkaitan dengan kondisi ruang kelas. Dengan ruang kelas yang baik dan layak, siswa menjadi lebih efektif dalam proses belajar mengajar, yang pada akhirnya bisa memacu siswa untuk berprestasi lebih maksimal. Sebaliknya bila ruang kelas yang buruk seperti atap bocor jika hujan, kayunya banyak yang  lapuk dan mudah runtuh, tembok warna kusam dan kotor, tentu  akan menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa was-was terus menerus bagi siswa, sehingga berpengaruh negatif terhadap proses belajar mengajar siswa.

Berkaitan hal tersebut, pemda memberi perhatian yang cukup tinggi terhadap upaya perbaikan ruang kelas agar layak guna dan nyaman. Pada tahun 2012 dari seluruh jumlah sekolah di Kabupaten Tangerang sebanyak 1.472 unit terdiri dari SD (916), SMP (299), SMA (130), SMK (127) terdapat 1.582 ruang kelas rusak ringan dan 395 ruang kelas rusak berat. Ruang kelas yang rusak ringan diatasi secara bertahap oleh Pemkab dan pihak sekolah itu sendiri, sedangkan ruang kelas yang rusak berat diadakan perbaikan/rehab dan penambahan ruang kelas baru dengan total 378 ruang kelas atau 95,69%. Dengan demikian ruang kelas dengan kondisi rusak berat yang belum diperbaiki/rehab sebanyak 17 unit atau sebesar 4,31% lagi, yang direncanakan tuntas pada akhir tahun 2013 ini. Adapun anggaran yang dikeluarkan dalam rangka mendukung pembangunan ruang kelas baru, perbaikan/rehab ruang kelas dan perbaikan fasilitas sekolah lainnya, dengan total anggaran sebesar Rp 68,36 miliar yang terdiri dari APBD Kabupaten Tangerang sebesar Rp 29,88 miliar, APBD-Perubahan Kabupaten Tangerang sebesar Rp 3,79 miliar, DAK sebesar Rp 31,10 miliar dan DAK-PD sebesar  Rp 3,57 miliar.

Pemkab Tangerang juga merealisasikan alokasi anggaran pendidikan pada tahun 2012 sebesar Rp 785, 61 miliar atau 26,86% dari APBD-P  Kabupaten Tangerang tahun 2012  sebesar Rp 2,92 triliun, sedangkan  pada tahun 2013 naik menjadi Rp 844,80 miliar atau 24,21% dari APBD-P Kabupaten Tangerang tahun 2013 sebesar Rp 3,48 triliun. Dana pendidikan tersebut antara lain untuk peningkatan wajib belajar 9 tahun, peningkatan sarana dan prasarana serta mutu pendidikan.

 Dalam rangka membantu kelancaran pendidikan tahun 2012, dilakukan pelaksanaan program BOS dengan total anggaran sebesar Rp 251,54 miliar dengan rincian sebesar Rp 178,19 miliar untuk 304.696 siswa SD dan sebesar Rp 73,34 miliar untuk 105.288 siswa SMP. Sedangkan total anggaran BOS pada tahun 2013  sebesar Rp 188,65 miliar  untuk 409.098 siswa.  Selain adanya BOS, Pemkab Tangerang juga mengalokasikan anggaran BOSDA tahun 2012 sebesar Rp 70 miliar, dan untuk tahun 2013 sebesar Rp 69,02 miliar.

Upaya Pemkab Tangerang memperhatikan pendidikan membuahkan hasil yang cukup menggembirakan, di mana prosentase kelulusan pada tahun 2012/2013 rata-rata mencapai 100%. Perinciannya, untuk tingkat SD/MI sebesar 100%, untuk tingkat SMP/MTs mencapai 100%, untuk tingkat SMA/MA sebesar 99,40%, dan SMK sebesar 100%.

Selain itu diketahui pula, bahwa angka putus sekolah di Kabupaten Tangerang  secara umum mengalami penurunan yang cukup tajam dan sangat kecil yaitu berada di bawah satu persen, di mana pada tahun 2011 untuk tingkat SD sedarajat sebesar 0,10%, untuk SMP sebesar 0,26% dan untuk SMA sebesar 0,44%, sedangkan  pada tahun 2012 untuk SD sebesar 0,10%, untuk SMP sebesar 0,22%  dan untuk SMA sebesar 0,43%.

Untuk mengetahui secara langsung pelaksanaan pendidikan gratis di Kab. Tangerang, Tim Bertindak Untuk Rakyat melakukan peninjauan ke salah satu SD di dekat perkampungan nelayan, yaitu SDN Bojongrenged V, Kecamatan Teluk Naga. SD ini memiliki 365 siswa yang mayoritas anak-anak nelayan dan buruh serta sudah beberapa tahun terakhir ini tingkat kelulusannya mencapai 100%. Selanjutnya tim mengecek tentang penyaluran dana BOS TW I tahun 2013 sebesar Rp 52.925.000, diketahui telah cair pada tanggal 22 Januari 2013,  sedangkan BOS TW II tahun 2013 dengan jumlah yang sama telah cair juga pada tanggal 17 April 2013. Adapun penggunaan dana BOS tersebut antara lain untuk pembelian buku, alat peraga pendidikan, OHP, ATK dan beberapa buku paket pelajaran.

Manfaat program BOS, salah satunya dirasakan Aldi Irawan, siswa kelas VI SD. Anak pedagang kue yang mendapat Bantuan SIswa Miskin sebesar Rp 360.000/tahun. Menurutnya, ia amat senang dengan adanya dana BOS, karena keperluan pendidikan menjadi gratis, sehingga sangat membantu beban biaya orang tua. Sementara itu, orang tua Aldi Irawan yakni Sakim, yang sedang berjualan makanan kecil (telor-teloran) di depan sekolah, menyatakan kegembiraannya anaknya bisa sekolah gratis. “Mudah-mudahan anak saya bisa sekolah lebih tinggi dan cita-citanya yang ingin jadi dokter bisa tercapai,” ucapnya sambil ketawa kecil.

 Hal senada dikemukakan Najwa (8 tahun), siswi kelas II SDN Bojong Renged-5 yang bercita-cita menjadi guru. Ia juga merupakan salah satu penerima Bantuan Siswa Miskin sebesar Rp 360.000/tahun. Menurut siswi ini, bahwa uang BSM yang diterimanya ia belikan buku, sepatu, tas dan baju seragam sekolah. “Saya senang dapat BSM, bisa beli tas dan alat-alat sekolah. “ tuturnya.

Peninjauan selanjutnya adalah  ke SMAN-5 Kabupaten Tangerang. Sekolah yang terletak di Jalan Raya Salembaran No. 29 Kosambi, Kabupaten Tangerang, memiliki 25 ruang kelas dan 3 ruang laboratorium. Untuk membuat nyaman proses belajar mengajar, sesuai prioritas kebutuhan, pada tahun 2012 telah diadakan pembangunan 3 ruang kelas baru dan satu rehab ruang kelas dengan sumber dana dari APBD. Selanjutnya pada tahun itu juga merehab 4 ruang kelas dengan sumber dana dari Anggaran Belanja Tambahan (ABT) serta pembangunan 3 ruang kelas baru, laboratorium fisika bantuan alat IPA dengan sumber dana dari APBN-P.  Sebelumnya di SMAN-5 ini telah dibangun pula beberapa fasilitas pendukung sekolah antara lain ruang OSIS dan ruang Kopsis.

 Prestasi yang cukup membanggakan adalah SMAN-5 Kabupaten Tangerang telah 3 tahun berturut-turut yaitu 2009/2010, 2010/2011 dan 2011/2012 mencapai tingkat kelulusan mendekati 100%.

Dalam rangka mengetahui realisasi bantuan kepada murid miskin, tim melakukan peninjauan dan menemui Erlina Yulianingsih, siswi kelas-12- IPA-2 SMAN-5 yang menerima BKM (Bantuan Khusus Murid). Menurutnya, dana yang diterima dari BKM sangat membantunya dalam mendukung pendidikan. Karena orang tuanya bekerja sebagai buruh di Pluit, Jakarta yang berpenghasilan pas-pasan, maka dengan adanya BKM ini sangat membantu beban orang tuanya. Dana yang diterima sebesar Rp700 ribu/tahun ia belikan perlengkapan sekolah serta Dana Sumbangan Pendidikan.” Saya berharap BKM untuk siswa kurang mampu diteruskan dan diperbanyak yang menerimanya,” pintanya penuh harap.

Selain itu tim juga bertemu dengan penerima BKM lainnya yaitu Ahmad Faisal dan Ahmad Abuya, siswa kelas-12-IPA-1) SMAN-5. Menurut mereka BKM yang diterimanya langsung digunakan untuk membayar iuran sekolah sebesar Rp 135 ribu dan tabungan sebesar Rp 15 ribu, sedangkan sisanya digunakan untuk membeli peralatan sekolah dan buku-buku serta sepatu. “Saya bersyukur dapat BKM sebesar Rp 700 ribu/tahun, mudah-mudahan tahun depan dapat lagi. Orang tua saya sangat senang, karena bisa bantu ongkos transport ke sekolah saya,” tutur Faisal.

(S. K.  &  Titi Isdarti)

Latest Pro People