Sambutan Presiden RI pada Pembukaan Munas KAGAMA ke-12, di Clarion Hotel, Kendari, Sulawesi Tenggara, 6 November 2014

By Humas
Date 7 November 2014
Category: Speech Transcript
Read: 3.808 Views

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Yang saya hormati Bapak Gubernur Sulawesi Tenggara beserta seluruh jajarannya,
Yang saya hormati Bapak Ketua KAGAMA Bapak Sri Sultan Hamengku Buwono ke X beserta seluruh pengurus Kagama seluruh Indonesia,
Yang saya hormati Bapak Rektor dan seluruh peserta Munas,

Beberapa kali KAGAMA mengundang saya kalau enggak keliru 4 kali dan saya enggak pernah hadir terus. Saya memang ingin menunggu puncak acara KAGAMA yaitu Munas.
Kedua, saya juga ingin menunggu keluarga besar KAGAMA ada yang menjadi Presiden. Ya sabar sedikit kan enggak apa-apa. Dan yang ditunggu ya kebetulan pas jadi dan alhamdulillah saya adalah Presiden pertama dari Gadjah Mada. Presiden ke-7 dan Presiden pertama dari Gadjah Mada.

Kemarin waktu memilih untuk Kabinet Kerja berapa persennya, mungkin lebih dari 50%, itu yang muncul di meja saya dari keluarga besar KAGAMA. Tapi apa iya, masak separuh dari kabinet dari KAGAMA semuanya? Kan mestinya tidak seperti itu. Jadi mohon maaf, ada yang ada dipikiran saya harusnya masuk tetapi tidak bisa dimasukkan. Karena apapun, kita tidak boleh aji mumpung. Mentang-mentang, mentang-mentang Presidennya dari Gadjah Mada menterinya semuanya dari Gadjah Mada, kan enggak benar.

Oleh sebab itu saya hanya memilih empat menteri dan satu wakil menteri dari Gadjah Mada.
Yang pertama, Menteri Sekretaris Negara Pak Rektor UGM, Pak Pratikno, berdiri Pak. Yang kedua, Bapak Menteri PU, Pak Basuki ini juga dari KAGAMA. Yang ketiga, Ibu Menteri Luar Negeri tapi enggak ikut, itu juga dari Gadjah Mada. Yang keempat, Bapak Anis Baswedan itu kan juga dari Gadjah Mada dari Fakultas Ekonomi. Tapi saya tidak memilih yang berasal dari Fakultas Kehutanan. Ini mohon maaf karena Presidennya sudah dari Kehutanan itu, dari UGM.

Ya mestinya kita harus berbesar hati jangan sampai semuanya diisi dari Alumni Gadjah Mada. Dan ada satu lagi Wakil Menteri Keuangan Bapak Profesor Mardiasmo, juga dari Gadjah Mada.

Malam hari ini saya juga, ikut dengan saya Pak Menteri Pertanian, beliau dari Unhas- Hasanudin, Bapak Amran Sulaiman. Beliau saya beri tugas dan tidak hanya tugas tetapi target, dalam 3 tahun harus bisa swasembada pangan. Kalau kerja dengan saya mesti ada targetnya, biar kerja siang malam pagi, pagi. Terutama 3 tahun itu adalah beras, yang kedua kedelai, yang ketiga jagung. Nanti berikutnya tahun berikutnya gula, daging. Ya kerja emang harus ada targetnya kalau enggak ada masak menjadi menteri 5 tahun targetnya enggak ada, enak banget jadi menteri, diberi target.

Dan juga sama  Menteri PU ada targetnya semuanya. Setiap tahun membuat lima sampai tujuh bendungan. Karena kita juga lupa enggak tahu sudah berapa tahun tidak pernah bangun bendungan. Target kita dalam 5 tahun paling tidak tiga puluhan bendungan harus terbangun di seluruh tanah air. Dengan itu nanti produksi kita akan meloncat. Tidak hanya bendungannya saja tapi juga saluran irigasinya, irigasi tersiernya semuanya harus terbangun.

Kemarin kita sudah memulai di Sulawesi Selatan, di Kabupaten Sindrap, di Pinrang, semuanya. Urusan yang kecil-kecil masalah irigasi ke sawah saya cek prosesnya, saya kontrol, pasti saya datangi lagi apa betul sudah selesai atau tidak. Saya biasa bekerja seperti itu. Waduknya sudah dimulai tapi kapan jadinya, pertengahan atau waktu seperempat pasti akan saya datangi lagi. Jadi kalau toh Sulawesi Tenggara ini Pak Gub, jangan berpikir hanya sekali, bisa sepuluh kali nantinya saya kesini, insya Allah.

Saya senang punya Gubernur kayak Pak Nur Alam ini, ya belum diminta sudah paparan. Iya, senang. Senangnya apa? Punya mimpi besar.  Iya, memang harus punya mimpi besar. Bangsa ini adalah bangsa besar dan kita dihormati oleh negara yang lain, punya martabat, kalau kita punya mimpi besar.

Gambar-gambar tadi adalah mimpi Sulawesi Tenggara. Kalau negara lain bermimpi, mengapa kita juga tidak boleh bermimpi? Kita mempunyai kekayaan, potensi, kekuatan, sumber daya alam, sumber daya manusia yang menurut saya luar biasa besar. Semakin saya datang ke sebuah daerah, semakin saya hadir di sebuah provinsi, keliatan sekali kekuatan kita. Oleh sebab itu, waktu kita menyampaikan tol laut, waktu kita menyampaikan poros maritim dunia semua mendengarkan.

Negara-negara yang lain yang berkepentingan semuanya mendengarkan, mendengar. Dari Jepang kirim Menteri Luar Negeri bertanya, “tol laut itu apa? Poros maritim dunia itu apa?” Amerika kirim, juga Kerry kesini, “Apa?” Bertanya, “poros maritim itu apa? Tol laut itu apa?” Bertanya semuanya. Utusan Khusus dari Rusia, Menlu dari Tiongkok datang bertanya. Feeling saya mengatakan mereka sudah grogi duluan. Karena kita harus sadar, 2/3 wilayah Indonesia adalah laut, adalah air, dan kita sudah lama tidak memperhatikan itu.

Waktu kita ke, akan ke APEC nanti, besok kita ke APEC besok malam, saya ini kan pemain baru di APEC. Di APEC kan pemain baru, coba, yang namanya Presiden Putin ingin ketemu sama yang namanya Presiden Jokowi. Dia yang ingin bertemu, bukan saya yang ingin bertemu dia. Presiden Xi Jinping juga sama, ingin bertemu dengan Presiden Jokowi. Presiden Obama juga sama, Perdana Menteri Abe juga sama ingin bertemu. Saya hanya berpikiran di sini, ini pasti urusan poros maritim sama tol laut. Iya, wong kalau Menlunya, mengirim Menlunya kesini tanyanya itu saja kok, tidak ada yang lain, tidak ada yang lain. Apa ngomong kesana-kesini, kesana-kesini, akhirnya itu. Ngomong kesana-kesini, kesana kesini akhirnya itu lagi.

Karena kita sebetulnya punya tiga arteri poros maritim yang ini akan diperlukan oleh semua negara. Yang sudah lama tidak kita pikirkan hal seperti itu. Oleh sebab itu, konsentrasi kita memang mau kesana. Dan sudah banyak yang ingin mengajak kerja sama dengan kita. Kayak Tiongkok, sudah dua kali menyampaikan, mereka punya yang namanya jalur Sutera Laut Abad 21, kita punya poros maritim dunia dan tol laut. Mereka menyampaikan, “bagaimana kalau dikerjasamakan?” Saya sampaikan kepada Menlu Tiongkok, “Ya kalau kerja sama tidak apa-apa, asal kita untung dan kamu untung. Jangan kamu untung kita tidak untung.” Saya ngomong blak-blakan saja dengan mereka, “untung mu berapa, untung kita berapa?” Untung negara Tiongkok berapa, untung Indonesia berapa? Harus hitung-hitungan seperti itu dan saya langsung to the point, saya tidak basa basi kemana-mana. Iya dong, biar jelas. Kalau basa basi nanti tidak jelas.

Kemudian yang kedua, masalah subsidi BBM, subsidi BBM. Kok senyap? Kalau berbicara subsidi BBM kok senyap? Ini perlu kami sampaikan, coba kita pikir bersama, dalam lima tahun ini, lima tahun kesana, subsidi BBM kita itu Rp 714 triliun, tiap hari kita bakar, tiap hari kita bakar. Hilang, bakar, hilang, bakar, hilang 714 triliun. Yang dipakai untuk infrastruktur lima tahun ke belakang juga Rp 577 triliun infrastruktur. Yang dipakai untuk kesehatan lima tahun kemarin 202 triliun. Bapak/Ibu bisa bayangkan, subsidi BBM Rp 714 triliun, kesehatan hanya Rp 202 triliun, infrastruktur Rp 577 triliun.

Apa yang ada di bayangan Bapak/Ibu semuanya? Kita ini orang boros, iya orang boros, kita itu orang konsumtif, konsumtif jelas. Yang justru kita bakar tiap hari selama lima tahun Rp 714 triliun, bagaimana kita tidak boros? Coba kalau ini dibuat bendungan irigasi jadi berapa? Bendungan satu berapa Pak Menteri? Habis berapa itu kira-kira? Rp 400 miliar. Jadi berapa bendungan ini coba? Jadi 1.400 bendungan atau waduk. Bayangkan di dalam hitung-hitungan kita, kehilangan kira-kira 1.400 waduk/bendungan gara-gara kita bakar setiap hari.

Ini saya hanya memberikan kesadaran kepada kita semuanya. Ada yang tidak betul dan harus dibenarkan. Coba kalau ini dipakai untuk urusan kesehatan masyarakat, rampung semuanya. Oleh sebab itu, subsidi BBM itu akan kita alihkan dari konsumtif ke tempat yang produktif, dari yang boros ke tempat yang produktif. Apa? Ya tadi, ke irigasi, ke bendungan, subsidi pupuk untuk petani, subsidi benih untuk petani, mesin kapal untuk nelayan, alat pendingin refrigerator untuk nelayan, tambahan modal untuk usaha-usaha mikro, usaha kecil yang ada di desa. Ini uang yang sangat besar sekali.

Kita harus berani menghentikan itu, meskipun saya tahu yang namanya pengalihan subsidi nanti menjadikan saya pasti didemo. Belum dinaikkan saja kemarin sudah didemo di Makassar. Tidak apa-apa. Saya kira memang keputusan itu sebuah keputusan, keputusan politik seperti ini pasti ada resiko-resiko yang harus saya tanggung. Ada yang menyampaikan ke saya, Pak nanti jadi tidak populer lho? Lho, apa saya jadi pemimpin ingin populer? Tidak, tidak. Kalau ini tidak berani kita putuskan tidak akan rampung-rampung kita. Kita akan benar-benar ruwet.

Kemudian juga APBN kita ini ruang fiskalnya tidak ada, kecil banget, untuk membangun sangat kecil. Habis untuk bayar utang, bunga pokok dari utang, untuk subsidi BBM. Totalnya sudah, tahun depan itu total dua itu saja sudah hampir Rp 900 triliun. Padahal APBN kita tahun depan hanya Rp 2.019 triliun- separuh sudah dipakai untuk bayar pokok dari bunga pinjaman plus untuk subsidi BBM. Inilah sesuatu yang memang harus saya sampaikan apa adanya, berat. Karena DSR kita (Debt Service Ratio) kita sudah di atas 50, kalau saya boleh menyampaikan sudah merah. Neraca perdagangan kita defisit, neraca transaksi berjalan defisit. Ya, harus berani mengambil sebuah resiko untuk mengalihkan subsidi BBM itu.

Terakhir, saya ingin mengucapkan selamat bermunas, bermusyawarah. Dan yang kedua, saya mohon dukungan kepada seluruh keluarga besar KAGAMA dalam menjalankan tugas sebagai Presiden, sebagai pemimpin negara di negara yang kita cintai ini. Dan kalau kita lihat, memang dukungan politik yang ada di Dewan masih kecil, masih 38 persen, tetapi sekali lagi Bapak/Ibu yang saya hormati, seluruh keluarga besar KAGAMA yang saya hormati, bahwa politik itu tidak selalu tetap tetapi setiap detik bisa berubah, setiap jam bisa berubah, setiap hari bisa berubah, setiap bulan bisa berubah.

Artinya apa? Memang banyak kekhawatiran dengan dukungan politik yang hanya 38 persen itu akan menjadikan nantinya program-program itu akan terkendala, tetapi menurut saya dari pengalaman saya kok tidak ada masalah, asal program yang kita buat itu adalah benar-benar untuk masyarakat. Di Solo saat itu kita didukung 38 persen, juga tidak ada masalah, dua periode. Di Jakarta hanya 11 persen, juga tidak ada masalah, dua tahun.

Tapi kok banyak yang bertanya ke saya, khawatir begitu. Kalau saya sendiri ya biasa-biasa saja, khawatir juga tidak senang juga tidak, jalani saja apa adanya. Dan saya mengharapkan dari keluarga besar KAGAMA bersama keluarga Alumni Perguruan Tinggi yang lainnya untuk bersama-sama kita menjaga kesatuan kita dalam bekerja membangun bangsa dan negara yang kita cintai.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Munas KAGAMA ke-12 di Kendari, 6 November 2014, malam hari ini saya nyatakan dibuka.

Terima kasih,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Humas Setkab)

Latest Speech Transcript