web analytics

Blog

Sambutan Presiden Jokowi pada Seminar Internasional Ikatan Notaris Indonesia, di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Jumat, 8 September 2017

Oleh: Humas ; Diposkan pada: 9 Sep 2017 ; 2428 Views Kategori: Transkrip Pidato

Logo-Pidato2-10Bismillahirrahmanirrahim, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat sore, salam sejahtera bagi kita semuanya, om swastiastu, namo budaya, salam kebajikan.
Yang saya hormati, para menteri kabinet kerja, wakil gubernur beserta ibu
Yang saya hormati, Ketua Ikatan Notaris Indonesia, Ibu Yuanita (cek) beserta seluruh jajaran pengurus ikatan notaris indonesia.
Yang saya hormati para peserta rapat komisi asia dan peserta seminar dari delegasi negara-negara sahabat. Bapak/Ibu tamu undangan yang berbahagia. Perubahan global sekarang ini begitu sangat cepatnya.

Kalau kita tidak bisa mengikuti dan kita tidak bisa mengejar kecepatan perubahan-perubahan itu, ya kita akan ditinggal, coba kita lihat, kita di Indonesia baru berapa tahun ada internet, kita baru belajar di situ sudah muncul mobile internet. Mobile internet ada, kita baru mau belajar, muncul lagi artificial intelligence, ini perubahan-perubahan yang begitu sangat cepatnya.

Dunia juga berubah dengan ide-ide yang nantinya ini akan mengubah seluruh tatanan-tatanan yang ada. Kita melihat elon musk berbicara mengenai hyperlop, memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat cepatnya.

Dia juga menyiapkan tesla, mobil fantastik masa depan. Juga berbicara masalah space axe (dicek lagi) bagaimana mengelola ruang angkasa dan menggunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia.

Ini perubahan-perubahan yang kita harus tahu dan kita harus ikuti. Belum hal yang berbicara dengan pembayaran. Kita masih, saya kira hampir 80-90% kita masih membayar kemana-mana dengan cash, ada mungkin 10% atau lebih sedikit yang membayar dengan kartu kredit.

Tapi itu pun sudah ditinggal, karena dunia sudah berbicara masalah pay poll. Pay poll belum berjalan, sudah ada yang mendahului lagi all e-pay, nanti tinggal pake smart phone, coba kalau pas ke Beijing atau ke negara lain sekarang, membayar sesuatu pakai smart phone, ditunjukkan, tik tik tik tik tik tik, duit kita sudah hilang di bank.

Ini sistem, membangun sebuah sistem. Saya kira kalau perubahan-perubahan ini tidak kita sadari, sangat, akan sangat ditinggal kita oleh negara-negara lain. Saya pernah menjadi pengusaha, pernah jadi wali kota, pernah jadi gubernur. Dan sebagai pegusaha waktu itu, saya sering berurusan dengan notaris.

Saya ndak tahu notaris saya yang di Solo ada ndak di sini? Tidak sekali, tidak dua kali, tapi berkali-kali, jadi saya bisa tahu, bisa mengerti, bisa paham, apa yang sudah dikerjakan oleh Bapak Ibu para notaris, bagaimana melayani, bagaimana pelayanan dan yang paling penting apa yang dirasakan oleh pelanggan-pelanggan, oleh klien para notaris.

Dan pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa begitu susahnya, begitu panjangnya prosedur pengurusan izin di Indonesia. Bener ndak? Bener? Ya kalau bener ngomong bener saja. Wong memang bener kok, inilah proses-proses yang akan terus bisa sederhakan dan akan kita simple-kan, sehingga semuanya berjalan dengan cepat.

Karena sekarang ini bukan negara besar mengalahkan negara kecil, tetapi negara yang cepat yang akan mengalahkan negara yang lambat. Negara yang cepat yang akan mengalahkan negara yang lambat. Kunci ada di situ. Sekali lagi, begitu panjangnya prosedur pengurusan izin di Indonesia, mengurus satu surat izin saja bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Bolak balik datang ke kantor pemerintahan, bolak balik selalu disampaikan belum selesai, ditunggu saja, bener ndak? Ya memang bener. Saya memiliki pengalaman, waktu investasi di Uni Emirat Arab, saya datang dengan berkas, komplet, datang ke kantor perekonomian, namanya kantor perekonomian, datang, saya serahkan di sebuah meja, datang saya serahkan, oleh petugas saya disuruh “Bapak, pergi ke gedung sebelah, kira-kita berjalan 5 menit, gedung sebelah itu kantor notariat, saya berjalan ke sana, tek tek tek tek.. pindah gedung, di situ karena online, sudah siap kertas dan saya tanda tangan, di notaris di situ, tanda tangan, klek klek klek klek klek, selesai.

Oleh notaris saya disampaikan “Bapak kembali lagi ke meja yang tadi” saya kembali ke meja di mana saya menyampaikan pengajuan tadi. Datang ke sana, izin, semuanya sudah selesai, nggak ada 1 jam, tidak ada 1 jam. Itu 16 tahun yang lalu. Saya bisa mendirikan pabrik, saya bisa mendirikan kantor, saya bisa mendirikan showroom, semuanya sudah bisa, enggak ada 1 jam. Itulah kenapa Uni Emirat Arab, yang namanya Dubai, yang namanya Abu Dhabi, bisa meloncat begitu sangat pesatnya.

Padahal, itu yang namanya Syekh Muhammad, itu Emirnya di sana, cerita ke saya “Presiden Jokowi, tahun 1960, kita dari Dubai ke Abu Dhabi itu masih berjalan dengan Unta, tahun 1960. Tahun 1970 dari Dubai ke Abu Dhabi, yang cerita beliau ya, pake truk, padahal kita ingat, tahun 1960 kita sudah pakai holden impala, betul? Tahun-tahun itu saya ingat, saya belum lahir tapi saya ingat. Ya Holden Impala tahun 60-70 kita sudah, mereka masih memakai unta dan tahun 70 pakai truk, tetapi sekarang kenapa hampir semua orang di sana memakai mobil-mobil mewah karena kuncinya ada di kecepatan birokrasi, kecepatan perizinan dalam melayani investasi-investasi yang datang di situ.

Kuncinya ada di situ. Sekali lagi, negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat. Jadi cerita kecepatan ini penting sekali. Oleh sebab itu, saya akan terus mendorong terjadinya reformasi besar-besaran yang mendasar, terutama untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam peringkat ease of doing bussiness.

Hasilnya sebelumnya, 120, kemudian meloncat ke 106 di 2016, kemudian meloncat lagi sekarang di ranking 91. Meloncat, memang meloncatnya sangat banyak, tetapi ini ranking 91, masih jauh, target saya minimal itu 40. Saya sudah sampaikan kepada Menteri, terserah yang diobrak abrik, di eselon 1 nya, di eselon 2 nya, eselon 3 nya, eselon 4 nya, yang tidak mau mengikuti arah reformasi birokrasi yang kita sampaikan. Silakan, tetapi kita ingin semuanya dikerjakan dengan cepat, baik menyelesaikan regulasi-regulasi, peraturan-peraturan yang menghambat, maupun juga sistem-sistem yang masih menggunakan sistem-sistem lama. Dan ini ada moment um juga yang sangat bagus, kita lihat, sekarang Indonesia sudah layak investasi oleh Fitz rating, oleh Modis, dan terakhir oleh SNQ, standard and quartz, artinya apa? Ada kepercayaan internasional terhadap Indonesia.

Ada trust internasional kepada kita, ini momentum yang harus kita gunakan. Yang kedua, dari survei OECD, mengenai tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahnya, Indonesia saat ini berada pada ranking pertama di dunia untuk kepercayaan rakyat kepada pemerintahnya. Momentum ini harus digunakan. Dulu biasanya nomor 1 nya Swiss, Swiss, India, Luxemburg, Norwegia, Kanada, negara-negara itu. Kita bisa, ini survei internasional, bisa berada pada tingkat yang pertama, ini sebuah kepercayaan, momentum yang harus kita gunakan bersama-sama. Dan kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi negara kita juga berada pada posisi yang sangat baik, karena negara-negara yang lain dan ekonomi dunia sekarang ini semuanya melambat dan pada kondisi yang tidak baik.

Paling tidak di negara-negara G20 kita berada pada posisi 3 besar, di bawah India, China, kemudian Indonesia. Ini juga patut kita syukuri. Hadirin sekalian yang saya hormati, sekarang urusan notaris. Kita ingin memperbaiki sistem, sistem yang ada sehingga terjadi sebuah kecepatan.

Bagaimana pengurusan-pengurusan investasi, dunia usaha, ini bisa dikerjakan dengan cepat. Oleh sebab itu, saya nanti akan meminta ketemu lagi dengan Ikatan Notaris Indonesia untuk bersama-sama menyelesaikan, melihat, regulasi-regulasi mana yang mengganggu, regulasi-regulasi mana yang bisa dihilangkan.

Sehingga kecepatan itu betul-betul ada, tapi kita juga harus ingat bahwa negara ini terlalu banyak aturan. Saya suruh hitung ada 42 ribu regulasi, coba. Ada yang tumpang tindih, ada yang menghambat, ada yang di pusat, ada yang di kementerian, ada yang di daerah.

Inilah negara kita, negara yang penuh dengan peraturan, dikit-dikit diatur, dikit-dikit diatur, justru menjadi tidak teratur. Izin coba, izin sampai ratusan, izin. Izin apa lagi? Dikit-dikit izin, dikit-dikit izin. Karena dulu apa? Sebetulnya itu bukan izin, izin itu hanya 1, kemudian ada syarat, syarat, syarat.

Syarat itu dijadikan izin, jadi beranak pinak izin itu. Hal-hal yang ga perlu peraturan, dibuatkan peraturan, sehingga keluar lagi izin. Inilah pekerjaan besar yang kita hadapi. Oleh sebab itu, silakan ada notaris 1 atau 2 aja, Bapak dan Ibu satu maju. Tunjuk jari dulu, nanti baru saya suruh maju, sebentar. Dialog….

Inilah proses-proses yang harus kita percepat. Nantinya saya minta Pak Sekretaris Kabinet, diacarakan lagi dengan Ikatan Notaris Indonesia untuk urusan mempercepat proses-proses perizinan, proses-proses pertanahan yang lain-lain, yang saya yakin minta masukan. tolong blak-blakan. Siap?

Bapak Ibu, saudara-saudara sekalian yang saya hormati, saya kira penggunaan teknologi, penggunaan IT memang harus sudah kita lakukan kalau negara ini tidak ingin ditinggal negara lain, udah, kuncinya ada di situ.

Sistemnya disiapkan, aplikasi-aplikasi yg paling modern harus kita gunakan, sehingga kecepatan itu ada. Karena tanpa itu percuma kita berbicara masalah pertumbuhan ekonomi, berbicara masalah inflasi, karena kuncinya ada di situ. Kemudahan berusaha menjadi kunci bagaimana membuka lapangan pekerjaan, memberikan kesejahteraan pada masyarakat, karena tanpa itu akan sangat berat persaingan, kompetisi di antar negara yang akan kita hadapi tahun-tahun mendatang.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, terima kasih. Selamat melakukan rapat kerja dan seminar. Saya tutup. Wassalamu alaikum wr wb. Om santi santi santi om.

Artikel lainnya :