Ada Apa dengan Jokowi dan Papua?

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 16 November 2021
Kategori: Opini
Dibaca: 273 Kali

Billy MambrasarOleh: Billy Mambrasar *)

Foto Presiden Jokowi saat membeli noken di Taman Imbi Jayapura, Papua, yang beredar luas di media sosial, dinilai sebagian orang sebagai sebuah pencitraan. Izinkan saya menceritakan apa yang terjadi, sebagai seseorang yang kerja dekat dengan beliau, dan melihat beliau sebagai sosok yang apa adanya di balik layar kamera.

Saya masih ingat, sewaktu mendampingi beliau saat Pembukaan PON 2021 pada awal Oktober lalu, dan kunjungan kerja hampir seminggu, pada waktu yang bersamaan. Saat rombongan kami melalui Kota Jayapura, Presiden Jokowi menunjuk ke arah mama-mama dari Paniai yang berjualan di Taman Imbi, Kota Jayapura (setelah sebelumnya beliau membeli noken mama-mama Papua dekat Bandara Sentani, dan memberikan bantuan kepada suster yang memanggil dirinya di pinggir jalan).

Kami berdua kemudian berdiskusi sedikit di depan lobi hotel sebelum beristirahat, dan beliau bertanya tentang mama-mama tersebut, yang kemudian saya jelaskan dengan memaparkan cerita tentang mereka. Beliau kemudian berjanji, saat kembali nanti, akan menghampiri mereka.

Hal tersebut beliau buktikan, saat kunjungan kerja menutup Peparnas XVI kemarin, beliau datang, menyapa, dan membeli noken dari mama-mama Papua di Taman Imbi tersebut.

Perhatian Jokowi untuk mama-mama Papua bukan hanya dalam momen ini saja. Selain memerintahkan pembangunan pasar untuk mama-mama Papua, beliau juga mendorong berbagai program dalam bentuk bantuan modal usaha, bantuan sosial, bahkan selalu menyempatkan untuk mendengarkan keluh kesah mama-mama setiap kali melakukan kunjungan kerja ke Papua.

Mengapa harus Papua? Mengapa Jokowi “ngotot” PON dan Peparnas 2021 ini ini harus di Papua? Bahkan hadir di pembukaan PON dan penutupan Peparnas? Mengapa beliau mendorong pembangunan Papua Youth Creative Hub untuk menciptakan pengusaha muda Papua, dan pelaku digital start up, juga penciptaan petani milenial? Mengapa beliau sibuk sekali memberikan perhatian untuk mama-mama Papua?

Ada apa dengan Jokowi dan Papua? Demikian pertanyaan banyak orang.

Kemudian muncullah spekulasi obrolan warung kopi, dibalut penjelasan hipotetikal menggunakan teori kepentingan ekonomi Jokowi, teori komunikasi pencitraannya, hingga teori politik konspirasi ambisinya, tentu tak terbukti.

Saya tidak ingin membantah, atau menggunakan teori khusus untuk menjelaskan alasannya. Lalu ada apa di antara Jokowi dan Papua? penjelasan sederhananya hanyalah: rasa cinta. Yang membaca tulisan ini dan sedang jatuh cinta, coba jelaskan, gunakan teori ekonomi, sosial, politik, teknik atau matematik, kenapa anda jatuh cinta sama cewek atau cowok pujaan anda? Tidak bisa kan? Karena memang rasa cinta tidak ada kerangka berpikir rasionalnya, ini adalah masalah: rasa dan perasaan.

Saya ingat beliau sering berkata: “Billy, kamu harus kerja keras, terus belajar, dan pastikan fondasi pelayanan masyarakat kamu harus kuat. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang melayani, dan melayani itu harus pakai rasa.”

Pesan itu terus saya pegang, bahwasanya pemimpin adalah pemimpin yang melayani, dan rasa cinta adalah dasarnya, fondasi, kekuatan dan sumber energi untuk melakukan pelayanan itu, walaupun kita dicibir, difitnah, dengan rasa iri dan dengki.

“Dia adalah staf khusus saya, Mas Billy Mambrasar” begitu ucap Pak Jokowi dengan energi rasa yang saya dapatkan dari beliau, dalam beberapa kesempatan, baik itu di acara resmi, atau pun Rapat Terbatas. Ucapan beliau tersebut adalah sebuah bentuk apresiasi, rasa percaya mendalam, dan suntikan semangat kepada seluruh anak Papua, anak muda Indonesia bukan hanya saya.

Pak Jokowi sangat percaya, bahwa perubahan ada, dan terus akan terjadi, utamanya bila didorong oleh anak muda. Beliau berharap agar manusia-manusia Papua, khususnya anak mudanya terlibat penuh membangun Papua, bahkan Indonesia. Itu alasan beliau membangun Papua Youth Creative Hub (PYCH) untuk mendorong kreativitas dan keterlibatan anak-anak muda Papua dalam berbagai sektor.

“Jangan hanya bangun infrastrukturnya saja, tapi harus, bahkan lebih penting, kita bangun manusianya” begitu saya mengutip ucapan Pak Presiden sebagai ingatan permanen bagi saya dan tularan semangatnya. Beliau lakukan dalam aksi nyatanya yang getol mendorong Inpres Nomor 9 Tahun 2020, tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, yang nafasnya adalah pembangunan manusia Papua.

Sederet perubahan signifikan terjadi di Papua, sebut saja akselerasi infrastruktur, pembangunan Jembatan Youtefa di Jayapura yang megah, Jalan Trans Papua yang tersambung begitu cepat, hingga penyelenggaraan PON XX dan Peparnas XVI di tahun ini. Beliau percaya: “Papua dan manusia Papua sudah bisa!

Satu hal dari pesan beliau, kepada saya selama dua tahun ke belakang bekerja dengan beliau: membangun Papua bukan hanya pekerjaan satu atau dua orang. Kita semua masing-masing memiliki peranan yang sama pentingnya. Caranya jangan pernah berhenti berkarya, lakukan apa saja untuk mendapat pendidikan yang baik dan optimistis bahwa, bukan hanya: Torang Bisa! Tetapi juga: Torang Hebat!

Jadi ada apa antara JOKOWI dan PAPUA? Jawaban sederhananya adalah: rasa cinta. Udah itu aja.

*) Staf Khusus Presiden yang berasal dari Papua

Opini Terbaru