Akui Politik Sedikit Memanas, Presiden Jokowi Sampaikan Dirinya Harus Naik Kuda

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 23 November 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 29.124 Kali
Presiden Jokowi memberikan sambutan pada pembukaan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (22/11) malam. (Foto: Kris/Setrpres)

Presiden Jokowi memberikan sambutan pada pembukaan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (22/11) malam. (Foto: BPMI/Kris)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui bahwa akhir-akhir ini situasi politik sedikit memanas. Namun menurutnya, ini sebetulnya biasa, dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tensinya tambah hangat sedikit. Hanya, diakui Presiden jika memang di Jakarta ini istimewa.

“Biasa, sangat biasa. Tetapi karena banyak sekali faktor-faktor yang lain, yang sebetulnya Pilkada ini tidak hanya di DKI saja, ada 101 satu pilihan bupati, wali kota, dan gubernur di seluruh Indonesia,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada pembukaan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (22/11) malam.

Tetapi sekali lagi, diakui Presiden Jokowi memang di Jakarta ini istimewa, sehingga kejadian yang kemarin itulah yang dilihat. “Tetapi itu hanya sedikit, hangat sedikit lah, tambah hangat sedikit,” ujar Presiden.

Presiden juga mengakui bahwa dirinya cukup pontang-panting ke sana-ke sini. Tetapi sekali lagi, menurutnya itu hal biasa dalam sebuah pilkada. Presiden ingat juga dulu waktu Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2012 juga mirip-mirip, karena dirinya merasakan sendiri di lapangan.

“Karena pontang-panting itu saya yang biasanya enggak pernah naik kuda, harus naik kuda,” kata Presiden seolah mengingatkan dirinya yang naik kuda usai bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra, di Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada akhir Oktober lalu.

Karena situasi yang sudah hangat itu, Presiden Jokowi meminta para ekonom yang hadir dalam acara tersebut tidak ikut memanas-manasi.

Jangan Terus Politik

Dalam kesempatan Presiden Jokowi juga menyindir kebiasaan sejumlah media yang menurutnya kadang-kadang lucu. Presiden Jokowi memberi contoh saat dirinya bertemu dengan Prabowo, menurutnya, mestinya yang ditanyakan yang substansi, yang paling penting misalnya dalam masalah politik kebangsaan atau ketatanegaraan kita. Namun, justru yang ditanyakan oleh media adalah tentang menu makanan dan Presiden menjawab sesuai dengan pertanyaan.

Menurut Presiden, sebetulnya banyak hal-hal yang sangat substansif yang dibicarakan dalam beberapa pertemuan tersebut, baik bertemu Megawati Soekarnoputri,  Prabowo Subianto, Surya Paloh, kemudian dengan Pak Romi (Romahurmuzy), dan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto.

Disampaikan Presiden, dirinya sebenarnya biasa makan siang dan makan malam dengan para tokoh itu. Hanya saja, pertemuannya ada yang terbuka dan tertutup. Tetapi ini perlu dibuka agar masyarakat juga tahu, bahwa  dirinya ini sudah berbicara dengan ketua-ketua partai atau sudah mengunjungi markas-markas TNI dan Polri.

“Ini agar memberikan ketenangan pada kita dalam rangka mengejar ketertinggalan kita, pembangunan kita dengan negara-negara yang lain. Jangan malah kita disibukkan terus dengan tensi politik yang sedikit hangat pada 1-2-3 minggu ini. Sehingga urusan politik kita tinggalkan dulu, tidak usah,” tutur Presiden Jokowi.

Pembukaan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016 itu dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Ketua DPR RI Ade Komarudin, dan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan. (UN/ES)

 

Berita Terbaru