Andalkan 10 Destinasi Prioritas, Pemerintah Optimistis Tahun Depan Masuk 12 Juta Wisman

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 15 Oktober 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 35.404 Kali
Menteri Pariwisata Arief Yahya

Menteri Pariwisata Arief Yahya

Pemerintah optimistis bisa lebih menggenjot tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) yang pada tahun 2015 ini diperkirakan mencapai 10 juta orang. Untuk itu, selain memberikan berbagai kemudahan, guna terus meningkatkan kunjungan Wisman,  Pemerintah akan mengandalkan 10 destinasi atau tujuan wisata prioritas di Indonesia.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengemukakan, sampai dengan Agustus lalu, jumlah Wisman yang berkunjung ke Indonesia telah mencapai 6,3 juta orang, atau 103% dari target yang ditetapkan, yaitu 6.150.000 orang.

“Proyeksi kita atau target kita tahun ini adalah 10 juta, dan kita harapkan akan tercapai 10 juta itu, sehingga untuk tahun depannya (2016) target kunjungan Wisman 12 juta akan lebih mudah bisa dicapai,” kata Arief kepada wartawan seusai rapat terbatas tentang pariwisata yang dipimpin oleh Presiden Jokowi, di kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/10) sore.

Guna mendukung pencapaian target kunjungan Wisman itu, menurut Menpar, pemerintah sudah memberikan fasilitas Bebas Visa Kunjungan atau BVK kepada wisatawan dari 90 negara. Diharapkan dengan kemudahan ini, peningkatan pelayanan demikian juga dengan jumlah Wisman-nya akan naik.

“Proyeksi kita dari kebijakan bebas visa ini adalah penambahan jumlah wisman sebesar  1 juta per tahun yang terjadi mulai tahun 2016. Kalau 1 juta per tahun naik berarti devisa yang kita hasilkan adalah sekitar Rp 1 miliar tambahannya,” jelas Arief.

Untuk diketahui, lanjut Arief, tahun 2014 devisa dari sektor pariwisata mencapai 10 miliar dolar, 2013 devisa 9,4 miliar, 2014 devisa 10 miliar diharapkan tahun 2015 ini tercapai 12 miliar dolar.

Selain itu, Pemerintah juga memberikan kemudahan bagi Wisman untuk masuk ke Indonesia melalui menggunakan perahu pesiar atau yacht. Ia menyebutkan, kalau dulu orang masuk ke Indonesia itu perlu waktu rata-rata 3 minggu karena ada aturan CAIT. Sekarang aturan itu dicabut.

“Kita memberlakukan standar yang berlaku di dunia yaitu CIQP (Custome, Imigration, Quarantine, Port) diharapkan orang masuk ke Indonesia ini, cukup waktunya sehari saja. Begitu dia datang, selanjutnya dia bisa 3 jam seperti benchmark di dunia ini hanya datang 1 jam. Jadi prosesnya cukup 1 jam, orang sudah bisa menikmati Indonesia,” papar Arief.

Proyeksi Kementerian Pariwisata dari Perpres tentang perahu pesiar atau yacht, diproyeksikan tahun depan 3000 yacht yang akan masuk ke Indonesia. ” Itu setara dengan kurang lebih Rp 303 triliun  karena 1 yatch itu spending-nya rata-rata Rp 1 miliar atau dulu waktu kursnya Rp 10.000 sekitar 100.000 dollar AS. J adi Rp 3 triliun. Tahun 2019, kita harapkan ada 5000 yacht yang masuk ke Indonesia dengan proyeksi devisa kita 500 juta dollar AS,” papar Arief.

Menpar juga menambahkan, bahwa regulasi ketiga dikeluarkan oleh Menhub terkait dengan asas cabotage. Asas cabotage itu kurang lebih adalah kapal yang beroperasi di Indonesia harus berbendera Indonesia, namun karena kita tidak terlalu banyak punya yacht sehingga cruise yang datang ke Indonesia boleh menaikturunkan penumpangnya di lima pelabuhan besar, yaitu: Belawan, Tanjung Priok, Perak, Benoa, dan Makassar.

“Keuntungan buat Indonesia adalah kalau orang Indonesia ingin melakukan cruising, tidak perlu lagi ke Singapura, membuang-buang uang, cukup di lima pelabuhan besar kita,” terang Arief.

Selain itu kalau ada wisman ingin cruise (berwisata dengan kapal pesiar, rd) di Indonesia juga sudah bisa sekarang. Dia tinggal fly di suatu tempat dan dilanjutkan cruise, misalkan dia sampai ke Kualanamu dilanjutkan ke Belawan, dari Belawan bisa menikmati Indonesia atau di Jakarta bisa melalui Tanjung Priok dan lain sebagainya.

“Proyeksi kita peningkatannya adalah mencapai 1000 cruise yang datang ke Indonesia,” kata Arief seraya menyebutkan, tahun 2014 hanya 400 yang datang. Kalau 1000 cruise datang ke Indonesia, proyeksi pendapatan kita sekitar 300 juta dollar AS.

Jadi dari tiga kebijakan atau deregulasi yang terkait pariwisata, lanjut Menpar, diharapkan ada penambahan devisa sebesar 1,8 miliar dollar AS atau hampir 2 miliar dollar AS.

Untuk mendukung itu semua, tambah Menpar, Pemerintah menetapkan 10 destinasi atau tempat tujuan wisata prioritas. Kesepuluh destinasi itu adalah Borobudur-Jawa Tengah, Mandalika-NTB, Labuhan Bajo-NTT, Bromo Tengger Semeru-Jawa Timur, Kepulauan Seribu-Jakarta, Toba-Sumut, Wakatobi-Sultra, Tanjung Lesung-Banten, Morotai-Maluku Utara, dan Tanjung Kelayan-Belitung.

“Itu adalah 10 yang akan kita prioritaskan dan kita harapkan tahun 2016 itu akan sudah mulai menjadi awal destinasi-destinasi yang baru kita revitalisasi. Jadi destinasi kita tidak hanya Bali, Yogya, Jakarta, dan Kepri, tapi kita membangun juga destinasi baru di Indonesia,” pungkas Menpar. (SLN/RAH/ES)

 

Berita Terbaru