Anggap Terbuai Harga Komoditas, Presiden Jokowi Minta Kembangkan Industri Hilir di Kalteng

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 14 Februari 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 24.233 Kali
Presiden Jokowi didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (14/2) siang. (Foto: Rahmat/Humas)

Presiden Jokowi didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin rapat terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (14/2) siang. (Foto: Rahmat/Humas)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, daerah-daerah yang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi sebagai konsekuensi dari fluktuasi ekonomi global perlu mendapat perhatian dan dibantu oleh pemerintah pusat.

Ia menyebutkan, di satu sisi daerah-daerah penghasil sumber daya alam, seperti Kalimantan Tengah (Kalteng) memiliki potensi yang luar biasa, mulai dari sumber daya mineral batubara sampai dengan hasil-hasil perkebunan serta kehutanan. Tapi di sisi yang lain, menurut Presiden,  dari daerah-daerah tersebut juga terkena dampak paling besar dari penurunan harga komoditas di pasar global.

“Ini artinya, melambatnya perekonomian global jelas memberikan dampak signifikan pada perekonomian di daerah. Saya minta kondisi yang terjadi saat ini dipakai sebagai momentum untuk pengembangan nilai tambah dari komoditas-komoditas tersebut,” tutur Presiden Jokowi saat memberikan pengantar pada rapat terbatas tentang Evaluasi Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional dan Program Prioritas, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (14/2) siang.

Menurut Presiden, kita lama terbuai dengan tingginya harga komoditas sehingga akhirnya melupakan pembangunan industri hilir, industri pengolahan untuk mendapatkan nilai tambah dari sumber daya alam yang kita miliki.

Karena itu, lanjut Presiden, kita harus mulai mengembangkan industri hilir karena ini akan berpengaruh langsung pada masyarakat, akan membuka lapangan pekerjaan, dan menggerakkan ekonomi di daerah.

Selain pengembang industri hilir, menurut Presiden, kita juga perlu memikirkan, menggali potensi-potensi di Kalimantan Tengah yang belum tereksplorasi sebagai alternatif untuk menjaga keberlanjutan momentum perkembangan ekonomi.

“Kalimantan Tengah perlu mengembangkan potensi ekonomi yang belum tersentuh agar tidak tergantung pada eksploitasi minerba dan kekayaan hutannya yang pada suatu saat akan habis,” tegas Presiden.

Presiden Jokowi menekankan pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur transportasi di Kalimantan Tengah, yang bermanfaat bukan hanya untuk membuka keterisolasian beberapa wilayah di Kalimantan Tengah, tapi juga memperlancar konektivitas antar wilayah, serta bisa menurunkan biaya logistik.

“Saya minta pembangunan infrastruktur transportasi harus betul-betul terintegrasi dengan kawasan lain di pulau Kalimantan, dan tidak lupa memperhatikan aspek-aspek tata ruang serta lingkungan hidup,” tutur Presiden Jokowi.

Rapat terbatas tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko PMK Puan Maharani, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menhub Budi K. Sumadi, Menkses Nila F. Moloek, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, dan Gubernur Kalteng Sugianto Sabran.

(RMI/SM/FID/RAH/ES)

Berita Terbaru