Apresiasi Progres Pembangunan Jalan Tol, Presiden: Masyarakat Aceh Ingin Infrastruktur Segera Selesai

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 Februari 2020
Kategori: Berita
Dibaca: 510 Kali

Presiden Jokowi menyapa warga yang hadir dalam acara Kenduri Kebangsaan Sekolah Sukma Bangsa, di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, Sabtu (22/2). (Foto: Humas/Oji).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan apresiasi saat meninjau progres perkembangan pembangunan jalan tol yang memiliki kecepatan luar biasa karena baru 14 bulan dikerjakan sejak groundbreaking di Banda Aceh.

“Pembebasan lahan hampir di atas 90% telah selesai, ini menunjukkan yang saya baca ini menunjukkan keinginan masyarakat untuk agar infrastruktur ini segera selesai,” ujar Presiden Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara Kenduri Kebangsaan Sekolah Sukma Bangsa, di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, Sabtu (22/2). 
Menurut Presiden, semua provinsi selalu masalah dan problem pada pembebasan lahan yang menghambat proses konstruksi, tapi di Aceh sudah hampir 90% selesai.
“Kemarin Dirutnya Hutama Karya menyampaikan pada saya, “Pak, ini hampir 90% pembebasan selesai sudah 60 kilo, tapi kami baru mengejar 15 kilo, artinya Pak ini harus ditambah untuk urusan konstruksinya. Kalau pembebasannya di luar dugaan kami kecepatan yang luar biasa,” tutur Presiden menceritakan percakapan dengan Dirut PT. Hutama Karya.
Ini, menurut Presiden, patut disyukur karena infrastruktur di seluruh tanah air telat dibangun.
“Harus ngomong apa adanya secara terbuka kalau terlambat. Stok infrastruktur kita dibanding negara-negara sekitar kita juga masih jauh, sehingga kecepatan mobilitas orang, Kecepatan mobilitas barang,” katanya.
Kecepatan logistik dari provinsi-provinsi yang lain, sambung Presiden, dari kabupaten satu kabupaten yang lain menjadi semuanya terhambat sehingga daya saing, competitiveness menjadi kalah.
“Apapun sekarang ini, antarnegara persaingan, antarnegara saling kompetisi, dan siapa yang cepat akan mengalahkan yang lambat. Sudah bukan kaya dulu, dulu negara kaya dan negara miskin, negara besar mengalahkan negara kecil, bukan,” urai Presiden.
Sekarang, lanjut Presiden, zaman sudah berubah, yang cepat akan mengalahkan yang lambat, dan Indonesia harus lebih cepat dari negara-negara lain.
“Sebab itu pekerjaan infrastruktur. Betul keinginan kita percepat. Seluruh tanah air dan khususnya, wabilkhusus di Aceh,” tutur Kepala Negara.
Perjanjian Helsinki
 
Pada kesempatan tersebut, Presiden  juga menyampaikan terkait perjanjian Helsinski. Ia mengaku sudah bertemu dan berbicara dengan Gubernur dan Yang Mulia Wali Nanggroe.
“2 atau 3 minggu lalu, saya sudah bertemu dengan Pak Mualim, Pak Muzakir Manaf. Saya ketemu dan tokoh-tokoh Aceh lainnya yang tidak saya sebut. Tidak bisa saya sebut satu per satu,” sambungnya.
Kepala Negara ingin diberikan waktu untuk menjawab berbagai masalah terkait perjanjian Helsinki tersebut.
“Beri waktu saya untuk menjawab karena apapun ini akan didiskusikan dalam Rapat-rapat Terbatas yang selalu kita lakukan setiap minggu sehingga jawabannya nanti saya akan berikan. Banyak yang sudah disampaikan kepada saya, saya tahu,” ujarnya.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketum Partai Nasdem Surya Paloh, Menag Fachrul Razi, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, Mentan Syahrul Yasin Limpo, KSP Moeldoko, Menkominfo Jhonny G. Plate. (AIT/EN)
Berita Terbaru