Arahan Presiden Joko Widodo pada Peningkatan Kapasitas Pemerintahan Desa dan Lembaga Kemasyarakatan Desa Tahun 2018, 25 Juli 2018, di Graha Pradipta Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 25 Juli 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 3.777 Kali

Logo-Pidato2Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Bupati Bantul, Kapolda, Pangdam beserta seluruh jajaran,
Yang saya hormati, yang saya banggakan para kepala desa, badan permusyawaratan desa, para pendamping desa yang pagi siang hari ini dari Jawa dan Kalimantan,
Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia,

Yang lalu saya sudah bertemu dengan kepala desa dari seluruh tanah air, ada 4.200 saat itu yang berkumpul di Jakarta. Banyak hal yang saya sampaikan saat itu, dan yang pertama-tama sama seperti akan saya sampaikan pada pagi-siang hari ini. Untuk mengingatkan, menyadarkan kepada kita semuanya bahwa negara kita Indonesia ini adalah negara besar. Kita harus menyadari itu. Kalau kita enggak sadar negara kita besar, kita merasa kita ini kecil terus. Negara kita ini besar, kita memiliki 17.000 pulau. Bayangkan 17.000 pulau. Memiliki 514 kota dan kabupaten, serta 34 provinsi. Negara kita itu juga majemuk, plural, berbeda-beda. Kita memiliki 714 suku, kita semuanya harus tahu. Memiliki 1.100 lebih bahasa daerah, kita semuanya harus tahu. Saya tanya Dubes Singapura, dubes kita  yang di Singapura, berapa suku di Singapura? 4. Kita? 714. Bayangkan. Afghanistan, saya tanya Presiden Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan ada berapa suku di Afghanistan? 7.  Negara kita? 714.

Ini harus kita sadari, bahwa kita ini memang berbeda-beda suku, berbeda-beda agama, berbeda-beda bahasa daerah, berbeda-beda adat, berbeda-beda tradisi. Inilah negara besar kita Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, kesatuan, persaudaraan, kerukunan. Ini aset besar kita.

Inilah yang harus Bapak-Ibu sekalian seluruh kepala desa sampaikan juga kepada rakyat, kepada masyarakat. Jangan sampai, saya titip, jangan sampai karena pilihan bupati, karena pilihan wali kota, atau karena pilihan gubernur, atau karena pilihan presiden kita ini menjadi retak dan pecah di bawah. Jangan sampai, dengan isu-isu SARA, dengan isu-isu agama. Cegah rakyat jangan sampai retak gara-gara pesta demokrasi setiap 5 tahun sekali. Saya titip.

Karena Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian ada di tempat yang paling depan, yang berhubungan dengan rakyat. Kalau Saudara-saudara bisa menyampaikan ini pada rakyat, menyadarkan, mematangkan cara-cara berpolitik, mematangkan, mendewasakan cara-cara berpolitik kita untuk rakyat, ini akan mendinginkan suasana. Sekali lagi, jangan sampai karena pilihan bupati, pilihan gubernur, pilihan presiden, rakyat menjadi retak. Karena itu adalah aset. Kerukunan, persaudaraan, persatuan itu adalah aset terbesar bangsa ini.

Negara ini memang negara besar. Saya pernah terbang, ini saya sampaikan terus di mana-mana, terbang dari Banda Aceh, dari barat sampai ke timur di Wamena bukan Jayapura, tapi di Wamena di atasnya. Saya terbang langsung. Berapa jam yang dibutuhkan? 9 jam 15 menit, 9 jam 15 menit. Itu naik pesawat. Bayangkan kalau jalan kaki, berapa tahun? Itu kalau kita terbang dari London, di Inggris ke timur melewati 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, mungkin 8 negara sampai di Istanbul di Turki.

Artinya apa? Negara kita ini besar sekali bentangannya, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Saya sudah datangi semuanya, pojok-pojok negara ini sudah saya datangi semuanya.

Dan kalau kita sudah pergi ke daerah-daerah, ke provinsi-provinsi, ke kabupaten-kabupaten, kita baru melihat betul bahwa memang negara kita ini berbeda-beda. Itu jangan membuat kita retak. Justru harus menjadi sebuah potensi yang harus kita satukan. Jangan mau dikompor-kompori sama politisi-politisi yang enggak benar. Politisi-politisi yang enggak benar lho ya,  sering ngompor-ngompori, manas-manasi biar rakyat ini menjadi… Enggak boleh.

Kalau ada pilihan bupati, pilihan gubernur, pilihan presiden, ya sudah pilih pemimpin yang paling baik, coblos, setelah itu rukun kembali. Setuju ndak? Karena setiap 5 tahun itu ada pesta demokrasi yang namanya pilkada, yang namanya pemilu. Jangan sudah 3 tahun, 5 tahun masih dibawa-bawa urusan pilpres, urusan pilihan gubernur ini, ndak. Jangan, energi kita habis nanti. Sudahlah, pilih pemimpin yang paling baik. Rakyat diberitahu, pilih pemimpin yang paling baik, coblos, sudah rukun, sudah.

Tapi memilih pemimpin juga dilihat, rakyat diberi tahu, lihat prestasinya, lihat track record-nya, lihat rekam jejaknya. Dilihat. Mau milih bupati, lihat rekam jejaknya baik ndak. Milih gubernur, lihat rekam jejaknya baik ndak. Prestasinya apa, kinerjanya seperti apa, dilihat. Jangan karena dikompor-kompori. Sekarang kan banyak kompor, baik kompor minyak maupun kompor gas, banyak. Hua… hua… hua… hua…, waduh. Ini ada rakyat yang kemakan.

Tugasnya kepala desa, badan permusyawaratan desa, juga pendamping-pendamping desa itu menyampaikan. Karena coba dilihat di media sosial, yang namanya fitnah, saling mencela, hoax, kabar bohong. Habis energi kita kalau kita ngurus-ngurus kayak gitu itu.

Saya titip ini yang pertama, sampaikan kepada rakyat kita bahwa pesta demokrasi itu setiap 5 tahun sekali pasti ada, pasti ada, pasti ada. Jangan kebawa suasana karena dikipas-kipasi, iya kan. Sudah kompornya hangat, dikipas-kipasi. Hati-hati. Kepala desa juga jangan sampai ikut-ikutan, ikut-ikutan terbawa suasana.  Saudara-saudara ini tugasnya mendinginkan, menyejukkan, (kalau) ikut-ikut suasana ya jadi panas, lebih panas. Tugas Saudara-saudara itu ada di tempat itu, menyejukkan, mendinginkan suasana. Siap?

Pertama, urusan itu. Jadi sekali lagi, negara ini negara yang sangat besar. Supaya rakyat tahu. Ndak ada negara yang memiliki 714 suku itu, ndak ada bahasa daerah 1.100 lebih, ndak ada. Tanya negara mana, ndak ada.

Saya itu sering salah. Saya inginnya belajar, di Aceh belajar, di Papua belajar. Tapi ya bagaimana bahasanya segitu banyaknya, belajar bagaimana? Sulit. Di Sumatra Utara saja setelah salam kita biasanya “horas” gitu kan. Di Sumatra Utara, di Medan, jadi saya setelah assalamu’alaikum, horas. Begitu menginjak ke tengah saya keliru itu. “Horas.” “Pak Presiden, bukan horas di sini Pak, di sini itu mejuah-juah.” Waduh keliru lagi. Begitu lari ke timur lagi, beda lagi. “Pak, di sini bukan mejuah-juah, bukan horas Pak, beda lagi.” Keliru lagi saya. “Di sini juah-juah.” Ke selatan, beda lagi. Itu masih di satu provinsi coba. “Di selatan beda Pak, bukan horas, bukan mejuah-juah, bukan juah-juah, salamnya ya’ahowu.” Saya juga belajar. Kadang-kadang kebalik-balik juga.

Itu betapa sangat beragamnya negara kita Indonesia ini. Itulah yang dikagumi negara-negara lain terhadap kita. Jangan karena pilihan bupati, pilihan gubernur, pilihan presiden ini menjadi sebuah kelemahan kita. Harus kita tunjukkan ini adalah menjadi potensi dan kekuatan.

Yang kedua, saya ingin mengucapkan terima kasih karena kemarin 171 pilkada semuanya berjalan aman, lancar, jujur, adil, enggak ada masalah-masalah yang sangat berarti. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh aparat desa, kepala desa, badan permusyawaratan desa, dan juga aparat TNI dan Polri yang juga ikut mendampingi kita semuanya.

Yang ketiga, saya titip, yang namanya radikalisme, terorisme ini menjadi tantangan hampir semua negara sekarang ini. Kepala desa juga harus ikut menjelaskan, menerangkan, ikut mengawasi agar desanya tidak berurusan dengan yang namanya radikalisme dan terorisme. Karena apapun, saya yakin bahwa Saudara-saudara semuanya bisa memantau ini dengan baik.

Kita enggak mau negara ini seperti Suriah, yang perang tidak ada habisnya. Saya saat ke Afghanistan, Afghanistan itu sudah perang 40 tahun lebih, 40 tahun lebih, gara-gara perang 2 kelompok, 2 suku, kemudian yang satu membawa teman dari luar, yang satu bawa teman dari luar. 40 tahun enggak ada habisnya. Saya ke sana betul-betul ikut sedih. Karena apa? Itu negara kaya Afghanistan itu, ada minyak, ada gas, ada emas, depositnya gede-gede banget tapi kalau perang enggak bisa diapa-apain  minyaknya, gasnya, emasnya. Sehingga betul-betul sedih kita melihat ada Saudara kita yang perang enggak ada habisnya. Isinya setiap hari bom saja. Saya mau ke sana saja ada berapa, 3 kali bom. 8 hari sebelum kedatangan ada bom menewaskan 20 orang, sebelum saya ke sana. Kemudian ada bom lagi, 2 jam sebelum saya turun sudah ada bom lagi menewaskan 5 orang dan banyak yang luka-luka. Sebulan sebelumnya bom lagi juga, 103 orang meninggal. Masa setiap hari seperti itu?

Apakah kita ingin seperti itu? Apakah kita ingin seperti itu? Negara ini kita ingin menjaga dan merawat, memeliharanya semua agar tetap rukun, damai, menuju sebuah kesejahteraan dan kemakmuran.

Yang keempat, saya ingin berbicara masalah Dana Desa. Dana desa itu 2015 sudah dikucurkan 20 triliun,  2016 dikucurkan lagi 47 triliun, 2017 60 triliun, 2018 60 triliun. Total sudah 187 triliun dana yang dikucurkan ke desa.

Itu angka yang sangat besar sekali. Dalam sejarah anggaran di negara kita,  187 triliun dalam 4 tahun, gede sekali. Oleh sebab itu, penggunaannya harus tepat sasaran. Apa yang diperlukan desa itu, kerjakan dengan Dana Desa ini. Infrastruktur, bisa dipakai untuk jalan, baik jalan kampung, mau jalan desa, maupun jalan menuju tempat-tempat produksi di sawah, dan lain-lain. Bisa dipakai untuk memperbaiki irigasi yang menjadikan lahan desa itu menjadi produktif, dan bisa dipakai untuk keperluan-keperluan lain.

Saya hanya titip, setelah desa mendapatkan anggaran, agar yang namanya pembelian barang-barang material itu belilah di desa di sekitar desa itu saja. Kalau terpaksa, beli di lingkup kecamatan. Untuk apa? Agar uang itu beredar di situ terus, perputaran uangnya ada di desa, perputarannya ada di lingkup kecamatan.  Jangan dilarikan ke kota lagi, ke kota nanti lari ke Jakarta uangnya, lari ke Jakarta lagi.

Sehingga saya titip, kalau beli misalnya pasir, beli di desa itu, cari di desa. Enggak ada, di lingkup kecamatan. Usahakan itu. Mau beli apa lagi? Batu? Ya lingkup desa dan kecamatan. Beli semen, ya mungkin terpautlah kalau beli di kecamatan atau di desa dengan yang di kota pasti terpaut tapi belilah di desa atau di lingkup kecamatan. Agar apa? Peredaran uang itu muter di situ terus, tidak keluar dari situ. Supaya ini tahu, ini teori keuangannya ini kepala desa harus tahu, badan permusyawaratan desa harus tahu, pendamping desa juga harus tahu.

“Wah, Pak lebih murah Pak kita beli di kota Pak, terpaut 2.000.” Terpaut 2.000 belinya 1 sak semen berapa sekarang? 70.000? Berapa? 30.000? 70.000? 37? Oh 37? Murah banget ya?  Misalnya beli 37.000 iya kan, di kota 37.000, di desa 40.000, belilah di desa.  Karena kalau kita beli di kota, artinya uang kita lari ke kota 37.000, kali berapa sak semen. Jutaan jadi ketarik ke sini. Kota nanti bisa lari lagi uangnya ke Jakarta lagi. Kenapa ada Dana Desa ini, ingin kita agar perputaran uang itu ada di desa, ada di lingkup kecamatan, ada di daerah. Teorinya seperti itu. Jadi beli barang-barang,  belilah di lingkup desa atau maksimal di lingkup Kecamatan.

Kemudian yang berkaitan dengan laporan, SPJ. Sulit ndak ? Sulit? Masih sulit?  Saya sudah perintah agar gampang, digampangkan, dimudahkan ke Menteri Keuangan. Masih sulit?

Coba 1 orang maju yang merasa sulit tadi. Tunjuk jari dulu, maju.  Yang merasa sulit, ya silakan maju.

Jadi yang namanya perencanaan pembangunan desa itu tolong dimusyawarahkan. Tadi Pak Mendagri sudah sampaikan, musyawarahkan dengan tokoh-tokoh yang ada di desa. Saya kira itu sudah tahu semuanya. Artinya penggunaan Dana Desa ini harus terbuka, transparan, dan semuanya tahu berapa anggaran desa, Dana Desa yang masuk di desa kita.  Kemudian pertanggungjawaban keuangan ini penting sekali karena apapun ini adalah uang rakyat, ini adalah uang negara yang harus dipertanggungjawabkan.

Sekarang dikenalkan dulu, nama dan dari mana.

(Dialog Presiden RI dengan Perwakilan Kepala Desa/Badan Permusyawatan Desa/Pendamping Desa)

Bapak, Ibu, dan saudara-saudara semuanya,
Jadi kita ingin Dana Desa ini nanti akan ada pemerataan di seluruh tanah air. Keinginan kita ada pemerataan, tidak ada ketimpangan antara kota dan desa, tidak ada ketimpangan antar wilayah barat, tengah, dan timur. Keinginan kita pemerataan. Target kita adalah pemerataan. Percepatan pembangunan desa ini akan memberikan pemerataan kepada rakyat kita, tetapi memang harus tepat sasaran.  Jangan sampai keliru tembakannya, harus tepat sasaran. Jangan yang namanya Dana Desa itu diecer-ecer, enggak akan kelihatan nanti.

Fokus saja, satu tahun fokus 60 persen untuk misalnya infrastruktur jalan desa. Ya sudah, fokus di situ saja. Nanti rampung tahun depan ganti lagi apa, ingin bangun apa, ya sudah ke situ saja. Jangan diecer-ecer enggak karu-karuan, nanti barangnya akan jadi hilang.

Sama seperti yang kita lakukan sekarang untuk APBN. Kita fokus total pada infrastruktur, jreb. Rampung, nanti tahapan kedua kita akan masuk ke investasi di sumber daya manusia, jreb. Rampung, masuk lagi ke tahapan-tahapan berikutnya. Desa pun juga  harus bekerjanya fokus seperti itu.

(Dialog Presiden RI dengan Perwakilan Kepala Desa/Badan Permusyawatan Desa/Pendamping Desa)

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian,
Jadi kita ingin desa ini nantinya bisa menjadi pilar ekonomi nasional, kalau Dana Desa itu betul-betul bisa tepat sasaran sehingga menaikkan daya saing desa, bisa meningkatkan perekonomian di desa. Dana Desa betul-betul uang berputar  di bawah ini akan juga memberikan percepatan pada ekonomi di tingkat yang paling bawah di desa,  sehingga kita harapkan juga ada stabilitas, misalnya irigasi sudah baik, jalan di desa, jalan produksi sudah baik, sehingga ada juga nanti stabilitas pangan di situ juga akan tidak terganggu.

Dan juga mungkin nanti kalau sudah infrastruktur-infrastruktur tadi terselesaikan, masuk misalnya, silakan masuk ke hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, jambanisasi. Saya lihat kemarin di Sumatra Selatan juga sangat bagus sekali. Ada sekian warga desa yang belum memiliki jamban dikerjakan karena memang itu diperlukan. Ini silakan. Tetapi sekali lagi hal-hal yang tadi saya sampaikan mengenai pembelian bahan-bahan material, barang, itu betul-betul dibeli di lingkup desa atau kecamatan.

Yang terakhir, saya juga ingin mengingatkan kepada kita semuanya bahwa negara kita ini negara besar dan dua pertiga Indonesia adalah air. Kita harus tahu. Baik itu berupa samudra, berupa laut, berupa danau, berupa sungai. Dua pertiga Indonesia adalah air dan di  dalam air banyak ikannya. Sekarang silakan yang hafal nama-nama ikan.

(Kuis dari Presiden RI tentang keragaman Indonesia)

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati,
Yang terakhir saya titip, saya titip bahwa masa depan kita ini tergantung pada SDM-SDM yang masih berada di kandungan. Anak-anak kita, ini juga perlu diperhatikan. Oleh sebab itu, saya titip kepada seluruh kepala desa agar juga ikut aktif memberantas yang namanya stunting/kekerdilan, anak-anak yang kerdil. Jadi kalau ibu-ibu masih dalam kandungan itu tolong juga diberikan suntikan gizinya. Beritahu kepada masyarakat, kepada penduduk bahwa yang namanya gizi itu sangat penting sekali. Beri penyuluhan kesehatan kepada ibu-ibu hamil atau ibu yang memiliki anak-anak utamanya yang di bawah 5 tahun. Sehingga kesehatan jabang bayi sudah mulai dijaga sejak di masa kandungan. Kemudian juga dipastikan, pastikan juga bahwa anak-anak kita ini semuanya sekolah. Jangan sampai ada yang tidak sekolah. Pastikan, karena kalau ada yang tidak sekolah ini akan memberikan beban yang berat bagi negara ini di masa yang akan datang. Sekarang kan juga sudah ada Kartu Indonesia Pintar.

Dan jangan sampai dengan Dana Desa yang ada ini menjadi masalah bagi kepala desa. Oleh sebab itu, hati-hati. Dalam penggunaannya saya titip hati-hati, semuanya hati-hati, hati-hati, hati-hati. Karena ini akan bermanfaat bagi rakyat di desa, masyarakat desa, bagi desa tetapi bisa menjadi malapetaka kalau penggunaannya awur-awuran sehingga Bapak, Ibu, dan Saudara saudara harus berhadapan aparat hukum.

Saya tidak mau yang hadir di sini bermasalah dengan aparat hukum. Saya yakin dengan administrasi yang baik, perencanaan yang baik, pengalokasian yang baik, kemudian melaksanakan dengan baik, pelaporan yang baik, pelaporan nanti coba akan saya selesaikan agar lebih simpel, lebih sederhana sehingga memudahkan Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian.

Terakhir, sekali lagi, tahun ini dan tahun depan kita memasuki tahun politik 2019, saya minta kepada seluruh kepala desa, sekali lagi, menjaga persatuan, menjaga kerukunan, menjaga persaudaraan di antara kita. Saya titip ini terakhir.

Terima kasih,
Saya tutup,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru