Arahan Presiden Joko Widodo pada Silaturahmi dengan Pelajar SMA Taruna Nusantara, 27 Januari 2017, di Balairung Pancasila, Magelang, Jawa Tengah

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 27 Januari 2017
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.389 Kali

Logo-Pidato2-8Selamat sore,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja.
Yang saya hormati Pak Pangdam, Kapolda.
Yang saya hormati Bapak Kepala Sekolah dan seluruh Pamong Keluarga Besar SMA Taruna Nusantara,
Anak-anakku semuanya yang saya cintai, yang saya banggakan.

Yang mendampingi saya sekarang ini ada 4 (empat),  dari Angkatan Darat, dari Angkatan Laut, dari Angkatan Udara, dari Kepolisian. Satu yang berada di kanan saya, Tedi ini berasal dari SMA Taruna Nusantara. Yang satunya lagi, Sharif dari Kepolisian juga dari SMA Taruna Nusantara. Yang satunya lagi Ado dari Angkatan Laut juga dari SMA Taruna Nusantara. Saya tahunya tadi di mobil, sebelumnya saya tidak tahu. Diberi tahu sama Tedi, “Pak saya berasal dari SMA Taruna Nusantara.” “Lho bagus, pas ini yang saya ajak yang berasal dari SMA Taruna Nusantara.” “Bukan itu saja Pak, Ado sama Syarif juga dari SMA Taruna Nusantara.” Saya baru kaget, ternyata memang kualitasnya kelihatan, karena mendampingi Presiden.

Yang kedua, juga perlu saya sampaikan, saya masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai Presiden ini yang pertama kali. Saya memang memilih, memilih, saya pilih. Ya karena saya tahu, di SMA Nusantara bukan hanya urusan pendidikan, bagaimana membangun karakter, bagaimana membangun kejuangan, bagaimana membangun entrepreneurship. Ini yang dibutuhkan negara kita ke depan. Karena persaingan akan semakin ketat, karena kompetisi nanti akan semakin sengit. Antar negara, antar SDM-SDM yang ada di negara manapun akan bersaing. Karena keterbukaan sudah tidak bisa kita cegah.

Sekarang di kawasan ASEAN sudah dibuka yang namanya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sudah tidak bisa kita cegah. Nanti bisa antar kawasan. Bisa antar kawasan di ASEAN dengan kawasan Uni Eropa, bisa. Buka-buka sudah. Keluar masuk semuanya bebas. Tidak pakai KTP, tidak usah pakai paspor.

Artinya apa? Kita harus siap. Tidak hanya siap masalah pintar, tidak hanya siap masalah pandai, tidak cukup. Keberanian untuk berkompetisi, keberanian untuk bersaing. Oleh sebab itu, saya sangat menghargai sekali apa yang sudah diberikan oleh Pamong kepada anak-anakku semuanya, Kepala Sekolah yang diberikan ke anak-anakku semuanya. Saya belum bertanya kepada anak-anakku semuanya. Baru masuk tadi saya sudah yakin, inilah memang yang harus disiapkan oleh bangsa kita, sebuah kedisiplinan, sebuah kejuangan, entrepreneurship, dan muncul sebuah karakter ke-Indonesia-an.

Karena ingat anak-anakku semuanya, sekarang menguasai sebuah negara tidak menguasai teritorinya, tidak, tidak menguasai wilayahnya. Tetapi menguasai negara sekarang menguasai sumber daya alamnya, menguasai sumber-sumber ekonominya. Dan perangnya bukan perang fisik lagi ke depan, perang budaya menginfiltrasi budaya kita, hati-hati. Perangnya sudah perang informasi. Sehingga negara tertentu menjadi lemah karena sebuah persepsi. Perangnya sekarang perang arus modal masuk, bukan lagi perang tembak-tembakan, sudah bukan itu. Tapi negara bisa hancur karena serangan ekonomi, bisa terjadi. Sudah terbukti ada 2 (dua), tidak usah saya sebut negaranya, saya kira anak-anakku semuanya tahu. Hati-hati dengan serangan-serangan, dengan perang-perang cara-cara seperti yang tadi saya sampaikan.

Oleh sebab itu, memang dibutuhkan sebuah jiwa baru, sebuah nilai-nilai baru. Bukan anak-anak yang manja yang ingin kita bangun ke depan. Anak-anak yang siap untuk bertarung, anak-anak yang siap untuk berkompetisi, anak-anak yang siap untuk bersaing dengan siapapun. Karena ke depan memang yang akan kita hadapi adalah dunia  persaingan, dunia persaingan, dunia kompetisi. Tidak cukup hanya dibekali masalah matematika, tidak cukup hanya dibekali masalah ilmu biologi, tidak cukup.

Saya akan berbicara dengan Menteri-menteri yang terkait, terutama Menteri Pendidikan, agar pola dan sistem yang ada di SMA Taruna Nusantara ini bisa di-copy ke SMA-SMA yang lain di seluruh Indonesia. Sehingga yang muncul nanti adalah sebuah pribadi-pribadi yang  pintar, pandai, tapi juga mempunyai karakter ke-Indonesia-an yang kuat.

Saya banyak kenal manajer-manajer yang berasal dari sini. Saya banyak kenal CEO-CEO yang berkualitas, yang baik, berasal dari sini.

Oleh sebab itu, sekali lagi, anak-anakku semuanya harus menyiapkan diri dengan wawasan-wawasan yang luas, tidak hanya berkutat di sekolah. Bisa saja anak-anak dibawa ke panti jompo untuk menggugah rasa sosial kita. Bisa juga anak-anak dibawa ke kampung kanan-kiri di Magelang ini untuk ikut kerja bakti, karena itu adalah budaya asli Indonesia. Karena belajar tidak hanya di sekolah saja.

Terakhir, meskipun persaingan nanti ketat, meskipun kompetisi nanti sangat sengit, saya mengajak anak-anakku semuanya tidak perlu takut. Kita harus optimis kalau kita bisa memenangkan kompetisi itu, bisa memenangkan persaingan itu, karena kita memang sudah menyiapkan diri. Tidak perlu takut, tidak perlu khawatir.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

Anak-anakku semuanya, selamat belajar dan suatu saat saya ingin yang berada di hadapan saya ini akan banyak lahir pemimpin-pemimpin, baik di tingkat daerah, baik di tingkat provinsi, baik di tingkat nasional.

Terima kasih,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Transkrip Pidato Terbaru