Bangun Indonesia Lewat Ekosistem Inovator Digital

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 6 September 2020
Kategori: Berita
Dibaca: 160 Kali

Acara Pahlawan Digital seri keempat. (Sumber: Humas KemenkopUKM/SKP Putri Tanjung)

Program workshop dan talkshow “Pahlawan Digital UMKM” yang digagas Staf Khusus Presiden (SKP) Putri Tanjung bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM pada episode keempat, Sabtu (5/9), mengangkat tema, “Membangun Indonesia Lewat Ekosistem Inovator Digital”.

Acara yang disiarkan secara langsung melalui akun YouTube dan Instagram @KemenkopUKM serta @pahlawandigitalumkm tersebut menghadirkan start up di antaranya The Nextdev, Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI, dan Startup Digital Indonesia yang banyak menangani Start Up kampus.

Berbagi cerita tentang membangun ekosistem bagi para inovator digital menjadi topik bahasan sesi “Inspirasi Pahlawan Digital” episode keempat kali ini. Menampilkan tiga narasumber mereka adalah Gita Pratama Putra, Lead of Innovation and Partnership The Nextdev; Firdaus Putra, Executive Committee Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI); dan Hamdani, CEO PT Startup Digital Indonesia.

Saat paparan, Gita Pratama Putra, Lead of Innovation and Partnership The Nextdev menyampaikan kiprah The Nextdev dalam membangun ekosistem digital inovator bermula sejak 2015, untuk membantu startup naik kelas. “Sebab, tujuan akhir dari sebuah startup itu bisa jadi macam-macam,” ujar Gita memulai pembicaraan.

Sejumlah isu yang disasar The Nextdev di Indonesia, di antaranya digital competitiveness, digital ecosystem, digital platform & facilites, dan internasional recognition. “Di Indonesia masih banyak kawan-kawan yang baru mulai usaha, tapi masih kurang kompetitif dari sisi penggunaan teknologi digitalnya,” kata Gita.

The Nextdev membantu para entrepreneur, start up, UMKM, untuk bertemu kawan-kawan di dalam ekosistem yang bisa membantu mereka untuk naik ke level berikutnya. The Nextdev juga membantu mereka untuk lebih dikenal lagi di level nasional maupun internasional.

Menurut Gita, yang dibutuhkan saat ini adalah ekosistem di mana masing-masing startup bisa punya tujuan dan sinergi yang selaras. “Kita butuh ekosistem yang membuka ruang untuk kolaborasi dan akses yang terbuka. Memang kedengarannya utopis, tapi itulah yang kita butuhkan,” ujarnya.

Selain itu, regulasi pemerintah tentu juga akan sangat membantu bagaimana para startup ini bisa hidup dalam ekosistem tersebut. “Ketika ekosistem ini berjalan, saya yakin setelah resesi ini pertumbuhan ekonomi kita bisa meroket,” tegas Gita.

Di sisi lain, Firdaus Putra, Executive Committee Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI) menilai kendala terjalinnya koneksi antar start up tak melulu soal dilibatkannya peran Pemerintah. Ia menyebutkan kendala lain adalah terkait mental pemiliknya yang belum tahan banting apalagi tema start up inkubasi saat ini memang masih menyasar kaum muda.

“Akhirnya yang muncul di benak mereka adalah coba-coba atau iseng-iseng berhadiah. Jika menang saya eksis, jika tidak ya sudahlah. Kadang mental milineal kita itu masih kurang kuat. Baru ditolak sekali, sudah lembek. Konflik sedikit, sudah menyerah. Ini soal sikap,” kata Firdaus.

Menurut Firdaus, inilah yang membedakan entrepreneur muda Indonesia dengan entrepreneur muda luar negeri negeri. Inovator muda di luar negeri, tambah Firdaus, kerap berusaha mati-matian untuk membesarkan usaha mereka.

“Soal teknologi itu masih bisa ditransformasi dan dipelajari, namun mentalitas itu perlu dibangun. Dengan begitu, kaum muda kita akan mati-matian berjuang mengembangkan perusahaannya,” tegas Firdaus yang juga mendirikan Kopkun Institute, sebuah koperasi yang wadah bagi para inovator digital di beberapa daerah.

Sementara itu, Hamdani, CEO PT Start up Digital Indonesia, menyampaikan bahwa bagai kaum muda yang terlibat dalam membesarkan start up-start up kampus, Hamdani melihat kendala utama mengembangkan startup dalam sebuah ekosistem yang terintegrasi adalah tidak adanya garis linear yang menghubungkan mereka.

Karenanya, menurut dia, diperlukan peran aktif pemerintah untuk ‘menjahit’ garis ini. Mulai dari investor, joint venture, hingga start up-nya. “Nah, ide Pahlawan Digital ini menurut saya adalah salah bentuk upaya untuk ‘menjahit’ Indonesia,” ujarnya.

Pahlawan Digital

Sebagai bentuk apresiasi kepada para Pahlawan Digital UMKM dan menjaring lebih banyak lagi inovator muda, Putri Tanjung berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi & UKM dan Sekretariat Kabinet membuat kegiatan workshop dan talkshow “Pahlawan Digital UMKM”.

Program ini bertujuan untuk menemukan dan mendukung lebih banyak lagi tech start up, SaaS, dan gerakan sosial yang membantu UMKM terdigitalisasi. Tak hanya mencari para Pahlawan Digital, program ini juga memberikan pelatihan kepada para inovator muda untuk bisa lebih berdaya, serta memberi apresiasi kepada para inovator yang selama ini telah membantu UMKM.

Menurut Putri, kaum muda berperan penting dan dapat berkontribusi dalam pembangunan karena punya semangat yang luar biasa. Ia mengajak para inovator muda tersebut untuk bergabung dalam Pahlawan Digital UMKM. Perkembangan info terkait Pahlawan Digital UMKM bisa dipantau di akun Instagram @pahlawandigitalumkm, @kemenkopukm, dan @putri_tanjung. (SKP Putri Tanjung/Humas KemenkopUKM/EN)

Berita Terbaru