Bangun Pembangkit Listrik 35 Ribu MW, Presiden: Jangan Bertumpu Pada Batubara

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 5 Juli 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 25.898 Kali
Presiden Jokowi didampingi Menko Kemaritiman, Menteri BUMN meresmian beroperasinya PLTP Kamojang, di Kab. Bandung, Jabar, Minggu (5/7)

Presiden Jokowi didampingi Menko Kemaritiman, Menteri BUMN, dan Dirut Pertamina meresmian beroperasinya PLTP Kamojang V, di Kab. Bandung, Jabar, Minggu (5/7)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar penggunaan batubara dalam mewujudkan rencana pembangunan pembangkit listrik 35 ribu Mega Watt (MW) dalam 5 (lima) tahun ke depan mulai harus digeser, dirubah.

“Kita mempunyai kekuatan geothermal 28 ribu, nanti ada angin bisa berapa ribu, ombak, matahari, biomassa bisa berapa ribu,” kata Presiden Jokowi saat meresmikan PLTP Kamojang Unit 5 sekaligus juga Groundbreaking Proyek-Proyek Pengembangan Geothermal, di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (5/7) pagi.

Presiden bahkan memerintahkan kepada Menko Kemaritiman, Menteri BUMN, dan Menteri ESDM, agar ke depan pembangkit listrik yang ramah lingkungan lebih diberikan prioritas, karena memang kita mempunyai kekuatan dan potensi.

Meskipun mungkin biayanya jauh lebih mahal,  menurut Presiden, tidak ada masalah. Ia menyebutkan, nantinya pemerintah harus memberikan insentif khusus bagi pembangkit listrik untuk yang ramah lingkungan.

Bahkan, Presiden berpendapatan rate-nya ditinggikan sedikit tidak apa-apa. Biar orang berbondong-bondong untuk masuk ke investasi ini.

“Jangan disamakan dengan batubara. Kita kan punya kekuatan dan potensi, jadi kalau semuanya konsentrasi ke batubara, begitu habis kita tidak siap dengan geothermal, angin, ombak, surya, biomassa, bingung kita nanti,” tutur Presiden Jokowi.

Bukan Target Tapi Kebutuhan

Dakan kesempatan itu, Presiden Jokowi menyampaikan, bahwa setiap ia hadir di provinsi, kabupaten, kota, selalu keluhannya sama. Listrik mati 8 jam, mati 12 jam, setengah hari, empat jam, tiga kali sehari. Itu terus.

Oleh sebab itu, lanjut Presiden, pemerintah menarget pembanguan pembangkit listrik 35 ribu MW. Presiden menegaskan, angka itu bukan asal target, tapi kebutuhan yang harus kita kejar.

“Oleh sebab itu, pada kesempatan yang baik ini, target 35 ribu ini bukan target main-main, selalu saya ikuti tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, saya suruh paparkan progresnya seperti apa, perkembangannya seperti apa, yang di sini sudah selesai seperti apa,” kata Presiden Jokowi.

Kepala Negara lantas menunjuk contoh pembangunan pembangkit di Batang, Jawa Tengah. Ia menyebutkan, sudah selesai baru kemarin akhir Juni, dari target tanggal 1 Juli terkait penyelesaian masalah yang berkaitan denga pembebasan lahan.

Setelah sisi administrasi, sisi payung hukum, semuanya yang kemarin sudah menjadi masalah sudah selesai, Presiden berharap dalam sebulan ini moga-moga masalah pembebasan lahan betul-betul sudah rampung, sehingga pembangunannya bisa segera dimulai, karena ini  menyangkut suplai pasokan listrik di Jawa yang juga sangat dibutuhkan dan sudah terlambat hampir empat tahun.

Tambah Kapasitas

Sebelumnya Dirut Pertaminan Dwi Soetjipto melaporkan, PLTP Kamojang Unit 5 merupakan proyek penyediaan uap dan pembangunan PLTP sebesar 1×35 MW yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Proyek ini menambah kapasitas pembangkit Area Kamojang menjadi 235 MW sehingga dapat memenuhi kebutuhan listrik untuk kurang lebih 470 ribu KK melalui transmisi pembangkit listrik Jawa Madura Bali.

Mengembangkan panas bumi, kata Dirut Pertamina, tidak mudah dan terbukti walaupun Indonesia memiliki potensi terbesar di dunia dengan 28 rjbu MW, baru sekitar 5% yang termanfaatkan.

Dwi menyebutkan, saat ini Pertamina sedang melaksanakan pengembangan proyek panas bumi, meliputi PLTP Kamojang 5 (1×35 MW) dan Karaha (1×30 MW) di Jawa Barat, Ulubelu 3 dan 4 (2×55 MW) di Lampung, Lumut Balai 1 dan 2 (2×55 MW) di Sumatera Selatan, Lahendong 5 dan 6 (2×20 MW) dan pembangkit skala kecil 2×5 MW di Sulawesi Utara, Sibayak 1×5 MW di Sumatera Utara, Hululais 1 dan 2 (2×55 MW) di Bengkulu, Sungai Penuh 1 (1×55 MW) di Jambi.

“Keseluruhan proyek tersebut memiliki total kapasitas pembangkitan 505 MW dan total investasi sekitar  2,5 miliar dollar AS, yang akan mulai beroperasi komersial secara bertahap mulai 2015 sampai 2019,” kata Dwi seraya berharap, dengan tuntasnya proyek tersebut, dalam lima tahun ke depan, Pertamina akan memiliki kapasitas sebesar 907 MW.

Mendampingi Presiden Jokowi dalam peresmian tersebut antara lain Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perdagangan Rahmat Gobel, Staf Khusus Presiden Teten Masduki, dan Wagub Jabar Dedy Mizwar. (DND/SM/DNS/ES)

Berita Terbaru