Beri Bekal Literasi Keuangan, Karo SDM dan Ortala: Agar Pegawai Sejahtera di Masa Tua

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 19 Februari 2020
Kategori: Berita
Dibaca: 211 Kali

Para peserta sedang memperhatikan paparan narasumber dalam acara Seminar Literasi Keuangan di Aula Serbaguna Lantai 1, Gedung III, Kemensetneg, Provinsi DKI Jakarta, Rabu (19/2). (Foto: Humas/Ibrahim).

Sekretariat Kabinet (Setkab) melalui Biro Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Tata Laksana (SDM Ortala) mengadakan acara seminar, ”Financial Literacy: Keuangan di Era Jajan Masa kini,” di Aula Serbaguna, Gedung III Lantai 1, Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), Provinsi DKI Jakarta, Rabu (19/2).
Kepala Biro SDM dan Ortala, Ratih Mayangsari, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendidikan literasi keuangan ini penting bukan hanya untuk milenial, tetapi juga bagi para senior yang dibuktikan dengan keterwakilan untuk hadir dari jajaran eselon dua di Sekretariat Kabinet.

Literasi keuangan, dalam pandangan Karo SDM dan Ortala, secara umum adalah pengetahuan untuk mengelola keuangan sehingga para pegawai nanti dapat sejahtera bukan hanya di masa sekarang ini, tetapi ke depan saat sudah selesai tugas di Setkab.

”Nanti kita supaya sejahtera ini kita bisa mengelola, bisa me-manage keuangan yang kita dapatkan pada saat ini untuk nanti pada saat masa depan kita nanti ke depan,” ujarnya.

Para pegawai, lanjut Ratih, diharapkan mampu mengelola keuangan dengan menyisihkan pendapatan di usia produktif untuk nanti digunakan saat usia nonproduktif.

Ia juga menyampaikan bahwa pesan dan nasehat dari orang tua dahulu bahwa dalam mengelola keuangan itu tentu harus memprioritaskan kebutuhan bukan keinginan.

”Nah, kita sering terjebak dalam mengelola keuangan itu, keinginan yang kita dahulu kan, padahal sebenarnya kan kebutuhan. Nah, ini yang sering menjebak kita, akhirnya kita terjerumus dalam masalah keuangan,” tambahnya.

Pada praktiknya, lanjut Ratih, masalah indisipliner pegawai salah satunya bersumber dari masalah keuangan sehingga menghambat produktivitas dalam bekerja.

”Menurut penelitian itu bahkan ada 46% pegawai atau karyawan yang dia tidak produktif karena disebabkan oleh adanya permasalahan keuangan di dirinya,” katanya.

Jika diklasifikasikan berdasarkan generasi, lanjut Ratih, ternyata untuk generasi yang Baby Boomers kelahiran tahun 60-an sampai 70-an gitu ya, itu yang mempunyai permasalahan keuangan itu hanya sebesar 20%.

”Tapi yang Gen X, yang lahir di tahun 70 sampai 80-an itu ternyata cukup besar nilainya, sekitar 45%-an kalau tidak salah, dan Gen Y yang kebanyakan sekarang di generasi milenial, yang Gen Y itu permasalahan keuangan nya juga cukup besar daripada Baby Boomers, sebesar 35%-an sekitar itu. Jadi, kalau ditotal ya semua 100%,” jelasnya.

Belum lagi, sambung Ratih, berbagai masalah seperti investasi maupun penawaran deposito yang menawarkan berbagai macam iming-iming dan sering kali tidakĀ make sense kalau benar-benar bijak memilih investasi apa yang akan diambil.

”Kami di Setkab ini tidak ingin para pegawai di Setkab itu mempunyai literasi keuangan yang rendah seperti di masyarakat, seperti itu. Bahkan di Indonesia ini kalau enggak salah literasi keuangan masyarakatnya itu masih di bawah 50%,” tambahnya.

Itulah, lanjut Karo SDM dan Ortala, salah satu alasan kenapa Setkab menyelenggarakan seminar yaitu agar semua nanti akan melek dengan literasi finansial dan meningkatkan produktivitas kinerja.

”Karena akibatnya tadi kan produktivitas kinerjanya menurun akhirnya juga berdampak pada kinerja organisasi atau bahkan juga nanti akan menuju ke tindakan indisipliner itu yang kita hindari, jangan sampai seperti itu,” sambungnya.

Jika tingkat literasi keuangan di masyarakat itu tinggi, menurut Ratih, dampak bagi masyarakat itu akan semakin banyak yang mengenal produk dan jasa keuangan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan yang formal tentunya.

”Kalau transaksi keuangannya semakin meningkat tentunya juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan tentunya menciptakan juga pemerataan pendapatan, dan semakin banyak masyarakat yang menabung dan berinvestasi akan berdampak juga kepada meningkatnya sumber pembiayaan pembangunan,” urainya.

Di akhir sambutan, Ratih berharap agar semua yang menghadiri acara seminar dapat makin sejahtera setelah mendengarkan paparan dan mampu menerapkannya bukan hanya masa sekarang tapi untuk ke depan di saat tua.

”Masa tuanya sudah tidak ada masalah tentang keuangan lagi, kita semua bisa happy-happy di masa tua dan kita tidak akan ketakutan dalam menghadapi masa tua nanti pada saat kita tidak produktif lagi,” pungkas Ratih.

Turut hadir dalam acara ini Asdep Humas dan Protokol Said Muhidin, Karo Umum Suparti, Karo AKRB Dyah Pancaningrum, dan Asdep Pembangunan Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Rahayu Kadarwati. (TGH/EN)

Berita Terbaru