Bertemu PM Tony Abbot, Presiden Jokowi: Australia Sangat Penting Bagi Indonesia

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 14 November 2014
Kategori: Berita
Dibaca: 46.789 Kali
Presiden Jokowi bertemu PM Australia Tony Abbot, di Brisbane, Jumat (14/11) sore waktu setempat.

Presiden Jokowi bertemu PM Australia Tony Abbot, di Brisbane, Jumat (14/11) sore waktu setempat.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan dengan Perdana Menteri Australia Tony Abbot disela-sela kunjungan kerjanya ke negara tersebut untuk menghadiri KTT G-20, Sabtu dan Minggu lusa.

“Australia sangat penting bagi Indonesia karena kita punya ribuan mahasiswa di sini,” kata Presiden Joko Widodo saat bertemu dengan PM Toby Abbot, di Brisbane Convention and Exhibition Centre, Brisbane, Australia, Jumat (14/11) sore waktu setempat.

Menurut Presiden Jokowi, kunjungannya ke Australia ini merupakan kunjungan pertamanya sebagai Presiden. Namun, Jokowi menegaskan,  sebelumnya ia pernah berkunjung dan cukup mengenal Australia.

Kepala Negara mengatakan banyaknya mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia menunjukkan bahwa hubungan kedua negara sangat penting dan patut untuk terus dikembangkan.

Sementara itu PM Australia Tony Abbot melalui akun twitter pribadinya telah memamerkan foto pertemuannya dengan Presiden Jokowi.  “Just arrived in Brisbane for #G20 – great to catch up and have dinner with Indonesian President @jokowi_do2,” tulis Abbot dalam akun twitternya itu.

Usai bertemu dengan PM Abbot, Presiden kemudian melakukan pertemuan dengan masyarakat Indonesia yang berada di Australia.

Ijin DPR

Dalam pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Australia yang disiarkan live streaming itu, Presiden Jokowi menerima banyak keluhan dari masyarakat mulai terkait dengan tidak adanya sekolah Bahasa Indonesia di Australia, soal perijinan untuk berusaha atau investasi, hingga masalah dwi kewarganegaraan bagi warga Indonesia yang tinggal dan bekerja di luar negeri, termasuk Australia.

Menjawab pertanyaan itu, Presiden Jokowi yang didampingi Ibu Negara Iriana Widodo, Dubes RI di Australia Nadjib Rifhat Kesoema dan istrinya Nino Nadjib Riphat mengatakan, tidak perlu memaksa-maksa adanya tempat belajar Bahasa Indonesia di Australia. Ia yakin, belum ekonomi Indonesia berada pada posisi yang sangat dibutuhkan, tidak diminta pun pasti akan bermunculan tempat-tempat belajar Bahasa Indonesia di Australia.

“Tetapu saya akan sampaikan pada Perdana Menteri (Australia, red), agar ada tambahan beasiswa untuk  medorong mereka belajar Bahasa Indonesia,” kata Jokowi.

Soal perijinan dan proses bisnis yang panjang di Indonesia, diakui Presiden Jokowi. Namun Presiden menegaskan, pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah efisiensi untuk memotongnya. Ia lantas mencontohkan, bagaimana masalah perijinan bagi kawasan relokasi pengungsi Sinabung yang selesai dalam satu hari, setelah ia menelepon langsung pejabat-pejabat terkait.

“Kita perlu waktu menyelesaikan hal-hal teknis di lapangan, banyak sekali,” tutur Jokowi .

Adapun terkait dengan peninjauan masalah dwi kewarganegaraan bagi warga Indonesia yang tinggal dan bekerja di Indonesia, Presiden Jokowi menegaskan, tidak semua bisa ia lakukan.

“Kalau Peraturan Presiden (Perpres)  bisa saya selesaikan sehari, Peraturan Pemerintah bisa saya ganti. Tetapi kalau Undang-Undang itu parlemen (DPR),” tutur Jokowi seraya menyebutkan,pihaknya hanya memiliki kekuatan 38% di DPR-RI. (*/ANT/ES)

Berita Terbaru