Biar ‘Nendang’, Presiden Jokowi Minta Penanaman Kembali Harus Jutaan bukan Ribuan Tanaman

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 15 Februari 2020
Kategori: Berita
Dibaca: 168 Kali

Para warga turut menanam bersama Presiden dan Ibu Negara Iriana di Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Sabtu (15/2). (Foto: Humas/Agung).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa kalau mau menanam tanaman seperti Vetiver jangan seperti sekarang ribuan tapi jutaan.

“Berapa? 82 ribu, sudah. 50 juta, 70 juta, itu yang benar. Enggak nendang kalau hanya apa itu? Bikin 82 ribu meskipun saya tahunya ini untuk satu scope desa tapi juga masih kurang, juta. Mainnya itu memang harus main begitu,” ujar Presiden saat memberikan keterangan usai meninjau bibit di Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (15/2).
Kalau sudah dilaksanakan, menurut Presiden, tidak hanya Waduk Gajah Mungkur saja, namun semua waduk yang sedimennya tinggi, diselesaikan dengan cara penanaman-penanaman ini.
“Sengon, entah tanaman buah-buahan, petai, jengkol, durian, sirsak cuman tapi jangan lupa sekali lagi ini yang namanya vetiver, ini karena nanti 3-4 tahun akarnya bisa sampai 3 meter, 4 meter dan mengikat tanah. Itu yang penting,” ujarnya.
Penanaman kembali, menurut Presiden juga untuk mengatasi masalah sedimentasi di sekitar Waduk Gajah Mungkur.
“Vetiver ini betul-betul akan bisa menjadi mengikat tanah sehingga sedimen tidak masuk ke waduk-waduk yang ada, ke DAS yang ada,” tambahnya.
Mengenai perawatannya, Presiden menyampaikan bahwa Vetiver tidak susah ditanam nanti langsung munculĀ  setelah 3 tahun akarnya sudah sampai 3 meter, 4 meter.
Kepala Negara menyampaikan bahwa masalah sedimentasi terjadi di semua waduk baik di Sulawesi, Jawa, maupun Sumatra.
“Semuanya problem sedimen, dan diselesaikan dengan dikeruk, keliru, keliru sudah. Selesaikan hulunya dengan tanaman-tanaman ini, akan menyelesaikan masalah,” pungkas Presiden akhiri pernyataan.
Turut mendampingi Presiden dalam kegiatan kali ini Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, Mensesneg Pratikno, dan Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (EN)
Berita Terbaru