Bicara di Forum ILO, Presiden Sampaikan Upaya Pulihkan Dunia Kerja yang Beriorientasi pada Manusia

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 23 Februari 2022
Kategori: Berita
Dibaca: 587 Kali

Presiden Jokowi (Foto: BPMI Setpres)

Indonesia mendukung upaya Organisasi Perburuhan Internasional dalam memulihkan dunia kerja dari krisis akibat pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Upaya pemulihan ini dilakukan dengan berorientasi kepada manusia atau global call to action for a human-centred recovery.

Hal tersebut disampaikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam Pembukaan International Labour Organization (ILO) Global Forum for a Human-centred Recovery from the COVID-19, Selasa (22/02/2022), secara virtual.

“Saya mengapresiasi pelaksanaan pertemuan ini untuk mencari solusi bagi tantangan berat sektor ketenagakerjaan di tengah pandemi. Saya sangat mendukung arah pemulihan dunia kerja harus berorientasi pada manusia,” ujarnya.

Presiden mengungkapkan, berdasarkan proyeksi ILO, tingkat pengangguran global dapat mencapai 207 juta orang pada tahun 2022 atau 21 juta orang lebih banyak dari tahun 2019. Sementara itu, laju pemulihan kesehatan dan ekonomi sangat beragam antarnegara dan kawasan akibat perbedaan tingkat vaksinasi dan stimulus fiskal.

“Perlu keseriusan untuk menjalankan global call to action for human-centred recovery,” imbuh Presiden.

Lebih lanjut, Kepala Negara memaparkan empat upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung pemulihan dunia kerja yang berorientasi pada manusia.

Pertama, menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi para pekerja. Presiden menyampaikan, upaya vaksinasi COVID-19 bagi tenaga kerja dan keluarga harus terus digencarkan, baik yang bekerja di sektor formal maupun informal.

“Di Indonesia vaksin kita berikan secara gratis kepada seluruh penduduk, termasuk kepada para pekerja,” ujarnya.

Kedua, memperkuat perlindungan sosial bagi pekerja yang terkena dampak pandemi. Presiden menyebutkan, sebanyak 4,14 miliar orang atau 53,1 persen penduduk dunia tidak memiliki perlindungan sosial.

“Di Indonesia, perlindungan sosial merupakan bagian penting dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), termasuk di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, bansos tunai, hingga subsidi listrik. Setidaknya Rp186,64 triliun telah kami alokasikan untuk perlindungan sosial,” tuturnya.

Ketiga, bekerja sama untuk menciptakan lapangan kerja baru. Kepala Negara menyampaikan, keberpihakan dan inovasi diperlukan agar tercipta lapangan kerja yang lebih banyak.

“Perbaikan iklim investasi yang pro-people perlu terus dijalankan, termasuk di sektor ekonomi hijau yang berkelanjutan,” ujarnya.

Terakhir, memperkuat daya saing pekerja dalam menghadapi tantangan dunia pada masa mendatang. Presiden menilai, program reskilling dan upskilling harus terus dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh swasta. Begitu pula dengan pendidikan literasi digital, harus menjadi prioritas agar para pekerja bisa bertahan di tengah gelombang transformasi digital.

“Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Program Kartu Prakerja bagi para pencari kerja maupun mereka yang putus kerja untuk memperoleh keterampilan baru atau membuka potensi wirausaha,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, Presiden pun menyampaikan ajakan untuk bersama-sama mewujudkan dunia kerja yang lebih inklusif, tangguh, berkelanjutan.

“Mari kita bekerja sama untuk mewujudkan dunia kerja yang lebih inklusif, yang tangguh, dan berkelanjutan. Recover Together, Recover Stronger,” pungkasnya. (DND/UN)

Berita Terbaru