Boleh Di Industri Pengolahan, Susi: Asing Dilarang Masuk Di Industri Tangkap Ikan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 16 September 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 23.697 Kali
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti agar menyegerakan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Undang-Undang tentang Perikanan yang sudah tertunda lama, dan tinggal menunggu persetujuan (approval) dari Menko Kemaritiman.

Presiden, kata Susi, juga menyetujui pencabutan industri tangkap asing yang sekarang ini boleh 100 persen. “Nanti jadi sama sekali tidak boleh. Jadi untuk industri tangkap sama sekali tidak boleh, tapi untuk industri pengolahan sekarang ini kalau di wilayah barat 40 persen, timur 60 persen,” kata Susi kepada wartawan di kawasan Istana Kepresidenan, Jakarta, seusai diterima Presiden Jokowi, Rabu (16/9) siang.

Menteri Kelautan dan Perikanan itu tidak menutup peluang untuk merubah atau menaikkan komposisi pembagian wilayah pengolahan ikan supaya investor asing tertarik untuk investasi di industri pengolahan.

Menurut Susi, Presiden sudah menegaskan, untuk industri tangkap ikan tidak boleh sama sekali pihak asing, harus nelayan Indonesia.

Swasembada Garam

Terkait dengan program swasembada garam, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengemukakan, yang pertama kita harus perbaiki kualitas garam rakyat. Kedua, kalau mau cukup semua harus membuka lahan baru tambahan yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Madura.

“Kemarin Bupati Pamekasan berkata ada lahan di antara Pamekasan dan Sumenep peninggalan Belanda yang bisa direvitalisasi untuk jadi lahan tambahan,” papar Susi.

Namun Menteri Kelautan dan Perikanan itu menegaskan, upaya revitalisasi lahan jangan sampai merugikan para petani. Ia mengaku kasihan kalau petani panen harganya (garam) hanya Rp 200an.

Susi mengaku sudah menerima sampel garam dari masyarakat di Pamekasan, Madura, Jatim, baik yang pakai geo membran, maupun yang tidak. “Mau kita bawa untuk dicek kualitasnya, juga dibandingkan dengan perusahaan kimia yang pakai garam impor,” ungkap Susi.

Sebelum ini Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti merasa geram dengan perilaku nakal beberapa importir, yang mengimpor garam justru pada saat produksi garam lokal sedang berlimpah.

Saat berkunjung ke Surabaya baru-baru ini, Susi melihat dengan mata kepala sendiri adanya garam impor masuk, padahal sekarang masih musim panen.

“Sekarang banyak impor garam masuk saat panen. Kemarin saya ke Surabaya ada garam masuk impor, padahal pas panen,” tutur Susi usai kunjungan kerja ke petani garam, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (12/9).

Saat berkunjung ke Pamekasan, Jumat (11/9) lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, akan melakukan uji laboratorium garam Madura ke luar negeri untuk mengetahui kualitas garam daerah ini yang sebenarnya.

“Selama ini selalu dibilang kualitas garam Madura tidak bagus. Padahal setelah saya lihat sendiri secara langsung di sini (Madura), kualitasnya sangat bagus,” kata Susi di Pamekasan, Jumat (11/9).

Susi mengaku tidak bisa mengerti, bagaimana garam yang sebagus di Pamekasan masih dinyatakan belum layak untuk dijadikan garam industri. Oleh karena itu, lanjut Susi , pihaknya akan mengambil sampel garam Madura hasil produksi masyarakat petani garam di Pamekasan itu untuk dilakukan uji laboratorium di luar negeri. (DND/RAH/ES)

 

 

Berita Terbaru